Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Hari yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Setelah tiga hari tak bertemu, kini Andika dan Silvi dipertemukan dalam sebuah prosesi sakral. Pernikahan kali ini berdasarkan cinta dan kasih sayang. Tidak ada unsur pemaksaan seperti dulu lagi. Tidak ada air mata Silvi, yang ada hanyalah senyuman kecil dan malu-malu.
Acara yang bahagia itu diselenggarakan di sebuah hotel mewah yang dihadiri para keluarga serta sahabat.
Kali ini Andika begitu yakin menjabat tangan Pak Adi dan mengucap kalimat ijabnya. Setelah dibalas dengan qabul oleh Pak Adi, mereka kini sah menjadi suami istri. Sah secara agama dan hukum.
Setelah menandatangani buku nikah, mereka berdiri dan memamerkannya di depan kamera. Setelah itu Silvi mencium punggung tangan Andika yang dibalas dengan kecupan hangat di keningnya.
Semua keluarga dan teman dekat turut menjadi saksi pernikahan mereka.
Andika kini menggenggam kedua tangan Silvi dan menatapnya. "Terima kasih, sudah mau menerima aku kembali." Dia cium kedua tangan itu yang membuat Silvi tersenyum kecil.
Hari itu, Silvi benar-benar merasa sangat bahagia. Semua keluarga dan sahabat memberinya selamat. Tak terkecuali karyawan Andika dan juga rekan bisnisnya. Tanpa rasa malu, Andika berbagi kebahagiannya pada mereka semua.
"Maukah kamu berdansa denganku?" Andika mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Silvi. Mereka kini berdansa sesuai irama yang romantis. Mereka benar-benar sepasang pengantin yang sangat sempurna.
Di ujung sana, ada Dion yang terus menatap mereka berdua.
"Semoga kamu selalu bahagia Silvi..." gumamnya pelan lalu dia menghampiri Silvi yang baru saja selesai berdansa.
"Silvi, selamat ya." Dion mengucapkan selamat sambil menjabat tangannya.
"Makasih, Dion. Ini semua berkat kamu."
"Iya, semoga kamu selalu bahagia." Lalu dia beralih menjabat tangan Andika. "Selamat Pak Dika. Tolong jaga Silvi baik-baik dan jangan pernah sakiti dia."
"Iya, terima kasih."
Setelah itu Dion turun dari pelaminan. Dia telah merelakan seseorang yang sangat dia cintai untuk hidup bahagia dengan pria pilihannya.
...***...
Setelah acara selesai, Andika dan Silvi menginap di kamar hotel yang sudah dipesan Andika secara khusus untuk malam pengantin mereka.
Keluarga lain juga menginap di hotel yang sama untuk semalam karena acara baru selesai saat hari sudah malam.
"Silvi, semoga kamu selalu bahagia nak." Pak Adi mengantar putrinya sampai di depan kamarnya.
"Iya, Ayah."
"Ya sudah, Ayah mau istirahat. Beberapa baju kamu ada di dalam tas. Sudah ada di dalam kamar."
Silvi menganggukkan kepalanya. Untunglah gaunnya sudah dilepas dan riasannya juga sudah dibersihkan di ruang make up dibantu oleh MUA. Dia kini masuk ke dalam kamarnya dan menatap kamar pengantin yang sangat romantis dipenuhi dengan bunga mawar.
Dada Silvi kembali berdebar. Meskipun ini bukan yang pertama baginya dan Andika tapi rasanya momen ini sangat berbeda.
Terdengar suara gemercik air di dalam kamar mandi, sepertinya Andika sedang membasuh dirinya. Kemudian dia mengambil tasnya lalu membukanya.
"Lebih baik aku pakai..." Silvi melihat piyama yang ada di dalam tasnya lalu mengambil gaun tidur berwarna merah yang minim. "Ini warna kesukaan Mas Dika. Tapi..." Hanya membayangkannya saja pipi Silvi sudah bersemu merah. "Malu ih." Silvi memasukkannya lagi tapi sedetik kemudian dia kembali mengeluarkannya dan dia masukkan ke dalam lipatan bathrobe.
Mas Dika kan udah jadi suami aku.
Silvi tersenyum kecil lalu menatap pintu kamar mandi yang baru saja terbuka.
Dada bidang dengan rambut basah itu begitu menggoda. Andika keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek dengan tangan yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Sayang, kamu mandi dulu biar segar. Pasti capek seharian berada di pelaminan."
Silvi terpesona beberapa saat lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Andika hanya tersenyum kecil. Sepertinya istrinya itu sedang malu-malu. Kemudian Andika menyisir rambutnya lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.
Beberapa saat kemudian, Silvi keluar dari kamar mandi secara perlahan lalu dia duduk di dekat suaminya.
"Sayang, udah selesai?" Andika menaruh ponselnya di atas nakas lalu dia menatap Silvi yang sekarang duduk di sampingnya karena suara langkah Silvi hampir saja tidak terdengar.
Andika melebarkan matanya melihat penampilan Silvi yang sangat menggodanya. "Sayang cantik sekali." Seketika Andika membawa Silvi dalam pelukannya. "Tetap mempesona seperti dulu. Kamu tahu, kalau gaun tidur ini warna kesukaanku?"
Silvi hanya tersenyum malu sambil menyentuh dada bidang Andika dan membentuk pola abstrak dengan ujung jarinya.
"Kita lewati malam ini dengan penuh cinta ya."
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Maaf ya baru up..
ditgg karya selanjutnyaaaa