Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hiburan Sesaat
Ku genggam tangan Pierre dan bersandar di pundaknya. Pierre pun ikut menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku, kedua tangannya menggenggam tangan kananku. Sesekali ia mencium punggung tanganku dengan kecupan yang cukup lama.
"Kamu kemana aja? Kok baru ke sini?" tanyaku dengan suara lemah.
"Maaf sayang.. Zoey dan Zayn mungkin sedang jet lag, jadi ada sedikit drama tantrum tadi"
"Astagfirullah.. maafkan aku, aku tidak memikirkan ke arah situ"
"Tidak apa, aku mengerti. Kamu pasti sangat khawatir dengan keadaan kakek dan nenek. Aku memakluminya sayang"
"Lalu bagaimana jadinya?"
"Aku dan om Ijal mengajak mereka bermain, untung saja rumah sakit ini dilengkapi dengan tempat bermain anak. Jadi mereka bisa asyik bermain disana.. tapi aku tidak diijinkan sedetik pun meninggalkan mereka" aku merasakan Pierre menahan tawanya.
"Sekarang mereka dimana? Apa masih di bawah? Dengan siapa?"
"Ya, mereka asyik bermain dengan teman-teman barunya. Yaaaa... walau terkendala bahasa sih"
"Semoga mereka tidak menjahili atau dijahili oleh teman barunya"
"Kau tahu sayang, Zoey dan Zayn adalah anak yang pintar, mereka mungkin cukup sulit mengucapkan apa yang ingin mereka katakan, tapi setidaknya mereka mengerti apa yang ducapkan oleh teman-temannya"
"Haha.. anak kecil walau mereka belum bisa berbicara saja seperti bisa berkomunikasi, apalagi sudah pandai bicara seperti mereka"
"Ya, kau benar sayang.. maka kau tak usah mengkahawatirkan mereka. Pak Anto dan Bi Inah yang menjaga mereka di arena permainan"
"Terimakasih sayang.. kamu memang suami terbaik untukku, dan ayah terhebat untuk Zoey dan Zayn.. walau-"
Pierre memotong perkataanku, aku tahu dia tak suka aku berbicara bahwa Zoey dan Zayn bukan anak kandungnya. Dia memang benar-benar seperti malaikat bagi kami bertiga.
"Itu sudah menjadi kewajibanku. Dan aku bahagia memiliki kalian sebagai keluargaku"
"Aku beruntung mendapatkanmu sebagai suamiku"
Pierre menegakkan badannya dan menghadap ke arahku, sontak aku pun menegakkan badan dan ikut menghadap ke arahnya.
"Maka dari itu, tersenyumlah.. untukku, demi aku, dan karena aku.."
Pierre tersenyum sangat manis, seolah menular, aku juga ikut tersenyum. Ugh, bibir sexy itu, kalau saja ini bukan rumah sakit, kalau saja suasananya tidak mengharu biru seperti ini, sepertinya sudah ku cium dan menghabiskannya saat ini juga. Haha
Aku sedikit terhibur dengan percakapanku dan Pierre. Membahas segala tingkah laku Zoey dan Zayn atau pun mengenai keluarga kecil kami, pasti selalu berhasil membuat kami larut dalam pembahasan. Hal tersebut sedikit membuat kekhawatiran dan kesedihanku sedikit demi sedikit memudar.
Walau tak bisa dipungkiri juga, hatiku masih dag dig dug menanti kabar dari kakek dan nenekku. Dalam hati juga aku tak berhenti melafalkan doa demi kesembuhan mereka berdua. Frustasi mulai kembali muncul menyerangku.
Melihatku yang kembali murung, Pierre langsung meraup tubuhku, mendekapku. Aku selalu merasa aman bersamanya, dan selalu merasa sangat nyaman di dalam pelukannya. Dia selalu berhasil melumpuhkan egoku hanya dengan memelukku.
"Tenang sayang.. jangan berhenti berdoa"
"Aku selalu berdoa, Pierre.. tapi entah kenapa hatiku selalu merasa tak tenang"
"Itu karena pikiranmu sedang kacau, mak dari itu tenangkanlah"
"Aku tak bisa berpikir jernih. Aku takut kehilangan mereka, Pierre"
"Ssstt.. jangan berpikiran macam-macam. Mereka pasti sembuh. Berdoa terus ya sayang"
"Hmmm"
Suara pintu ruang perawatan kakek dan nenekku terbuka, hatiku mulai terasa tak karuan. Aku segera melepas dekapan Pierre, berdiri, dan sedikit berlari ke arah dokter yang keluar. Entah kenapa perasaanku mulai tak enak, wajah dokter itu sedikit murung. Apa yang terjadi?