NovelToon NovelToon
Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku

Status: tamat
Genre:Poligami / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Romansa / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ria

Kisah seorang gadis yang terjerat hubungan sangat rumit, dia menikahi seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal.

Gadis itu mengambil keputusan dalam desakan yang tidak bisa dipungkiri. Keinginan, cinta pertama serta cita-citanya dia lupakan karena suatu tragedi yang menimpanya.

Di suatu ketika dia mengetahui rahasia besar, kenapa suaminya menikahinya? Dan rahasia itulah yang membuat gadis itu berubah 180°.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa?

Banyak suara yang memenuhi ruangan, sampai-sampai suara itu menjelma menjadi gemuruh di gendang telinga Muezza. Saat kelopak mata itu terbuka, dia melihat ibunya dan sebagian saudara-saudaranya tengah duduk mengelilingi dia.

Dengan suara yang parau dia bertanya, "Ada apa ini? Kenapa kalian di sini?"

Rahma yang sedari tadi menangis kini menetralkan deru napasnya.

"Tadi kamu teriak-teriak. Saat bunda masuk, kamu sudah pingsan." Penuturan Rahma membuat kejadian sebelumnya terulang kembali.

Muezza menatap sekeliling kamar, memastikan dinding-dinding itu tidak bergerak. Sambil menyeimbangkan tubuhnya, Muezza melirik jendela dan juga pintu kamarnya.

"Bunda, tadi kamar Mue tidak ada jendela dan juga pintunya. Bangunan ini seakan hendak menelan Mue hidup-hidup," jelasnya sambil menunjuk ke arah pintu dan jendela.

Gina bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Muezza yang sibuk menunjuk dia sudut ruangan ini.

"Sudah jangan banyak bergerak, lebih baik kamu istirahat!" tutur Gina menuntun sang keponakan untuk duduk di ranjang tempat tidurnya.

Manik hitam itu terus menatap teduh anaknya yang tampak kacau, bukan penampilannya. Namun, perilaku dan sikap Muezza saat ini yang terlihat kacau balau.

Rahma berpikir bahwa batin anaknya terguncang hebat karena sang ayah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

"Kakak mau enggak liburan bareng Tante Gina? Besok Tante akan pergi ke Jakarta," ucap Rahma sambil memberi kode pada kakak iparnya.

Gina yang paham akan rencana Rahma langsung menimpali perkataan adik iparnya.

"Iya, besok lusa Tante akan ke Jakarta mengunjungi Mas Arif. Kamu mau ikut?" tanya Gina dengan senyuman yang merekah.

"Enggak! Mue enggak mau ke mana-mana besok Mue harus kerja." Penolakan yang disertai pemberitahuan tersebut membuat Rahma tersentak.

Dia tidak menyangka anak sulungnya itu akan mengambil keputusan ini. Jasad ayahnya saja baru dikubur kemarin dan anak gadisnya akan bekerja di tengah kesedihan yang membuat dia terpukul.

"Nak, ikut saja dengan Tante. Siapa tahu kamu bisa dapat teman baru dan tubuh kamu akan lebih fresh," ujar Rahma memerintah.

Muezza duduk menyerong agar lebih leluasa menatap wajah sang ibu, "Bunda! Muezza tidak ingin pergi ke mana pun. Yang Mue mau ... kerja lebih keras dan belajar lebih giat. Tahun depan Mue mau kuliah," ungkapnya sembari menyekat air mata yang hendak berlinang.

Gina, Rahma dan juga dua bibi Azmi menangis tanpa suara. Salah satu bibi Azmi memeluk tubuh mungil Muezza seraya mengelus kepala gadis itu dengan sangat lembut.

"Nenek bangga mempunyai cucu sepertimu. Punya pemikiran yang luas, tapi ingat nak! Setiap langkah yang kamu ambil akan memiliki resiko entah itu kecil atau besar. Persiapkan diri dan kuatkan iman!" saran Rumini.

Muezza mendengarkan dengan saksama wejangan bibi ayahnya. Waktu terus berputar, hari demi hari pun berlalu. Kini tibalah hari terakhir Muezza bersantai di rumahnya, gadis itu menurunkan sangkar burung kesayangannya.

"Jalu, maafkan aku telah menyiksamu! Aku janji akan menjadi wanita yang baik dan maafkan aku telah membuatmu kecewa. Selamat jalan Jalu, jaga dirimu baik-baik." Dengan penuh kesadaran Muezza melepas Jalu terbang ke udara.

Entah apa yang di pikirkan hewan kecil itu, ia sudah terbang sangat tinggi lalu kembali terbang turun menghampiri Muezza yang tengah berdiri menatap langit biru.

"Lah, kenapa kamu kembali lagi Jalu?" kata Muezza keheranan.

Burung kecil itu bersiul seakan berbicara dengan pemiliknya, ia bersiul sangat panjang lalu hinggap di kepala Muezza.

"Kamu sayang banget ya, sama aku?" ujar Muezza dengan senyum nanarnya.

Seakan mengerti dengan ucapan majikannya, burung itu kembali bersiul seolah-olah menjawab pertanyaan Muezza dan sayangnya gadis modern tersebut tidak paham akan ucapan burung peliharaannya.

Tidak ingin berlarut akan kesedihan melepas burung itu, Muezza masuk ke rumah. Ikatan yang sangat luar biasa bukan?

"Kakak," panggil Alif lemah lembut.

Reflek Muezza menyentuh darahnya karena kaget dan setelah itu dia menolehkan kepalanya ke belakang.

"Kamu bikin kakak kaget aja!" sembur Muezza memprotes kelakukan adiknya.

"Kenapa kamu duduk di pojokan? Nanti digigit kadal tahu rasa," seloroh Muezza sekonyong-konyong.

Adik laki-lakinya itu masih tampak manyun di pojok kiri ruang tamu. Melihat hal itu Muezza menghampiri sang adik yang terlihat bersedih hati.

"Kamu kenapa?" Gadis itu turut duduk sambil menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Alif.

Lelaki kecil itu menundukkan kepalanya sambil menyentuhkan telunjuknya di lantai.

"Alif enggak mau ngomong sama kakak?" ujar Muezza bingung.

Dia tidak tahu apa yang bersarang di dalam kepala adiknya, yang jelas anak yang berusia 8 tahun tersebut tampak sangat murung.

"Ya udah kalau Alif enggak mau ngomong," tutur Muezza sambil berdiri.

Di saat gadis itu hendak melangkah Alif memeluk betis Muezza sangat erat, samar-samar suara tangis kecil itu terdengar lirih.

"Kenapa menangis? Alif," pungkas Muezza memeluk adiknya.

"Alif ...." Suara itu terhenti akibat isak tangis yang tertahan.

Muezza yang tidak tega melihat sang adik tersiksa karena tangisan langsung memeluk penuh kasih sayang anak yang masih berusia delapan tahun tersebut.

"Sudah-sudah Alif tidak perlu cerita lagi!" kata Muezza yang sedikit mengintip wajah Alif yang berada dalam pelukannya.

"Alif mau beli ice cream?" tanya gadis itu lembut, tapi tawarannya di tolak mentah-mentah oleh sang adik.

Ketika Muezza hendak menawari hal lain pada Alif, ponselnya berdering sehingga dia memilih mengutamakan panggil telepon tersebut.

"Ya, wa 'alaikumsalam. Ini siapa?" sapa Muezza seraya Alif yang mulai berhenti menangis.

Raut wajahnya yang semula datar kini tampak gelisah, entah siapa yang meneleponnya yang jelas gadis itu terlihat sangat tidak suka dengan panggilan telepon tersebut.

"Tidak!" Sejak sambungan telepon seluler itu dia angkat hanya dua kata yang dia ucapkan dan yang terakhir menimbulkan tanda tanya besar dari sang adik.

Selepas memutus panggilan secara sepihak, Alif kembali ke mode cerewet. Pria kecil itu menanyakan banyak hal yang membuat Muezza sedikit kesal sampai-sampai dia membentak Alif.

"Stop Alif, jangan banyak bertanya!"

"Bagaimana Alif tidak bertanya? Wajah Kakak terlihat khawatir. Apa jangan-jangan ... itu pacar Kakak? Tapi, kenapa Kakak sangat marah pada orang itu?" berondong Alif tanpa jeda.

"Apa dia pelaku yang menabrak ayah?" Kalimat yang diucapkan pelan ini mampu membuat Muezza luluh dan memeluk adik kecil yang tidak mengetahui apa-apa yang mengakibatkan ayahnya meninggal dunia.

"Dia bukan siapa-siapa. Alif jangan berpikiran aneh-aneh, ya! Percaya saja sama Allah. Kakak yakin akan ada pertolongan dari-Nya," tutur Muezza yang mengulas senyum.

Sekian menit berbincang, Alif merasa bosan sehingga dia bergelayut di lengan kecil kakaknya.

"Kakak ...," panggil pria kecil itu penuh manja.

"Apa?" sahut Muezza dengan alis yang terangkat di atas.

"Boleh enggak Alif beli ice cream?" ujarnya kalem sambil memasang wajah imut yang menggelikan.

"Dih, apaan?" ejek Muezza.

"Beliin ice cream!" pinta Alif lebih memaksa.

"Tadi nolak," jawabnya menggoda sang adik.

"Ayo, Kakak! Keburu toko Pak Broto tutup," rengek pria kecil yang selalu banjir akan kasih sayang.

"Hmm, dasar tukang akting!" Muezza mencubit pipi Alif dengan gemas lalu dia merogoh uang yang ada di saku celananya.

Ketika dia mengantar adiknya keluar rumah, netranya melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya.

"Siapa mereka? Apa dia kerabat bunda? Tapi, wajahnya sangat asing," ujarnya sangat lirih.

1
hasian077
next 👏, btw kepoin profil aku kakak hehehe baru belajar nulis butuh banyak saran juga.
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
wkwkwkw🤣
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
Jangan dibujuk lagi ras jangan
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
sensor
pєkαᴰᴼᴺᴳ
sedih😭😭😭
jangan jangan sudah firasat ini😑😑jangan bikin mereka kehilangan ayah 🥺
pєkαᴰᴼᴺᴳ
kakek ngegombal gak ingat usia 🤣🤣🤣jangan genit 😏
pєkαᴰᴼᴺᴳ
pak azmi melamun jangan2 karena thr belum turun🙈🙈
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
hayo siapa itu yang manggil 🤔🤔🤔🤔
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
konyol sekali kelakuan kalian 😂😂😂😂😂
sabar yah mue , ingin kuliah tapi liat kondisi keuangan 😓😓😓😓😓😓
pєkαᴰᴼᴺᴳ
jawab pertanyaan saja susah amat, pki gugup segala🤣🤭
pєkαᴰᴼᴺᴳ
jangan jangan bosnya juga suka ini🤭
pєkαᴰᴼᴺᴳ
untung ada bang jarwo yang anterin kamu mue🤣🤣🤣
pєkαᴰᴼᴺᴳ
gak mau ngaku kalau naksir 😄
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
mungkin Mue tau kalau keadaan ekonomi keluarganya saat ini sedang tidak baik baik saja makanya ia memutuskan untuk bekerja saja
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
Laras usil sengaja buat muez jadi salting sampe samoe muez keringatan
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪ˢ⍣⃟ₛᯓℛ𓍝
sadar diri ya muezza wkwk
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪ˢ⍣⃟ₛᯓℛ𓍝
aduh siapa sih yang gk pengen jadi pacar Andhika yg populer, ku juga pengen
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪ˢ⍣⃟ₛᯓℛ𓍝
wkwk gak gitu juga, ngakak plis
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
semangat dan sukses buat authornya
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
masa putih abu abu adalah masa paling indah teringat jaman SMA dl pulang sekolah dikejer² ama fans 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!