Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Menjenguk Gavin
"Tapi walau bagaimanapun dia adalah mantan anak tirimu, Aina. Hubungan kalian tabu di mata umum dan sudah menjadi skandal besar," ucap Bagaskara, nampaknya dia tidak bisa menerima hubungan Gavin dengan putrinya.
Dari segi pemikiran seorang ayah, dia bukan ingin egois, tapi dia ingin melindungi Aina dari media di luar sana. Orang tua mana yang tidak sakit hati mendengar putrinya menjadi bahan cemoohan dan dianggap wanita rendahan.
"Tapi aku dan Gavin sedang berjuang untuk membersihkan nama kami, Ayah. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja," balas Aina dengan ludah yang tercekat.
"Kamu ingin berkorban sekali lagi?" tanya Bagaskara seraya memberikan tatapan serius.
Dan Aina langsung menganggukkan kepala. Tidak ada alasan untuk mundur, karena dia mengingat semua pengorbanan Gavin saat dia tinggal di rumah utama.
Bagaskara mendesaahkan nafas kasar. Tampak sekali bahwa dia kecewa dengan keputusan Aina.
Tak ingin bertambah kesal, akhirnya Bagaskara memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini. Dia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar.
Sementara Aina kembali tergugu, di saat dirinya sangat membutuhkan dukungan, orang-orang yang ada di sekitarnya seolah tak peduli.
Melihat itu Dina yang sedari tadi diam lantas menghampiri putrinya, dan memeluk tubuh ringkih itu. Ingin memberi sedikit kekuatan. "Sabar, Ayah masih shock mendengar berita ini. Apalagi Ayah baru saja keluar dari rumah sakit."
"Aku benar-benar tidak bisa berpisah dengan Gavin, Bu. Dia butuh aku sekarang, dia butuh aku," balas Aina sambil terisak-isak. Dia membayangkan Gavin yang berada di sel tahanan, kesepian dan juga kebingungan.
Dina yang cukup memahami putrinya pun mengangguk, dia mengusap-usap punggung Aina agar gadis itu lekas tenang.
"Berdoalah, agar kalian menemukan jalan keluar dari semua permasalahan ini. Ibu yakin, takdir yang Tuhan berikan itu jauh lebih baik, dari apa yang kita impikan. Meski kita harus merasa sakit terlebih dahulu."
Mendengar itu, Aina semakin memeluk erat tubuh ibunya. Menumpahkan segala rasa sesak yang bersarang di dadanya.
*
*
*
Semalaman Aina mencoba berpikir bagaimana caranya bisa membebaskan Gavin. Namun, dia tak kunjung mendapatkan ide, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjenguk pemuda itu.
Tepatnya hari ini, pagi-pagi Aina sudah tampak rapih. Sebelum keluar dia memakai pakaian yang serba tertutup, takut ada orang yang mengenalinya.
"Mau ke mana kamu, Nak?" tanya Dina setelah melihat penampilan putrinya. Kini mereka ada di meja makan, siap untuk menyantap sarapan.
"Aku ingin pergi ke penjara, Bu. Aku ingin menjenguk Gavin," jawab Aina dengan jujur, membuat Bagaskara langsung mengepalkan tangannya yang ada di atas meja.
Namun, karena tak ingin ayah dan anak itu kembali berdebat. Dina langsung mencairkannya dengan menyuruh Aina sarapan terlebih dahulu.
"Kalau begitu makanlah dulu."
Dina segera mengambil piring dan menyendokkan makanan untuk Bagaskara.
"Tapi aku boleh bawa makanan ini untuk Gavin kan, Bu?" tanya Aina lagi, membuat laju tangan Dina terhenti seketika.
"Cukup, Aina. Tidak perlu terlalu baik!" Kini Bagaskara yang menimpali ucapan putrinya.
Akan tetapi sebelum Aina membalas ucapan itu, Dina kembali menyambar. "Tidak apa-apa, Ayah. Lagi pula makanan ini banyak. Nanti Biar Ibu yang bantu siapkan, kamu makan saja."
Wajah Bagaskara langsung berubah masam dan mengambil sendok dengan gerakan kasar, sementara Aina hanya bisa beradu pandang dengan Dina. Mengucapkan rasa terima kasih, karena sudah membelanya.
Setelah sarapan selesai, akhirnya Aina benar-benar pamit untuk pergi ke penjara. Dia menaiki taksi dan menghabiskan waktu sekitar satu jam.
Tiba di penjara Aina langsung meminta izin untuk bertemu dengan Gavin. Setelah memberikan identitas dirinya, Aina disuruh menunggu terlebih dahulu, karena di sana tak hanya ada dia.
Jantung Aina berdebar keras ketika nama Gavin dipanggil, dia lantas berdiri dan melihat sosok yang teramat dia rindukan sudah ada di depan matanya.
Sama halnya dengan Aina, Gavin pun nampak tersenyum lebar, meski matanya tak bisa bohong, banyak kesedihan yang tertahan di sana.
Tak ingin membuang waktu, Aina langsung menghambur ke arah Gavin. "Aku merindukanmu, Gav, sangat merindukanmu." Ungkap Aina, seolah tak rela melepaskan raga ini.
"Aku juga merindukanmu, Na. Kamu baik-baik saja kan?" balas Gavin seraya menghirup dalam aroma tubuh kekasihnya.
Aina menggeleng cepat. "Bagaimana aku bisa baik-baik saja sementara kamu ada di sini?"
Gavin melerai pelukannya. Waktu yang mereka miliki tidak banyak, jadi Gavin ingin berbicara sedikit dengan Aina. "Aku hanya ditahan karena diduga sebagai tersangka, bukan berarti aku akan dipenjara. Jadi, kamu tenang saja ya, aku yakin semuanya tidak akan terbukti."
"Tapi Danesh itu licik, Gav."
Gavin bisa melihat kekhawatiran yang ada di mata Aina. Akan tetapi dia tidak ingin gadis ini terus memikirkan dirinya.
"Aku akan memikirkan cara untuk membalas kelicikannya. Kamu cukup do'akan aku, oke?"
Sebenarnya hati Aina masih belum bisa tenang, tetapi melihat semangat Gavin, dia tidak ingin pemuda itu bertambah kepikiran.
"Oke. Oh iya, ini ada makanan untukmu, jangan lupa dimakan ya," ujar Aina seraya menyerahkan makanan yang ia bawa.
"Iya, Sayang."
Mendengar itu, Aina langsung mengulum senyum. Sebelum waktu habis dan Aina pergi dari penjara, Gavin kembali memberikan kecupan dalam di kening gadis itu, menyalurkan semua cinta yang dia punya.
"I love you, Cantiknya Gavin," ungkap Gavin, membuat pipi Aina langsung bersemu merah.
"I love you more."
***
Kuat ya kalian🥰
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡