Cintanya itu harusnya menyatukan bukan memisahkan, kan? Cinta itu harusnya memberi bahagia bukan duka seumur hidup, kan? Tapi yang terjadi pada kisah Dhyaswara Setta dan Cakra de Bruijn berbeda dengan makna cinta tersebut. Dua orang yang jatuh cinta sepenuh jiwa dan telah bersumpah di atas darah harus saling membunuh di bawah tuntutan. Siapakah yang menang? Tuntutan itu atau cinta mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caeli20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.28 : Surat dari Breda - Belanda
Enam bulan berlalu.....
Dhyas berjalan menyusuri setapak itu hingga tiba di halaman padepokan.
Hari masih cukup pagi tapi sudah ada matahari yang menyapa dengan hangat dan meneduhkan.
Matanya tertuju pada seseorang yang sudah berada di halaman padepokan.
"Arya?," sapa Dhyas.
Arya menoleh dan tersenyum kecil.
Dia tersenyum. Seorang Arya tersenyum. (Dhyas).
"Kamu ada tugas pagi ini?," tanya Dhyas basa-basi.
"Tidak ada. Tapi aku tahu kamu ada jadwal latihan pagi ini jadi aku sempatkan untuk datang pagi ini,"
"Ohh ya, kamu ada perlu?," Dhyas bertanya.
"Tidak ada. Hanya ingin mendampingi mu latihan. Supaya...,"
"Supaya apa?,"
"Supaya kamu tidak sendiri,"
Jawaban singkat Arya menimbulkan ketidaknyamanan di hati Dhyas. Dhyas salah tingkah. Apalagi Arya memberikan tatapan yang berbeda padanya.
Dhyas berdehem,
"Tidak perlu seperti ini, Arya. Aku terbiasa latihan sendiri. Tidak perlu ditemani,"
"Aku pikir sejak kepergian Cakra ke Belanda, kamu jadi sendirian. Makanya aku berinisiatif menemanimu," tandas Arya.
Dhyas tertawa kecil,
"Aku bukan anak kecil, Arya. Aku bisa sendiri,"
"Ehhmm..selain itu aku ingin mengatakan sesuatu padamu,"
Mata Dhyas melebar,
"Apa itu?,"
Arya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya bersiap untuk mengeluarkan kata-kata yang selama ini hanya tersimpan di dalam hatinya.
"Dhyas!," Ayudiah muncul dari arah dapur padepokan.
Dhyas dan Arya sama-sama menoleh.
"Kemarin ada kurir datang membawa surat untukmu," Ayudiah mendekat seraya melirik Arya yang langsung membuang wajahnya ke tempat lain.
"Surat? Untukku,"
"Hmmm," Ayudiah mengangguk sambil tersenyum lebar, "Sepertinya dari Cakra. Lihat stempelnya. Stempel Belanda,"
Dhyas tertegun sejenak. Lalu air wajahnya langsung sumringah. Dia meraih amplop itu sambil berlalu menuju pendopo yang biasa dia tempati.
Meninggalkan Arya yang menatap kepergiannya dan Ayudiah yang menatap Arya dengan senyuman yang tersembunyi. Senyuman kekaguman. Tapi sayangnya, tidak pernah dilihat oleh Arya.
**
Dhyas membuka perlahan amplop berwarna coklat berstempel Belanda. Di dalamnya ada dua surat. Tangan Dhyas membalikan surat itu. Salah satu surat tertuju untuknya. Sedangkan surat yang lain memuat nama orang lain, yang dikenali Dhyas.
Jantungnya berdegup kencang begitu mengetahui itu surat dari Cakra. Senyuman kegirangan hampir-hampir tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Gerakan tangannya lincah membuka surat yang bertuliskan namanya :
Dhyas, belahan jiwaku...,
Aku sudah tiba di Belanda. Tepatnya di Breda. Itu agak jauh dari tempat ayah di Amsterdam. Tapi aku baik-baik saja.
Perlakuan mereka di sini cukup baik walaupun sebaik-baiknya mereka di sini, aku tetap memilih untuk kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.
Bagaimana kabar kamu di sana? Aku selalu berdoa di setiap malam ku agar Allah selalu menjaga langkahmu. Apalagi aku dengar sekarang, ibu Pertiwi tidak hanya menghadapi Belanda tapi juga kedatangan Jepang. Pasti itu bukan hal yang mudah.
Jaga kesehatan mu. Makan yang cukup. Aku tidak tega bertemu denganmu dalam keadaan tubuhmu semakin kurus. Aku di sini cukup terjamin. Walaupun tenggorokan ku sangat merindukan gado-gado, sayur genjer, soto, kue cenil, dan apapun yang ku makan di situ. Kamu jangan terkejut melihat fotoku.
Oh ya, aku ada permintaan untukmu. Tolong serahkan surat yang satu lagi untuk ibuku. Jangan dititip. Aku ingin kamu menyerahkan nya langsung. Abaikan jika saat bertemu dengan nya, dia mengeluarkan kata-kata yang kurang mengenakan. Karena kalau aku menitipkan suratku untukmu padanya, maka kamu tidak akan menerima suratku. Sebaliknya, kalau aku menitipkan surat padamu, aku percaya surat pada ibuku akan bisa diterimanya. Maaf sudah merepotkan mu.
Sayangku, banyak yang ingin aku tulis. Tapi entah kenapa, semakin menulis, semakin merindu. Dan itu membuat hatiku sakit.
Jaga dirimu untukku. Tunggulah aku pulang. Hatiku di sini masih hatimu. Aku harap kamu di sana pun begitu.
Perjanjian kita akan tetap kuingat. Tidak pernah terhapus dari memoriku.
Salam hormat untuk guru dan seluruh keluarga padepokan Giri Wening. Salam hormat juga untuk kedua orang tuamu.
Aku akan menulis lagi nanti. Setelah aku menerima balasan mu.
Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu.
Breda - 1946.
Dhyas membuang napasnya begitu selesai membaca. Sekarang hatinya campur aduk. Bahagia karena mendapat kabar dari Cakra. Merindu karena membaca kata demi kata dari Cakra. Bersedih karena rindu yang merundungnya.
Dhyas mengambil sebuah foto hitam putih di balik surat. Cakra berdiri di depan sebuah gedung sekolah perwira bertuliskan bahasa Belanda sambil berkacak pinggang dan tersenyum.
"Benar katanya. Tubuhnya mengalami pertambahan berat," gumam Dhyas sambil membelai foto itu.
Rindunya semakin bertambah. Dhyas mendekap foto itu ke dadanya. Menutup matanya. Sambil membayangkan seandainya Cakra ada di sini. Dalam dekapannya.
Puas dengan khayalannya, Dhyas mengambil surat yang satu lagi yang masih tersegel.
"Aku harus mengantar surat ini pada ibunya. Tapi.....," Dhyas meragu, "Tidak. Tidak boleh. Aku harus mengantarnya. Ini pesan Cakra. Aku harus lakukan," tekad Dhyas.
"Dhyas, para siswa sudah menunggu untuk latihan," Ayudiah memanggil dari luar pendopo.
"Baiklah aku ke sana," timpal Dhyas dengan suara keras agar kedengaran.
**
Dhyas berdiri di depan rumah gedongan itu. Wajahnya tampak ragu. Dia sudah berdiri di sana cukup lama tapi tak ada keberanian untuk memanggil penghuni nya.
Dhyas langsung menuju rumah Cakra selesai seharian penuh melakukan latihan. Di padepokan dengan anak-anak didiknya.
Dan saat itu selepas Maghrib..rumah itu sudah sunyi.
"Kalau aku makin lama di sini, lama-lama darahku habis gara-gara nyamuk," gumam Dhyas.
Dia pun mengumpulkan keberaniannya. Saat mulut nya hendak memberi salam agar penghuni rumah keluar saat itu juga pintu rumah dibuka dan seorang wanita memakai kebaya mahal nan cantik muncul. Itu Sri Lestari. Jantung Dhyas berpukul kencang.
Wanita itu mengernyitkan keningnya melihat ada orang di depan pagar rumahnya.
"Selamat malam, Tante," sapa Dhyas mencoba tersenyum.
Sri Lestari mendekat ke arah pagar rumahnya. Kepalanya bekerja keras mengingat siapa gadis di depannya ini.
"Saya, Dhyas Setta, Tante," Dhyas menyebut.
Aura wajah Sri Lestari langsung berubah mendengar nama itu.
"Ada apa?," suara Sri Lestari dingin.
"Saya ingin mengantarkan surat dari Cakra," Dhyas mengulurkan suratnya melalui celana pagar dan langsung diambil oleh Sri Lestari tanpa berniat membuka pagarnya.
"Kenapa surat ini ada padamu?,"
"Cakra menyatukannya dengan surat untukku. Tapi aku tidak membuka surat itu. Aku menerimanya tadi dan aku ke sini memberikannya pada Tante," Dhyas menjelaskan.
Sri Lestari menatap Dhyas dengan curiga.
"Yah, sudah aku terima. Pulanglah," Sri Lestari langsung memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah.
Tak ada satupun ucapan *terima kas*ih untuk Dhyas. Dia langsung pergi begitu saja.
Dhyas hanya bisa menatap dari balik pagar.
"Pantas saja anakmu tidak percaya padamu," gumam Dhyas, kesal.