Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rusuk sang kubus.
"Kak..."
Suara Haseena terdengar lirih.
Tak ada jawaban.
Husna tetap melanjutkan kegiatannya tanpa sedikit pun menoleh.
Haseena memberanikan diri melangkah mendekat. Tangannya perlahan meraih pergelangan tangan sang kakak.
"Plis, Kak... jangan pergi." Haseena berusaha membujuk kakaknya agar tidak pergi
Kali ini Husna berhenti, Namun bukan untuk mendengarkan.
Ia menepis tangan Haseena hingga terlepas.
"Cukup."
Suaranya dingin, Sangat dingin.
"Aku capek." ucap Husna dengan suara datar
Haseena menggeleng pelan. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, bendungan yang ia bangun tiba-tiba saja roboh.
"Kita bisa ngobrol baik-baik..." bujuk haseenaa lagi
"Nggak ada lagi yang perlu diobrolin."
Husna menutup tasnya dengan kasar.
Brakk!
Suara resleting yang dibanting seolah menjadi penutup dari semua kesabaran yang selama ini ia pendam.
Perlahan Husna membalikkan tubuhnya.
Matanya merah.
ka plis jangan pergi" ucap Haseenaa sambil berusaha menahan husna yang sedang merapikan baju ke dalam tasnya
"diam deh kamu gak pernah tau gimana rasanya jadi kakak , dan mulai sekarang stop panggil aku kakak! aku kasih kasih sayang abah sama ibu ke kamu. kamu puas kan! "
haseenaa hanya bisa terdiam, kata-kata yang keluar bener bener menyakiti hatinya. ini lebih sakit daripada luka apapun.
"kenapa? nangis lagi? mau caper ke Zafran juga? ambil! mulai sekarang aku bukan bagian dari kamu lagi!! " suaranya mulai meninggi
"enak ya jadi kamu dapat semuanya"
Tangan haseenaa tiba-tiba mengepal dan emosinya pecah. sambil menangis dia berkata
"stop ya kak! Bukannya kakak yang gak mau kesempatan ini? kakak yang gamau jadi ustadzah seperti apa yang ibu mau, kakak gamau jadi pengusaha kayak yang bapa mau" haseenaa berdiri "asal kakak tau ya aku ga pernah mau jadi penanggung jawab kegagalan kalian, aku juga punya mimpi aku mau mimpiku sendiri! " haseenaa keluar dan membanting pintu membiarkan husna sendiri dengan emosinya yang tumpah
Brakk!
Pintu kamar terbanting.
Suaranya menggema ke seluruh rumah.
"Hasena!"
Rayyan dan Syafa berlari keluar dari kamar mereka hampir bersamaan.
"Ada apa?"
Haseena buru-buru mengusap pipinya.
Ia memaksa tersenyum meski napasnya masih tersengal.
"Nggak apa-apa, Bu..."
"Tadi nggak sengaja."
Syafa menatap putri bungsunya beberapa detik.
Ada bekas air mata yang belum sepenuhnya hilang.
Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, Haseena sudah lebih dulu berjalan menuju dapur.
Meninggalkan lorong rumah yang kembali dipenuhi keheningan.
Sementara itu...
Di balik pintu kamar yang kini tertutup rapat, Husna terduduk di lantai sambil memeluk tasnya erat.
Air mata mengalir tanpa suara.
"benar ternyata abah dan ibu hanya peduli pada haseena. padahal jelas suara pintu itu pintu kamarku, tapi yang ditanya cuma haseena" ucap husna dalam hati
Tatapannya kosong menembus jendela.
Entah sedang memandang langit...
atau sedang mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang selama ini ia sebut sebagai keluarga.
Malam itu...
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang menyangka.
Bahwa pertengkaran itu akan menjadi percakapan terakhir antara dua saudara.
Keesokan harinya...
Husna benar-benar pergi.
Dan sejak hari itu, Haseena hidup dengan satu penyesalan yang tak pernah selesai.
Hidup Haseena selalu ia bayangkan seperti sebuah kubus.
Bangun sederhana yang berdiri kokoh karena dua belas rusuk saling menopang. Selama seluruh rusuk itu utuh, kubus akan tetap menjadi kubus. Namun, jika satu saja patah, keseimbangannya mulai goyah. Dan bila penyangga utamanya runtuh, kubus itu tak lagi mampu berdiri.
Empat rusuk terkuat dalam hidup Haseena adalah keluarganya.
Abah.
Ibu.
Kak Husna.
Dan Abang Zafran.
Empat orang yang selama ini menjadi alasan ia pulang, tertawa, dan percaya bahwa apa pun yang terjadi, rumah akan selalu menjadi tempat paling aman.
Delapan rusuk lainnya adalah dirinya sendiri.
Harapan.
Mimpi.
Tanggung jawab.
Juga semua ekspektasi yang perlahan dipikulkan kepadanya seiring bertambahnya usia.
Saat Kak Husna memutuskan mengikuti ekspedisi konservasi hutan, Abah mulai menatap Haseena dengan harapan baru.
"Kalau Husna memilih jalan lain... mungkin kamu yang akan meneruskan cita-cita Abah menjadi ustazah."
Haseena hanya mengangguk.
Ia tak pernah benar-benar bercita-cita menjadi ustazah.
Namun, jika itu bisa membuat Abah tersenyum, ia rela belajar lebih keras.
Begitu pula ketika Zafran memutuskan merantau untuk mengejar mimpinya sendiri.
Ibu kemudian menggenggam tangan Haseena sambil berkata pelan,
"Kalau Abang sibuk mengejar dunia di luar sana... nanti kamu yang belajar berdagang ya, Nak. Biar usaha keluarga tetap ada yang meneruskan."
Sekali lagi Haseena hanya mengangguk.
Ia menyimpan semua mimpi itu di dalam hatinya.
Menjadi ustazah.
Menjadi pengusaha.
Menjadi anak yang membanggakan.
Menjadi harapan terakhir.
Ia tidak pernah sadar...
Bahwa menjadi harapan terakhir berarti bersiap memikul semua beban yang ditinggalkan orang lain.
Dua minggu lalu...
Kabar itu datang.
Ekspedisi yang diikuti Husna kehilangan kontak dan Tim penyelamat sudah diterjunkan namun hingga hari ini...
Nama Husna masih tercatat sebagai orang hilang.
Rumah yang biasanya dipenuhi tawa perlahan berubah sunyi ibu lebih sering menangis diam-diam dan abah mulai menghabiskan malamnya dengan berdoa.
Sedangkan Zafran berkali-kali menawarkan diri ikut mencari sang kakak namun selalu ditolak.
"Kamu tetap di rumah."
"Tapi Bah—"
"Cukup."
Abah tidak pernah memberi kesempatan Zafran menyelesaikan kalimatnya seolah masih ada secercah keyakinan bahwa Husna akan pulang sendiri.
Keyakinan yang perlahan berubah menjadi kecemasan.
Dan pagi ini...
Cobaan itu kembali datang.
"Haseena..."
Suara Abah terdengar begitu lirih dari balik telepon.
"kamu ke rumah sakit sekarang ya nak."
Jantung Haseena langsung berdegup kencang.
"Bah...? Ada apa?"
"Ibu pingsan."
Kalimat itu membuat tubuh Haseena membeku, hasena yang kala itu sedang di sekolah segera pergi meninggalkan sekolah tanpa pamit
Koridor rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung. Langkah kaki para tenaga medis terdengar bersahutan, sementara suara roda ranjang pasien beradu dengan lantai keramik yang dingin.
Di ujung lorong...
Lampu merah bertuliskan ICU masih menyala, Haseena berlari kecil menghampiri Abah. Lelaki itu berdiri membelakangi pintu ruang intensif.
Biasanya, punggung Abah selalu tampak tegap.
Namun hari ini...
Untuk pertama kalinya, Haseena melihat bahu itu seolah kehilangan kekuatannya.
"Bah..."
Abah menoleh namun wajahnya terlihat pucat dan lingkar matanya memerah.
"Ibu kenapa, Bah?" suara Haseena bergetar.
Abah menarik napas panjang sebelum menjawab pelan,
"Ibu masih diperiksa."
Tak jauh dari sana, Zafran mondar-mandir tanpa arah. Tangannya berkali-kali meremas rambut sendiri "Ibu nggak apa-apa, kan, Bah?" tanyanya dengan suara yang hampir pecah.
Abah menatap pintu ICU cukup lama.
"Doain aja."
Hanya itu tiidak ada kalimat penenang, tidak ada senyum yang biasanya selalu berhasil membuat anak-anaknya tenang. Hanya dua kata sederhana yang justru terdengar jauh lebih menakutkan.
Suasana kembali tenggelam dalam keheningan, tak ada seorang pun yang berani berbicara.
Yang terdengar hanya bunyi monitor dari balik pintu ICU dan detak jam dinding yang seolah berjalan lebih lambat daripada biasanya.
Sementara di luar sana...
Langit masih sama, matahari tetap bersinar dan orang-orang tetap berlalu-lalang.
Dunia terus berjalan...
Tanpa peduli bahwa di sudut rumah sakit itu, sebuah keluarga sedang menunggu kabar yang mungkin akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.