NovelToon NovelToon
The Fallen Angel

The Fallen Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:392.6k
Nilai: 5
Nama Author: Poetry Alexandria

Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.

Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.

Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.

Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-27- Hospital

"Keana, kau baik-baik saja?"

"Keana ..."

Suara-suara lirih berdengung di kepalaku. Seolah ada yang menarik jiwaku untuk kembali ke dunia nyata. Aku tersentak bangun dan menjerit ketakutan.

"Keana, sadarlah. Apa yang terjadi? Kenapa kau menjerit?"

Kurasakan Mom menepuk lembut pipiku. Aku menatapnya dengan napas terengah-engah. Lalu, memeluknya erat. Rasa takut masih menguasai pikiranku. Lega rasanya berada dalam pelukan ibuku saat ini.

"Kau tidak apa-apa?" Suara Dad terdengar cemas di dekatku.

Aku mendongak menatap ke arahnya sambil menarik napas susah payah. "Aku takut sekali, Dad ..."

"Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja. Ada kami di sini, Sayang." Mom mengelus punggungku dengan lembut, berusaha menenangkanku.

Aku melepaskan pelukanku dan mengusap wajahku dengan tangan gemetar.

"Keana?" Suara lembut Mom kembali terdengar.

Aku memalingkan wajah menatap ke sekeliling ruangan berwarna putih ini. Mom sedang duduk di pinggir ranjang dengan raut khawatir sementara Dad berdiri sambil menggendong Keandra dengan satu tangan di sisi yang lain. Ekspresinya sama cemasnya dengan Mom.

"Aku haus ..." kataku serak.

Buru-buru Mom mengambil segelas air yang tersedia di atas nakas. Aku langsung meneguknya sampai tandas. Baru kusadari ada sesuatu yang menusuk punggung tanganku dan ternyata itu adalah selang infus.

"Apa aku sekarang di rumah sakit?" tanyaku bingung. Tiba-tiba saja, teringat peristiwa kecelakaan yang dialami Calvin bersamaku saat pulang sekolah. Dan secara tiba-tiba aku tersesat ke sebuah tempat gelap dan menyeramkan dengan makhluk aneh yang dirantai.

Itu pasti mimpi ... hanya mimpi yang mengerikan.

"Kau kecelakaan, Sayang. Untungnya kau tidak apa-apa. Hanya kepalamu yang terbentur dan terluka, tapi kau baik-baik saja." Mom menjelaskan dengan lembut.

"Calvin ... bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa, kan?"

"Temanmu itu tidak apa-apa. Hanya mengalami benturan kecil di kepalanya sama sepertimu." Dad menyahut sambil menurunkan gendongannya pada Keandra. Keandra berjalan menghampiriku, kemudian memegang tanganku yang masih gemetaran. Aku tersenyum tipis padanya. Ia balas menepuk-nepuk punggung tanganku.

"Ya, kecelakaan. Mobil kami ditabrak seseorang dari belakang," gumamku sambil mengingat-ingat peristiwa kecelakaan itu, mencoba menghalau ingatan buruk tentang mimpi menyeramkan yang terus membayangiku.

"Ya, seorang pria mabuk menabrak kalian. Sekarang ia sudah di kantor polisi untuk menjalani hukumannya. Sungguh mengejutkan di siang bolong ada pengendara mabuk yang berkeliaran." Dad menjelaskan, wajahnya berkerut marah.

Aku menatap ayahku, lalu teringat akan kunci yang kusimpan di dalam tasku. Benda yang disebut-sebut makhluk aneh itu. Entah siapa makhluk itu dan kenapa aku bisa memimpikannya seolah itu adalah hal yang sangat nyata.

"Tasku ... dimana tasku?" tanyaku sambil memandang berkeliling.

"Maksudmu tas sekolahmu?" tanya Mom.

Aku mengangguk.

"Oh, tasmu baik-baik saja. Ayahmu sudah membawanya pulang tadi siang saat ingin menjemput Keandra."

Oh, tidak! Aku langsung bangkit berdiri dan sedikit terhuyung. Rasa nyeri di punggung tanganku membuatku tersentak. Kucabut paksa selang infus yang menempel tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" Mom memprotes.

"Aku harus pulang, Mom. Ada benda penting di dalam tasku," sahutku sambil mencari-cari dimana sepatuku berada. Aku tidak mungkin berlari pulang dalam keadaan bertelanjang kaki.

"Keana, tenangkan dirimu! Kau baru saja siuman." Mom menarik tanganku.

Aku melepaskan tangannya. Ekor mataku menemukan sepatu sneakersku di bawah kolong ranjang. Aku segera mengambil dan memakainya dengan cepat.

"Kau belum boleh pulang, Keana. Kau masih harus menunggu hasil scan kepalamu. Karena kau terbentur cukup keras." Suara Dad membuat gerakanku terhenti.

Aku meraba kepalaku dan mendapati perban yang membalut keningku. Tiba-tiba saja, ada rasa berdenyut yang kurasakan pada bagian yang diperban itu.

"Aku baik-baik saja. Aku tidak perlu di scan," kataku, menatap ayahku dengan tatapan meyakinkan.

"Aku khawatir kau terkena gegar otak ringan. Lihatlah, apa yang kau lakukan sekarang. Kurasa kau memang mengalami masalah dengan benturan kepalamu," balas Dad gusar.

Aku mendelik padanya. "Aku baik-baik saja, Dad. Aku mau pulang."

"Keana, tolong tenanglah. Kita akan pulang setelah hasil tesmu keluar, oke?" Mom menarik tanganku, mengajakku duduk kembali di pinggir ranjang.

Aku mendesah dan akhirnya menghempaskan tubuhku ke atas ranjang dengan gelisah.

"Kalau begitu, bolehkah aku melihat keadaan temanku? Kuharap keadaannya baik-baik saja."

"Dia baik-baik saja dan ini sudah pukul delapan malam. Kurasa waktu berkunjung sudah hampir habis." Dad menatapku tegas.

Aku mengerti arti tatapannya itu bahwa aku harus tetap berada di tempat tidur tanpa boleh membantahnya. Tapi, ada sesuatu dalam diriku yang membuatku terpaksa memberontak.

"Aku harus menemuinya sekarang."

Kedua orangtuaku saling bertatapan jengah karena sisi keras kepalaku malam ini. Ayahku pasti semakin yakin bahwa ada yang tidak normal dalam otakku setelah benturan yang kualami.

"Tidak bisakah kau menemuinya besok pagi saja?" tanya Mom sambil mengernyit.

Aku menggeleng. "Maafkan aku, Mom. Aku tidak bisa menundanya sampai besok."

"Baiklah, aku akan menemanimu." Dad menyela.

"Tidak perlu, Dad. Aku bisa ke sana sendirian. Tenang saja, aku sama sekali tidak apa-apa," kataku dengan nada meyakinkan. "Katakan saja, di ruangan mana ia dirawat?"

Dad mendesah panjang, lalu menggerutu tak jelas. Aku bangkit berdiri dengan tidak sabar. Menunggu mereka mengatakannya.

"Baiklah, di ruangan paling ujung sebelah kiri. Ruang Bougenville No. 10." Dad memberitahu dengan ekspresi jengkel.

"Terima kasih," kataku dan berjalan keluar dengan cepat.

Dua orang suster berseragam menatapku saat aku berjalan di lorong rumah sakit ini. Bau antiseptik dan obat-obatan menguar menusuk penciuman. Mataku mencari-cari ruangan yang dikatakan ayahku tadi dan menemukannya di ujung lorong.

Saat kubuka pintu, aku bisa mendengar suara Calvin yang tengah menggerutu di sana.

"Berhentilah menyuapiku, Karen. Aku masih bisa menggunakan tanganku. Ini hanya sepotong Pizza," suaranya terdengar kesal.

"Lihat, tanganmu diperban. Aku hanya ingin membantumu," balas Karen tak mau kalah. Rambut lurus pirang kecoklatannya menutupi sebagian wajahnya dari samping. Ia terus mengulurkan sepotong pizza pada Calvin yang nampak cemberut.

"Hai!" sapaku lirih.

Kedua orang itu seketika menatapku. Karen langsung mengeluarkan tatapan galaknya padaku.

"Kuharap kedatanganku tidak mengganggu kalian berdua," kataku, meringis.

"Sangat mengganggu, tentu saja. Kau bisa keluar lagi jika kau merasa tidak enak," sahut gadis itu, ketus.

Calvin mendorong tangan Karen yang sedang berusaha menyuapinya sambil membetulkan posisi tubuhnya agar duduk tegak. Ia tersenyum lebar melihatku.

"Keana, kau sudah sadar?"

"Ya, aku sadar beberapa menit yang lalu."

"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi dengan nada cemas.

"Ya, aku baik-baik saja. Kau sendiri?"

"Seperti yang kau lihat." Calvin menunjukan tangan kanannya yang diperban lalu, kepalanya.

"Oh, ada apa dengan tanganmu? Dan kudengar kepalamu juga terbentur?" Aku sedikit terkejut melihat perban yang melilit tangannya.

Calvin mengendikkan bahu dengan santai. "Tidak apa-apa. Hanya saja beberapa jariku terkilir dan ada pecahan kaca yang merobek telapak tanganku. Mungkin dalam beberapa hari akan membaik."

"Kuharap lukamu segera membaik," kataku seraya tersenyum tipis. Ekor mataku melirik Karen dengan tidak nyaman sebab gadis itu masih memasang wajah seram padaku.

"Jadi, ada apa kau kemari? Apa kau begitu merindukanku sampai berkunjung kemari?" tanya Calvin dengan senyuman jailnya.

"Ehmm ... well, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," jawabku, melirik Karen lagi. Aku benar-benar berharap gadis itu memberikan kami ruang untuk bicara. Secara harfiah, aku ingin dia pergi.

"Bicaralah kalau begitu." Calvin menatapku.

Aku menggaruk hidungku yang tidak gatal. "Sesuatu yang penting. Kupikir bisakah kita bicara berdua saja? Maaf, Karen ..." aku menoleh pada gadis itu, memasang senyum bersahabat. Aku tahu itu sia-sia karena Karen langsung menyibakkan rambut panjangnya dan menatapku sangat tajam.

"Aku tidak akan menggangu. Aku tetap disini," sahutnya.

"Oke, kalau begitu lain kali saja." Aku membalikkan badanku. Namun, lengan panjang Calvin serta merta menarikku, menahanku untuk pergi.

"Karen, bisakah kau meninggalkan kami sebentar saja? Kau sudah di sini seharian. Apa kau tidak bosan memandang wajahku? Lagipula, jam besuk sebentar lagi berakhir. Kau harus pulang." Calvin memandang Karen gusar.

"Apa yang ingin kalian bicarakan sampai dia berani mengusirku?" Karen menatapku geram. Ia bangkit berdiri, menghempaskan potongan pizza yang tadi hendak ia suapkan pada Calvin ke dalam box makanan tersebut dengan kasar.

Aku tahu ia akan semakin membenciku. Tapi, aku benar-benar tidak bisa membicarakan perihal benda itu di depannya. Juga masalah mimpi menyeramkan yang kualami. Gadis itu pasti akan menganggapku sinting jika mendengarnya.

"Maaf, Karen. Hanya 10 menit. Aku akan kembali ke kamarku dan kalian bisa berduaan lagi," kataku padanya, berusaha agar ia tidak tersinggung.

"Tidak perlu. Silakan nikmati waktu kalian!" Ia menyandang tasnya sambil merengut lalu, berjalan melewati bahuku dengan menghentakan kakinya keras-keras.

Aku mengatupkan mulutku ke dalam sambil melirik Calvin yang hanya mengendikan bahunya acuh. Karen membanting pintu waktu ia telah berada di luar.

Wow! Kurasa kebenciannya padaku semakin bertambah berkali-kali lipat.

"Ia sudah di sini sejak sore tadi dan memperlakukanku seperti bayi," gerutunya, lantas menatapku dan tersenyum nakal. "Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan? Aku sudah mengusir Karen untukmu. Jangan bilang kau hanya berniat berduaan denganku atau ingin membicarakan perasaanmu padaku?"

Aku duduk di kursi kosong di sebelah tempat tidurnya, mengamati ke sekeliling kamar bernuansa putih ini. Ruangannya lebih besar dari kamarku yang tadi dan terasa hangat. Bau bunga lavender semerbak memenuhi udara, membuatku merasa nyaman.

"Dimana keluargamu?" Aku balik bertanya, setelah menyadari bahwa ia hanya sendirian di rumah sakit ini.

"Ayahku sebentar lagi tiba. Ia masih ada pekerjaan di perusahaannya. Kau tahu, ayahku adalah orang yang selalu sibuk. Melihat dia menyempatkan waktu untuk memarahiku setelah kecelakaan kita siang tadi benar-benar mengejutkan," katanya getir.

"Lalu, ibumu?"

"Ibuku yang mana? Aku tidak punya ibu, Keana."

Ada sorot luka yang terpancar dari wajah Calvin saat ia menyebut kata ibu dan aku jadi merasa bersalah.

"Oh, aku minta maaf. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi dengan orang tuamu, tapi apa maksudmu dengan ibumu yang mana?"

"Orangtuaku sudah berpisah. Jean Meninggalkanku waktu aku berusia 7 tahun."

Aku menggigit bibir. "Maafkan aku, Calvin. Aku turut menyesal."

"Tidak apa-apa. Itu sudah lama terjadi dan aku sudah memaafkannya. Jean akan datang, mungkin besok pagi." Calvin mengangkat bahunya seraya melirik jam dinding, bersikap santai.

"Kau tidak memanggilnya ibu?" tanyaku hati-hati.

"Aku tidak terbiasa," ia menggeleng.

"Oh, baiklah ..." gumamku. "Dan bagaimana dengan pamanmu? Apa dia akan datang kemari? Aku harus bertemu dengannya. Ini mengenai benda itu ..."

"Entahlah, aku belum sempat menghubunginya lagi. Mungkin ia akan datang jika mendengarku kecelakaan. Ia selalu perduli padaku dibanding kedua orangtuaku."

"Calvin, aku tidak menyangka bahwa keluargamu ..."

"Bermasalah ..." sela Calvin sambil tersenyum muram. "Jika kau bersimpati padaku, bolehkah aku bersandar di pundakmu?"

Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Ingatan tentang mimpi buruk yang kualami tiba-tiba saja berkelebat. Aku nyaris melupakan tujuanku kemari.

"Calvin, aku bermimpi buruk selama pingsanku tadi ..."

Calvin menegakkan kepalanya yang ingin ia sandarkan di bahuku. "Mimpi buruk?"

"Ya, mimpi buruk. Aku benar-benar ketakutan. Aku tersesat di ruangan yang gelap. Ada suara yang memanggil. Aku melihat seseorang di ruangan itu. Seseorang yang sangat menakutkan."

"Sudah kubilang, kan benda itu aneh. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa pamanku mau menyimpan benda mengerikan itu." Calvin memandangku, bergidik. "Sebaiknya, kau membuangnya."

"Tentu tidak, Calvin. Benda itu sangat penting dan sialnya, benda itu ada di dalam tasku. Ayahku membawanya pulang. Aku harus mengambilnya."

"Kau bercanda? Kenapa kau harus mengambilnya sementara benda itu tersimpan aman di dalam rumahmu?" Calvin mengerutkan alis tebalnya, bingung.

"Aku takut ada yang mencuri benda itu di sana."

Otakku teringat makhluk merah bermata kuning dengan temannya yang berkulit pucat kelabu mengacak-acak kamarku di suatu pagi dan nyaris membunuhku karena mencari benda itu. Bukan tidak mungkin jika makhluk itu kembali ke kamarku dan menemukannya. Dan andaikata mereka sampai mendapatkannya malam ini, tentu saja itu adalah hal yang amat sangat buruk. Mengingat Gabe bertaruh nyawa menjaga kunci itu selama ini.

Gabe ... oh, Gabriel ...

Aku menunduk sedih setiap kali terbayang pada Gabe. Tidak sanggup membayangkan ia sedang terluka oleh ulah Lucifer. Entah bagaimana kabarnya karena ia belum juga muncul.

"Keana, jangan konyol! Siapa yang akan mencuri benda bodoh itu di rumahmu?"

"Aku harus pulang, Calvin. Mimpi yang kita alami akibat benda itu---itu bukan sekedar mimpi biasa."

"Ya, tapi bagaimana caramu pulang? Kau masih harus berada di rumah sakit ini sampai besok pagi, kan?"

"Maukah kau menemaniku pulang malam ini?" tanyaku yang membuat kedua matanya melebar.

"Kau bercanda?"

"Tidak. Aku benar-benar serius, Calvin. Aku harus pulang mengambil benda itu dan kembali kemari."

"Aku tidak punya mobil, Keana. Mobilku rusak setelah kecelakaan. Ayahku sudah memperingatkanku untuk menahan SIM ku jika aku mengemudi dengan tidak berhati-hati."

"Baiklah, aku akan mencari cara sendiri untuk pulang ke rumahku," kataku setelah tercenung beberapa saat. Otakku berputar cepat, memikirkan cara melarikan diri sementara dari rumah sakit ini untuk menyelinap pulang ke rumah---mengambil benda itu.

"Kenapa kau tidak meminta ayahmu saja untuk membawa kembali tas itu?"

"Entahlah, kupikir lebih baik aku sendiri saja yang mengambil. Ayahku akan terus bertanya jika aku memaksanya," sahutku. Dengan sifat keingintahuan ayahku yang besar, aku akan mengalami malam panjang yang tidak nyaman tentu saja.

"Apa ada sesuatu yang kau ketahui tentang benda aneh itu?" Ia menatapku lamat-lamat.

Aku menggigit bibir, bingung bagaimana menjelaskan padanya. Apakah aku harus jujur saja?

"Percayalah, kau tidak akan menyukai ceritanya."

"Aku akan berusaha menyukainya," ia menjawab dan tersenyum miring.

"Aku akan menjelaskan padamu jika sudah saatnya." Aku bangkit berdiri, melirik pada jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul setengah sembilan malam. "Kurasa aku harus kembali ke kamarku."

"Jadi, kau benar-benar akan menyelinap pergi malam ini? Sendirian?" Calvin mengangkat kedua alisnya. Ekspresinya sedikit tercengang dengan niat melarikan diriku. Kuharap ia tidak menganggapku aneh seperti Dad yang mengira ada yang salah pada otakku setelah terkena benturan.

Aku hanya mengendikan bahu. "Aku harus melakukannya. Aku tidak ingin kehilangan benda itu."

Ia mengatupkan mulutnya yang setengah terbuka, lalu menghela napas. "Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan menelepon seseorang untuk memberikan kita tumpangan ke rumahmu."

Aku tersenyum lega. "Terima kasih, Calvin. Apa kau tidak keberatan jika tengah malam nanti kita pergi?"

"Ya, apapun untukmu kulakukan, Keana. Kau tahu itu tidak gratis." Kedua mata topaznya bersinar jail.

"Kuharap tabunganku cukup untuk membayarmu," sahutku sarkastik.

Ia hanya tersenyum nakal. Tepat, saat itu seorang perawat wanita masuk ke dalam, membawa troli obat-obatan.

"Hai! Waktunya minum obat!" sapanya pada kami. Ia berhenti di sisi ranjang, lalu menatapku yang mengenakan baju pasien seraya mengerutkan alis. "Waktu kunjungan sudah berakhir, Miss. Tapi, apakah kau juga seorang pasien?"

Aku mengangguk kikuk. "Ya, aku ada di kamar sebelah. Aku cuma ingin mengetahui keadaan temanku."

"Apa kau gadis yang kecelakaan bersamanya?" Ia menunjuk Calvin tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

"Ya, kau benar."

"Kembalilah ke kamarmu. Dokter kami akan datang memeriksa benturan di kepalamu dan menyerahkan hasil scan-mu." Ia memberitahu seraya memeriksa perban pada tangan Calvin yang terluka.

"Baiklah. Calvin, aku harus pergi. Kabari aku lagi nanti jika semua sudah siap," kataku, menggerling pada Calvin yang tengah meringis ketika perawat itu mengusapkan kapas alkohol pada lukanya.

Ia mengangguk. Aku pun bergegas berjalan ke pintu dan membukanya. Seorang pria berambut pirang keemasan mengenakan setelan jas rapi berdiri di sana. Ia menatapku sejenak sebelum akhirnya tersenyum ramah. Aku bisa menebak ia adalah ayah Calvin sebab mereka memiliki warna mata yang sama dan wajah hampir serupa.

"Hai, Mr. Morris!" sapaku, ikut tersenyum padanya.

"Oh, hai!" Ia mengulurkan tangan dan aku menjabatnya.

"Dia Keana Larson, Dad. Teman yang ikut kecelakaan bersamaku siang tadi." Calvin menyahut dari tempat tidurnya.

Perawat wanita itu kini sedang mengganti perban lukanya dengan yang baru.

"Senang bertemu denganmu, Keana Larson!" Ia menatapku. "Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja. Hanya mengalami benturan ringan di kepalaku." Aku mengangguk. "Senang bertemu denganmu juga, Mr. Morris!"

"Oh, panggil aku Richard saja." Ia berjalan masuk ke dalam, duduk di sofa kosong di sudut ruangan seraya mengendurkan dasi panjangnya yang masih terikat kencang. Wajahnya nampak lelah. Sedetik kemudian, ia kembali menatapku yang masih berdiri di ambang pintu.

"Apa kau mau pergi?"

"Ya, aku harus kembali ke kamarku. Sampai ketemu lagi, Calvin!" Aku melambai pada Calvin seraya menggerling penuh arti.

"Sampaikan salamku pada orang tuamu. Maaf, aku belum sempat mengunjungi kalian." Richard menyahut.

"Tidak apa-apa, Richard. Kau sangat sibuk tentu saja."

Lalu, aku bergegas keluar dari kamar itu dan menyusuri lorong. Orang tuaku langsung tersenyum lega melihatku kembali. Seorang dokter pria berseragam terlihat berdiri di dekat mereka berdua, membicarakan sesuatu waktu aku masuk ke dalam. Tangan dokter itu memegang sebuah foto scan. Itu pasti hasil scan-ku.

"Halo, Ms. Larson!" sapanya ramah. "Boleh duduk di ranjangmu? Aku ingin memeriksa keadaanmu."

Aku menurut dan dengan segera duduk di atas ranjang dengan seprai dan selimut hijau tosca yang membungkus kasur busanya.

"Kau tahu seharusnya kau tidak boleh kemana-mana dulu sebelum aku memeriksamu." Dokter itu meletakan foto scan yang dibawanya ke sampingku. Lalu, ia merogoh saku seragamnya, mengambil senter kecil dan menyuruhku untuk membuka mata lebar-lebar, menyorot kedua mataku dengan benda itu.

"Baiklah," ujarnya seraya memasukkan kembali senter kecil itu ke dalam saku. "Apa kau merasa mual dan pusing?"

Aku menggeleng. "Tidak."

"Apa penglihatanmu berkunang-kunang?" tanyanya lagi.

"Tidak, Dok. Aku merasa baik-baik saja."

Ia mengangguk. Lalu, mengambil foto scan yang ia letakkan di sampingku tadi.

"Apa hasil tesku ada masalah?" Aku menatapnya penasaran.

Ia menggeleng pelan. "Untungnya hasil tesmu normal. Kepalamu tidak apa-apa. Tapi, kuharap kau jangan terlalu banyak bergerak untuk saat ini. Beristirahatlah. Besok pagi kau sudah boleh pulang." Ia memberitahu. "Beritahu kami jika kau merasa sakit atau tidak sehat."

Aku hanya mengangguk dan menarik napas lega. Ia menepuk bahuku sekilas, menyerahkan hasil foto scan tersebut pada ayahku. Lalu, berjalan ke pintu dan menghilang.

"Bagaimana keadaan temanmu?" tanya Mom begitu aku berbaring di ranjang. Sejujurnya, badanku terasa sangat pegal-pegal dan ada rasa berdenyut saat aku banyak menggerakkan leherku. Tapi, aku harus menahannya---setidaknya untuk malam ini.

"Calvin baik-baik saja. Tangannya terluka dan jarinya terkilir," sahutku. "Oh ya, apa kalian melihat ponselku?"

Dad mengambil ponselku di atas rak besi yang berada di sofa kulit berwarna burgundy tempat ia duduk di sudut ruangan.

"Terima kasih, Dad." Aku cepat-cepat menerima benda itu.

"Apa kau lapar?" tanyanya. "Ada sup yang diantarkan perawat kesini tadi. Mungkin kau harus memakannya dan kembali beristirahat. Malam ini aku akan menemanimu, sementara ibumu dan Keandra akan pulang ke rumah."

"Ya, baiklah. Aku akan memakan sup itu nanti," kataku, lalu menatap Mom dan Keandra yang telah memakai mantel untuk bersiap pulang. "Hati-hati, Mom!"

"Mom akan kembali pukul lima subuh nanti. Istirahatlah," ia mencium pipiku dan menggandeng Keandra menuju pintu.

Tepat saat itu ada pesan masuk dari Calvin. Aku langsung membacanya dengan cepat.

-calvin

Nick akan menjemput kita pukul 1 nanti. Bersiaplah. Kita bertemu di lobi, oke?

Aku segera membalas oke seraya menatap jam dinding yang menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Kuharap rencanaku berjalan dengan baik. Aku harus mengambil benda itu sebelum makhluk-makhluk mengerikan itu merebutnya dariku.

🍁🍁🍁

1
R
still a good novel ✨
Just human
lanjut kak suka bgt sm critanyaa T_T
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟
oii authorr mana ini kelanjutan nyaa
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟: oii thorrr
total 2 replies
Muse
Cepat juga datangnya Messias ini, gak pake basa basi lagi...Keana pasti shock bgt...gak sabar nunggu next chapternya Kak Author...
Muse
aduuh Calvin kenapa itu, berubah jadi Demon kah ?
Muse
Ceritanya keren banget...romancenya dapet...tegangnya paling dapet dech...karakternya kuat kayak pas banget sama tokohnya. Tentu paling suka sama Gabe yang sweet bgt cara dia ngetreat Keana. Sama Calvin juga sebenarnya badboy yg brokenhome. Ceritanya rumit tapi bisa dijabarkan dengan baik...jadi enak bacanya ngalir aja...Goodjob kak Author 👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
Akhirnya Keana ingat juga sama Gabe...
Muse
semoga Keana bisa hidup lagi...
Muse
Jangan mati donk Keana...
Muse
sayang sekali para angel kena jebakan...terus gimana sama Keana donk...
Muse
Gabe.. so sweet...
Muse
kok bisa sich Calvin ikut jadi member satanist...apakah ibunya Calvin wanita yg ditemui Gabe sama Raph di sarangnya Lucifer waktu itu yaa...
Muse
waduuuh itu kan pamannya Calvin...jangan² dia bukan kabur dari RS tapi diculik anak buahnya Lucifer...
Muse
kenapa mau sich Keana...Lucifer itu kan licik bgt...pilihan yang sulit memang dan sepertinya keluargamu juga akan dalam bahaya kalo kamu sampe mengingkari kesepakatan itu ...huftt dilema berat pasti...
Muse
Kasian Gabe...
Muse
Apa gak dihukum sama gurunya kok sering bgt ada pembullyan disekolah yaa...
Muse
Emang Gabenya mau sama kamu Sharon ?
Muse
kasian juga si Calvin padahal sepertinya dia tulus sama Keana...
Muse
campur aduk bacanya...ya tegang...ya ngakak...ya kaget...goodjob kak author...👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
setiap part sungguh menegangkan...seruuuu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!