Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
Bab 26
Seperti biasa. Di pagi ini Sam sudah kembali ke kantor dan melakukan aktifitasnya seperti biasa. Semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Namun berbeda dengan Sinta yang tengah berbincang di dalam ruangan Pimpinan perusahaan.
"Jadi gimana mbak. Mama udah nyuruh aku cari jodoh mulu. Aku sampe malas kalau pulang ke rumah. Mbak udah coba bujuk Sam kan, buat bisa deket sama aku." ucap Radit. Ia bersama Sinta tengah membahas tentang keinginan Radit, agar Sinta bisa membantunya untuk bisa mendekatkan dirinya dengan Samanta.
"Mbak udah coba bilang sama dia, Dit. Ya begitu, anak itu susah sekali kalau masalah perasaan. Mungkin kamu harus lebih bersabar lagi sama dia ya.." balas Sinta menenangkan.
Ternyata Sinta ini adalah kakak sepupu dari Radit. Ia yang tahu kalau adik sepupunya ini sudah sangat lama menyukai Sam, tapi karena Radit tidak pandai mendekati wanita. Jadi Sinta pun, mencoba untuk membantunya.
Radit memutar-mutar kursi yang di dudukinya, berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan hati seorang Sam.
"Ya sudah mbak. Nanti aku coba sendiri saja" Radit berkata dengan sangat lesu.
"Ya sudah. Nanti mbak coba ngomong sama mama mu ya. Lagian kan tante sudah punya cucu dan menantu, kenapa masih saja, selalu mendesak putra bungsunya ini."
Sinta bangun dari tempat duduknya lalu menghampiri adik sepupunya itu.
"Ya gak tau juga lah mbak. Alasannya sih mumpung mama sama papa masih sehat. Bisa lihat anak lelakinya naik ke pelaminan, gak masuk akal banget kan"
"Bukan begitu Dit. mungkin orang tua mu ingin melihat anaknya bahagia. Sudah kalau memang kamu maunya sama Sam, pelan-pelan saja ya. Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti takutnya si Sam keburu takut duluan Sama kamu" Sinta melihat Radit sambil tertawa cekikikan.
"Aku potong gaji mbak... Mau?" ucap Radit sambil melirik Sinta dengan sedikit melengkungkan senyumannya.
Saat sodara sepupu itu masih tengah bercanda gurau. Pintu ruangan pun terdengar di ketuk dari luar.
//Tok.. Tok.
"Masuk" seru Radit yang mendengar suara ketukan di ruangannya.
Tak lama, seorang karyawati cantik berbusana kantoran yang sedikit sexy datang menghampiri ke dua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Maaf. Permisi, Pak, Bu.. saya mau menyerahkan berkas laporan yang harus di tanda tangani. Mohon periksa kembali laporannya" ucap pegawai sexy itu. Yang tak lain, tak bukan. Dia adalah Nita. Seorang asisten manager.
Radit yang melihatnya pun terasa agak risih dengan penampilan gadis di hadapannya ini. Expresinya langsung berubah menjadi tampak acuh dan dingin.
"Baik. Taruh saja. Silahkan kembali." ucapnya datar, tanpa melihat ke arahnya sedikit pun.
Dan Sinta hanya menganggukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum
"Kalau begitu saya permisi.. Pak, Bu." Nita berlalu pergi meninggalkan ruangan atasannya tersebut dengan hati kesal.
"Ihh.. kenapa sih, dia bahkan gak ngelirik gue sedikit pun. Sebel deh" Nita menggerutu ketika ia sampai kembali di meja kerjanya. Padahal sebelum masuk ia sudah berdandan begitu cantik dan merapikan penampilannya agar Radit bisa terpesona olehnya.
Di dalam ruangan.
Radit kembali berbicara kepada Sinta terkait karyawan nya yang barusan. Ia memintanya untuk memberi peringatan supaya menjaga penampilannya ketika di kantor. Menurut Radit seorang karyawan tidak sepantasnya berpenampilan sexy dan terbuka ketika bekerja. Ini kantor, dan bukan tempat hiburan. Semua karyawan harus mentaati pelaturan dan bersikap sopan dan profesional dalam segi penampilan, atau pun perilakunya
dan bukan seperti seorang penggoda.
Cetusnya tak ingin di bantah.
Sinta yang mendengarkan pun nampak setuju dengan ucapan Radit. Ia pun beranjak pamit untuk pergi ke ruangannya kembali.
.
.
Sampai tiba waktu kerja habis. Semua karyawan bersiap untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Sam yang tengah bersiap karena pekerjaannya telah selesai. Saat ia memasukan beberapa barang pentingnya, sam mengambil ponsel dan terlihat mengetikkan sesuatu di dalamnya.
("Kak. Mau pulang bareng nggak?")
tulis Sam di dalam chatnya.
//Ting
Tak lama, balasan pun terlihat.
("Kamu duluan aja ya Sam, kerjaanku masih numpuk.") ketik Sinta sambil memberi emot tersenyum dan permintaan maaf.
Sam yang melihat pun, langsung membalas pesannya lalu beranjak pergi keluar ruangan. Tak lupa ia berpamitan dengan karyawan yang lain lalu berjalan keluar gedung.
Ia melangkah menuju halte bus terdekat yang biasa ia tumpangi. Tetapi belum juga tiba di sana, Sam di kejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti tepat di sampingnya.
Terlihat dari dalam mobil seseorang langsung menurunkan kaca jendelanya, lalu tersenyum ke arah Sam.
"Sam!"
Panggil seseorang itu.
Sam yang merasa di panggil pun sedikit membungkukkan badannya untuk melihat. Ia tahu itu adalah mobik atasan nya. Sam sedikit tersenyum dan membalas sapaan pria di dalamnya.
"I–iya, Pak. Ada apa ya..?" tanya Sam antara terkejut dan penasaran.
"Ayo. Saya antar pulang.." jawab Radit di dalam mobil.
"Terimakasih Pak. Tapi saya mau naik bus saja" Sam merasa tidak enak, dan ia lebih nyaman untuk menaiki kendaraan umum saja.
Radit yang tidak hilang akal pun, keluar dari dalam mobil dan membuka pintu mobil di sebelah Sam. Lalu mempersilahkannya masuk.
"Nggak papa. Yuk bareng aja" ajaknya sambil melemparkan senyuman.
Sam yanga tak kuasa menolak, akhirnya mengiyakannya lalu masuk kedalam mobil.
Mereka berdua pun kini melaju pergi meninggalkan jalanan yang lumayan padat di sore itu.
Tanpa mereka sadari. Sepasang mata terus saja mengawasi mereka.
"Apa yang kamu ucapkan tempo hari itu bohong Sam. Awas aja kamu" gumam Nita yang tak sengaja ia melihat kepergian Sam dan Radit.
.
.
.
Di sebuah ruangan yang berbeda. Tampak Silvia tengah mengaduk teh buatanya lalu mencampurkan sesuatu ke dalamnya. Ia terlihat melengkungkan sedikit bibirnya lalu kembali berexpresi seperti biasa.
Ia lalu berjalan ke arah ruang CEO sambil membawa nampan berisi green tea hangat.
//Tok Tok
"Masuk" terdengar suara lembut dari dalam sana.
Silvia pun tersenyum manis saat Ibu Irma melihatnya. Ia menghampirinya sambil membawakan teh kesukaannya.
"Permisi tan. Ini aku bawain teh hangat, tante pasti lelah." ucap Silvia sambil menyodorkan secangkir teh ke atas meja.
Melihat itu Bu Irma lalu berkata "Makasih. Sampai ngerepotin kamu Via." Ia lalu mengambil teh di dalam cangkir itu dan langsung meminumnya. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu belum pulang? Ini kan sudah waktunya pulang kantor." sambungnya.
"Em..kebetulan kerjaan Via tinggal sedikit lagi. Saat Via akan mengambil berkas, tak sengaja Via lihat tante masih ada di ruangan, jadi sekalian saja Via buatin teh." ucapnya sambil duduk di depan meja Bu Irma
"Oh. Ya sudah. Segera selesaikan pekerjaanmu, lalu cepat pulang ya.. hari sudah semakin sore."
Bu irma sambil melihat ke arah gadis dihadapannya. Tetapi sesaat kemudian kepalanya terasa sakit dan pandangannya terasa berkunang. Bu Irma langsung menyentuh pelipisnya saat merasakan kepalanya terasa berat.
*Bersambung..*