Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sehari bersamu..
Belum jam tujuh, suara motor berhenti di depan rumah Kakek Arga. Jingga yang sedang menyiram tanaman langsung menoleh. Awalnya ia mengira itu hanya warga kebun seperti biasa, tapi jantungnya langsung berdebar saat melihat sosok tinggi dengan jaket gelap itu turun dari motor.
“Jing—”
Belum sempat Arjuna menyelesaikan panggilan namanya, Jingga sudah berdiri kaku di tempat. Tangannya masih memegang selang air, bajunya basah sedikit, rambutnya diikat asal.
Mereka saling menatap.
Beberapa detik. Sunyi.
Lalu Jingga tersenyum lebar, mata beningnya langsung berkaca-kaca.
“kaka.." Lirih Jingga,berjalan cepat hingga menubruk tubuh Arjuna.Ia memeluk erat laki-laki tingga yang selama ini menjadi penyemangatnya.
Arjuna terkejut namun tak lama menormalkan kembali debaran jantungnya.Ia membalas pelukan erat Jingga.
Menumpahkan segala rasa dalam dirinya yang telah lama terpendam.
"Kaka beneran pulang..” Lirih Jingga
Arjuna tertawa kecil. “Aku kan janji.”
Tak lama Jingga melepaskannya,matanya menatap tajam Ajuna dari atas sampai bawah seolah ingin memastikan ini nyata.
Arjuna menatapnya lama. Lebih kurus sedikit. Lebih dewasa. Tapi sorot matanya masih sama.
“Kaka kelihatan capek,” kata Jingga pelan.
Arjuna mengangguk. “Tapi pas lihat kamu… langsung ilang.”
Keduanya langsung tersenyum hangat.Kakek Arga muncul dari dalam rumah sambil tersenyum lebar.
“Lho, ini Arjuna toh?”
Arjuna menyalami Kakek Arga dengan hormat. “Kakek sehat?”
“Sehat, sehat. Masuk dulu. Sarapan bareng.”
Jingga menatap Arjuna. “Kaka belum makan?”
Arjuna menggeleng. “Sengaja.”
Jingga tertawa kecil. "Ya udah yuk masuk,aku udah masak "
Beruntungnya tadi Jingga sempat masak,entah memang sudah feeling atau memang tidak sengaja.Pagi tadi Jingga masak sedikit banyak.
Kini ketiganya sudah duduk beralas tikar,tak banyak macam yang Jingga masak.Hanya ayam telur goreng,sayur hijau dari kebun,orek tempe,sambal dan kerupuk.
Jingga melayani dua laki-laku berbeda usia tersebut,baru dirinya mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Suasana makan nampak khidmat,tak ada suara obrolan ataupun candaan.Semua fokus pada makanannya masing-masing.
Setelah selesai,Jingga dan Arjuna duduk di teras rumah.Hari ini mereka sudah sepakat akan melakukan beberapa hal.nggak bahas masalah berat.Tidak tentang perusahaan.Tidak tentang Davin.Tidak tentang ayah Jingga.
“Hari ini milik kita,” kata Arjuna waktu Jingga bertanya soal kerjaannya di kota.
Jingga mengangguk setuju. “Sehari aja.”
Mereka duduk bareng di kursi kayu sederhana. Jingga duduk berseberangan dengan Arjuna, memperhatikannya wajah Arjuna.
“Kamu kurusan,” kata Jingga
“Karena kamu jauh,” jawab Arjuna santai.
Jingga mendecak. “Alasan.”
“Tapi bener.”
Jingga tersenyum, pipinya sedikit memerah. "Aku serius Ka"
"Dan aku juga serius,sayang."
Jingga berdecak. "Kaka pasti terlalu sibuk kerja dan lupa makan dan istirahat kan?"
Arjuna menyandarkan punggungnya. "Makanya kita harus segera nikah biar kamu bisa ngurusin aku.Biar gak lupa makan dan istirahat."
Jingga melotot,ia terkejut."Becandanya gak lucu."
"Siapa yang becanda.Aku serius sayang,memangnya apa tujuan aku sama kamu kalau bukan nikah.Memangnya kamu gak mau?"
"Mau..hanya saja,apa tidak terlalu terburu-buru"
"Tidak." Jawab Arjuna singkat namun justru membuat Jingga menatapnya dalam.
"Aku tau,mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.Aku juga tau kamu ingin fokus dulu sama perkebunan."
Jingga menunduk,apa yang di katakan Arjuna memang benar.Dalam fikirannya sekarang memanglah hanya ada perkebunan.
"Aku ngerti kok,kita bicarakan lagi lain kali" Ucap Arjuna kemudian mengusap kepala Jingga.
"Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini dahulu,Ka."
Arjuna mengangguk."Kita selesaikan bersama."
Setelah itu, mereka berjalan menyusuri kebun. Jingga menunjukkan beberapa sudut yang sering ia potret. Arjuna memperhatikan dengan sungguh-sungguh, sesekali berhenti untuk mendengarkan cerita Jingga.
“Di sini biasanya paling bagus sore hari,” kata Jingga. “Cahayanya jatuh miring.”
Arjuna mengangguk. “Keliatan di foto kamu.”
Jingga berhenti melangkah. “Kaka masih sering lihat?”
“Setiap hari,” jawab Arjuna tanpa ragu.
Jingga menatapnya lama, lalu mengalihkan pandangan. “Aku senang.”
Mereka duduk di bawah pohon sawit yang rindang. Jingga membuka tas kecilnya, mengeluarkan kamera.
“Kamu mau motret aku?” tanya Arjuna.
“Boleh?”
“Boleh.”
Jingga mengangkat kamera, mengatur fokus. Arjuna duduk santai, bersandar ke batang pohon.
“Jangan pose,” protes Jingga. “Biasa aja.” ucapnya kembali dengan bibur cemberut.
Arjuna tersenyum kecil, menatap Jingga dari balik kamera.
Satu jepretan Jingga dapat.Jingga menurunkan kamera. “Kok kaka liat aku terus?”
“Karena kamu lebih menarik dari lensanya.”
Jingga mendengus, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
"Sekarang giliran kamu" Arjuna mengambil alih kamera dari tangan Jingga.Ia langsung mengarahkan lensa kamera ke arah Jingga.
Bibirnya tersenyum senang saat melihat hasil foto Jingga yang terlihat natural.
Manis.
Siang menjelang,mereka memutuskan makan di warung kecil dekat kebun.Duduk bersebelahan, berbagi cerita ringan.
“Di kota kaka sibuk banget ya?” tanya Jingga.
“Banget,” jawab Arjuna jujur. “Makanya aku kabur dulu ke sini.”
“Biar tenang?”
“Mau charge energi,dan biar ingat kenapa aku mulai semua ini.”
Jingga menatapnya. “Karena aku?”
Arjuna tersenyum. “Salah satunya.”
Jingga menunduk, memainkan sendok. Dadanya terasa hangat.
°°°°
Sore nya mereka berjalan ke sungai kecil di pinggir desa. Airnya jernih, mengalir pelan. Jingga duduk di batu, melepas sandalnya.
“Dulu aku sering ke sini sendirian,” katanya. “Kalau lagi pengen nangis.”
Arjuna duduk di sampingnya. “Sekarang?”
“Sekarang masih,” Jingga tertawa kecil. “Tapi nggak sesering dulu.”
Mereka mencelupkan kaki ke air. Angin sore berembus pelan.
“Jingga,” kata Arjuna tiba-tiba, “kalau nanti semua ini makin rumit…”
Jingga menoleh. “Kaka nyesel kenal aku?”
Arjuna menggeleng cepat. “Enggak. Aku cuma mau kamu tahu… aku nggak akan ninggalin kamu di tengah jalan.”
Jingga terdiam. “Aku nggak minta kaka berkorban sejauh itu.”
“Aku nggak merasa berkorban,” jawab Arjuna. “Aku memilih.”
Jingga menarik napas dalam-dalam. “Terima kasih.”
"Jangan lagi beranggapan kalau kamu sendiri"
Jingga mengangguk dengan senyum kecilnya.
"Aku ingin selalu di samping kamu,tapi sepertinya semesta belum mengizinkannya." Ucap Arjuna membenarkan rambut Jingga yang terbawa angin.
Matahari mulai turun. Langit berubah warna. Jingga berdiri, mengangkat kamera, memotret siluet Arjuna dengan cahaya senja di belakangnya.
“Kaka kelihatan cocok di sini,” kata Jingga.
“Aku cocok di mana pun asal ada kamu,” jawab Arjuna ringan.
Jingga tertawa. “Kaka gombal.”
“Jujur..Sayang."
°°°°
Malam datang. Mereka duduk di teras rumah, minum teh hangat. Tidak banyak bicara. Hanya menikmati kebersamaan yang jarang.
“Besok kaka balik?” tanya Jingga pelan.
“Iya.”
Jingga mengangguk. “Aku bakal kangen.”
“Aku juga,” jawab Arjuna. “Tapi sekarang beda.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu… kamu kuat.”
Jingga menatap langit. “Aku belajar kuat karena kaka.”
Arjuna tersenyum. “Aku pulang karena kamu.”
Mereka saling pandang. Tidak ada kata cinta yang diucapkan. Tapi perasaan itu ada, tenang, dan dewasa.Hari itu berakhir tanpa gangguan.
Tanpa rahasia.Tanpa masa lalu yang menghantui.Hanya dua orang yang saling merindu… dan akhirnya bertemu.
..."Merindukan orang yang tepat di waktu yang tepat adalah sebuah kebahagiaan....
...Karena rindu itu tidak menyiksa, melainkan menguatkan dan memberi harapan."...
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Senja Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga