NovelToon NovelToon
TITIK NOL TAKDIR

TITIK NOL TAKDIR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Cintamanis / Cinta Murni / Mata Batin / Roh Supernatural / Anak Yang Berpenyakit / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Bara, pelaut rasional, terdampar tanpa koordinat setelah badai brutal. Menjadi Musafir yang Terdampar, ia diuji oleh Syeikh Tua yang misterius: "Kau simpan laut di dadamu."

Bara menulis Janji Terpahit di Buku Doa Musafir, memprioritaskan penyembuhan Luka Sunyi keluarganya. Ribuan kilometer jauhnya, Rina merasakan Divine Echo, termasuk Mukjizat Kata "Ayah" dari putranya.

Bara pulang trauma. Tubuh ditemukan, jiwa terdampar. Dapatkah Buku Doa, yang mengungkap kecocokan kronologi doa dengan keajaiban di rumah, menyembuhkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 RINA MEMBACA TAKDIR TANPA SADAR

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden ruang tamu, membawa debu-debu halus yang menari dalam garis lurus. Rina terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, seolah ia baru saja memikul beban semen berton-ton sendirian. Gema Tenang yang biasanya ia pelihara di dalam batin kini telah memudar, digantikan oleh kekosongan yang dingin akibat pengorbanannya kemarin di kantor perusahaan maritim. Ia telah menjadi ombak bagi Nirmala, dan kini ia menanggung sisa-sisa buihnya yang pahit.

Ia bangkit dari sofa, pandangannya langsung tertuju pada meja kayu. Kompas Biru Tua peninggalan Bara masih ada di sana. Jarumnya tidak lagi bergetar liar seperti saat ia pertama kali menerima nasihat dari kehadiran gaib. Kini, jarum itu menunjuk ke arah Timur Laut dengan ketenangan yang angkuh, stabil, dan tidak tergoyahkan oleh tarikan magnet apa pun di sekitarnya. Rina menyentuh kaca kompas itu dengan ujung jari yang gemetar.

"Arahnya tidak berubah sejak semalam, Arka?" bisik Rina saat melihat putranya sudah duduk di sudut ruangan, memperhatikan kompas itu dengan tatapan kosong yang dalam.

"Dia sudah berhenti berputar, Bu. Seperti orang yang sudah tahu jalan pulang," jawab Arka tanpa menoleh.

Rina menghela napas, lalu merogoh tasnya yang ia lempar sembarangan kemarin. Ia mengeluarkan kliping koran yang sempat ia ambil—sebuah berita tentang kapal karam di dekat Gugusan Pulau Karang yang sebelumnya ia anggap sebagai sampah logika. Saat itu, matanya hanya melihat rasa sakit, tetapi hari ini, seolah-olah ada selapis kabut yang baru saja diangkat dari retinanya.

"Kenapa Ibu baru menyadarinya sekarang?" gumam Rina.

Ia membentangkan kliping itu di bawah sinar matahari. Matanya terpaku pada sebuah foto buram yang menampilkan gugusan batu karang yang menjulang seperti taring raksasa di tengah laut. Otaknya memutar kembali memori tentang sebuah surat yang pernah Bara kirimkan bertahun-tahun lalu, saat suaminya masih berlayar di rute perintis. Di dalam surat itu ada sketsa tangan yang kasar tentang sebuah formasi batu yang Bara sebut sebagai Batu Penjaga.

Menyusun Peta di Atas Lantai

Rina bergegas menuju laci lemari jati, membongkar tumpukan kertas lama hingga ia menemukan sketsa yang ia cari. Ia membentangkan peta geografis besar di lantai ruang tamu, lalu meletakkan kliping koran dan sketsa Bara berdampingan.

"Arka, lihat ini," panggil Rina, suaranya mengandung getaran semangat yang aneh.

Arka merangkak mendekat, matanya menatap tajam ke arah peta. Rina menarik garis lurus dari koordinat rumah mereka mengikuti arah yang ditunjukkan oleh jarum Kompas Biru Tua. Garis itu membelah lautan, melewati beberapa selat, dan berakhir tepat di sebuah titik kecil yang dalam kliping koran itu disebut sebagai Gugusan Pulau Karang.

"Ini bukan tempat dia hilang, Arka. Ini tempat dia sedang menunggu," ucap Rina yakin.

"Wusss... Wusss..." Arka tiba-tiba menggerakkan jari telunjuknya di atas peta, membuat gerakan melingkar yang pelan dari arah pulau menuju rumah. "Dia sedang di air, Bu. Tapi bukan tenggelam. Dia sedang... berjalan pelan-pelan."

"Berjalan di air?" Rina mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu, Nak?"

Arka tidak menjawab, ia justru menekan jarinya kuat-kuat pada gambar pulau di koran tersebut. "Ayah tidak berani lari. Dia takut ombaknya marah kalau dia buru-buru."

Rina merasakan bulu kuduknya berdiri. Pernyataan Arka seolah mengonfirmasi bahwa ada pergerakan fisik yang sedang terjadi di sana. Jika Bara memang selamat dan berada di pulau itu, kenapa ia harus berjalan pelan di atas air? Rina teringat akan sensasi langkah berat yang ia rasakan kemarin saat melakukan konfrontasi. Apakah setiap langkah yang Bara ambil di lautan sana dibayar dengan setiap tetes keringat perjuangan Rina di dunia nyata?

"Ibu, Kak Mala bangun," sela Arka.

Nirmala keluar dari kamar dengan langkah ringan. Wajahnya tidak lagi pucat, dan lingkaran hitam di bawah matanya telah menghilang. Ia mendekati ibu dan adiknya yang sedang berkerumun di atas peta.

"Mala, sini sebentar," Rina menarik lembut tangan putrinya. "Tolong lihat gambar pulau ini. Apa yang Mala rasakan?"

Mala menunduk, menatap titik di tengah laut yang ditandai Rina. Ia terdiam cukup lama, seolah sedang mendengarkan frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh hatinya yang sensitif.

"Ayah tidak di pulau lagi, Ma," ucap Mala pelan. "Dia sedang berenang. Tapi bukan berenang seperti di kolam. Dia seperti didorong oleh tangan raksasa di bawah air. Pelan-pelan sekali, supaya bukunya tidak basah."

Rina tersedak napasnya sendiri. "Bukunya tidak basah? Dia membawa buku?"

"Buku yang ada darahnya itu," Mala mengangguk polos. "Ayah peluk terus di dadanya. Dia bilang ke Mala lewat mimpi, kalau buku itu adalah kunci pintunya."

Logika yang Menyerah pada Rasa

Rina terduduk lemas di lantai. Ia tidak lagi membutuhkan penjelasan logis dari Kapten Hadi atau agen asuransi seperti Bapak Harjo. Konfirmasi dari dua anaknya—satu yang merespons energi dan satu yang merespons rasa—sudah lebih dari cukup. Takdir sedang bergerak secara fisik. Bara telah mengambil satu langkah berani untuk pulang, melanggar batas-batas kepasrahan demi memberikan tanda pada keluarganya.

"Kalau begitu, kita tidak bisa hanya diam," Rina berdiri dengan tekad yang baru. "Rumah ini harus siap. Jembatan ini harus kokoh untuk menerima Ayah pulang."

"Ibu mau beli cat baru?" tanya Mala bingung.

"Bukan hanya cat, Mala. Ibu mau membersihkan semua sudut yang gelap. Ibu mau rumah ini wangi doa saat Ayah sampai di pintu depan," jawab Rina.

Ia melangkah menuju kamarnya, menuju sebuah laci kecil yang tersembunyi di balik tumpukan sajadah. Di sana, ia menyimpan Dana Amanah Takdir—sejumlah uang yang pernah ia temukan secara misterius setelah pertemuan Arka dengan Syeikh Tua. Selama ini ia ragu untuk menggunakannya, takut jika itu adalah ujian atau jebakan spiritual. Namun sekarang, ia tahu uang itu adalah bekal untuk fase ini.

"Maafkan aku jika aku salah, ya Allah," bisik Rina sambil mengambil beberapa lembar uang dari sana. "Tapi aku merasa ini adalah waktunya untuk membangun jembatan duniawi."

Saat tangannya menyentuh uang itu dan menutup laci, sebuah getaran mendadak merambat dari lantai kayu. Getaran itu tidak berasal dari kendaraan lewat atau gempa bumi kecil. Itu adalah getaran dingin yang seolah-olah menyapu seluruh fondasi rumah, bergerak dari bawah menuju ke atas, membuat lampu gantung di ruang tamu berdenting halus.

"Ibu merasakannya?" Arka berseru dari ruang tamu. "Lantainya dingin! Lantainya seperti air!"

Rina berlari keluar kamar. Ia bisa merasakan permukaan lantai keramik di bawah kakinya mendadak berubah suhu secara drastis, seolah-olah di bawah semen rumah mereka kini mengalir arus laut yang dalam dan kuat.

Rina terpaku di tengah ruangan, merasakan denyutan di telapak kakinya yang kini seolah menyatu dengan fondasi rumah. Getaran itu merambat perlahan, membawa sensasi asin dan basah yang hanya bisa dirasakan oleh batinnya. Ia menatap lampu gantung yang masih berdenting pelan, lalu beralih pada kompas biru tua di meja. Jarum itu tidak bergerak, tetap menunjuk Timur Laut, namun badan kompas itu sendiri perlahan bergeser beberapa milimeter di atas permukaan meja kayu, seolah-olah ditarik oleh arus yang tidak terlihat.

"Lantainya tidak basah, tapi kakiku terasa seperti masuk ke dalam air," Arka bergumam, ia kini mengangkat kakinya satu persatu, mencoba menginjak ubin dengan penuh kehati-hatian.

"Jangan takut, Arka. Itu hanya sinyal," Rina menenangkan, meski jantungnya sendiri berdegup kencang. "Ayah sedang dalam perjalanan, dan laut sedang meminjamkan suaranya pada rumah ini."

Rina menggenggam lembaran uang Dana Amanah yang baru saja ia ambil. Ia menyadari bahwa penggunaan uang ini bukan sekadar untuk belanja kebutuhan fisik, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyelaraskan frekuensi rumah dengan perjalanan Bara. Ia harus membersihkan setiap debu keputusasaan yang pernah mengendap di pojok-pojok ruangan selama suaminya hilang.

"Mala, ambilkan sapu dan kain pel. Kita akan membuang semua barang yang sudah rusak dan bau," perintah Rina.

"Ibu mau membuang sofa yang robek itu juga?" tanya Mala sambil menunjuk sofa tua di sudut yang sering ia tempati untuk menangis diam-diam.

"Iya. Kita ganti dengan yang baru. Ibu ingin saat Ayah masuk ke pintu itu, tidak ada satu pun sisa dari kesedihan kita yang tertinggal di sini," jawab Rina tegas.

Sepanjang siang itu, Rina bekerja seperti kerasukan tenaga baru. Ia menggosok ubin, mencuci gorden yang telah kusam oleh asap dapur, dan mengatur ulang posisi meja kursi. Setiap gerakan fisiknya terasa sangat berat, seolah ia sedang mendayung di tengah lautan yang pekat. Ia menyadari bahwa kelelahan yang ia rasakan adalah bagian dari 'kebisingan' yang ia tanggung demi menarik arus takdir Bara. Semakin ia bekerja keras di rumah, ia merasa semakin kuat tarikan takdir yang dirasakan suaminya di lautan sana.

Koneksi yang Terbaca di Antara Garis Peta

Di sela-sela waktu istirahatnya, Rina kembali menatap peta yang masih membentang di lantai. Ia memegang kliping koran dan sketsa batu karang Bara. Ia mulai memperhatikan koordinat yang ditulis oleh wartawan di koran tersebut. Angka-angkanya sangat spesifik. Ia mencoba mencari penggaris dan mencocokkannya dengan skala peta.

"Kenapa angkanya sama?" bisik Rina pada dirinya sendiri.

Ia menemukan bahwa jarak antara Pulau Karang dan pantai terdekat di peta itu memiliki angka yang identik dengan tanggal lahir Mala. Sebuah kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut sebagai ketidaksengajaan. Ia teringat doa Bara di halaman buku yang pernah ia mimpikan: Jangan biarkan Nirmala merasa sendirian.

"Mala, kemari. Lihat angka ini," Rina menunjuk pada titik koordinat di peta.

Mala mendekat, wajahnya tampak berpikir keras. "Itu tanggal ulang tahunku, Ma. Kenapa Ayah ada di sana?"

"Karena Ayah menjadikanmu sebagai koordinat pulangnya, Mala. Kamu adalah jangkar Ayah di tengah laut," Rina menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.

Kesadaran itu menghantam Rina dengan telak. Selama ini ia mengira ia adalah orang yang menjaga arah, padahal Bara telah mengunci takdir kepulangannya melalui cinta pada anak-anaknya. Rina kini bisa membaca pola itu dengan jernih. Takdir tidak bekerja secara acak; ia bekerja melalui jalinan emosional yang diperkuat oleh doa-doa musafir.

"Bu, ada orang di depan pagar," Arka tiba-tiba berteriak dari balik jendela.

Rina berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan karena debu. Di depan pagar rumahnya, berdiri seorang pria paruh baya yang tampak asing. Pria itu mengenakan kemeja lusuh dan memegang sebuah tas kain besar.

"Cari siapa, Pak?" tanya Rina saat mencapai pintu depan.

"Saya dari agen pengiriman barang yang melayani rute pelabuhan, Bu," ucap pria itu dengan suara rendah. "Ada kiriman paket yang tertunda selama tiga bulan. Baru bisa sampai hari ini karena kapalnya sempat rusak."

Rina menerima paket itu dengan tangan gemetar. Paket itu terbungkus plastik hitam yang sudah robek di sana-sini. Saat ia membukanya di ruang tamu, isinya adalah sebuah jaket pelaut milik Bara yang sempat tertinggal di gudang pelabuhan sebelum ia berlayar terakhir kali.

"Ini jaket Ayah yang baunya seperti minyak ikan," Mala berseru kegirangan, langsung memeluk jaket itu.

Rina mencium kerah jaket tersebut. Di saku bagian dalam, ia menemukan sebuah koin kuno yang biasanya Bara gunakan sebagai jimat keberuntungan—sebuah benda yang Bara sebut sebagai Koin Pengunci Arah. Rina meletakkan koin itu di samping Kompas Biru Tua.

Tiba-tiba, getaran dingin di lantai rumah itu meledak dalam satu denyutan terakhir yang sangat kuat, membuat ubin di bawah kaki Rina seolah-olah bergeser. Suara gemuruh air yang tadinya hanya bisikan kini terdengar jelas seperti ombak yang pecah di teras depan.

"Ibu! Lihat lantainya!" Arka menunjuk ke arah pintu masuk.

Rina menoleh. Di bawah pintu depan, mengalir sedikit air yang sangat jernih. Air itu tidak berasal dari hujan atau pipa bocor. Air itu asin, dan ia membawa aroma laut yang tajam. Secara spiritual, Rina tahu: Di suatu tempat di tengah samudera, arus telah benar-benar berubah secara fisik. Takdir telah menerima penggunaan Dana Amanah dan kehadiran jaket itu sebagai sinyal terakhir.

"Dia sudah di air, Ma. Dia benar-benar sedang pulang," Mala berbisik dengan nada penuh keyakinan.

Rina jatuh terduduk, memeluk jaket suaminya erat-erat. Ia telah selesai membaca takdir tanpa sadar. Sekarang, ia tidak lagi menunggu jawaban dari dunia luar. Ia hanya perlu menunggu suaminya melintasi pintu rumah itu.

1
Indriyati
sabar rina
Kartika Candrabuwana: iya betul😍
total 1 replies
Indriyati
iya betul sekali
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
iya sip lah
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
belum tentu🤣😄
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
bagus bara
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
alhamdulillah😍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
luar biasa caritanya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
iya betul. harus tetap tenang💪👍😍
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
selalu ada solusi.. sabar ya👍
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
alhamdulillah
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
anak yang baik👍
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sabar ya mala🤣
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
maksudnya, tawakal kepads Allah, maka bergantung pafa Allah, bukan bergantung pada caranya bertawakal
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan bara
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
ibu anak saling menyayangi
Kartika Candrabuwana: iyabbetul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
iya bara. bertahan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan sekali bara🤣🤣
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Tulisan_nic
sentuhan yang sama/Shame/
Kartika Candrabuwana: iya, kurang lebih seperti itu😄
total 1 replies
Tulisan_nic
pertanyaan yang memilukan🥲
Kartika Candrabuwana: iya, betul sekali
total 1 replies
prameswari azka salsabil
saya suka novel ini. awal membaca sudah suka karena ada tema cinta pernikahan dan juga spiritual. jadi saya juga belajar disini
Kartika Candrabuwana: terima kasih sudah yerhibur oleh novel ini🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!