Menikah dan bertahan dalam ikatan suci pernikahan karena Anak, tidaklah seburuk yang dibayangkan.
Bahkan, karena Anak lah...
Pernikahan yang awalnya tidak dilandasi oleh cinta, malah berbalik bucin.
Dan dua insan yang awalnya adalah orang asing dan tidak saling mengenal, kini bisa menjadi satu keluarga.
Yukk simak kisah mereka, Revan-Ana dan juga Ghafin-Clara hanya disini...🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
***
"Silahkan di minum Nak Ghafin. Maaf, hanya ini yang bisa saya suguhkan," ucap Bu Nilam setelah kembali dari dapur dan membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan satu piring biskuit ala warungan, karena hanya itu yang Bu Nilam punya.
"Iya Bu, terima kasih. Tapi, kenapa sedari tadi Ibu minta maaf terus? Jangan sungkan Bu, anggap saja saya juga sama seperti Clara," jawab Ghafin yang merasa kurang nyaman saat Bu Nilam terus meminta maaf padanya.
"Clara? Siapa itu Clara?" tanya Bu Nilam bingung.
"Itu Lara Bu, nama asli Lara adalah Clara. Maaf sudah merahasiakan nya pada Ibu," sesal Clara yang kala itu memang dalam masa pelarian.
Makanya dia menyembunyikan nama aslinya dan mengganti nama. Hingga mungkin orang suruhan keluarga Alberto tidak akan bisa dengan mudah menemukan nya.
"Oh, begitu. Tidak apa apa, semua orang berhak untuk tidak selalu terbuka dan memiliki rahasianya sendiri. Lalu, bagaimana keadaan Risa? Ibu kangen mau ketemu,"
"Baik Bu, hanya masih masa pemulihan. Cedera di kepalanya masih belum sepenuhnya sembuh. Jadi belum bisa bebas keluar rumah, apalagi Risa memiliki nenek yang sangat posesif hingga tidak memperbolehkan nya keluar rumah saat masih belum pulih total," jelas Clara.
"Cedera? Kenapa bisa Risa cedera?" tanya Bu Nilam yang terlihat begitu khawatir saat mendengar jika Clarisa cedera di bagian kepala.
“Saat bertemu dengan Risa untuk pertama kalinya, tidak sengaja saya menabrak tubuh Risa. Saya pun langsung membawanya ke rumah sakit dan saat tiba di sana ternyata luka di kepala Risa bukan berasal dari berbenturan dengan mobil, melainkan itu adalah luka dari pukulan benda tumpul.” jelas Ghafin yang membuat Bu Nilam mengernyitkan dahi nya.
“Terkena pukulan benda tumpul? Kok bisa? memangnya apa yang dialami oleh Risa sebelum dia bertemu dengan Nak Ghafin?”
“Setelah saya menyelidiki hal itu, ternyata hari itu Risa berniat membeli obat untuk Clara yang mengeluh sakit. Namun di jalan, dia dipalak oleh beberapa anak anak dan salah satu di antara mereka melakukan pemukulan. Namun Ibu tenang saja, saya sudah mengamankan semua pelaku yang memang anak anak yang masih di bawah umur,”
“Lalu, bagaimana keadaan anak anak itu sekarang? saya takut jika mereka memiliki dendam pada Clarisa yang akan membuat perhitungan padanya suatu saat nanti,”
“Ibu tenang saja, saat ini mereka sudah ada di sebuah yayasan yang akan membimbing mereka menjadi lebih baik. Toh mereka juga masih anak anak yang masih sangat butuh bimbingan. Semoga, sekeluarnya mereka dari sana, hidup mereka akan jauh lebih baik lagi,”
Ketiga nya pun kembali berbincang hangat, cukup lama Ghafin dan Clara berada di rumah sederhana itu. Hingga menjelang sore, sepasang suami istri baru itu ijin pamit undur diri karena sudah terlalu lama meninggalkan Clarisa bersama dengan Mama Laras dan si kecil Rian.
*
*
Di rumah sakit....
"Maaf Revan, Ana. Sepertinya hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh anggota keluarga masih belum ada yang cocok untuk menjadi pendonor. Dan kita masih harus berusaha untuk mencari pendonor lain,"
Seketika, tubuh Ana dan Revan melemas secara bersamaan. Pikiran keduanya benar benar dibuat kalut saat mendapati kabar, jika tidak ada yang bisa menjadi pendonor karena tulang sumsum nya tidak ada yang cocok.
Bahkan Ana dan Revan pun tidak memiliki ke cocokan itu. Keduanya sama sama terdiam, bingung harus bagaimana agar putri mereka bisa bertahan dan menang dari penyakit itu.
"Sebenarnya, mungkin saudara kembar Riana bisa membantu. Hanya saja, usia Rian terlalu kecil untuk menjadi pendonor dan resikonya akan sangat tinggi," jelas Dokter Rama lagi.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?"
"Terkait itu, sebenarnya ada satu metode lagi yang bisa kita lakukan dan kemungkinan untuk keberhasilan nya cukup tinggi,"
"Apa itu?"
"Transplantasi sel punca,"
"Apa itu? Kami bahkan baru mendengarnya,"
"Transplantasi dengan menggunakan darah ari-ari bayi yang memiliki hubungan darah dengan Riana. Darah ari ari bayi dapat memulihkan penderita leukimia dan rusaknya sel darah pada anak-anak. Melalui proses transplantasi sel punca, sel-sel tubuh yang sudah rusak karena penyakit dapat digantikan dengan sel punca agar terjadi regenerasi sel tubuh."
"Itu artinya, kami harus memiliki bayi agar bisa memanfaatkan darah ari ari nya?"
"Iya, berusahalah untuk hamil kembali Ana. Dengan begitu, kita bisa menyelamatkan hidup Riana,"
"Tapi, apakah itu bisa? Pasalnya, Riana dengan adiknya nanti memiliki ayah yang berbeda," lirih Ana.
"Rey dan Revan kan saudara kandung Ana. Semoga saja hal itu bisa, setidaknya. Kita sudah melakukan dan mencoba dengan apa yang kita tahu dan apa yang kita bisa. Lakukan saja, meski terdengar tidak adil dan egois karena menghadirkan anak demi menjadi obat untuk anak lain. Tapi, kembali lagi. Ada nyawa yang kita perjuangkan saat ini."
"Tapi, apa Riana akan baik baik saja? 9 bulan bukan lah waktu yang sebentar,"
"Selama menunggu kehadiran sang adik yang akan menjadi penolong untuknya. Kita akan kirim Riana untuk berobat ke Singapura. Di Sana, aku memiliki teman yang sama sama seorang Dokter spesialis kanker dan aku akan merekomendasikan Riana untuk di alihkan ke rumah sakit itu,"
"Baiklah, lakukan apapun itu. Kami hanya ingin Riana sembuh dan terbebas dari penyakit itu,"
"Baiklah, bersiaplah untuk segala kepengurusan pengalihan nya. Dan kalau bisa, jangan terlalu stress agar Ana bisa kembali hamil dengan segera,"
"Baik Dokter, terima kasih."
Revan dan Ana pun kembali ke ruangan rawat sang anak. Keduanya sama sama di landa ke khawatiran akan keadaan sang anak.
Meski begitu, saat ini. Mungkin dengan memiliki kembali seorang anak adalah jalan satu satu nya untuk bisa membuat Riana bertahan.
*
*
Di Rumah keluarga Herlambang...
Baik Ghafin maupun Clara sama sama menyatukan dahi mereka masing masing saat melihat sebuah mobil asing terparkir di halaman rumah keluarga Herlambang.
Keduanya hanya bisa saling lirik saat sama sama keluar dari dalam mobil milik Ghafin yang baru saja mereka tumpangi.
"Sepertinya ada tamu Mas, siapa ya?" tanya Clara saat Ghafin meraih tangan nya untuk di gandeng lalu keduanya sama sama berjalan ke rah rumah.
"Mungkin tamu nya Papa, Mas juga tidak tahu," jawab Ghafin mengangkat bahu nya tanda tidak tahu siapa yang datang.
Keduanya berjalan berdampingan dengan Ghafin yang menggandeng mesra tangan wanita yang kini telah remi menjadi istrinya.
Dengan senyum yang mengembang di wajah masing masing, Clara dan Ghafin sama sama berjalan menuju ke rumah kedua orang gua Ghafin
Namun, seketika langkah keduanya terhenti saat melihat siapa yang saat ini tengah datang berkunjung ke rumah utama keluarga Herlambang.
Dan seketika itu juga, reflek Clara melangkah mundur saat netranya bertemu dengan sepasang mata dari orang yang telah membuat hidupnya hancur sehancur hancurnya dan terluka hingga bagian paling terdalam hingga mengingat namanya saja, sudah tidak ingin Clara lakukan sepanjang hidupnya.
*
*****
dg catetan buka hatimu,ikhlaskan masa lalu
Skrang saatnya melepas dahaga🔥🔥🔥