"Kamu jangan khawatir, Archiena. Saya yang akan menikahi kamu." ~ Kaivan Arsangga Diando.
***
Tepat di hari pernikahannya, Archiena harus menelan pil pahit. Kekasih, atau calon suaminya terbukti selingkuh dengan adik kandungnya sendiri selama bertahun-tahun.
Perasaan Archiena dihancurkan oleh dua orang yang paling ia percaya dalam hidupnya, meski begitu tak ragu sama sekali baginya untuk membatalkan pernikahan.
Namun karena nama baik keluarganya dipertaruhkan disini, terpaksa Archiena pun menikahi om dari kekasihnya yang juga berkorban untuk keluarganya.
Lantas bagaimana kehidupan Archiena dan Kaivan, akankah keterpaksaan itu berubah menjadi kebahagiaan atau malah penderitaan?
Update setiap hari ‼️
Follow Instagram : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya beruntung
Seminggu berlalu sejak Kaivan dan Archie pergi ke rumah mama Fia didaerah Bogor. Archie pulang setelah diantar oleh kedua mertuanya yang juga langsung pergi ke Australia dan akan kembali beberapa bulan lagi.
Kini Archie dan Kaivan sudah kembali bekerja seperti biasanya, menjadi atasan dan sekretaris di kantor.
"Permisi, Pak. Ini ada dokumen yang perlu tanda tangan persetujuan anda." Ucap Archie dengan sopan dan penuh senyuman.
Kaivan lekas menandatangi dokumen yang istrinya bawa, lalu memberikannya kembali.
"Apa jadwal saya hari ini?" Tanya Kaivan dengan serius.
Archie membuka iPad ditangan nya, lalu melihat jadwal Kaivan hari ini dan reminder perjalanan dinas besok.
"Untuk hari ini jadwal anda kosong, Pak. Tapi besok kita harus ke Yogyakarta untuk pertemuan dengan beberapa pengusaha." Jawab Archie menjelaskan.
"Berapa hari?" Tanya Kaivan mengerutkan keningnya.
"Tiga hari, Pak." Jawab Archie sopan.
Kaivan manggut-manggut. "Persiapkan diri kamu, dan jangan lupa untuk meminta izin pada suami kamu." Kata Kaivan meningkatkan.
Archie tersenyum tipis lalu mengangguk. "Baik, Pak. Apa masih ada lagi yang ingin anda tanyakan?" Tanya Archie.
"Makan siang sama saya." Jawab Kaivan menatap Archie sesaat lalu beralih menatap komputernya.
Archie tersenyum, beberapa hari ini khususnya setelah kepulangan mereka dari rumah mama Fia, sikap Kaivan berubah lebih baik dan Archie sangat bahagia.
Kaivan tidak terlalu cuek dan dingin seperti dulu, kini ada ucapan untuk sekedar bertanya apakah Archie sudah makan atau belum. Dan yang paling mencengangkan hari ini adalah Kaivan mengajaknya makan siang bersama.
"Maaf, Pak. apa anda yakin? Maksud saya, bagaimana jika karyawan lain melihat." Ucap Archiena ragu-ragu.
Kaivan tidak langsung menjawab, ia melirik jam di tangannya lalu menatap Archie.
"Sudah jam makan siang, artinya kamu istri saya sampai satu jam kedepan. Saya tunggu kamu di basemen kantor." Kata Kaivan lalu bangkit dari duduknya.
Kaivan memakai jasnya, ia mendekati Archie lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Mengerti kan?" Tanya Kaivan ketika istrinya itu diam saja.
"Iya, Om. Aku mengerti, aku akan segera menyusul." Jawab Archie menganggukkan kepalanya.
Kaivan keluar dari ruangannya, disusul oleh Archie. Kaivan belum jauh melangkah namun sudah terpaksa berhenti ketika mendengar sesuatu.
"Archie, makan siang yuk." Ajak Rafi dengan penuh senyuman.
"Kita berdua saja, karena yang lain mau goput saja katanya." Tambah Rafi.
Archie menatap Kaivan yang berdiri sambil menatapnya.
"Maaf, Pak. Hari ini nggak bisa, lain kali ya. Saya ada janji makan siang dengan orang lain, lagipula makan siang itu enaknya rame-rame, seru." Tolak Archie dengan sopan dan lembut.
"Begitu, sama pacar kah?" Tanya Rafi dengan rasa penasaran yang besar.
Jujur saja jika Rafi itu tertarik pada Archie, dia menyukai gadis itu sejak pertama kali melihatnya.
Rafi ingin mencoba melakukan pendekatan dengan pertemanan, lalu nantinya dia akan mengajak Archie ke status yang lebih serius.
"Sama orang spesial, Pak." Jawab Archie tanpa memberikan spesifikasi status nya.
Rafi menghela nafas. "Sayang banget, padahal lagi mau makan siang sama kamu. Yaudah deh, besok kita makan bareng teman-teman yang lain lagi ya." Kata Rafi dan Archie membalas dengan senyuman saja.
Rafi pergi, Kaivan pun pergi. Ketika Archie menatap ke tempat Kaivan berdiri tadi, suaminya itu sudah tidak ada.
"Om Kaivan pasti sudah duluan, aku harus cepat agar dia tidak menunggu." Gumam Archie lalu meraih selempangnya.
Archie pun lekas berlari menuju lift, ia menekan lantai basemen dimana Kaivan sudah menunggunya.
Jam makan siang itu memang ramai, bahkan lift yang Archie tumpangi kini sudah penuh. Kebanyakan yang turun tentu saja di ground floor, dan hanya Archie yang turun ke basemen.
Sesampainya di basemen, Archie pun celingak-celinguk mencari mobil suaminya. Suara klakson membuat Archie tersadar.
Archie lekas mendekat, dan masuk ke dalam mobil suaminya. Gadis itupun duduk di sebelah Kaivan yang duduk di mobil.
"Masa mobil suami saja nggak tahu kamu, Chie." Ucap Kaivan geleng-geleng kepala.
Archie terkekeh. "Mobil om banyak, aku suka lupa. Nanti aku ingat-ingat ya." Sahut Archie lembut.
Kaivan tidak menyahut, ia langsung tancap gas meninggalkan basemen untuk makan siang bersama istrinya.
Selama perjalanan Kaivan sesekali melirik Archie dengan berbagai pemikirannya.
Aldavi sudah menghubunginya berkali-kali, mempertanyakan tentang kondisinya. Selain itu, tentu saja pertanyaan Aldavi adalah apakah dia sudah cerita pada Archie atau belum.
Belakangan ini hubungannya dengan Archie sedang berjalan dengan baik, bahkan komunikasi diantara mereka tidak seminim dulu.
Alasan itu juga yang memberatkan Kaivan untuk cerita, ia takut jika istrinya malah menjauh atau bahkan meninggalkannya.
"Archie." Panggil Kaivan membuat Archie menoleh.
Kaivan pun ikut menoleh sebentar, ada yang ingin ia sampaikan namun malah ragu mengatakannya.
"Ada apa, Om?" Tanya Archie lembut.
"Jika saya melakukan kesalahan atau ada sesuatu yang salah dalam diri saya, apa kamu akan pergi meninggalkan saya?" Tanya Kaivan dengan serius.
Archie mengerutkan keningnya, ia merasa aneh dan bingung mendengar pertanyaan yang tidak biasa dari suaminya.
"Selama bukan kebohongan dan perselingkuhan, aku pasti tidak akan meninggalkan om. Pernikahan bukan untuk main-main." Jawab Archiena dengan yakin.
"Saya masih hutang cerita sama kamu, apa kamu tidak akan menagihnya?" Tanya Kaivan.
Kebetulan lampu merah sehingga Kaivan bisa lebih serius bicara dengan Archie.
"Nggak, aku nggak akan memaksa om cerita secepatnya. Aku tahu om butuh waktu." Jawab Archie penuh pengertian.
Kaivan tersentuh mendengarnya. Archie memang gadis yang baik, karena itulah ia sangat mencintai gadis itu.
"Saya beruntung memiliki istri seperti kamu, Chie." Ungkap Kaivan dengan sungguh-sungguh.
Archie cukup terkejut, ia benar-benar tak menyangka jika pengakuan seperti itu akan keluar dari bibir suaminya.
Kaivan, pria yang menikahinya secara terpaksa ternyata merasa beruntung memiliknya? Apakah ini benar?
"Om serius?" Tanya Archiena.
"Tentu saja, hanya pria bodoh yang mau meninggalkan kamu, dan pria bodoh itu adalah keponakan saya." Jawab Kaivan.
Archie tersenyum. "Aku pikir selama ini aku bukan gadis yang baik, sampai tunangan aku sendiri memilih adikku sebagai pendampingnya." Kata Archie menundukkan kepalanya.
Kaivan mengusap kepala istrinya dengan lembut, ia tidak mau Archie sampai bersedih karena hal yang tidak penting.
"Lupakan saja, hal seperti itu tidak pantas dipikirkan." Tutur Kaivan.
Archie tersenyum lebar, ia senang mendengar kepedulian suaminya barusan. Archie berharap hubungannya dengan Kaivan semakin membaik.
MAU BURU-BURU JEBOL ATAU BURU-BURU CERITA?
Bersambung......................................