Jeevan Aleser, sosok karismatik yang terkenal baik hati dan dermawan sebenarnya adalah seorang pencuri berlian dan barang antik. Dalam dunia kejahatan, Jeevan dikenal dengan sebutan Mr. A.
Mr. A yang tidak pernah gagal menjalankan aksinya, suatu hari terdesak hingga menawan seorang gadis untuk menyelamatkan diri. Aleena, gadis tawanan Mr. A adalah seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.
Sebuah kisah romantis komedi yang terbalut dalam aksi pencurian dan pembalasan dendam. Akankah Aleena dan Jeevan dapat hidup bahagia dengan tenang? Ataukah pada akhirnya mereka menjalani hidup sebagai buronan bahkan menjadi tahana? Ikuti kisah cinta penuh aksi dalam kisah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Rasa Takut
Tak ada cara mengalahkan ketakutan, kecuali menghadapinya dengan keberanian~ Yoemi
⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳
.
.
.
"Jadi, gadis bodoh yang mudah terprovokasi itu, yang membuatmu sangat ketakutan?" tanya Jeevan begitu sampai di ruangannya.
"Dia ... Zerlinda ... dia suka menjahatiku," kalimat yang muncul dari mulut Aleena. Sesungguhnya dia bingung harus menjawab bagaimana.
"Apa yang paling kamu takuti darinya?"
Aleena terdiam. Sesungguhnya, usia Zerlinda lebih muda darinya. Tak seharusnya dia takut pada sepupunya itu. Tapi entah bagaimana, dari dulu dia selalu kalah. Dia tak berdaya saat Zerlinda menjahatinya.
"Gadis itu memiliki banyak celah. Seharusnya kau bisa menjatuhkannya dengan mudah," ucap Jeevan.
"Maksud Tuan Jee?"
"Dia mudah terpancing. Emosinya gampang dipermainkan. Sifatnya itu seharusnya bisa kau manfaat."
"Dia sangat mendominasi. Sulit bagiku menentangnya. Apa lagi, adik laki-lakinya selalu siap memberi kesaksian palsu saat dia memfitnahku di depan Paman. Bibi juga selalu membelanya." Aleena mengenang masa lagu yang getir.
"Itu karena kau lemah. Kau terlalu takut padanya. Padahal kau adalah Nona besar yang asli. Harusnya, kau lah menindas mereka. Bukan sebaliknya."
Aleena merenungkan ucapan Jeevan. Apa yang Jeevan katakan memang benar. Seharusnya, dia tidak kalah dari Zerlinda dan keluarganya. Kekuasaan itu adalah miliknya. Namun sayang, yang terjadi adalah sebaliknya. Dia menjadi pembantu di rumahnya sendiri.
"Aku tak memiliki cukup keberanian," ujar Aleena dengan kepala tertunduk.
"Kau berani bertaruh nyawa untuk bisa menjadi pengikut Mr. A. Lalu mengapa kau masih takut pada Zerlinda? Bahkan, dia saja tak melihatmu. Mungkin dia juga mengira kau sudah meninggal."
Aleena menatap Jeevan. Lagi-lagi hatinya membenarkan logika Jeevan. Zerlinda dan keluarganya mungkin mengira dia tidak selamat. Mati membusuk sebagai gelandangan.
"Lihat dirimu!" perintah Jeevan. Aleena mengikuti dengan raut heran.
"Apa ada kekurangan pada dirimu yang membuatmu lebih lemah dari Zerlinda?"
Tatapan Aleena bergeser ke Jeevan. Mencoba menyelami apa yang dimaksud Jeevan.
"Secara fisik, aku tak memiliki kekurangan apapun. Tapi ...."
"Tapi kau lebih suka berlari menghindari masalah, bukan menghadapinya. Kau ingin melindungi dirimu dengan tak menyinggung siapapun. Namun itu pemikiran konyol jika yang kau hadapi adalah orang-orang seperti Zerlinda."
"Lalu, apa yang harus kulakukan, Tuan?"
Jeevan mendekati Aleena. Meraih janggutnya, lalu membuat pandangan mereka saling beradu.
"Hadapi ketakutanmu, jadilah wanita kuat. Berhentilah menjadi pecundang. Kau bisa mengalahkan Zerlinda," ujar Jeevan.
Aleena tak dapat berkata apapun. Sikap Jeevan yang ingin membuat penekanan agar Aleena mengerti, justru menjadi godaan untuk Aleena. Menatap mata Jeevan membuat Aleena terpukau, tersihir oleh kharisma Jeevan.
Begitu juga dengan Jeevan. Memandang wajah Aleena dari dekat membuat matanya enggan berkedip. Keduanya terlibat kontak mata untuk waktu yang cukup lama.
"Tuan Jee ...." suara Ryan tercekat di tenggorokan.
Ryan yang terburu-buru masuk ke ruang Jeevan tanpa mengetuk pintu disuguhi pemandangan yang membuat salah paham.
"Tuan Jee, maaf ... silahkan kalian teruskan. Saya tidak melihat apapun."
Ryan lalu kembali menutup pintu. Mengurungkan niatnya menemui Jeevan. Tadinya dia ingin menyampaikan undangan dari rekan bisnis Jeevan.
Aleena sendiri menjadi canggung dan salah tingkah. Tidak berani lagi menatap Jeevan. Wajahnya sudah semerah tomat matang.
"Ryan ... dia pasti salah paham pada kita, Tuan Jee."
"Biarkan saja," kata Jeevan datar.
"Tapi Tuan, aku kira dia butuh penjelasan yang benar."
"Sudahlah, tak perlu merepotkan diri. Dia akan lebih percaya pada penglihatannya dari pada kata-katamu."
Aleena terdiam. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Kau bisa meneror Zerlinda. Manfaatkan juga sikap iri dan emosinya yang mudah tersulut," tandas Jeevan yang kembali membahas Zerlinda. Dia kembali ke tempat duduknya di balik meja kerja.
"Saya tidak mengerti, Tuan Jee."
"Kita bicarakan lagi nanti di rumah. Sekarang kembalilah ke depan dan suruh Ryan ke sini!" instruksi Jeevan.
"Baik, Tuan Jee."
Aleena menurut. Dia tidak berani mendebat atau membantah. Perasaannya masih dikuasai rasa canggung akibat adegan yang menimbulkan salah paham.
...****************...
Hai, readers tercinta yang Yoemi sayangi. Terimakasih untuk kesetiananya membaca semua novel yang Yoemi tulis. Jangan lupa untuk selalu dukung Yoemi, ya ....
✓ like
✓ komentar
✓ favorit
✓ rate 5
✓ dan jangan sungkan untuk kasih vote juga ya .... 🤗🤗🤗
Oke, kakak-kakak ... see you di episode selanjutnya. Klik profil Yoemi untuk membaca cerita menarik lainnya. Terima kasih 🌸🌸🌸
Selama manis dari dunia kata Yoemi ... Miss you all ❤️
mampir di ceritaku judulnya "impian surga" cerita bergenre spiritual romance.
yg datang ke lapak ku InsyaAllah akan ada kunjungan balasan. terima kasih..
mari saling mendukung .. ☺️