Putri Amatheia tidak pernah menduga akan bertemu dengan laki-laki yang bukan dari bangsanya, makhluk aneh dengan segala kekurangan yang ia dapati.
Pertemuan itu membuahkan cinta dan keserakahan dua manusia beda alam.
Sedangkan nyawa sang Raja berada dalam tanggung jawabnya, dengan menerima pinangan musuh sejati kaum ikan duyung, yang telah berusaha memporak porandakan kerajaan yang seharusnya menjadi kekuasaan Putri Amatheia sebagai putri mahkota.
Filghofin Orlando lelaki pendiam itu harus menelan pil pahit, ketika di hadapkan dengan permasalahan yang tidak pernah ia sadari, penduduk desa yang melakukan pembunuhan berencana untuknya, karena di yakini sebagai pemuda pembawa sial, karena hasil pernikahan terlarang dengan bangsa penghuni pegunungan Gordon, dan membuatnya terdampar di pulau antah-berantah dan mengharuskan dia memasuki tempat yang bukan dunianya.
Atas nama hati dan cinta. akan kah cinta mampu membawa keserakahan menjadi keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delima Rhujiwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keberangkatan perdana menteri Leonard menyusul Putri Amatheia, menjadi harapan satu-satunya untuk mengetahui kabar mereka berdua, segala kekhawatiran harus segera terjawab, Angkara keserakahan pangeran Sharklys harus segera di basmi.
Perdana menteri Leonard, kembali mengasah Kekuatan alam darat yang selama ini ia simpan dan tidak pernah perdana menteri gunakan, kini akan kembali ia fungsikan untuk menegakkan kebenaran.
"Yang Mulia Ratu, hamba tidak menanggalkan tugas hamba sebagai abdi istana yang seharusnya tunduk dan patuh pada ketentuan. Akan tetapi, hamba akan pergi untuk menegakkan kegelapan yang selama ini telah di ciptakan oleh pangeran Sharklys." Perdana menteri Leonard mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh yang hadir dalam pertemuan tersebut.
"Pergilah tuan Leonard! Kepulangan kalian adalah harapan kami, dan kembalilah dengan kemenangan. Istana ku adalah milik kita, disini tempat berkumpul dan kembali bersama seperti semula, aku merestui kepergian mu, pergilah dengan doa kami menyertaimu." Getir suara Ratu Sinnan menghadapi orang yang berada di sekelilingnya harus satu persatu meninggalkannya tanpa kepastian untuk kembali.
"Tuan, kami akan menjaga seluruh pesan anda. Selamatkan mereka dan bawa kembali, Istana Gkinzerniyu adalah tanggung jawab kami." Terilly menunduk hormat kepada perdana menteri, salam kesatria mereka lakukan dengan hikmad.
"Tuan bawa kembali putri Amatheia, kami merindukannya, jaga diri tuan! Semoga semua akan segera baik-baik saja." Scrully yang dari semula merasakan kejadian sedang menimpa Ratu Sinnan, hanya mampu berdiam dan menahan rasa perih tanpa mampu melakukan apa-apa.
"Andaikan kekuatan saya sepadan, ingin rasanya saya mengikuti tuan perdana menteri Leonard menuju laut merah, namun aku lemah." Scrully kembali menggambarkan kesedihannya saat melepas kepergian perdana menteri Leonard.
Perpisahan pun terjadi. Perdana menteri Leonard melewati jalur darat dengan ilmu yang ia simpan selama ini mampu melakukan perjalanan ke laut merah.
Matanya terpejam dengan merapalkan mantranya untuk kembali ke dunia alam darat.
Ilmu berlarinya yang bagaikan hujaman halilintar belum ada yang menandingi, kesabaran dan keikhlasan yang beratus-ratus tahun lamanya ia dalami mampu membawanya bisa hidup di dua alam tanpa kendali.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Seperti hari-hari biasanya, pekerjaan Caillani adalah mengumpulkan beberapa kayu, tanaman atau sejenisnya untuk membuat ramuan dan beberapa persedian obat-obatan dalam istana.
Suara langkah kaki melangkah mendekati dan menghampiri Caillani yang duduk seorang diri dengan setia masih bergelut dengan beberapa ramuan herbal untuk Ratu Sinnan.
"Caillani,"
"Iya ayah, apa yang kembali di perlukan?" Jawab Caillani setelah mendengar panggilan tabib Wlyrus, mereka duduk berhadapan.
"Usia mu sudah dewasa anakku, apakah kau mencintai putri Galene? Ayah lihat sorot matamu mengatakan lain, dan ada sebuah harapan di sana," tanya tabib Wlyrus tanpa basa-basi pada Caillani.
"Kalau itu adalah sebuah jalan yang harus saya lakukan, saya mencintainya ayah, dan saya akan berusaha mendapatkan cintanya, itu tekad saya kesembuhan putri Galene adalah segalanya bagi saya ayah,"
"Walaupun itu tidak menjadi kenyataan, apakah kau tetap mampu menjalankan kehidupanmu anakku?" Tabib Wlyrus masih saja gusar dengan keputusan Caillani mencintai putri Galene.
"Ayah, apakah putri Galene telah mempunyai perasaan cinta kepada yang lain? Aku rasa tidak! Selama ini putri hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan belajar, Biarlah waktu yang menjawab ayah! tapi kata hati memang tidak mudah untuk di alihkan." Senyum Caillani menjawab setiap pertanyaan tabib Wlyrus.
"Saya akan tetap berusaha dan mempertahankan." Jawab enteng Caillani sambil membalas senyum sang ayah tabib Wlyrus.
"Pergilah! Putri Galene sedang menyendiri duduk di taman Zorxoka," perintah tabib Wlyrus yang secara tidak langsung mendukung rasa hati Caillani yang diam-diam menaruh hari pada putri Galene.
Putri Galene duduk menyendiri di pinggir taman Zorxoka, kesehatannya yang berangsur membaik adalah harapan ratu Sinnan selama ini.
"Hi bunga nan cantik, adakah dia tau rasa rinduku padanya? Apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan selama ini? Aku merindukan dirinya." Suara pelan putri Galene mengeluh tentang rasa hatinya, dan menggambarkan isi hatinya selama ini pada sosok Filghofin yang ia sukai tanpa berani ia ungkapkan pada siapapun.
Tanpa ia sadari dari balik pohon rindang telah berdiri Caillani, dengan senyuman bahagia dan rasa hari yang berbunga-bunga merasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Suasana menjadi sunyi, lantunan lagu bahagia putri Galene dendangkan pelan dan sangat merdu di telinga caillani yang membawa tangannya mengelus dan meremas jantungnya sendiri yang berdegup kencang namun sangat indah terasa debaran itu.
"Wahai sang penguasa alam, bawalah orang-orang yang aku cintai dan aku sayangi kembali dengan selamat dan berkumpul kembali di lingkup istana Gkinzerniyu yang aman dan sentosa." Doa putri Galene berhenti dan perlahan membuka matanya yang Terpejam.
Namun yang di dapati Caillani sudah duduk persis di depan putri Galene.
"Galene, hi... Bagaimana keadaanmu? Semoga hari ini semakin membaik. Aku mendengarkan semua kata-kata dan seluruh doa yang kau ucapkan baru saja." Mata Caillani menatap sendu dan memegang lembut tangan putri Galene yang hanya diam membeku. Malu, dan serba salah bagaimana bisa Caillani ada di sampingnya, sedangkan dia yang ia ucapkan murni dari hati yang paling dalam untuk Filghofin pemuda bangsa Elf yang ia harapkan diam-diam.
"Mak..maksud mu apa Cai..Caillani, a..aku oh...ini bukan seperti yang kau dengarkan, percayalah!" Tergagap suara putri Galene serba salah.
"Galene... Ketahuilah! Aku juga mencintaimu, semoga kau tidak menolak rasa ini, namun nyatanya kau juga mencintaiku dalam diam, ha...ha...ha... Pucuk di cinta ulam pun tiba." Tawa Caillani tanpa melepaskan genggaman tangannya dan menatap lekat putri Galene yang masih bingung dengan situasi yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali.
"Ma..maaf Caillani sepertinya aku harus kembali ke ruangan ku, aku harus istirahat, a..aku lelah." Dusta putri Galene sambil melepas tangan Caillani dan berlalu meninggalkan caillani yang masih merasakan kebahagiaannya sendiri.
"Pergilah, istirahatlah jangan banyak fikiran, fokuslah pada kesehatanmu." Pesan Caillani sambil melepas tangan putri Galene, dan menatapnya hingga pandangan matanya hilang pada tikungan.
Di dalam kamarnya putri Galene merasakan kebingungan dengan sikapnya Caillani, kenapa ucapannya yang keluar dari lubuk hatinya berharap akan sosok Filghofin namun sosok Caillani yang hadir, beberapa kali ia mengusap wajahnya dengan tangannya.
Apa yang di katakan Caillani bukanlah impiannya putri Galene, "apa yang harus aku lakukan? Kenapa semua jadi rumit? ahhhh.... Ini doa yang salah sasaran." Erang putri Galene sambil membenam wajahnya pada tumpukan bantal dan guling.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Curhatan salah sasaran nih 🤭 gimana jadinya? ikuti terus yuk mak!
Salam Sayang Selalu By RR 😘
To be continued 😉