Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Vera perlahan membuka matanya di pagi hari itu. Dia merasa sedikit lebih baik dibandingkan semalam. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi setidaknya kesadarannya sudah kembali penuh. Dia menoleh ke samping dan mendapati Sagara yang masih tertidur di sofa di sudut ruangan.
Pria itu tertidur dengan kepala bersandar pada sandaran sofa dan lengannya terlipat di dada. Napasnya terdengar teratur, menandakan betapa lelahnya dia setelah semalaman menungguinya.
Vera hanya menatapnya dalam diam. Ada perasaan aneh yang muncul di hatinya. Apa Sagara memang sebaik itu? Bahkan dia bukan siapa-siapa Sagara seharusnya tidak perlu sampai menunggunya. Belum lagi ruang VIP yang sekarang dia tempati, apa juga Sagara yang membayar. Dia tidak punya uang untuk membayar semuanya.
Vera mengalihkan pandangannya ke langit-langit. Pikirannya mulai dipenuhi dengan banyak hal. Apa yang harus dia lakukan setelah ini? Kehidupannya terasa kosong. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di kota itu. Dia sudah kehilangan banyak hal.
"Aku harus segera kembali kuliah dan mencari kerja. Sekarang aku sendirian. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri."
Vera menarik napas panjang.
Dia menoleh lagi ke arah Sagara. Tatapannya melunak. Bagaimanapun juga, pria itu telah melakukan banyak hal untuknya.
Saat dia masih tenggelam dalam pikirannya, Sagara tiba-tiba bergerak. Pria itu mengerjapkan matanya, tampak sedikit linglung karena baru terbangun. Akhirnya dia menoleh ke arah brankar Vera.
Tatapan mereka bertemu.
"Lo udah bangun?" suara Sagara terdengar serak karena baru saja bangun tidur.
Vera mengangguk pelan. "Iya. Lo nggak pulang?"
Sagara menguap kecil dan meregangkan tubuhnya. "Gue udah bilang, gue nggak bakal ninggalin lo sendirian."
Vera menelan salivanya. Ada sesuatu dalam nada suara Sagara yang membuat dadanya terasa hangat. Tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya terbuai. Dia tersenyum kecil. "Makasih, Saga."
"Iya, gue lakukan ini karena lo kakaknya Rhea." Dia bangkit dari sofa dan mendekati Vera "Gimana rasanya hari ini?" tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.
"Udah mendingan. Gue bisa pulang, kan?"
Sagara menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Vera dengan sorot mata tenang. "Iya, siang ini lo bisa pulang," jawabnya. "Tapi gue mau nanya sesuatu."
Vera mengerutkan keningnya. "Apa?"
Sagara menatapnya lekat-lekat. "Apa ada keluarga yang bisa gue hubungin buat jemput lo?"
Vera terdiam. Senyum tipisnya menghilang, tergantikan oleh ekspresi kosong. Dia menatap tangannya yang tergeletak di atas selimut, mengusapnya perlahan seolah sedang menenangkan diri.
Dulu, dia pikir dia punya keluarga.
Setelah orang tuanya meninggal, dia dekat dengan keluarga Novan. Orang tua Novan SE sering merawatnya dan Rhea, memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Dia percaya mereka tulus. Tapi setelah semua yang terjadi, dia sadar bahwa tidak seharusnya dia percaya pada orang yang baik padanya.
Sagara yang menunggu jawaban akhirnya mendengar helaan napas panjang dari Vera. Dia menggeleng pelan. "Nggak ada," katanya lirih.
"Jadi… setelah ini lo mau ke mana?" tanya Sagara hati-hati.
Vera tersenyum hambar. "Gue bakal langsung balik ke tempat kuliah. Gue nggak ada alasan buat tetap di kota ini. Kota ini terlalu menyakitkan."
Sagara menatap Vera dalam diam. Senyum tipis yang menghiasi wajah gadis itu tidak bisa menutupi kepedihan di matanya.
"Lo yakin? Lo bisa di sana sendirian? Kalau lo mau, gue bisa bantu lo masuk ke kampus di kota ini. Setelah itu, lo bisa kerja di tempat Papa gue."
Vera menggeleng perlahan. "Gue nggak mau repotin lo, Saga. Gue pasti bisa jalani hidup gue sendiri."
Dia mencoba duduk lebih tegak, lalu dengan perlahan menurunkan kakinya dari brankar. Sagara langsung mengernyit melihat usaha keras Vera untuk berdiri.
"Mau ke mana? Gue panggil suster kalau lo mau ke kamar mandi."
Vera kembali menggeleng, tidak mengatakan apa pun. Dia berjalan pelan, tetapi langkahnya goyah. Rasa sakit akibat benturan semalam masih terasa di seluruh tubuhnya. Kakinya terasa kaku dan berat, membuatnya harus berpegangan pada pagar brankar agar tidak jatuh. Namun, sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Sagara bergerak cepat. Dalam satu langkah besar, dia menangkap Vera sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh. "Jangan sok kuat!"
Vera menepis tangan Sagara yang melingkar di lengannya. "Saga, gue bisa sendiri," katanya lirih, meskipun jelas tubuhnya belum sepenuhnya kuat.
Sagara mendengus, lalu melipat kedua lengannya di depan dada. "Kalau lo canggung sama gue, gue panggilin nyokap gue aja buat rawat lo."
Langkah Vera terhenti di ambang pintu kamar mandi. Dia menoleh ke arah Sagara dengan terkejut. "Nyokap lo?" Gumamnya, seolah mempertimbangkan sesuatu. Namun, detik berikutnya dia menggeleng cepat. "Nggak usah. Gue bisa sendiri."
Setelah mengatakan itu, Vera masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
Sagara hanya menghela napas sebelum berjalan kembali ke sofa. Dia meraih ponselnya, berencana memesan makanan untuk Vera dan dirinya sendiri. Namun, sebelum sempat menekan tombol pesanan, suara seseorang terdengar dari arah pintu.
"Vera ada di sini, kan?"
Sagara menoleh dengan alis bertaut. Dia langsung melihat Dwiki berdiri di ambang pintu, membawa kotak makanan di tangannya.
Ekspresi Sagara langsung berubah tajam. "Ngapain lo ke sini?" tanyanya dengan nada datar, meskipun sorot matanya menyiratkan ketidaksenangan.
Dwiki menarik napas panjang sebelum menjawab. "Sebenarnya dari semalam gue mau ke sini, tapi bokap gue melarang. Gue juga nggak begitu percaya sama lo, takutnya lo sebelas dua belas sama Novan."
Sagara mendecak kesal. Dia berdiri, meraih jaketnya, lalu menatap Dwiki dengan tatapan tajam. "Ya sudah, gue mau balik dulu. Vera ada di kamar mandi. Dia udah boleh pulang siang ini, nanti biar gue jemput."
Dwiki menggeleng. "Biar gue aja yang urus."
Sagara menyipitkan matanya, menatap Dwiki dengan penuh kewaspadaan. "Gue juga nggak sepenuhnya percaya sama lo." Tanpa menunggu jawaban dari Dwiki, Sagara melangkah keluar dari ruang rawat itu.
Dwiki menghela napas panjang, lalu berjalan ke arah sofa. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sana, menyandarkan punggungnya. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit ruangan.
"Lagi-lagi harus saingan sama Saga," gumamnya. "Gue akui dia punya segalanya. Kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan. Tapi gue nggak akan mengalah begitu saja."
Beberapa saat kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka.
Vera keluar, langkahnya masih sedikit tertatih. Namun, begitu matanya menangkap sosok Dwiki yang duduk di sofa, ekspresi wajahnya langsung berubah terkejut.
"Kenapa lo ada di sini?"
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥