Gayatri, seorang ibu rumah tangga yang selama 25 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk melayani keluarga dengan sepenuh hati. Meskipun begitu, apapun yang ia lakukan selalu terasa salah di mata keluarga sang suami.
Di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun, bukannya mendapatkan hadiah mewah atas semua pengorbanannya, Gayatri justru mendapatkan kenyataan pahit. Suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya yang cantik nan seksi.
Hidup dan keyakinan Gayatri hancur seketika. Semua pengabdian dan pengorbanan selama 25 tahun terasa sia-sia. Namun, Gayatri tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada nasib begitu saja.
Ia mungkin hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi bukan berarti ia lemah. Mampukan Gayatri membalas pengkhianatan suaminya dengan setimpal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI 26
Gayatri hanya berdiri di depan gerbang rumahnya, ragu untuk melangkah masuk. Selama beberapa saat, ia hanya menatap pintu rumah yang menutup.
“Apa yang harus kulakukan, Nin?” tanya Gayatri tiba-tiba.
Anin yang sedari tadi berdiri di belakang Gayatri menyahut, “Bersikap seperti biasa, seolah tidak ada hal yang terjadi. Kau bilang kau tak mau keluargamu tahu, kan?”
“Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Jika waktunya tiba, mereka juga pasti akan tahu dengan sendirinya,” kata Gayatri, tatapannya masih tertuju ke depan pintu rumah yang menutup.
Ia melihat dengan matanya, pintu itu membuka perlahan. Ibu mertuanya terlihat akan pergi ke suatu tempat. Namun, begitu melihat Gayatri, Sarita langsung berjalan cepat ke depan gerbang dan membuka kuncinya.
“Kau sudah pulang. Kenapa kau tidak memanggilku atau membunyikan belnya? Astaga, aku tidak mengira kau akan pulang secepat ini. Ayo, ayo masuk. Anin, kau juga masuklah.”
Gayatri dan Anin langsung berjalan masuk ke rumah. Pemandangan rumah yang pertama mereka lihat adalah ruang tamu yang berantakan. Bantal-bantal sofa bertebaran tak beraturan, piring-piring dan gelas-gelas yang belum dicuci.
Melihat itu, Sarita langsung bergegas merapikannya. “Aku lupa membereskannya. Aduh, seharusnya kalian tidak melihat hal ini,” katanya tak enak hati.
Sejujurnya, ia merasa malu. Rumah yang berantakan justru membuktikan, bahwa selain Gayatri, tak ada yang bisa mengurus rumah itu dengan lebih baik.
Gayatri dan Anin saling pandang sebelum akhirnya membantu Sarita dan membereskan semua pekerjaan rumah hari itu.
“Akhirnya,” kata Sarita merasa lega. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengurus rumah ini tanpamu, Tri. Kami benar-benar kesulitan melakukan apa pun.”
Gayatri tersenyum getir.
“Apa kau sudah membaik, Gayatri? Apa kata dokter? Apakah ada sesuatu yang mengkhawatirkan mengenai kondisimu?” tanya Sarita berikutnya.
Alih-alih menjawab, Gayatri justru menatap Anin. Tatapannya itu seolah meminta Anin saja yang menjelaskan kondisinya.
“Gayatri sudah baik-baik saja, Bu. Hanya saja, dokter bilang Gayatri tidak boleh terlalu kelelahan dan tidak boleh memikirkan terlalu banyak hal. Atau jika tidak, kondisinya bisa semakin memburuk,” jelas Anin dengan wajah serius.
Sarita sontak menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. “Astaga! Kalau begitu, mulai dari sekarang, jangan terlalu banyak bekerja. Kau harus istirahat, Gayatri.”
“Iya, Bu,” sahut Gayatri pelan.
“Beruntung Mahesa sudah mempekerjakan seorang asisten rumah tangga, jadi kita tidak perlu mengurus semuanya sendirian.” Sarita memberitahu.
***
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mahesa? Bagaimana jika Gayatri memberitahu keluargamu?” tanya Nadya berulang kali.
Bukannya membantu mencari solusi, Nadya justru menambah beban pikirannya.
“Mahesa! Katakanlah sesuatu, jawab aku. Kenapa kau diam saja?” katanya lagi dengan cemas.
Selain takut ketahuan, Nadya juga merasa takut jika Anin melakukan sesuatu lagi terhadapnya seperti terakhir kali. Nadya bahkan masih ingat dengan jelas tamparan perempuan itu sampai-sampai ia tak bisa tidur karenanya.
“Tidak bisakah kau diam, Nadya? Kau malah membuatku pusing!” bentak Mahesa kesal. Ia memijat-mijat kepalanya pelan sambil berpikir. “Tolong beri aku waktu untuk berpikir.”
“Kau terus saja berpikir tapi tetap tak ada hasil. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita preman itu. Dia bisa saja menggantungku atau menyeretku jika kau tidak cepat melakukan sesuatu,” keluh Nadya. Ia berjalan mondar-mandir di kantor Mahesa dengan cemas.
“Untuk sekarang, lebih baik kita mengawasi Gayatri. Aku sangat yakin ia tidak akan memberitahu keluarga lebih dulu,” kata Mahesa akhirnya.
Nadya menatap pria itu tak percaya. “Apa? Kenapa kau begitu yakin? Bagaimana jika ia langsung memberitahu keluargamu? Kita pasti akan tamat, Mahesa!”
Mahesa bangkit dari duduknya dan menggeleng pelan, “Itu tidak akan terjadi. Aku mengenalnya dengan baik, dia tidak akan langsung memberitahu semua orang karena ia takut ayah terkena serangan jantung, selain itu, ia juga pasti memikirkan anak-anaknya,” jawabnya dengan yakin.
Mendengar Mahesa berkata bahwa ia mengenal Gayatri dengan baik membuatnya cemburu, suasana hatinya berubah tiba-tiba. “Terserah kau saja. Aku hanya minta urus semuanya dengan baik, aku tidak mau menerima tamparan siapapun lagi.”
Setelah mengatakan hal itu, Nadya langsung keluar ruangan. Tangannya terkepal kuat, “Entah berapa banyak hal yang kulakukan untukmu. Yang tetap kau ingat tetap saja perempuan bodoh itu. Apa istimewanya dia?”
***
Sore harinya, Gayatri lebih banyak menghabiskan waktu bersama mertua dan anak-anaknya. Mereka memperlakukan Gayatri dengan baik setelah Anin memberitahu mereka mengenai kondisi Gayatri.
“Ibu, ayo makan jeruk, aku sudah mengupasnya untuk Ibu,” kata Kaluna seraya menyerahkan buah jeruk yang sudah dikupasnya.
Gayatri tersenyum dan menerima buah itu dengan bahagia. Untuk pertama kalinya ia merasa Kaluna sangat memperhatikan dirinya, hal sekecil itu saja sudah membuat hatinya merasa lega.
Keandra pun tak mau kalah, ia menyodorkan apel yang sudah ia kupas dan potong-potong dadu. “Ibu harus banyak makan buah agar lekas membaik,” katanya perhatian.
“Terima kasih, Nak.”
“Kau jangan khawatir, mulai dari sekarang, kami semua akan membantumu. Jangan memikirkan pekerjaan rumah lagi, fokuslah pada kesehatanmu.” Wira menasihati.
“Itu benar, Tri. Mulai dari sekarang, kau harus lebih banyak istirahat. Serahkan semua urusan rumah pada asisten. Mahesa sudah membayarnya mahal,” katanya berbisik di akhir kalimat.
“Suamimu juga sangat mengkhawatirkanmu. Lihat saja saat dia pulang nanti, dia pasti akan sangat senang melihatmu baik-baik saja,” tambahnya sambil tertawa pelan.
Mereka saling berbagi cerita sore itu. Sarita terus bercerita betapa suami dan anak-anaknya kesulitan mencari barang-barang mereka ketika Gayatri tak ada di rumah. Wira juga menceritakan betapa lucunya ia saat lupa bagaimana caranya menyalakan kran air.
“Ibu? Ibu sudah kembali.” Keenan yang baru saja pulang dan mendapati keluarganya sedang berbincang di taman langsung menghampiri sang ibu dan langsung memeluknya. “Syukurlah Ibu baik-baik saja.”
Gayatri tersenyum dan mengusap pipi putra tertuanya itu dengan penuh kasih. “Iya, Ibu baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Ibu,” katanya lembut.
Mereka terlihat bahagia. Tapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat Mahesa tiba di rumah. Senyum yang menghiasi wajah Gayatri, hilang seketika kala melihat pria itu memasuki gerbang.
Begitu pula dengan Mahesa yang terlihat kaget dengan kehadiran Gayatri di sana. Langkahnya terhenti beberapa langkah, menatap keluarganya dengan jantung yang berdetak cepat, apalagi saat semua mata tertuju padanya.
“Kalian … kenapa kalian menatapku begitu?”