NovelToon NovelToon
Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: JihanAnjani

Kisah Cinta Zahra dan Si Dosen tampan Arsyad yang berusaha membuat Zahra melupakan cinta Pertamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JihanAnjani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

BAB 28 : PENYESALAN!

************************

Sementara itu di satu sisi seorang pria tengah kerepotan mendiamkan seorang bayi kecil yang terus menangis, “Baby Qiya, jangan nangis terus dong sayang, papa kan mau kerja. Cup..cupp...,” seorang Papa muda yang baru saja selesai mengurus masalah perceraiannya dengan mantan istrinya.

Kini status Riswan resmi sebagai duda tampan,masih muda, kaya, dengan seorang putri kecil yang sangat cantik. Namun mungkin kalian sudah tahu jika pria itu masih menyimpan rasa untuk Zahra. Ntah itu benar atau tidak. Tapi, dalam hatinya dia masih tidak akan merelakan Zahra untuk siapapun.

Oeekkkk......

Oeeekkkk........

Oeekkkkkk.....

Baby Qiya terus meronta-ronta dalam gendongan ayahnya. Mungkin dia tahu bahwa ayahnya mempunyai niatan untuk merebut istri orang. Ya, bahkan bayi saja bisa merasakan niatan jahat. Maka, bisa di bilang bagaimana orang dewasa yang tidak peka saat mereka di selingkuhin?

Riswan kewalahan sendiri menghadapi bayi kecilnya yang baru berusia 2 bulan.“Cup....cup...cup... sayang tenang dong,” rayu Riswan sambil terus menimang Baby Qiya yang terus menangis. Riswan bahkan membiarkan jas serta baju kantornya harus basah karena air mata dan air liur purtinya itu.

“Bos, udah biar Baby Qiya sama saya aja. Bos lebih baik ke kantor, sekalian saya buka cafe dan jaga Qiya!” sebuah suara mengintrupsinya.

Riswan menoleh kebelakang melihat Mia manajer cafenya yang datang lebih awal. Saat ini dia memang berada di Cafe sekalian menitipkan Qiya kepada Mia. “Enggak ngerepotin kamu kan?” tanya Riswan merasa tak enak.

Mia menggeleng pelan dengan spontan tanganya mengambil alih Qiya dari gendongan Riswan. “Enggak apa-apa bos, lagian saya seneng sama Qiya." ucap Mia.

Dan sungguh ajaib Baby Qiya langsung diam ketika berada dalam gendongan Mia, bahkan bayi kecil itu tersenyum menggemaskan sambil menggerakan jari mungilnya menyentuh pipi Mia. Riswan dan Mia tersenyum gemas melihat bayi mungil itu yang begitu aktif.

“Sepertinya dia juga menyukaimu,” kata Riswan membuat Mia tersipu malu. “Tapi aku masih berharap dia bisa menjadi ibu bagi Qiya.”lanjutnya lagi membuat senyum Mia memudar.

Dia menatap ke arah Riswan dengan pandangan yang sulit di artikan, seperti sebuah rasa yang terpendam. “Bos, masih mengharapkan Zahra?” tanya Mia lirih. Riswan hanya tersenyum simpul sambil membelai lembut pipi putrinya itu yang tengah mengemut jempolnya.

“Ya, aku masih sangat mengharapkannya. Terlebih ketika aku tahu dia tidak mencintai suaminya maka artinya masih ada kesempatan untukku mengambil hatinya kembali!” ujar Riswan membuat Mia meringis, satu sisi hatinya terasa pedih.

“Bos, yakin?”Riswan tersenyum kearah Mia yang ada di hadapannya yang mengendong baby Qiya,

“Aku harus yakin! Dulu adalah kesalahanku karena tidak menyadari cintaku yang juga terbalas oleh Zahra. Aku malah menyetujui perjodohan yang diatur keluargaku. Jadi sekarang biar aku yang berusaha untuk memberikan ibu penganti yang baik bagi Qiya. Dan aku berharap Zahralah orangnya!” ucap Riswan penuh keyakinan dengan senyum yang menawan. Mata birunya memancarkan sebuah kebahagian.

Dan Mia tahu bahwa bosnya itu benar-benar mencintai Zahra, kenyataan itu membuat hatinya tersakiti, “Apa orang itu tidak bisa jika aku Riswan?” tanya Mia dalam hatinya. Jika ingin jujur, Mia menyukai bosnya itu. Kepribadian Riswan yang baik dan soleh, serta penyayang membuat Mia terpesona kepadanya.

Kabar pernikahan Riswan yang mendadak juga membuat Mia terpukul tapi rasa itu hanya bisa di kubur dalam-dalam karena dia dan Riswan tidaklah sederajat. Riswan anak orang kaya dan terpandang, sedang dia hanyalah gadis biasa yang di usia 25 tahun masih juga belum menemukan jodoh karena dia masih berharap pada satu orang.

Orang yang bahkan tidak meliriknya sebagai wanita. Dia jahat karena senang dengan perceraian Riswan dia berpikir akan ada kesempatan untuknya.Tapi sekali lagi dia harus memendam rasa itu ketika dia tahu Riswan ternyata mencintai Zahra! Perempuan cantik, baik, dan Sholeha seperti Zahra lagi-lagi bukan lawannya.

Dia jauh banyak kekurangan dari Zahra membuatnya lagi-lagi harus mundur. Ntah sampai kapan? Dia pun tak tahu. Tapi mungkin Mia masih belum tahu jika Zahra pun tidak menyukai Riswan lagi karena akhirnya dia tahu bahwa cinta Riswan di penuhi dengan obsesi, kelicikan, nafsu dan juga kemunafikan yang tak akan pernah bisa Zahra terima kembali. Selamanya..

**************

Zahra baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk membeli makanan dan rujak buah. Mengingat dia belum memakan apapun sejak siang kemarin karena dia hanya sarapan pagi dan tentu tidak makan siang hingga malam karena kondisi Arsyad yang membuatnya tidak bisa memikirkan apapun kecuali kondisi Arsyad.

“Ssshhhhtt....,” Zahra mengehentikan langkah kakinya sambil memengang perutnya yang terasa perih.“Baru juga enggak makan kemarin nih perut udah kumat aja sih!” rutuk Zahra mengingat dia memiliki sakit magg dan kali ini dia juga lalai menjaga kesehatannya.

Tanpa memperdulikan rasa sakitnya Zahra melanjutkan langkah nya dan kembali ke ruangan Arsyad. Terdengar suar ribut serta tawa dan candaan dari kamar rawat Arsyad. Saat sudah ada di depan pintu kamar rawat Arsyad tanganya tergantung di engsel pintu.

Sepertinya dia menjadi ragu dan malu untuk memasuki kamar Arsyad mengingat kejadian beberapa saat lalu saat dia menyatakan perasaanya. Wajah Zahra terdunduk malu, wajahnya memerah. Beruntung tidak ada yang melihat.

“Hentikan senyum menjijikanmu itu!”

Ehh, suara siapa itu? Pikir Zahra saat mendegar suara seorang pria yang seperti saling berseteru dan mengejek. “Kenapa sih? Sewot banget loo Rey?” suara Arsyad mengintrupsi.

“Rey? Rey sahabat mas Arsyad yang rada..... ah sudahlah!” gumam Zahra yang menyadari bahwa sahabat Arsyad datang menjenguk. Artinya tidak ada yang perlu di takutkan atau di canggungkan karena mereka tidak berdua di dalam kamar.

Clekkkk

“Permisi...,” suara lembut Zahra membuat ketiga orang pria dan satu wanita yaitu mertuanya menoleh serempak ke arah Zahra. Maya lebih dahulu bangkit dari sofa dan meletakan majalah yang di bacanya.

Berjalan mengahampiri menantu kesayangannya itu, “Udah balik, Za? Beli apa saja kamu?”tanya Maya melihat bungkusan yang di bawa Zahra.

Zahra sedikit menjinjingkan ke atas bungkusannya, menunjukan ke mertuanya,“Habis beli gado-gado 2 bungkus tadi, Ma! Sama rujak buah.” jawab Zahra.

“Woooowww! Gado-gado bro! Boleh minta gak? Kita berdua kebetulan belum sarapan!” suara itu membuat Zahra menoleh ke kiri terlihat ternyata ada Jefri, polisi yang dulu sering mengurus kasus kenakalan Haikal.

Zahra melirik sekilas ke arah Arsyad yang juga sedang menatapnya. Sejak Zahra datang Arsyad terus menatapnya dan tak pernah melepaskan pandangannya sedetikpun seolah mencari kebenaran yang tadi di ucapkan Zahra.

Zahra hanya menanggapi pandangan Arsyad dengan senyum lembutnya membuat Arsyad membalas senyum juga dengan tatapan lembut penuh cinta.

“Hellooowwww... disini masih ada orang kalee... kalau mau tatap-tatapan ntar aja bisa kan!” celetuk suara sinis yang baru Zahra kenal ternyata Reynaldi. Akhhh.. lagi-lagi suara sinis itu terdengar!

Zahra memutus kontak matanya dan tersenyum kikuk pada Reynaldi yang berdiri berdiri sambil menopang tangan di pingganya. “Eh, kak Rey!” sapa Zahra tapi justru mendapat tatapan tak suka dari Rey.

“Sebarangan lo ya, gua udah bilang panggil gue Rere!” sinisnya membuat Zahra hanya mengehela nafas lelah. “Dia benar-benar gak suka aku ya!” batin Zahra nelangsa.

“Rey, jaga ucapanmu. Dia istriku, sopanlah sedikit!” tegur Arsyad marah dengan memberikan tatapan tajamnya pada Rey.

“Bodo amat!” ketus Rey memberengut kemudian memalingkan wajah seolah merajuk.

“Udah-udah jangan pada berantem! Gue lapar nih!” kata Jefri yang ternyata tidak memakai baju seragamnya. Mungkin saja dia cuti untuk menjenguk sahabatnya. Zahra melihat kearah bungkusan yang di belinya, “Apa aku kasih mereka aja ya? Makan buah aja enggak masalah kan?” Batin Zahra menimang-nimang.

“Ini kak Jefri, makan aja gado-gadonya! Buat sarapan.” Ucap Zahra membuat mata Jefri berbinar. Mungkin dia memang kelaparan secara jomblo masih belum ada yang ngurus kan! Ehhehheh...

“Serius buat aku!” pekik Jefri senang. Zahra hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia berjalan ke sudut kanan kamar rawat Arsyad yang menyediakan beberapa piring serta dispenser, namanya juga ruang VVIP jadi semua tersedia lengkap.

Zahra mengambil 3 buah piring dan sendok. Kemudian meletakan 3 bungkus makanan ke masing-masing piring. 2 bungkus gado-gado dan 1 bungkus rujak sudah tersusun rapih di piring. Zahra membawa dua piring gado-gado terlebih dahulu.

“Ini kak, gado-gadonya! Ini paling enak di rumah sakit ini!” kata Zahra menyerahkan sepiring untuk Jefri.“Benarkah, wahhhh... mantap dong!” puji Jefri membuat Zahra terkekeh pelan melihat ekspresi Jefri yang menatap piring itu dengan lapar.

“Mantap dong, apalagi gratis...!” canda Zahra membuat Jefri tersenyum malu sedang Arsyad dan Mamanya tertawa melihat tingkah Jefri.

“Ck.. caper!” sinis Rey pelan membuat Zahra mendengarnya karena dia berada di depan Rey. Sedang yang lain masih menikmati menggoda Jefri yang sudah duduk di kursi sisi kanan Arsyad menikmati gado-gadonya.

Zahra tidak marah dengan sikap Rey yang masih tak suka dengannya dia justru tersenyum. “Ini satu lagi untuk Kak Rere!” ujar Zahra menyerahkan sepiring lagi.

“Gak usah!” tolaknya ketus.

Membuat Zahra kembali mengelus dada. Dia meletakan sepiring ke nakas yang ada di sebelah ranjang Arsyad di mana Rey berdiri di sampingnya.

“Makanlah, tidak baik menolak rezeki! Di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa makan!” perkataan Zahra membuat bibir Rey terkatup saat dia ingin menyela. Kemudian dengan segera dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Arsyad dan langsung memakan gado-gado itu. “Enak juga!” batinnya senang.

“Terima kasih!” gumamnya sangat pelan berharap Zahra tidak mendengarnya. Tapi sayang sekali pendengaran Zahra cukup tajam. “Sama-sama kak!” ucapnya membuat Rey salah tingkah dan mempercepat makannya.

“Sial! Dia mendengarnya! Jarang-jarang aku muji orang. Hari ini keberuntungannya karena bisa mendapatkan pujian dariku!” batinnya merasa sombong dan bangga.

“Kamu enggak makan?” tanya Arsyad khawatir. Membuat dua orang yang makan dengan lahap itu seketika menghentikan aksi makanya dan menatap Zahra.

Zahra menggeleng pelan, “Makan rujak aja, mas!” jawabnya pelan.

Arsyad hanya tersenyum paksa. Walau dia merasa sangat khawatir terlebih melihat wajah istrinya itu sedikit pucat. Zahra kembali mengambil satu piring rujak dan berjalan ke sofa untuk duduk bersama merutuanya.

“Mama mau rujak?”

Maya mengganguk semangat “Boleh, sayang!” dan jadilah Maya dan menatunya itu menikmati sepiring rujak bersama. Namun, sangat di sayangkan bagi Zahra baru sepotong buah pepaya bersauskan bumbu rujak masuk kemulutnya. Membuat perutnya terasa sangat perih.

“Sssssshhtt.. awww....!” ringis Zahra membuat semua orang menatapya khwatir.

“Kamu kenapa, nak?” tanya Maya khawatir. Zahra menggeleng pelan perutnya semakin perih seperti di cengkram sangat kuat dari dalam.

“Kamu kenapa Zahra?” kini Arsyad bertanya tanpa ada lagi kecemasan yang disembunyikan.

“Zahra enggak ap_ mmpphh...” Zahra membekap mulutnya menahan gejolak dari perutnya yang berontak keluar. Segera dia berlari ke kamar mandi dan langsung memuntahkan buah yang baru saja di makannya.

Hueekkkk....

Hueekkkkk....

Huekkkkkk....

Arsyad dengan kasar mencabut selang impus yang merekat di tanganya. Membuat darah mengalir dari tanganya. Dia tidak memperdulikan itu, dia sungguh khawatir pada istrinya yang sudah muntah-muntah di dalam kamar mandi.

“Woy! Arsyad, tangan lo berdarah!” pekik Jefri panik terlebih sahabatnya itu hanya acuh dan malah melompat turun dari ranjang.

Tokkk.....

Tokk.......

Tokkkk......

“Zahra kamu baik-baik saja?Buka pintunya?!” teriak Arsyad dengan nada cemas bukan main.

Huekkkk.....

Huekkkk...

Namun yang dia dengar hanya suara Zahra muntah. Membuatnya semakin kalang kabut begitu juga dengan Maya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan menantunya itu. “Sayang, buka pintunya nak!” teriak maya dari luar.

Arsyad mondar mandir dengan gelisah karena Zahra tak kunjung membuka pintu. “ZAHRA BUKA PINTUNYA ATAU AKU DOBRAK SEKARANG!” bentak Arsyad frustrasi.

Brukkkk...

Hilang sudah kesabarannya saat Zahra tak kunjung membuka pintu. Matanya meloto kaget saat sudah berhasil mendobrak pintu.

“ZAHRAAA!”

“YA ALLAH, NAK!” teriak Arsyad dan Mamanya panik saat sudah mendapati Zahra tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi.

“Panggilkan dokter, cepat!” teriak Arsyad murka. “Iya... iya!” Jefri menjawab dengan keadaaan tak kalah panik. Dia berlari keluar memanggil dokter.

Arsyad berusaha menggendong Zahra. Namun tanganya yang masih luka kini luka itu kembali terkoyak dan mengeluarkan darah segar yang merembes ke perbannya.

Maya panik melihat kondisi putra sekaligus menantunya, “Arsyad tanganmu berdarah, nak!” ucapnya dengan Isak tangis yang begitu khawatir.

“Zahra lebih penting mah!” pukas Arsyad cepat dan mengendong Zahra ke ranjangnya. Dengan pelan Arsyad membaringkan tubuh Zahra. Wajah pucat Zahra membuat hancur! Dia sangat khawatir hingga ke khawatirannya menutupi rasa sakit ditangannya di mana darah sudah kembali menetes mengotori lantai.

Dokter datang dengan terburu-buru, “Harap semua orang keluar!” pinta dokter. Maya, Jefri dan Rey menurut dan keluar.

“Pak Arsyad mohon Anda_,”

“Tidak! Aku akan tetap disini! Lakukan saja tugas kalian!” sergah Arsyad cepat dengan tatapan tajamnya yang menusuk membuat dokter mau tak mau mengizinkan Arsyad. “Baiklah.”usai melakukan pemeriksaan dokter menyampaikan langsung keadaan Zahra pada Arsyad yang sudah menanti dengan cemas.

“Istri Anda mempunyai penyakit magg akut serta asam lambung yang tinggi! Kondisi ini akan semakin parah jika istri Anda telat makan atau belum makan sama sekali. Dari hasil pemeriksaan sepertinya istri Anda belum makan sejak kemarin.”

Deeggg,

Arsyad terdiam membatu dengan pikirannya melayang jauh mengingat kemarin. “Sejak kemarin? Berarti sejak kemarin dia tidak makan dan menemaniku di rumah sakit? Bodoh kau Arsyad!” maki Arsyad pada dirinya sendiri.

Berniat tak menyakiti istrintya justru dia yang malah membuat maag dan asam lambung Zahra kambuh. “Setelah ini usahakan agar istri Anda tidak telat makan, maag nya cukup parah dan jika terus terjadi itu akan semakin bahaya untuk kesehatannya.” lanjut dokter itu menjelaskan pada Arsyad.

Arsyad hanya mengangguk lemah, “Terima kasih!” gumam Arsayd pelan. Dokter dan para perawat meninggalkan ruangan. Arsyad mengunci pintu agar tak ada yang menggangu waktunya bersama Zahra. Biarkanlah mama dan sahabatnya itu menunggu.

Dia sama sekali tak peduli, yang dia pedulikan sekarang adalah Zahra. Zahranya! Istrinya!

Arsyad mengecup lembut tangan Zahra yang hangat.“Maafkan aku, malah membuatmu sakit!” lirih Arsyad menatap Zahra yang terbaring lemah dengan wajah cantiknya yang pucat.

Arsyad duduk di pinggiran ranjang Zahra, air mata menetes ketangan Zahra. Ya! Arsyad kembali menangis. Inilah dia! Arsyad yang dipandang kuat oleh orang lain justru akan menangis hanya untuk seorang wanita yang begitu di cintai seumur hidupnya.

“Ayah.... ayah... hikss... Zahra rindu Ayah!” gumam Zahra terisak dalam tidurnya memanggil nama ayahnya. Membuat dada Arsyad bergemuruh hebat.

Ini salahnya! Harusnya waktu itu dia tidak membiarkan Zahra menyelamatkan kakeknya dan malah mengorbankan ayahnya.

Arsyad menangis sesegukan sambil memeluk erat tangan Zahra yang di gengamnya. “Ma-maaf! Hikss.... maafkan aku! Harusnya aku tidak membiarkamu menyelamatkan kakekku! Hikss.. hingga akhirnya kini kamu harus menderita dan bekerja untuk hidupmu.. hikss.. Zahra kumohon bangun dan hukum aku untuk semua kebodohanku!” eranganya menangis penuh kesakitan dan penyesalan.

“Bangun! Ku mohon bangun! Dan hukum saja aku!” teriaknya.

**************

1
A&R
/Smile/
Intan Ummi Ihsan
Kecewa
arfan
up
Limo Enam
mengapa ceritanya lebih seru yg S2
Rinjani
Zara kisah nya gimana nasib nya lanjut
Rinjani
lo Ayla sakit apa kan aduhh Yusuf kenapa pingin kawin apa u sumsu ya kan Zara bisa hamil lg
Rinjani
Ummi ma Haikal.kemana yaa kok gak ada ceritanya malah Ani anak bibi nya yg nemani Zahra
Rinjani
aduh Arsyad dah marah mana bisa dak bogem
Rinjani
buka topeng ya Zahra tahu deh Rey dulu padahal benci Zahra tau kenapa hanya Jefri yg baik
Rinjani
Rey semoga cepat sadar
Rinjani
Zara ma Jefri nikah deh biar tinggal Yusuf yg nikah ma adik nya edan
Rinjani
Rey sinting krn Zahra kok bisa yaaa
Rinjani
Rey kenapa gila jd suka ma Zahra seh dan nyulik waah Thor ada aja seh
Rinjani
perdarahan aduh 🙈🙈🙈😢
Rinjani
Zara minggat krn suaminya Poligami dan anaknya mengizinkan anak kecil kok bisa yaaa
Rinjani
aduh jeahh ketemu suami Zara
Rinjani
anak sahabatnya yg suaminya tau aah
Rinjani
aduh Dr Zara kok nasib mu ngini😢🤲
Rinjani
aduh jahat sekali Suami dan anak Zara nikah lg eee gila lo
Rinjani
ops Zara Anjani aduh ibunya buka tabir nih ..loo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!