Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner Romantis
Pintu kamar tamu perlahan terbuka.
Selina melangkah keluar mengenakan dress pilihan Adipati. Gaun itu jatuh pas di tubuhnya, sederhana tapi elegan, membuatnya tampak anggun tanpa berlebihan.
Rambutnya dibiarkan terurai, sedikit bergelombang.
Adipati yang duduk di sofa langsung berdiri.
Tatapannya terpaku.
Ia bahkan lupa berkedip.
Selina melangkah pelan, lalu berhenti beberapa langkah darinya.
Tangannya refleks meremas ujung dress.
“Mas…”
suaranya pelan, ragu.
“Kenapa diam aja?”
Adipati masih menatapnya, suaranya sedikit tertahan.
“Kamu… cantik.”
Selina mengangkat alis kecil.
“Cantik beneran atau boongan?”
Adipati menggeleng pelan, mendekat satu langkah.
“Cantik yang bikin mas lupa mau ngomong apa.”
Pipinya Selina langsung merona.
“Mas jangan lebay.”
Salah satu staf butik tersenyum profesional.
“Gaun itu memang sangat cocok untuk Nyonya. Seperti dibuat khusus.”
Selina melirik ke cermin besar di samping.
“Mas, aku kelihatan berlebihan nggak?”
Adipati berdiri di belakangnya, menjaga jarak.
“Nggak. Kamu kelihatan… tenang, dewasa, dan anggun.”
Ia menambahkan pelan,
“Pas buat istri mas.”
Selina menelan ludah.
“Mas bikin aku makin gugup.”
Adipati terkekeh kecil.
“Mas aja yang gugup dari tadi.”
Selina menoleh cepat.
“Serius?”
Adipati mengangguk.
“Serius. Ternyata miliki istri secantik ini rasanya begini.”
Selina menunduk malu.
“Aku ambil yang ini aja.”
Staf butik langsung mencatat.
“Baik, Nyonya. Pilihan yang sangat tepat.”
Adipati tersenyum puas.
“Yang ini. Tolong siapkan juga high heels dan tas yang cocok.”
Selina menatapnya kaget.
“Mas—”
Adipati menoleh santai.
“Sekalian. Biar satu set.”
Selina menghela napas kecil, lalu tersenyum.
“Terima kasih, Mas.”
Adipati menatapnya lembut.
“Sama-sama. Selama kamu nyaman, mas senang.”
Selina membawa dress pilihannya naik ke kamar. Ia menggantinya dengan hati-hati, lalu duduk di depan cermin. Make up tipis dipoles perlahan, cukup untuk menonjolkan wajahnya yang alami.
Rambutnya ditata rapi, sederhana namun anggun.
Pintu kamar terbuka pelan.
Adipati masuk sambil membawa sepasang high heels dan sebuah tas kecil.
“Ini,” katanya sambil meletakkannya di atas ranjang.
“Kayaknya cocok sama dress kamu.”
Selina menoleh, tersenyum.
“Makasih, Mas.”
Tak lama kemudian Adipati masuk ke kamar mandi. Suara air mengalir terdengar, lalu beberapa menit kemudian ia keluar sudah rapi berpakaian. Kemeja gelap dengan potongan pas di badannya membuatnya tampak semakin dewasa.
Adipati berhenti melangkah saat melihat Selina berdiri di depan cermin.
Tatapannya lembut, kagum.
“Cantik banget.”
Selina tersipu, menunduk sebentar.
“Mas bisa aja.”
Adipati mendekat, meraih tangannya.
“Ayo.”
Ia menggandeng Selina keluar kamar. Di ruang tengah, Sri dan Bejo menoleh.
“Bu, Pak, kami berangkat dulu ya,” kata Adipati sopan.
“Iya, hati-hati di jalan,” jawab Sri.
“Selina, jaga suami kamu.”
Selina mengangguk kecil.
“Iya, Bu.”
Mereka keluar rumah. Adipati berjalan lebih dulu, membukakan pintu mobil untuk Selina.
“Silakan, Nyonya.”
Selina tersenyum kecil sebelum masuk.
Beberapa warga yang duduk di depan rumah mulai berbisik-bisik.
“Itu Adipati dapat uang mahar lima miliar sama mobil dari mana, ya?”
“Mobilnya paling rentalan.”
“Iya, maharnya juga bisa aja cek kosong.”
“Tapi kemarin uangnya ada beneran, Bu.”
“Dia kan katanya nganggur… jangan-jangan main judi.”
Selina mendengar samar-samar. Tangannya mengepal di pangkuan.
Adipati menutup pintu mobil dengan tenang, lalu masuk ke kursi pengemudi.
Ia melirik Selina sebentar.
“Udah, nggak usah didengerin.”
Selina menoleh.
“Mas… aku kesel.”
Adipati tersenyum tipis, menyalakan mesin.
“Orang yang suka ngomong itu biasanya cuma bisa nebak-nebak. Kita nggak perlu jelasin apa-apa ke mereka.”
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah dan suara-suara itu.
Selina menghela napas.
“Aku takut kamu emosi dipendam jadi dendam.”
Adipati menoleh sebentar.
“InsyaAllah Mas gak akan dendam,selama kamu mensupport aku.”
Selina terdiam, lalu tersenyum kecil.
“Makasih, Mas.”
Adipati fokus ke jalan.
“Pegang aja tangan mas kalau kamu masih kepikiran.”
Selina ragu sesaat, lalu menautkan jarinya ke tangan Adipati.
Di dalam mobil, suasana perlahan menghangat, meninggalkan gosip dan bisik-bisik di belakang mereka.