NovelToon NovelToon
Noda Dibalik Cadar

Noda Dibalik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Patahhati / Cintamanis
Popularitas:52.8k
Nilai: 5
Nama Author: Amallia

Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.

Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode.26

Semakin hari pernikahan Adam dan Ustadzah Hilya semakin dekat. Adam sendiri merasa pusing jika memikirkan itu. Bahkan ia sudah berencana kabur tepat di hari pernikahannya.

Di dalam sebuah kamar, terlihat Umi Khadijah yang sedang memberikan beberapa nasihat kepada Ustadzah Hilya. Umi Khadijah mengingatkan hak dan kewajiban istri kepada suaminya. Sebenarnya agar Ustadzah Hilya selalu mengingat dan menjalankannya.

“Iya, Umi. Hilya paham kok apa yang harus Hilya lakukan,” ucapnya.

“Baguslah jika begitu. Umi senang karena akhirnya kamu akan menikah, Nak. Orang tuamu di surga pasti ikut senang jika tahu putrinya sudah besar dan sebentar lagi akan menikah.”

“Makasih ya Umi sudah menjadi sosok wanita hebat yang mau membesarkan aku. Aku senang walaupun Umi bukan ibu kandungku tetapi kasih sayangnya melebihi ibu kandung.” Hilya langsung memeluk Umi Khadijah.

Keduanya menyudahi pelukan mereka saat mendengar suara Adzan berkumandang. Mereka langsung bersiap untuk pergi Shalat berjamaah di masjid.

Disisi lain, Fatimah yang hendak ke masjid di hadang oleh Adam. Lebih tepatnya Adam yang sengaja menunggunya karena sudah beberapa hari ini mereka tidak saling berkomunikasi.

“Fa, Tunggu!” ucap Adam saat melihat Fatimah lewat di hadapannya.

“Ada apa? Aku nggak ingin yah calon istrimu itu melihat keberadaan kita lalu nantinya dia bisa sesuka hati menghukumku,” ucap Fatimah.

“Siapa maksud kamu? Aku tidak punya calon istri selain Arsyila,” ucap Adam.

“Jangan berpura-pura deh. Ah sudahlah aku malas berbicara sama kamu. Aku permisi dulu.” Fatimah mencoba pergi dari sana tetapi Adam mencegahnya.

“Tunggu! Aku mau bicara dulu,” ucap Adam.

Perdebatan mereka terlihat oleh Ustadzah Hilya. Sengaja Ustadzah Hilya menghampiri keduanya.

“Ada apa ini? Kalian berdua jangan bicara berdua di depan masjid seperti ini. Jika ada yang melihat bisa salah paham,” ujar Ustadzah Hilya.

“Biarin, kalau salah paham nanti aku bisa di nikahkan sama Adam,” ucap Fatimah dengan maksud menyindir Hilya. Lalu Fatimah pergi dari sana tanpa berpamitan kepada mereka.

Umi Khadijah masih memperhatikan Fatimah penuh tanda tanya. Tidak biasanya seorang santri bersikap seperti itu, apalagi kepada gurunya.

“Hil, wanita itu namanya siapa? Kok sepertinya kurang sopan?” tanya Umi Khadijah.

“Fatimah temannya Arsyila,” jawab Ustadzah Hilya.

Ustadzah Hilya dan Umi Khadijah berlalu pergi dari hadapan Adam. Sebelum pergi tak lupa dia menyapa Adam. Sedangkan Adam hanya membalas dengan senyum keterpaksaan.

...

...

Tok tok

Terdengar ketukan pintu dari luar kamar Adam. Namun, Adam masih setia memejamkan matanya. Hingga ketukan kelima barulah ia membuka matanya.

“Siapa sih ganggu saja pagi-pagi?” gumam Adam. Lalu ia beranjak dari atas tempat tidur.

Cklek

Adam membuka pintu kamarnya dengan setengah kesadarannya. Ia mengucek kedua matanya, melihat mamahnya sudah berdiri disana dengan berpakaian yang rapi.

“Mah, kenapa bangunin Adam pagi-pagi begini sih? Adam masih mengantuk loh.” Lalu Adam menutup mulutnya karena menguap.

“Kamu ini gimana sih, Dam. Hari ini itu kamu nikah masa lupa. Cepat kamu mandi terus siap-siap!”

“Harus banget nikah ya, Mah. Adam nggak rela menikah dengan Hilya,” kata Adam.

“Astaghfirullahaladzim. Jangan bicara seperti itu, Dam. Mungkin Hilya memang wanita yang berjodoh denganmu. Lebih baik kamu lupakan Arsyila dan mulai menerima Hilya. Walaupun rasanya mamah pun tidak tega sama Arsyila, tapi mau bagaimana lagi jika sudah begini,” ucap Bu Ratih sambil menghela napasnya.

Dengan perasaan malas Adam melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Meninggalkan Bu Ratih yang masih berdiri disana. Sedangkan Bu Ratih menatap anaknya dengan tatapan sendu. Seolah yang ada di hadapannya bukanlah Adam yang biasanya. Semenjak terjadinya skandal dengan Ustadzah Hilya, Adam berubah sikap. Ia begitu dingin termasuk kepada orang tuanya.

Kini rombongan Bu Ratih dan Pak Haris sudah bersiap. Semua saudara mereka ikut termasuk orang tua Gus Ilham. Semua orang nampak bahagia kecuali Adam. Sejak tadi ia sudah merencanakan bagaimana caranya untuk kabur. Namun, pengamanan di sekitarnya sangat ketat. Entah siapa yang menyiapkan pengawal untuk mengawal mereka menuju ke pesantren.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini mereka sampai di depan pesantren. Terlihat ada tenda biru yang sangat mewah. Kebetulan Abah Ahmad menggelar dua resepsi sekaligus, karena Ning Aisyah dan Gus Ilham juga belum mengadakan resepsi.

Rombongan keluarga Adam di sambut hangat oleh keluarga Abah Ahmad. Mereka di arahkan untuk duduk di kursi yang telah di siapkan. Di sekitarnya terlihat beberapa santri yang sibuk membantu menyiapkan hidangan.

Di dalam kamar, Ustadzah Hilya masih di rias oleh MUA kondang di kotanya. Penampilannya kali ini terlihat sangat cantik. Apalagi di hari-hari biasa Ustadzah Hilya tak pernah memakai make up. Jadi, penampilannya bikin siapa pun yang melihatnya pasti pangling.

“Wah kamu cantik sekali, Hil.” Ning Aisyah menghampiri Ustadzah Hilya yang baru selesai di rias.

“Kak Ais juga cantik tapi sayang wajahnya di tutup cadar.”

“Karena kecantikan kakak hanya untuk suami saja.”

Obrolan keduanya terhenti karena mendengar seseorang yang memanggil Hilya.

“Pengantin wanita segera bersiap! Penghulunya sudah datang,” ucap asisten MUA yang baru saja memasuki kamar.

“Baik, Mbak,” ucap Ustadzah Hilya.

Tak lama Umi Khadijah dan Bu Ratih memasuki kamar itu. Mereka sengaja menjemput calon mempelai wanita. Kini Hilya keluar dari kamar dengan di gandeng oleh mereka. Sedangkan Ning Aisyah mengikutinya di belakang, lalu di belakangnya lagi ada delapan pagar ayu yang mengikuti.

Sesampainya di tempat akad, Ustadzah Hilya di arahkan untuk duduk di samping Adam. Terlihat pancaran senyum kebahagiaan dari wajahnya. Berbeda dengan Adam yang sedang gelisah. Tiba-tiba saja Adam jatuh pingsan. Semua tamu terlihat riuh. Pak Haris dan Gus Ilham mendekati Adam lalu membantunya. Sedangkan Abah Ahmad berbicara kepada petugas KUA untuk menunda sebentar akad nikah sampai Adam sadar.

Adam yang memejamkan matanya masih mendengar suara di sekitarnya. Ia bukanlah pingsan melainkan pura-pura agar bisa mengulur waktu akad. Siapa tahu ada keajaiban sehingga pernikahannya bisa batal. Sudah hampir lima belas menit Adam belum juga sadar. Pak Haris sedikit curiga kepada anaknya. Lalu Pak Haris menutupi hidung anaknya sehingga Adam tak bisa bernapas.

“Aduh,” pekik Adam lalu membuka matanya.

“Kamu itu pingsan atau pura-pura? Kalau papah nggak pencet hidung kamu pasti kamu masih enak-enakan memejamkan mata.” Pak Haris menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap anaknya. Sedangkan Bu Ratih menahan tawanya. Ia tak menyangka anaknya melakukan itu hanya untuk membatalkan pernikahannya.

“Kelakuan kamu itu mirip sekali dengan papahmu saat muda dulu, Dam,” ucap Bu Ratih.

Terlihat Abah Ahmad memasuki kamar tempat Adam berada.

“Bagaimana dengan Adam? Apa sudah sadar?” tanya Abah Ahmad.

“Sudah, Abah,” jawab Pak Haris.

“Kalau begitu ayo keluar! Kasihan yang lain sudah menunggu,” ucap Abah Ahmad.

Dengan lesu Adam mengiyakan perkataan Abah Ahmad. Mungkin pernikahan ini memang di takdirkan terjadi.

Adam dan Pak Penghulu sudah saling berjabat tangan.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Adam Al-Kahfi bin Haris Suharja dengan Hilya Rumaisha binti Alm.Rusli, dengan Mas kawin seperangkat alat Shalat dan uang tunai sepuluh juta di bayar tunai.”

“Saya terima ni ...,” ucap Adam terhenti karena tiba-tiba ada seseorang yang menghentikannya.

“Tunggu! Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan!”

Semua orang menatap ke sumber suara.

1
Umun Munawaroh
sangat bagus
Airin See
cerita nya bagus
zevayya abrielle
pengen gue buang ke amazon mak tirinya sih cilla
Dek Raraaa
laku banget adam yaaa ..
hahaha 🤣🤣🤣
Tien Tiennesdha Titin
nah ada kecebong lagi yg mau dekatin si Adam 😄,hati hati Adam jangan sampe terjebak Ama si cebong nesa 😄
Dek Raraaa
ahh cilla .
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
Ama
aku lum update ya, hp ku yg buat nulis di rumah, aku nya lagi pergi belum pulang
Dek Raraaa
😭😭😭😭cilaaaaaa
Dek Raraaa
jangan smpe ada poligami ya thorrr..
🤣🤣🤣
Dek Raraaa
eng inggg enggggg ..
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
Dek Raraaa
cie ilehhh .😆😆😆
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
Miftahul Jannah Maulida
hajar terus adam jangan kasih kendor🤣😊
Dek Raraaa
uhuyyyy . buka puasaaa ayang adamm yaa 🤣🤣🤣
Miftahul Jannah Maulida
terima kasih up nya kak othor
Miftahul Jannah Maulida
syukur lah semoga tidak ada masalah lagi yah kak di pernikahan mereka
Dek Raraaa
gus ilham denger apa ga ngilu yaa 🤣🤣🤣 ning aisyah jga kek nya ga baik baik bgt sma ky hilya licik kynyaa ..
Miftahul Jannah Maulida
legaaaah akhirnya kebusukan hilya terbongkar, gak pantes gelar ustadzah tetap melekat
Dek Raraaa
hahhhh lega ...
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.
Miftahul Jannah Maulida
semoga memang batal dan terbongkar semua kelicikan ustadzah hilya
Tien Tiennesdha Titin
nah si Fatimah mungkin udah ada bukti ,klo ustat hilya licik 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!