Rumah tangga yang hancur ibarat ranting yang patah.Takan bisa disambung kembali.
Begitupun hati seorang istri yang telah dipatahkan bahkan dihancurkan takan mudah untuk sembuh kembali.
Seorang istri dan seorang ibu akan tetap kokoh saat diuji dengan masalah ekonomi namun hatinya akan remuk dan hancur saat hati suaminya tak lagi untuknya..
apa yang tersisa?
rasa sakit, kekecewaan dan juga penyesalan.
Seperti halnya yang dialami oleh Arini dalam kisah yang berjudul " Ranting Patah "
Seperti apa kisahnya?
Akankan Arini bertahan dalam pernikahannya?
Baca selengkapnya!!!
Note: Dukung kisah ini dengan cara baca stiap bab dengan baik,like,komen, subscribe dan vote akan menjadi dukungan terbaik buat author.
Dilarang boom like ❌
lompat bab ❌
komentar kasar atau tidak sopan ❌
Terimakasih, sekecil apapun dukungan dari kalian sangat berati untuk author 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
"Apa Bu? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Arin lalu ia menatap Sri lebih lama.
" Apa perlu saya ulangi lagi Arin? Baiklah,Arin menikahlah dengan hanz,hari ini tepat di jam ini saya Sri melamar kamu untuk menjadi istri Hans.Kamu tidak perlu memikirkan apapun yang saya butuhkan dari kamu hanya jawaban iya atau tidak hanya itu." jelas Sri.
Arin yang terkejut akan permintaan Sri hanya diam mematung,otaknya masih belum sampai kepada tahap itu.Ia tau putranya memang mencintai dia dan mengajaknya menikah tapi ia sungguh tak menduga jika Sri akan melamarnya langsung dengan cara seperti itu.
" Rin!"
Panggil Sri saat melihat Arin justru terdiam dengan ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan.
" Oke baiklah,saya kasih waktu kamu sampai dua hari.Oh ya malam ini saya mau pergi ke rumah saudara jauhnya ayahnya Hans lusa saya baru akan pulang,saya harap saat saya pulang saya sudah bisa mendengar jawaban dari kamu." Setelah mengatakan itu Sri bangit tanpa menunggu Arin menjawab.
" Insyaallah Bu, mudah-mudahan saya bisa kasih jawaban saat ibu pulang." Lirih Arin karna sri lebih dulu pergi dari kamarnya.
Sepanjang malam Arin tak bisa memejamkan matanya, telinganya terus saja terngiang-ngiang ucapan Sri.
Kediaman Arjun
" Jun,sudah beberapa hari indah tidak pulang jemput dia." ucap ibu Arjun saat mereka tengah sarapan pagi.
Semenjak kejadian hari itu indah memutuskan untuk pulang sementara Arjun yang masih dilanda amarah membiarkan istrinya pergi begitu saja.
"Tidak Bu arjun masih marah sama indah.Hati Arjun sakit dengan perlakuan dia,dia tidak perduli sdikitpun dengan ibu!" Ucap Arjun.
Wanita yang tengah mengoles slai di rotinya terdengar menghela nafas mendengar apa yang Arjun katakan.
" Ibu tau Jun,tapi dia istrimu.Pernikahanmu dengan Arin sudah berakhir dan itu pilihanmu dan juga,"
" Dan juga apa Bu?" desak Arjun melihat gelagat tak biasa dari ibunya.
Ibu Arjun diam sejenak,wajahnya tertunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Dulu ibu mendambakan seseorang ibu mengagumi dia dari kejauhan ibu sangat ingin menjadikan dia kekasih ibu namun kenyataan pahit ternyata ibu dapatkan laki-laki yang ibu damba-dambakan ternyata adalah tunangan seseorang.Selama ini ibu tidak pernah mengutarakan perasaan ibu,ibu hanya mengagumi dia dari jauh tanpa berkata tanpa memberi tau.Ibu tidak punya nyali untuk sekedar mengatakan hai."
" Lalu apa hubungannya dengan pernikahan saya Bu?" Arjun masih belum memahami alur cerita ibunya.
" Ada Jun."
" Apa Bu?"
"Hancurnya rumah tanggamu berawal dari semua itu?"
" Maksudnya?" Arjun tetap saja tidak faham akan kisah cinta ibunya dan perjalanan rumah tangganya.
" Laki-laki itu adalah ayah Arini dan perempuan itu adalah ibu Arini.Ibu merasa skit hati Jun,dalam kemarahan ibu dan sakit hati ibu tumbuh dendam dihati ibu,namun setelah pernikahan itu mereka pergi keluar kota tanpa jejak.Kemudian ibu dipertemukan dengan ayah kamu,dendam itu hilang namun saat ibu mendengar berita kematiannya ibu sering diam-diam mengunjungi makamnya dan suatu hari setelah hari pernikahan kamu dengan Arin ibu melihat Arin ada dimakam yang sama,makam yang selama ini ibu kunjungi.Semenjak hari itu ibu ingin sekali menyingkirkan Arin dari hidup kamu,ibu tidak rela kamu bahagia dengan dia."
" Ma-maksud ibu? Ibu sengaja membuat saya dan Arin berpisah?" Ingatan Arjun kembali menerawang ke masalalunya dengan Arin beberapa kali ia selalu ribut dengan Arin hanya karna membela ibunya hanya karna Maslah sepele.
" Jadi ibu selama ini sering membuat aku dan Arin bertengkar? Jawab Bu!" Nada bicara Arjun meninggi,ia tak mampu lagi membendung amarahnya.
Lain halnya dengan situasi di rumah Hans.
" Ayah,ayah kapan Oma pulang Dinda kangen." todong Dinda saat melihat Hans didepan paviliun.
" Astaga kenapa Dinda panggil mas Hans dengan sebutan ayah." gumam Arin.
Haap
Hans meraih Dinda dan menggendongnya seperti anak bayi.
" Oma sedang dalam perjalanan sayang,apa Dinda sangat merindukan Oma?"
" Iya ayah Dinda sangat rindu sama Oma,dua hari tanpa Oma rasanya sepi.Apa ayah tau bunda itu tidak asik diajak main,Dinda lebih suka main sama Oma." Ucapnya manja.
mendengar apa yang Dinda ucapkan mata Arin menggreling,ia tak sangka posisinya begitu cepat tergantikan oleh sang Oma.
Kedekatan Dinda dengan Sri berbeda dengan ayangnya dulu.Dengan ibu Arjun,Dinda dulu lebih ke takut karna beliau juga tidak begitu suka dengan Dinda dan Hanif.Tak jarang dua anak Arini jadi sasaran kemarahannya.
" Oh begitu,iya memang bunda tidak asik." Sindir Hans,ekor matanya tak bisa lepas dari Arin.
Pagi ini Arin tampak cantik dengan balutan dres berwarna abu, rambutnya digerai dan terlihat masih sedikit basah.Harum dari aroma parfum dan shampo yang digunakan membuat Hans ingin lebih dekat berada disamping Arin.
" Ekheem!"
Hanya deheman yang keluar dari mulut Arin,tak selang beberapa lama Hanif keluar dari kamar.
" Ayah apa hari ini ayah libur?" tanya Hanif.
Arin semakin dibuat terkejut dengan sikap kedua anaknya,entah sejak kapan mereka mulai memanggil hans dengan panggilan ayah.
" Sepertinya hari ini ayah akan meliburkan diri,ayah bebas mau datang atau tidak ke Kantor,memangnya ada apa nak?" Kini Hans beralih menghampiri Hanif namun tetap dengan Dinda dipundaknya.
" Hanif ingin bersepeda keliling taman ayah apa ayah mau menemaniku?" ucapnya tampak kikuk.
berbeda dengan Dinda yang mulai terang-terangan menunjukkan kedekatannya.
Hanif masih sesekali melirik ke arah ibunya yang masih sibuk dengan buah-buahan.Hari ini Hanif dan Dinda meminta Arin membuat salad buah.
" Wah ide yang bagus,ayah juga sudah lama tidak bersepeda,kita bersepeda sore nanti bagaimana?" Hans memberi tawaran pada Hanif.
"Dinda mau Dinda juga mau bersepeda sama ayah." kini Dinda juga tak kalah antusias.
" Wah,wah anak gadis ayah juga mau bersepeda.Oke nanti sore kita bersepeda bersama,tapi sepertinya jika ada yang menyiapkan camilan dan jus buah akan lebih asik.Bukan begitu Dinda, Hanif?"
Lagi-lagi Hans dengan sengaja mengatakan itu untuk membuat Arini angkat bicara dan kali ini Hans menang karna Arin akhirnya mendekat dan duduk disebelah Hanif.
" Bunda sama Oma nanti siapkan minuman segar buat Hanif dan Dinda." kata Arin dengan seulas senyum pada putra putrinya.
" Hanya untuk Hanif dan Dinda? Apa ada untuk ayah?" celetuk Hans membuat Arin terkejut sekaligus salah tingkah.
Arin bangkit dan pura-pura memotong buah meksipun sebenarnya buahnya sudah siap untuk salad.
" Bund,apa ada untuk ayah?" goda Hans.
" Iya untuk ayah juga,em untuk kamu juga mas Hans."
Hans tersenyum penuh kemenangan, sementara Arin menyembunyikan senyumnya karna wajahnya sudah Semerah Tomat.
Hans, Hanif dan Dinda tersenyum penuh kemenangan,bahkan mereka sampai tos untuk kemenangannya.
Bersambung.....