Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Arka
Pagi itu Kirana bangun lebih pagi dari biasanya ,bahkan sebelum alarm berbunyi. Bukan karena cemas, bukan karena mimpi buruk, melainkan karena tubuhnya terasa ringan—seperti beban besar yang selama ini bertengger di dada, kini sudah bergeser walau belum sepenuhnya pergi.
Ia duduk di tepi ranjang, memandang Gio yang masih terlelap. Anak itu tidur miring, satu tangan memeluk bantal kecil bergambar dinosaurus, napasnya teratur. Aman. Nyata. Ada.
Kirana tersenyum kecil.
“Sayang kamu adalah segalanya buat ibu ,” gumamnya pelan. “Akan aku lakukan untuk kebahagian kamu ,nak ” Kirana mengelus lembut rambut Gio yang hitam dan tebal ,mirip dengannya .
"Apapun yang terjadi ,aku akan memperjuangkan kamu ,sayang ,ibu akan selalu bersama kamu ." Kirana mengecup kening Gio dengan lembut ,gio yang masih tertidur dengan nyenyak tidak merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Kirana .
Kemudian Ia ke dapur, menyeduh teh hangat, lalu membuka jendela. Udara pagi masuk, membawa suara pedagang sayur dan klakson motor. Dunia berjalan seperti biasa—dan untuk pertama kalinya, itu tidak membuatnya takut.
Hari itu Kirana tidak pergi ke mana-mana.
Ia memilih tinggal di ruko, merapikan hal-hal kecil yang selama ini tertunda. Bukan karena malas, tapi karena ia ingin menata hidupnya pelan-pelan, dari ruang yang paling dekat.
Ia menyusun ulang lemari Gio. Baju-baju lama yang sudah sempit ia pisahkan, mainan rusak ia singkirkan. Ada satu kaos kecil yang membuatnya berhenti—kaos hijau lusuh, hadiah dari Aris bertahun-tahun lalu.
"Ini kaos yang di belikan mas Aris ." gumamnya
Tangannya gemetar sesaat.
Lalu ia melipat kaos itu, memasukkannya ke kantong plastik, dan menaruhnya di kardus “disumbangkan”.
Bukan dengan marah.
Tapi dengan selesai.
Saat Gio bangun, Kirana mengajaknya sarapan di lantai depan ruko. Nasi hangat, telur dadar, dan sambal seadanya.
“Ma,” kata Gio sambil mengunyah, “hari ini Mama sedih nggak?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat di dada.
Kirana menatap anaknya. “Nggak, Nak.
Hari ini Mama… lega.”
“Lega itu apa?”
“Kayak habis pegang tas berat lama banget, terus akhirnya diturunin.”
Gio berpikir sebentar, lalu tersenyum lebar. “Oh... Begitu .” sahut Gio polos ,Kirana merasa gemas ia mencium Gio dengan gemas
Mereka tertawa bersama,dan Kirana berharap momen seperti itu tidak akan pernah berakhir.
***
Menjelang siang, Arka datang. Bukan dengan mobil kali ini, tapi berjalan kaki sambil membawa kantong plastik.
"Mas ,kamu bawa apa? Nggak usah repot repot kalau mampir kesini ." tanya Kirana begitu melihat arka datang dengan membawa plastik kresek yang berisi buah mangga .
“Aku Nggak merasa repot kok ,tadi kebetulan aku lewat tukang buah,” katanya santai. “Kupikir Gio pasti suka mangga.”
Gio langsung melonjak kegirangan.
“Om Arka datang!” teriaknya.
Kirana tersenyum, sedikit kikuk. “Mas, jangan sering-sering repot.”
Arka mengangkat bahu. “Aku juga makan kok.”
Mereka duduk bertiga di teras. Gio sibuk mengupas mangga dengan dibantu Mbak Sari, sementara Kirana dan Arka minum teh.
“Ada kabar dari Bu Lusi?” tanya Arka.
“Belum,” jawab Kirana. “Masih nunggu proses.”
Arka mengangguk. “Kalau nanti… Aris muncul?”
Kirana menarik napas. “Aku takut. Jujur. Tapi sekarang aku tahu harus ngapain. Itu bedanya.”
Arka menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau kamu butuh saksi… aku siap.”
Kirana terdiam. “Mas yakin?”
“Yakin,” jawab Arka tanpa ragu. “Bukan karena aku sok jago. Tapi karena… aku tahu rasanya takut di rumah sendiri.”
Kirana menunduk, hatinya menghangat dengan cara yang aneh—bukan romantis, bukan bergelora, tapi menenangkan.
***
Sore itu, ruko kedatangan tamu tak terduga.
Bu Rini, tetangga depan, datang membawa sepiring pisang goreng.
“Bu Kirana,” katanya sambil duduk, “aku denger dari Mbak Sari, kamu lagi ngurus perlindungan hukum ya?”
Kirana kaget. Ia sempat ragu menjawab, tapi memilih jujur. “Iya, Bu.”
Bu Rini mengangguk pelan. “Bagus. Aku dulu juga begitu.”
Kirana menatapnya, terkejut.
“Suamiku meninggal lima tahun lalu,” lanjut Bu Rini. “Tapi sebelum itu… dia juga kasar. Aku bertahan karena malu. Karena takut omongan orang. Sampai suatu hari anakku bilang, ‘Bu, kalau Ayah marah, aku pengen kabur.’”
Bu Rini tersenyum pahit. “Saat itu aku sadar. Bertahan bukan selalu pilihan paling kuat.”
Kirana merasakan tenggorokannya tercekat.
“Kalau kamu butuh apa-apa,” kata Bu Rini sambil menggenggam tangan Kirana, “aku ada. Jangan merasa sendirian.”
Setelah Bu Rini pergi, Kirana duduk lama. Dunia kecilnya—yang dulu terasa sempit dan menghakimi—perlahan menunjukkan sisi lain: orang-orang yang diam-diam peduli.
***
Malam datang dengan hujan ringan.
Gio sudah tidur, Mbak Sari pamit lebih awal. Kirana duduk sendirian di ruang tengah, membuka laptop tua miliknya.
Ia membuka folder kosong.
Lalu menamai file itu: Rencana Hidup Baru.
Tangannya sempat berhenti di keyboard.
Ia tertawa kecil sendiri. “Lebay banget,” gumamnya.
Tapi ia tetap menulis.
– Cari kerja paruh waktu (online/offline)
– Tabungan darurat
– Sekolah Gio tahun depan
– Konseling (jika memungkinkan)
– Rumah yang lebih aman
Daftar itu sederhana. Tidak muluk-muluk. Tapi setiap poin terasa seperti janji kecil pada dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Jantung Kirana langsung berdetak kencang.
Ia membuka pesan itu dengan tangan gemetar.
#“Ini Bu Lusi. Pengajuan sudah diterima pengadilan. Sidang penetapan sementara dijadwalkan minggu depan.”
Kirana menutup mata.
Bukan karena takut.
Tapi karena haru.
Ia membalas singkat: “Terima kasih banyak, Bu.”
Lalu, untuk pertama kalinya, ia berani melakukan sesuatu yang dulu tak pernah ia lakukan.
Ia memblokir nomor Aris.
Tanpa drama.
Tanpa air mata.
Hanya satu klik, dan satu napas panjang.
Hari itu hujan berhenti menjelang tengah malam.
Kirana keluar ke teras, menatap langit yang bersih. Lampu-lampu ruko masih menyala.
Suara patroli malam terdengar jauh.
Ia teringat kata-kata Arka.
Keluar itu bukan akhir. Itu awal.
Ia dulu berpikir hidupnya hancur. Bahwa ia gagal sebagai istri, gagal sebagai perempuan. Tapi kini, ia mulai melihatnya dengan sudut pandang baru.
Ia tidak gagal.
Ia berani berhenti.
Dan itu tidak kecil.
Kirana masuk kembali, mengunci pintu, lalu berjalan ke kamar Gio. Ia duduk di tepi ranjang, mengelus rambut anaknya.
“Mama janji,” bisiknya, “Walaupun mama jatuh berkali-kali. Tapi Mama nggak bakal berhenti jalan.”
Gio bergerak sedikit dalam tidur, seolah mengerti.
Di luar, dunia tidak tiba-tiba jadi baik.
Masalah belum selesai. Ancaman belum sepenuhnya pergi. Masa depan masih samar.
Tapi Kirana kini berdiri di tempat yang berbeda.
Bukan di ujung jurang.
Melainkan di awal jalan.
Dan meski langkahnya kecil, ia tahu satu hal pasti:
Ia tidak lagi berjalan sambil menunduk.
Ia berjalan dengan kepala tegak.
Demi Gio.
Demi dirinya sendiri.
Dan demi kehidupan yang akhirnya berani ia klaim sebagai miliknya.