"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Baru Tahu Dia Siapa
"Wanita itu kenapa kita ada di sini?" batin Ariana dengan penasaran.
Tetapi tatapan Anggi terlihat begitu santai dan seolah menantang Ariana dengan senyum merekah di bibirnya.
"Hmmmm, Papa sepertinya ada tamu, baiklah kalau begitu, Anggi pulang dulu," ucap Anggi dengan tersenyum yang cipika-cipiki dengan sang ayah.
"Hati-hati sayang, ingat nanti malam untuk makan malam bersama calon suami kamu!" tegas Santoso.
"Papa!" Anggi mengayun suaranya dan kemudian langsung pergi dan sudah pasti sebelum keluar dari ruangan tersebut dia melihat wajah rasa penasaran Ariana.
"Ariana silahkan duduk!" titah Santoso membuat Ariana menganggukkan kepala.
"Hmmmm, maaf pak, siapa wanita tadi?" tanya Ariana memberanikan diri.
"Oh itu Anggi putri satu-satunya saya," jawabnya membuat Ariana kaget dengan mata terbelalak.
"Apah!" ucapnya dengan tidak percaya.
"Putri saya memang jarang kelihatan, beliau lebih menghabiskan waktunya dalam pekerjaannya secara mandiri," ucap Santoso.
Ariana tidak menyangka jika wanita yang dia rendahkan ternyata adalah putri satu-satunya dari produser terkenal.
"Hmmmm, Ariana, untuk membicarakan kontrak kita hari ini, saya sepertinya belum bisa, karena ada beberapa kesepakatan yang harus dibicarakan dulu dengan manajemen kamu," ucap Santoso.
"Maksud bapak bagaimana?" tanya Ariana dengan wajah kagetnya.
"Kamu nanti bisa langsung tanyakan pada manajer kamu," sahut Santoso tanpa ingin berbicara apapun membuat Ariana benar-benar kaget.
******
Anggi baru saja keluar dari Perusahaan ayahnya, saat ini Anggi terlihat memasuki mobil.
"Tunggu!" hal itu tidak jadi ketika mendengar suara seseorang yang membuatnya menoleh ke belakangnya dan ternyata wanita tersebut tak lain adalah Ariana.
"Kamu berbicara dengan saya?" tanya Anggi.
Ariana menghela nafas dan kemudian melangkah menghampiri Anggi dengan kedua tangannya dilipat di dadanya.
"Jadi kamu adalah putri tunggal dari sutradara Santoso?" tanyanya memastikan sekali lagi.
"Kenapa? Kamu ingin mengarahkan semua fansmu untuk kembali menyerang akun sosial media aku dan juga ingin menyerang akun sosial media keluargaku?" tanya Anggi.
"Apa maksudmu?" tanya Ariana.
"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu jika penyerangan yang terjadi di akun sosial mediaku adalah ulahmu yang mengarahkan seluruh fans pun untuk menyerang, kalau begitu suruhlah mereka untuk kembali menyerang keluargaku agar aku bisa memberi paham mereka!" tegas Anggi.
"Kau dengarkan aku Ariana, apa yang aku katakan waktu itu masih tetap sama, jika kau masih mengganggu sahabatku dan masih memperlihatkan kebodohanmu yang menjadi seorang pelakor yang tidak punya rasa malu dan bahkan menganggap bahwa semua ini hanya permainan, sebuah lelucon untuk menyenangkan para fans yang mendukung tindakan bodoh yang kau lakukan, maka cari saja pekerjaan pada fansmu yang tidak sehat itu,"
"Aku tidak tahu apakah fansmu masih setia mendampingimu ketika kau sudah tidak terkena lagi dan sudah tidak dipakai lagi di industri entertainment," ucapnya seolah-olah terdengar ancaman yang begitu besar membuat Ariana tampak panik.
"Apa maksud mu?" tanya Ariana panik.
"Jika sutradara Santoso harus menolak kerjasama dan tidak menjadikan pemeran utama dalam film terbarunya, maka itu bentuk kemarahan dari putrinya yang telah dihina dan dianggap wanita yang masih mencari pekerjaan ke sana kemari dan bukan lawan denganmu, baru satu sutradara dan bagaimana jika banyak sutradara yang menolak dirimu, mungkin selingkuhanmu saja tidak akan menerima dirimu jika sudah terkena skandal besar!" tegas Anggi tersenyum pernah kemenangan dan akhirnya dia bangkit dari tidurnya.
"Ariana aku tidak seperti dirimu dan mungkin aku lebih memiliki banyak uang dibandingkan dirimu, tetapi aku tidak pamer sana sini dan merasa sudah paling di atas, sama dengan sahabatku Zena. Jangan kau anggap dia begitu rendah, memang dia telah diangkat oleh kedua orang tua Samudra, tetapi tanpa orang tua Zena, selingkuhanmu saat ini mungkin hanyalah seorang gembel, anak manajer pabrik yang tidak memiliki banyak harta seperti sekarang ini!" tegas Anggi.
"Keluarga Samudra tidak akan hidup bergelimang harta, jika bukan karena bantuan kedua orang tua Zena dan Zena juga selama ini hidup karena kekayaan yang dimiliki kedua orang tuanya dan bukan karena diangkat oleh orang tua Samudra!" tegas Anggi.
Ariana benar-benar terdiam tidak bisa berkutik sama sekali, ternyata jika harus pamer kekayaan dan juga popularitas maka Ariana tidak ada apa-apanya.
"Sekarang suruh fans yang mengabdi dan memujamu itu untuk menghapus semua komentar buruknya di akun sosial media aku dan juga akun sosial media perusahaan kami dan jika tidak aku akan memenjarakan mereka untuk bertanggung jawab atas tangan mereka dan akan membuatmu berhenti dalam dunia entertainment!" tegas Anggi tidak main-main dengan ancamannya.
"Ternyata yang aku hadapi hanya wanita yang masih mencari sutradara untuk menaikkan karirnya," sinis Anggi tersenyum geleng-geleng kepala dan kemudian memasuki mobilnya.
"Anggi tunggu...."
"Anggi!"
Panggil Ariana dengan mobil itu yang sudah melaju.
"Arhhkkk, sial!" umpat Ariana saat ini benar-benar sudah tidak bisa melakukan apapun.
"Kenapa semuanya bisa seperti ini, jadi wanita itu adalah putri dari Santoso dan dia berani-beraninya menghinaku,"
Ariana sekarang kalang kabut dan tidak bisa sombong lagi kepada putri dari produser ternama yang bahkan saat ini dia belum mendapat kepastian akan pemeran utama dalam film yang akan ditayangkan.
*****
Samudra dan Zena sama-sama kembali ke rumah mereka, lagi dan lagi Zena tampak terlihat cuek, yang memasuki kamarnya dan diperhatikan Samudra.
Tidak lama Zena kembali keluar dari kamar tersebut, yang sudah melepas hijab dan juga cadarnya dengan rambutnya tampak dikucir asal-asalan yang langsung menuju dapur.
"Kamu membuat makan malam?" tanya Samudra melihat bagaimana istrinya Itu tampak menghidupkan kompor
Zena membalikan tubuh dan mungkin heran saja tumben-tumbennya dia ditegur.
"Ya," jawabnya.
"Bukankah baru saja makan malam bersama mama dan papa?" tanya Samudra.
"Tidak kenyang," jawabnya kembali menyiapkan makan malam tersebut.
Samudra tiba-tiba saja berjalan menuju dapur dan menghampiri Zena.
"Saya akan membuatkannya," ucap Samudra.
Zena mengerutkan dahi, kebingungan dengan Samudra yang lagi-lagi sikapnya benar-benar aneh.
"Kak Samudra kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Zena.
"Saya juga lapar dan tidak mungkin menunggu kamu selesai membuat makanan, jadi saya juga akan membuat makanan untuk saya dan juga untuk kamu," jawab Samudra.
"Tidak perlu melakukannya, aku bisa mengerjakan sendiri," sahut Zena menolak yang kembali mengambil alih untuk membuat makanan tersebut tetapi Samudra lagi-lagi memahami.
"Kak apaan sih, kenapa coba tiba-tiba seperti ini?" Zena semakin kesal dengan suaminya itu.
"Kakak aneh sekali bersikap seperti ini, biasanya marah-marah, membentak, menatap dengan penuh kebencian dan sekarang?" tanya Zena dengan wajahnya dipenuhi dengan amarah dan kekesalan yang begitu besar.
"Apa saya salah berusaha untuk memperbaiki semuanya?" tanya Samudra.
"Maksudnya?" tanya Zena.
"Kamu sebaiknya duduk dan menurut saja, saya akan membuat makan malam," jawab Samudra yang tidak berbicara terlalu panjang dan tetap melanjutkan pekerjaan yang membuat Zena semakin tidak mengerti dengan suaminya.
Sikapnya seketika memang berubah menjadi pria yang hangat, bukan seperti dulu lagi. Apa mungkin Samudra sudah mulai menyadari bahwa apa yang dia lakukan sangat kelewatan kepada istrinya.
Tetapi mungkin saja bagi Zena hal itu tidak ada gunanya, mungkin saja Zena sudah terlanjur terluka dengan sakit yang begitu dalam akibat perbuatan Samudra.
Bersambung....
dan Ariana kamu salah cari lawan, kamu harus dibinasakan
nah samudra mau jalankan tugas negara kan? kak penulis buat saja ceritanya samudra dan rain itu kena tembak gitu dan koma atau buat saja meninggal sekalian, apa kedua perempuan sombong itu masih tetap sombong dan angkuh?