Anak adalah titipan,anak adalah amanah,dan kewajiban kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.
Dan Dinda,yang diusia muda sudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi tiga buah hatinya harus berjuang keras menafkahi meskipun ada begitu banyak rintangan yang harus dihadapi.
Mampukah Dinda melewati ujian hidupnya seorang diri,sekuat dan segigih apa perjuangannya untuk ketiga anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penggemar Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tamu tak diundang,
Tok,tok,tok
"Assalamualaikum"
suara ketukan disusul suara wanita diluar pintu utama menimbulkan rasa penasaran Dinda yang sedang membereskan piring piring bekas makan sore anak anaknya.
krrieettt,,
Dinda membuka pintu ruang utama dan sedikit kaget melihat penampakan 2 wanita dewasa dengan dandanan mencolok dan baju yang minim bahan sehingga menampilkan lekuk tubuh mereka
"betul disini rumah Yoga?" tanya salah satunya,,Dinda mengangguk
"siapa ya?" tanya Dinda
"aku Yulia"
"aku Erna"
mereka memperkenalkan diri kemudian Dinda menyuruh mereka masuk dan duduk.
"kakak kakak ini ada keperluan apa mencari Yoga?" tanya Dinda penasaran
"mau main aja,Yoga udah lama gak main ke tempat aku" ucap Erna santai
degh,,
jantung Dinda mulai berdegup kencang,perasaannya menjadi tak enak
"Yoganya ada gak?" tanya Erna lagi,sedangkan Yulia hanya diam tak banyak bicara
"ada,tapi sedang tidur" jawab Dinda singkat
"owh,terus kamu siapanya?" tanya Erna
Dinda tak menjawab pertanyaan itu,netranya menatap wajh dan penampilan Erna namun Erna sama sekali tak merasa risih
"udah lama hubungan sama Yoga?" tanya Dinda lagi
"udah lumayan,3 bulan" jawab Erna
darah Dinda terasa mendidih karena emosi namun tetap ditahannya demi menngorek informasi lebih dalam lagi
"Yoga sering kerumah kakak?" tanya Dinda
"iya sering,emangnya,,," pertanyaannya tertahan saat Zaida datang menghampiri mereka
"siapa Din?" tanya Zaida,namun melihat Dinda yang diam dengan wajah memerah membuat Zaida jadi tak nyaman,dan beralih langsung pada kedua tamunya.
"kalian siapa?" tanya Zaida
mereka berdua pun memperkenalkan diri seperti pada Dinda sebelumnya,namun tak ada cium tangan selayaknya bertemu orang tua,hanya jabat tangan biasa,Zaida menatap mereka dengan tatapn tak suka 'tak sopan sekali' batinnya
"ada keperluan apa mencari Yoga?" tanya Zaida lagi
"dia pacarnya kak Yoga bu" tunjuk Dinda pada Erna
kedua mata Zaida membulat sempurna dan menatap Erna dengan tatapan tak percaya,Yulia dan Erna kemudian saling tatap lalu kembali tersenyum pada Zaida
"saya pacarnya Yoga bu" jawab Erna dengan percaya diri
Zaida menatap Erna dari atas hingga ujung kaki kemudian melihat ke arah Dinda yang sudah diliputi emosi,wajahnya sudah memerah,kemudian tanpa bertanya segera berlari masuk ke kamar Yoga.
"bangun Yoga,bangun" dengan penuh emosi Zaida menarik tubuh Yoga hingga terbangun
"apaan sih bu? orang lagi enak enak tidur juga" Yoga mendelik tak suka pada ibunya
"kamu yang apa apaan? siapa kamu itu yang didepan?" tanya Zaida
"apa sih? gak jelas" Yoga memalingkan wajahnya dari Zaida
"itu di depan,di depan ada perempuan nyariin kamu,dandanannya kaya perempuan nakal,Ya Allah Yoga,apa kamu gak inget sama anak dan istrimu,ha?" Zaida meluapkan emosinya pada Yoga
Yoga membelalak mendengar ucapan ibunya dan bergegas keluar kamar menuju ruang depan,benar saja,didapatinya Erna yang memang selama beberapa bulan ini menjadi pasangan tidak halalnya.
"Er,,"panggil Yoga
semua yang ada disana menoleh padanya
"hei sayang" jawab Erna dengan gaya manja, dan berusaha menghampiri Yoga,namun baru beberapa langkah saja,Dinda sudah menghalanginya dengan wajah yang merah padam
"kamu tau siapa yang kamu temui ini?" tanya Dinda setelah berdiri di antara Yoga dan Erna
"maksudnya?" tanya Erna dengan wajah bingung
"kamu tau siapa saya?" Dinda menatap Erna dengan tajam
Dibelakangnya Yoga dan Zaida tak ada yang membuka suara
Erna bersitatap dengan Yulia,Yulia hanya mengedikkan bahu,lalu menatap Yoga,namun Yoga membuang pandangannya.
"memangnya kamu siapa?" tanya Erna
"apa dia gak bilang kalo punya istri?" tanya Dinda penuh rasa penasaran,Erna menggeleng cepat
"saya istrinya" jawab Dinda
"loh,tapi Yoga bilang dia duda" jawaban Erna membuat Dinda ternganga,kemudian memutar kepalanya melihat Yoga
"pa.." belum sempat bicara Yoga sudah menengahi mereka
"aaah,sudah sudah,ngapain sih ribut ribut"Yoga memasang wajah tak suka
"ngapain ribut ribut? mereka yang datang kemari dan memancing keributan" sahut Dinda
"lagian kalian ngapain sampe datang kemari? tau rumah aku darimana?" tanyanya tegas
"ya kamu udah lama gak nemuin aku,makanya aku yang dateng kesini,aku tanya sama temen temen kamu lah,memangnya salah,dan apa bener dia ini istri kamu?" Erna memandangi Dinda dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan mengejek,bibirnya terlihat terangkat sebelah.
Dinda mengepalkan kedua tangannya.
"bener kalian berhubungan? jawab pa" tanya Dinda
"kalo iya memangnya kenapa?" jawab Yoga sambil menatap tajam ke dalam mata Dinda
seketika kedua kaki Dinda terasa lemas,namun merasa tak bisa melakukan apa apa,Zaida menopang tubuhnya dan membantunya tetap berdiri.
"pantesan diselingkuhin,istri modelannya begini" ucap Yulia dengan tatapan yang sama mengejek,Erna tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya
"Yoga,apa kamu udah gak punya pikiran ha?" Zaida membentak Yoga
"apa bu? memangnya Yoga salah?" jwab Yoga enteng
"dia sendiri yang gak bisa urus dirinya" tambahnya lagi
Zaida menggeleng geleng
"dia sudah punya istri kak,sudah punya anak juga" ucap Dinda dengan suara yang mulai serak karena menahan tangis,hatinya terasa sakit sekali tapi entah mengapa tak bisa melawan Yoga,Dinda tak ingin kehilangan suaminya.
"terus kenapa kalo udah punya istri? orang Yoga nya juga mau koq" jawab Erna dengan percaya diri
"gak ngaca" seketika emosi Dinda memuncak mendengar kata kata yang keluar dari mulut Erna,dengan kekuatan penuh Dinda mendorong Erna hingga terduduk di kursi,namun Yoga langsung membantu Erna berdiri dan menatap Dinda dengan kilatan mata penuh emosi,
"Pa.." Dinda tidak terima dengan perlakuan suaminya
"apa? kamu tersinggung? lihat diri kamu dulu,udah bener apa belum,baru tersinggung."ucap Yoga tanpa rasa bersalah
"kalian berdua pulang duluan,nanti aku nyusul" perintahnya pada kedua perempuan itu.
Erna menatap Dinda dengan tatapan mencibir,Yulia lekas menggandeng sahabatnya itu untuk keluar rumah tanpa banyak bicara lagi,
Zaida tak tau harus melakukan apa,dirinya pun merasa takut jika Yoga marah.
"inget ya,gak usah ikut campur urusan aku" Yoga melirik ke arah Dinda
"tapi kamu gak bisa begitu sama aku pa,aku ini istri kamu" Dinda mulai menangis
"terus mau kamu apa? nyadar diri,udah bener belom kamu jadi istri"tunjuk Yoga ke wajah Dinda
"sekurang kurangnya aku kamu gak bisa begitu,kamu selingkuh pa" teriak Dinda
"terus mau kamu apa? ha? jawab mau kamu apaa!" Yoga menyentak kemudian memukul wajah Dinda,dan terkena pelipis kirinya,hingga Dinda menjerit kesakitan
Zaida segera melerai,memegangi menantunya dan menjauhkannya dari Yoga tapi Yoga segera menarik Dinda kembali seakan belum puas.
"denger ya,gak usah ikut campur urusan aku" Yoga mencengkeram kedua pipi Dinda dengan kuat,matanya merah berkilat kilat karena penuh dengan amarah,Dinda merasa itu seperti bukan suaminya
"sakit pa,sakit" Dinda berusaha melepaskan diri,hingga Yoga melepas cengkeramannya dengan melempar wajah Dinda kasar,
Dinda terduduk sambil menangis,Zaida ingin mendekat namun Galang sudah mendahuluinya memeluk ibunya,sejak tadi mereka bersembunyi di belakang sofa ketika mendengar keributan tadi,mereka selalu merasa ketakutan jika mendengar amarah sang ayah.
"mama,apa yang sakit?" seolah mengerti dengan apa yang baru saja dialaminya,Dinda tergugu tak mampu menjawab pertanyaan putranya itu.
Tangan kecil bocah itu mengusap usap pipi Dinda yang basah oleh air mata,
"mama.." panggilnya lagi,Dinda menarik napas kemudian menghembuskannya pelan
"mama gak kenapa kenapa sayang,abang sama oma dulu ya" ucap Dinda pelan
segera Zaida mendekat dan menarik Galang
"abang main di kamar oma aja ya sama adek,tutup pintunya" perintahnya dengan lembut,Galang mengangguk kemudian menghampiri adiknya dan menggandengnya masuk kamar Zaida,setelah pintu tertutup,Dinda langsung memeluk tubuh Zaida sambil tergugu pilu,
"maafkan ibu,tidak bisa melakukan apa apa"ucapnya sambil memeluk tubuh ringkih menantunya itu
Dinda hanya terdiam sambil terus terisak kencang,hatinya begitu sakit,jika Yoga sering memukulnya karena kesalahan sedikit,mungkin masih bisa dia terima,tapi ini Yoga memukulnya demi wanita lain dan didepan wanita itu pula,istri mana yang sanggup menahan sakitnya,mungkin nyeri di wajahnya tak seberapa tapi nyeri di hatinya terasa luar biasa.Dinda sama sekali tak menyangka akan seperti ini,namun sesakit apapun hatinya,tetap tak bisa menghapus rasa cintanya sedikitpun pada Yoga.
itu blm seberapa, karma yg
di terima oleh anak mu yg tersayang.
siapkan mental, siapkan pisik.
dan berlapang dada.
thanks mbak 💪😍
bacanya, kayak buah dd Ng pake
bra, tergantung tapi masih nempel
di dada, kalo novel ini di hati.
thanks mbak 💪🥰