aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'
'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
couple goals
Setelah memastikan rumah terkunci, Rama kembali menghampiri Alda yang masih setia menunggunya. Alda tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan Rama dengan lembut. "ayo istirahat, Ram. pasti kamu lelah memikirkan hal ini"
Rama mengangguk pelan tanpa membantah, lalu keduanya mulai berjalan ke arah kamar mereka. begitu berada di dalam, kali ini Rama duduk lebih dulu di ranjang sementara Alda berdiri di depan nya. seolah ia tahu benar jika sang suami masih masih memikirkan masalah Raka.
"masih kepikiran, ya?" tanya Alda lembut.
Alda menghela napas pelan. "iya, aku hanya... merasa ada sesuatu yang tidak beres, Da. bang Raka tidak seperti apa yang aku kenal"
Alda ikut duduk di sampingnya, mencoba menenangkan. "mungkin mas Raka sedang ada masalah pribadi yang harus dia selesaikan sendiri, Rama. kita kasih waktu sendiri untuk dia"
"mungkin itu ada benar nya, Da," jawab Rama jujur. "keluarga Risa memang menekan bang raka untuk segera meminang putrinya, mengingat usia mereka sudah tidak muda lagi. sebenarnya ini sudah dibicarakan dua pihak keluarga, tapi abang masih meminta waktu tahun depan"
Alda mengangguk paham, kemudian dengan lembut ia mengelus pundak lelaki ini dengan lembut. "sudah, jangan dipikirkan terlalu dalam. besok kita juga ada acara di sekolah, lebih baik kita istirahat sekarang, ya."
Rama tersenyum tipis. "iya, kamu benar. ayo kita istirahat"
perbincangan mereka pun selesai, dan Rama segera berdiri. ia mengambil bantal serta selimut, lalu melangkah menuju sofa. namun, baru saja ingin merebahkan diri, tangannya tiba-tiba ditahan oleh Alda.
"kamu mau apa, Ram?" tanya Alda dengan suara pelan, ada sedikit gugup dalam nada bicaranya.
Rama menoleh, agak bingung. "tidur, Da."
Alda menggigit bibirnya ragu, lalu memberanikan diri berbicara. "kenapa harus di sofa lagi? kita kan sudah..." ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Rama paham maksudnya.
Rama hanya tersenyum kecil. "aku hanya tidak ingin kamu merasa tertekan dengan kehadiranku, Da."
Alda terdiam sejenak sebelum akhirnya menatap Rama dengan penuh keyakinan. "kalau aku merasa tertekan, aku tidak akan menahanmu sekarang, Ram. bukankah kamu sendiri yang mengatakan, jika kita sudah saling tau luar dan dalam. jadi apa yang perlu di jarak lagi?"
Rama terkejut, tidak menyangka Alda akan mengatakan itu dengan begitu jujur. ada kehangatan yang terasa di dalam dada Rama saat mendengar kata-kata istrinya.
setelah beberapa detik saling menatap, Rama akhirnya menghela napas pelan dan tersenyum lembut. "baiklah... aku tidur dengan mu."
Alda ikut tersenyum, lalu berjalan bersama kearah ranjang mereka. tanpa kata-kata lagi, keduanya pun akhirnya berbaring di satu tempat yang sama. malam itu, meski banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang Raka, setidaknya mereka bisa merasa sedikit lebih tenang dalam kebersamaan.
**********
keesokan harinya
saat pagi menjelang, Alda sudah bersiap di depan meja rias, memastikan penampilannya tampak sempurna untuk acara hari ini. ia mengenakan atasan batik bernuansa cokelat keemasan dengan motif klasik yang anggun, dipadukan dengan rok panjang berwarna senada yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan elegan, tetap sopan namun memiliki kesan seksi yang tidak berlebihan. rambutnya ia tata dengan rapi, sebagian diikat ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya. riasan wajahnya juga lebih diperhatikan kali ini, natural, namun cukup untuk menonjolkan kecantikannya.
setelah merasa puas dengan penampilannya, Alda melirik jam tangannya. Rama masih belum juga kembali setelah ia memilih membersihkan tubuhnya di lantai bawah. meski mereka sudah menjadi suami istri, ada beberapa hal yang masih terasa canggung untuk dibahas, termasuk soal mandi. Alda menghela napas pelan, kemudian memutuskan untuk keluar lebih dulu.
namun, saat pintu kamar baru saja terbuka, ia justru langsung berhadapan dengan Rama yang kebetulan juga ingin masuk kearah kamar.
Degg!!...
Alda terdiam sejenak, dan matanya langsung menangkap perubahan pada suaminya. Rama tampak berbeda pagi ini, lebih gagah, lebih dewasa. ia mengenakan kemeja berwarna gelap yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana panjang yang mempertegas posturnya yang tegap. namun, yang paling mencuri perhatian Alda adalah kacamata yang kini bertengger di wajah Rama.
seketika, Alda terpukau. matanya menelusuri sosok suaminya dari ujung kepala hingga kaki, dan entah kenapa, ini pertama kalinya ia melihat Rama seformal ini. pangling. itu kata yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
tanpa sadar, Alda bergumam pelan, "Rama...?"
Rama mengangkat alis, sedikit bingung dengan ekspresi Alda. "kenapa, Da? ada yang aneh, ya?" tanyanya santai, meski ada sedikit senyum di ujung bibirnya.
Alda mengerjapkan mata, lalu buru-buru menggeleng. "tidak... hanya saja... aku tidak pernah melihatmu seperti ini," ucapnya jujur, masih tak bisa mengalihkan pandangannya.
Rama menautkan alisnya "jadi, aku kelihatan aneh, ya? apa aku ganti baju saja? sebenarnya aku juga tidak percaya diri tampil seperti ini, aku tak..."
Alda cepat-cepat menggeleng lagi. "bukan aneh... tapi..... kamu semakin tampan, Ram. sangat cocok dan lebih dewasa. aku suka"
Blush!..
kali ini ucapan Alda berhasil membuat wajah Rama berubah merah merona. dengan cepat lelaki ini mencoba mengalihkan pembicaraan mereka "a-ayo kita bergegas pergi, Da. takut kamu telat nantinya" kilah Rama
alda hanya tersenyum kecil mengangguk. "baik, Ram. ayo berangkat."
setelah memastikan semuanya siap, Rama dan Alda akhirnya bersiap meninggalkan rumah. Rama menggenggam kunci mobilnya, sementara Alda menyesuaikan tas tangan yang ia bawa.
ketika mereka menuruni tangga menuju lantai dasar, suasana rumah terasa sepi. Rama sempat melirik ke arah ruang keluarga dan dapur yang tampak sunyi. tak ada suara atau tanda-tanda kehidupan di dalam rumah.
"sepertinya Ayah dan Ibu masih tidur," gumam Rama pelan.
Alda yang berjalan di sampingnya ikut melihat sekeliling. "mungkin mereka pulang larut semalam."
Rama mengangguk, lalu berjalan menuju garasi. sekilas, ia melirik mobil Ayahnya serta motor Raka yang sudah terparkir rapi. itu berarti mereka semua sudah pulang, hanya saja belum ada yang terlihat.
"yasudah, kita langsung berangkat saja," ujar Rama sambil membuka pintu mobil untuk Alda.
Alda sedikit tersenyum, lalu masuk dan duduk di kursi penumpang. Rama menutup pintu untuknya sebelum akhirnya ia sendiri duduk di kursi kemudi.
begitu mesin mobil dinyalakan, suara lembut dari radio mobil mulai mengisi keheningan pagi. Rama menyesuaikan kaca spion, lalu menoleh sekilas ke arah Alda.
"kita berangkat, Da?" tanyanya santai.
Alda menoleh dan tersenyum kecil. "iya, Ram."
Rama menginjak pedal gas, membawa mobil mereka perlahan keluar dari garasi. begitu melewati gerbang rumah, ia memastikan kembali kalau pintu gerbang telah tertutup dengan baik, sebelum akhirnya melajukan mobil ke jalan utama.
matahari pagi mulai meninggi, menyinari jalanan yang masih lengang. Alda menatap keluar jendela, menikmati suasana pagi yang sejuk, sementara Rama tetap fokus menyetir, sesekali melirik ke arahnya.
mereka akhirnya meninggalkan rumah, melanjutkan perjalanan menuju sekolah Alda, memulai hari yang mungkin akan membawa lebih banyak kejutan.
Alda memperhatikan jalanan dari balik jendela mobil, sesekali melirik Rama yang fokus menyetir. suasana di dalam mobil cukup nyaman, hingga tiba-tiba Rama melirik ke arahnya dan bertanya,
"mau singgah cari sarapan dulu?"
Alda menoleh dengan sedikit bingung. "apa kamu sendiri sudah lapar, Ram?"
Rama menggeleng pelan. "tidak juga. aku masih kenyang sisa makan malam semalam."
Alda tersenyum kecil. "sejujurnya aku juga, Ram. perutku masih kenyang. bagaimana jika kita langsung ke sekolah saja? "
"baiklah, kita langsung ke sekolah saja" Rama menatapnya sesaat, lalu kembali fokus ke jalan. namun, meski Alda mengatakan hal yang sama, hatinya tetap merasa khawatir. sarapan itu penting, terutama untuk Alda yang akan menghadiri acara di sekolahnya.
tanpa banyak bicara, Rama akhirnya menepikan mobil di minimarket terdekat.
"tunggu di sini, Da. aku sebentar saja." ujar Rama sambil melepas sabuk pengamannya.
Alda sempat ingin ikut turun, tetapi Rama langsung menahannya dengan tatapan tegas. "tinggal di mobil saja, Da. aku akan cepat kembali."
Alda mendesah pelan, lalu mengangguk. "baiklah..."
Rama pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam minimarket. sementara itu, Alda memperhatikan sekeliling, sedikit penasaran dengan apa yang akan dibeli Rama.
tak butuh waktu lama, Rama kembali dengan sebuah kantong plastik di tangannya. tanpa banyak bicara, ia menyerahkan benda itu pada Alda, beberapa roti dan susu kemasan.
Alda menatap barang-barang itu dengan mata sedikit membesar. "ini... untuk ku?" tanyanya, sedikit terkejut dengan perhatian Rama.
Rama mengangguk santai sambil kembali memasang sabuk pengamannya. "iya. mungkin kamu belum lapar sekarang, tapi nanti kalau di sekolah kamu mendadak lapar, setidaknya ada sesuatu yang bisa kamu makan."
Alda menatap suaminya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. ada sesuatu dalam perhatian kecil ini yang membuat hatinya terasa hangat. dengan lembut, ia tersenyum. "terima kasih, Rama."
Rama hanya mengangguk kecil dan menyalakan mesin mobil kembali. "kita lanjut berangkat"
Rama kembali melajukan mobil setelah menepikan sebentar di minimarket. Alda yang kini menggenggam roti dan susu di tangannya melirik sekilas ke arah suaminya yang masih fokus menyetir.
mereka melaju dengan tenang, hingga akhirnya terhenti di lampu merah. dalam hening sesaat itu, Alda membuka bungkus salah satu roti yang dibelikan Rama. ia menggigit sedikit, lalu menoleh ke arah suaminya.
tanpa diduga, Alda kemudian menyodorkan sepotong roti ke arah Rama.
rama yang awalnya hanya diam, langsung menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut. "eh, untuk ku?"
Alda tersenyum kecil, bisa membaca keterkejutan polos di wajah suaminya. "aku makan, maka kamu juga harus makan," ujarnya lembut. "fokuslah menyetir, aku suapi."
Rama masih sempat ragu. "tapi, Da..."
Alda mendekatkan roti itu lagi. "kesehatan ku mungkin penting, tapi kamu juga harus lebih sehat."
Rama akhirnya menyerah dan membuka mulutnya. Alda menyuapkan roti itu dengan penuh perhatian, membuat lelaki itu tak bisa menahan senyum kecil yang muncul di wajahnya.
"enak?" tanya Alda setelah Rama mengunyah.
Rama mengangguk, menelan rotinya. "lumayan," jawabnya santai, meski ada nada canggung dalam suaranya, sementara wanita itu juga ikut makan dengan tenang. sesekali, ia melirik ke arah suaminya yang masih fokus menyetir.
setelah beberapa gigitan, Alda mengambil susu putih kemasan yang juga dibelikan Rama. ia membuka tutupnya perlahan, lalu menyodorkan sedotan susu itu ke arah Rama.
"ini minum, Ram," ucapnya ringan.
namun tiba-tiba gerakan Alda mendadak terhenti. sedotan masih melayang di udara, namun tangannya tiba-tiba tidak bergerak. dahinya sedikit mengernyit, seolah baru mengingat sesuatu.
Rama, yang sempat melirik sekilas ke arahnya, menyadari perubahan ekspresi istrinya. "ada apa, Da?" tanyanya heran.
Alda masih diam beberapa detik sebelum akhirnya menurunkan susu itu. ia menatap Rama dengan mata sedikit sayu, lalu berkata pelan, "ku lupa kejadian waktu SMA beberapa tahun lalu…"
Rama semakin bingung. "ejadian apa?"
Alda menarik napas, kemudian melanjutkan dengan nada sedikit ragu, "bukankah gara-gara susu pemberian Gani, kamu sampai masuk UGD, sejak saat itu, kamu alergi susu putih…"
Rama yang sedang menyetir terdiam sejenak. Kata-kata Alda membawanya ke dalam kenangan lama yang hampir terlupakan. ia hanya mengerjapkan mata dan menghela napas kecil, lalu tertawa ringan. "sebenarnya… aku hampir lupa soal itu. padahal itu sudah kejadian sangat lama"
Alda menghela napas lega. "aku yang akan merasa bersalah jika sampai itu terulang lagi" ia segera menutup kembali susu putih itu dan meletakkannya di pangkuannya.
Rama melirik sekilas ke arah Alda dan tersenyum tipis, "kamu masih ingat, Da?" tanyanya dengan nada lembut, seolah tak percaya.
tanpa sadar, Alda langsung menjawab, "hal sekecil apa pun tentang kamu, aku pasti ingat. kamu saja yang mungkin tidak terlalu menganggap aku ada."
begitu kalimat itu meluncur, Alda langsung menutup mulutnya, menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. wajahnya berubah merah seketika. ia tidak bermaksud mengatakannya dengan nada menyindir, tapi sekarang ia justru terdengar seperti sedang mengungkapkan perasaannya.
Rama, yang awalnya hanya iseng bertanya, malah tersenyum lebih lebar. tatapannya penuh arti saat menatap Alda, "jadi benar kata Arya... kamu memang menyukaiku sejak dulu, ya?"