NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Surat itu jatuh dari tangan Melisa dan mengenai lantai marmer rumahnya dengan suara kecil yang hampir tak terdengar. Namun bunyi itu justru terasa paling memekakkan bagi dirinya.

Mata Melisa membulat penuh amarah, seolah darahnya berhenti mengalir sesaat lalu mendidih kembali dengan cepat—panas, tajam, dan membutakan.

Surat cerai.

Dari suaminya sendiri. Dari Wira—pria yang selama ini ia anggap bisa ia kendalikan, ia genggam, dan ia arahkan sesuai keinginannya.

Tangan Melisa bergetar keras saat meremas kertas itu. Nafasnya memburu. Wajahnya memerah menahan ledakan emosi.

“Aurelia… anak tak tahu diuntung itu…” desis Melisa, hampir seperti seekor ular yang siap menyergap. “Berani-beraninya dia… bekerja sama dengan mereka.”

Ia menghempaskan pot bunga porselen yang ada di meja. Hancur berantakan, serpihan pecahannya memantul ke segala arah.

Aurelia. Anak yang ia lahirkan. Anak yang ia bentuk, ia rawat, ia arahkan.

Anak yang kini mengkhianatinya demi perempuan desa itu.

“Aku yang melahirkannya!” Melisa meraung, suara tinggi penuh kemarahan dan sakit hati. “Tapi dia malah memilih berpihak pada orang luar?! Pada perempuan murahan itu?!”

Melisa berputar-putar di ruang tamu seperti orang kehilangan kewarasan. Rambutnya berantakan, napasnya berat, mata merah berkaca-kaca oleh amarah. Salah satu sekutunya—Dion—berusaha mendekat, namun mundur lagi ketika melihat ekspresi Melisa seperti orang yang siap membunuh siapa pun yang menyentuhnya.

“Bu… tolong tenang dulu…” ucap Dion hati-hati.

Melisa menghentakkan kaki. “TENANG?!” suaranya menggema di seluruh rumah.

Dion terdiam. Dua sekutu lain, Jati dan Vano, saling berpandangan cemas. Mereka sudah lama tahu Melisa ambisius… tapi ini berbeda. Ini jauh lebih gelap, lebih liar, lebih berbahaya.

Melisa memukul meja kayu besar dengan kedua tangannya sampai suara keras terdengar. “Wira menceraikanku karena perempuan itu… dan sekarang anakku sendiri memihak musuhku!” Ia menjerit lagi. “Mereka semua sama! Semua melawanku!”

Jati menelan ludah, mencoba membuka suara. “Bu… penjagaan di rumah Wira sekarang sangat ketat. Tidak mudah ditembus. Bahkan sulit untuk mendekat.”

Melisa memicingkan mata. “Mereka pikir bisa menyembunyikan dua perempuan itu dariku?”

Dion menyahut pelan, “Nyonya… sepertinya mereka mendapatkan bantuan dari orang berpengalaman. Pengamanan mereka level tinggi… bukan sekadar pengawalan biasa.”

Melisa mengibas rambutnya kasar, menepis kekhawatiran itu. “Hanya dua perempuan! Dua! Kenapa kalian seperti ketakutan menghadapi perempuan? Apa kalian pengecut?!”

Tak ada yang menjawab.

Karena bukan itu persoalannya.

Semua orang tahu Mala tidak sendirian lagi. Ada Daren. Ada ayahnya yang kini turun tangan langsung. Ada puluhan orang yang terlatih dan penjagaan berlapis-lapis.

Melisa tiba-tiba menatap tajam, matanya berkilat seperti orang yang hampir hilang akal.

“Aku ingin semuanya selesai,” katanya dingin. “Mala. Aurelia. Bahkan Wira kalau perlu.”

Jati tersentak. “Bu… Aurelia itu anak ibu sendiri…”

“Dan?” Melisa mendesis, wajahnya berubah semakin kejam. “Kalau dia menghalangi jalanku, dia sama saja musuhku. Aku tidak peduli.”

Sekutu-sekutunya menatap satu sama lain. Di wajah mereka terlihat sesuatu yang selama ini tidak muncul: keraguan.

Dion memberanikan diri berkata, “Bu… tujuan awal kita hanya mendapatkan kembali yang menurut ibu seharusnya milik ibu. Tapi kalau sampai menyasar keluarga sendiri…” Ia tampak gelisah. “Ini sudah terlalu jauh.”

Melisa menoleh dengan tatapan membunuh. “Kau ingin mundur?”

Dion menelan ludah. “Bukan begitu, Bu… tapi—”

“Kalau ada yang takut,” potong Melisa sambil menunjuk tajam, “silakan pergi sekarang.”

Tak ada yang bergerak. Tak ada yang menjawab.

Semua diam—bukan karena setuju, tapi karena takut.

Melisa tersenyum sinis melihat mereka diam seribu bahasa. “Begitu lebih baik.”

Ia berjalan ke ruang kerjanya, membuka lemari khusus berisi dokumen dan kotak besi kecil. Ia mengambil ponsel satelit—yang jarang ia gunakan kecuali untuk keperluan rahasia—lalu menghubungi seseorang.

“Roy,” katanya setelah panggilan tersambung. Suaranya berubah tenang namun dingin, seolah badai dalam dirinya tiba-tiba fokus ke satu titik. “Aku butuh kau kembali.”

Di sisi lain, Roy—pria dengan reputasi kotor di dunia gelap—terdiam sesaat lalu tertawa pelan. “Sudah lama. Rupanya kau butuh bantuanku lagi.”

“Ada pekerjaan yang gagal dilakukan orang-orangku,” ujar Melisa. “Aku ingin kau datang bersama dua orang kepercayaanmu.”

“Target?” tanya Roy langsung.

“Perempuan desa bernama Mala.” Melisa tersenyum miring penuh kebencian. “Dan… anakku sendiri.”

Roy sempat terdiam. “Kau yakin? Ini bukan main-main.”

Melisa menggertakkan gigi. “Aku tidak butuh opinimu. Aku hanya butuh kalian bekerja.”

Roy akhirnya tertawa kecil. “Baiklah. Kami berangkat malam ini.”

Melisa mematikan telepon.

Sekutu-sekutunya yang mendengar sebagian pembicaraan itu tercekat. Jati mendekat perlahan.

“Bu… Roy dan anak buahnya itu… mereka bukan orang baik. Mereka berbahaya. Kalau ibu melibatkan mereka… permainan ini berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.”

Melisa berbalik, mata membara. “Justru itu yang kubutuhkan. Sesuatu yang tidak bisa dihentikan.”

Ia mendekat pada tiga sekutunya, menatap mereka satu per satu.

“Wira sudah berkhianat. Aurelia bukan lagi anakku. Mala harus dihapus dari dunia ini. Dan keluarga Adrianata…” Melisa menyipitkan mata, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum gelap. “Akan kuhancurkan sampai tidak tersisa.”

Dion, Jati, dan Vano merasakan bulu kuduk mereka berdiri.

Perempuan ini… bukan lagi Melisa yang mereka kenal dulu.

Ambisi telah berubah menjadi obsesi.

Ketamakan menjadi kegilaan.

Dan kini, setelah perceraian, pengkhianatan anak, serta gagalnya semua rencana… Melisa tidak lagi memiliki batas moral apa pun.

“Mulai malam ini,” ujar Melisa sambil menutup tirai jendelanya dengan gerakan lambat namun tegas, “kita tidak lagi bermain rapi.” Ia memutar tubuhnya. “Kita akan menyerang dengan cara yang tidak akan mereka duga.”

Di luar rumah, langit senja berubah gelap, seakan ikut menegaskan apa yang akan terjadi.

Pertarungan besar semakin dekat.

Dan Melisa… tak lagi berniat sekadar merebut harta.

Ia kini berniat menghancurkan semua orang yang menghalangi jalannya.

Selamat sore selamat membaca

jangan lupa like komen nya ya..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!