Diaz, CEO yang menjual bunga dan coklat setiap hari Sabtu. Dia mencari wanita yang cocok dengan sepatu kaca biru milik ibunya. Apa sebenarnya tujuan mencari wanita itu? Memangnya tidak ada wanita lain? Bukankah bagi seorang CEO sangat mudah mencari wanita mana pun yang diinginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Nurcahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tahu Kamu Leri
Bab 28
Lili masih berdiri di dalam toko bunga, menatap Joan dengan ekspresi penasaran.
“Sekarang bukan hari Sabtu, kenapa Tuan Diaz jualan bunga?” tanyanya pelan.
Joan tersenyum kecil. “Entahlah, mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Atau ada masalah berat.”
Lili menatap keluar, melihat Diaz yang masih sibuk menawarkan bunga dengan ekspresi tenang, seakan tidak ada masalah dalam hidupnya.
Joan melanjutkan, “Biasanya dia datang ke sini selain untuk menjual bunga juga mencari suasana baru dari rutinitas pekerjaannya.”
Lili terdiam. Jadi, Diaz datang ke sini untuk menenangkan diri? Apa yang sedang membebani pikirannya?
—
Di Luar Toko
Sementara itu, Diaz melihat seorang pria yang hendak masuk ke toko.
“Dion?” panggilnya. “Kau sendiri?”
Dion menoleh, sedikit terkejut melihat Diaz di sini. “Saya bersama Nona Lili.”
Diaz mengerutkan keningnya. “Nona Lili?”
“Iya, Tuan,” jawab Dion sopan. “Dia ada di dalam.”
Diaz tertegun sejenak. “Di dalam?”
Dion mengangguk. “Anda tidak melihatnya masuk?”
Tanpa menjawab, Diaz melangkah masuk ke dalam toko. Pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang disebutkan Dion. Namun, dia tidak melihat siapa pun.
Hingga akhirnya, matanya menangkap Joan yang tengah berbicara dengan seorang wanita.
Diaz tersenyum kecil, lalu berbalik dan keluar lagi. Entah apa maksudnya, seakan dia hanya ingin memastikan kata-kata Dion. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu mengapa reaksinya terhadap Lili seperti ini.
—
Setelah memilih bunga lily putih untuk dibawa ke makam adiknya, Lili berjalan menuju pintu keluar.
Namun, Dion menghentikan Lili sejenak, dengan ekspresi bingung. “Nona, kenapa masih pakai masker?”
Lili hanya diam, seperti sedang menimbang sesuatu.
“Bukankah tidak baik jika Anda saling mengenal dengan Tuan Diaz, tapi tidak saling sapa?”
Lili menoleh, menatap Dion dari balik maskernya. Dia tersenyum tipis. “Kau tahu kenapa aku pakai masker, bukan?”
Dion menatapnya sesaat, lalu mengangguk pelan. “Iya, saya tahu, Nona. Tapi ini tentang... Maaf, attitude.”
Lili mengerutkan kening.
Dion melanjutkan, “Jika Anda memiliki masalah pribadi, mohon jangan disangkutkan dengan urusan bisnis. Tuan Diaz adalah mitra perusahaan kita.”
Lili terdiam. Yang dikatakan Dion benar. Dia tidak seharusnya mengabaikan seseorang hanya karena suasana hatinya sedang tidak menentu.
‘Kenapa aku bersikap seperti seseorang yang sedang terlibat perasaan dengan Diaz dan sedang marahan?’ pikirnya dalam hati. ‘Ah... gak jelas banget sih aku.’
Lili menarik napas dalam. Tidak, dia tidak boleh berpikir sejauh itu.
‘Sampai kapan pun, Diaz adalah Tuanku. Dia anak majikannya Ayah. Aku harus tahu diri.’
Lili menunduk sedikit dan mengucapkan terima kasih pada Dion. “Kau benar, terima kasih sudah mengingatkanku.”
Mereka kemudian berjalan keluar toko.
—
Saat sampai di depan toko, Lili akhirnya menyapa Diaz dengan sopan.
Diaz menoleh, tersenyum samar. “Kenapa tadi saat Anda masuk, aku tidak tahu?” tanyanya.
Lili tersenyum kecil. “Maaf, aku terburu-buru, karena hari sudah mulai gelap.”
Diaz mengangguk pelan, tapi tidak segera pergi. “Anda baik-baik saja setelah kejadian tadi siang?”
Lili terkesiap, tapi dengan cepat menampilkan senyum tipis. “A-aku baik-baik saja.”
Diaz menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Lili pun pamit dan berjalan pergi, sementara Diaz masih berdiri di tempatnya, menatap punggung wanita itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Percakapan mereka memang menjadi kaku, entah kenapa. Apa karena bukan tentang bisnis yang dibahas?
###
Lili berdiri di depan makam Naura, menatap batu nisan yang sudah mulai lapuk oleh waktu. Dengan hati-hati, dia merapikan bunga lily yang baru saja dia letakkan.
"Naura, bagaimana kabarmu di sana?" gumamnya pelan. Suaranya hampir tertelan angin sore yang berembus lembut di antara pepohonan pemakaman.
Dia berjongkok, menatap nama adiknya yang terukir jelas. “Sebentar lagi Kakak akan membawa Ayah dari rumah Tuan Gunawan. Kakak kasihan melihatnya... Dia masih berharap Ibu sadar, meski tak pernah menunjukkan perasaannya. Tapi Kakak tahu... Ayah masih mencintai ibu.”
Lili menarik napas dalam. “Naura, Kakak janji akan membuat Ayah bahagia. Kakak juga akan membalas semua perlakuan Tuan Gunawan padamu.” Suaranya mengeras penuh tekad. “Saat ini Kakak sudah punya kekuatan untuk bertindak."
Lili mengelus nisan itu perlahan, sebelum akhirnya mengambil dan menyiram makam dengan penuh kehati-hatian. Namun, ketika hendak bangkit, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"Leri!"
Lili tersentak, tubuhnya kaku seketika. Dia menoleh dan langsung berdiri dengan refleks menjawab.
“Ya?”
Saat melihat siapa yang memanggilnya, jantungnya terasa berhenti sesaat. "Tuan Diaz?"
Tatapan lelaki itu tajam, penuh selidik. Dia melangkah perlahan mendekati Lili, seolah memastikan sesuatu.
“Kau Leri?” tanyanya tegas.
Lili menelan ludah, otaknya bekerja cepat mencari alasan. “A-aku… ap... b-bukan.”
Diaz menyipitkan mata. “Lalu kenapa kau menoleh saat aku menyebut nama Leri? Dan kenapa kau gugup?”
Lili berusaha mengendalikan ekspresinya. “Jelas saja terkejut! Di sini sepi, hampir gelap, tiba-tiba ada suara.”
Diaz masih menatapnya penuh curiga. Pandangannya beralih ke makam di hadapan Lili.
“Kenapa kau mengunjungi makam Naura?” tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih pelan, tapi penuh tekanan.
Lili menegang. Dia tahu Diaz tidak akan puas dengan jawaban yang samar. Dia harus menjawab sesuatu yang masuk akal.
Dia menarik napas, lalu berkata, “Aku ditugaskan Ayah.”
“Ayah?”
Lili mengangguk cepat. “Penjaga makam ini.”
Diaz memicingkan mata. “Pak Wahyu?”
Lili kembali mengangguk.
Hening sejenak. Diaz tampak berpikir. Ada sesuatu yang masih mengganjal baginya.
Lili berusaha menjelaskan, “Ini bukan hari Sabtu. A-aku tahu Leri selalu mengunjungi makam ini di hari Sabtu.”
Lili menggigit bibirnya. “D-dan, Ayah menyuruhku menabur bunga di makam Naura hari ini.”
Diaz menatapnya lekat-lekat. “Berarti kau tahu Leri? Di mana dia?"
Lili merasakan keringat dingin di punggungnya. Dia merasa jawabannya malah menjebak pada situasi sulit. "A-aku tidak tahu tentang Leri. Aku hanya sering melihat dari kejauhan, dari rumah."
Diaz mengangguk-angguk, tapi langkahnya tak berhenti. Dia masih mendekat. Pikiran Diaz terus berputar mencari kebenaran di setiap ucapan Lili.
Jika Lili adalah anak kandung Pak Wahyu. Kenapa setiap aku ke rumah Pak Wahyu, Lili tidak terlihat? Apakah kebetulan? Tapi kebetulan yang terus berulang.
Lili mundur selangkah. “Stop, Tuan Diaz. Stop!”
Namun Diaz tetap melangkah.
"Akh!"
Lili tersandung makam Naura, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam refleks, Diaz menangkapnya sebelum dia jatuh.
Lili terdiam, tubuhnya dengan posisi miring, membeku dalam dekapan Diaz. Namun yang lebih mengejutkan, rambutnya yang semula tertata rapi kini tergerai, jatuh.
Mata Diaz membelalak. Pandangannya langsung tertuju pada leher Lili—lebih tepatnya, pada sebuah bekas luka yang tergores samar di sana.
"Tanda itu... seperti bekas goresan benda tajam," batin Diaz.
Dia menatap wajah Lili yang kini sangat dekat dengannya. Nafas gadis itu tersengal, matanya penuh kepanikan.
"Kau tidak bisa berbohong lagi, Nona."
Bersambung....