My Boyfriend, My Ceo musim kedua telah hadir! Yang dimana cerita ini akan mengisahkan tentang generasi baru, perjalanan hidup anak-anak mereka.
Merupakan cinta masa kecil bagi Eliane, Vero Edbert selalu menjadi prioritas dalam hidupnya. Namun, apakah Vero merasakan hal serupa seperti yang di rasakan oleh Eliane? Lalu, apakah Vero mengetahui perasaan gadis itu pada dirinya? Apa yang akan terjadi pada keduanya, dan bagaimana sikap Erian pada saudarinya saat mengetahui perasaan adiknya? Akankah dia mendukungnya? Atau mungkin sebaliknya? Temukan kisahnya hanya di 'My Little Girl'
Season 1: My Boyfriend, My Ceo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Little Girl Bagian 28
Sekarang aku tahu kenapa sikapmu berubah padaku. Tidak di ragukan lagi jika kau melakukan itu demi gadis itu bukan? Meski dia tidak akan tahu apa yang kau lakukan di luar, kau tetap berusaha menjaga perasaannya, kau pria yang hebat, Daniel.
Setelah itu, Eliane bergegas untuk meninggalkan rumah sakit. Setidaknya dia sudah tahu apa alasan pria itu bersikap dingin terhadapnya, dengan begitu dia pun akan mencoba untuk menjaga jarak darinya.
Sedih? Perasaan itu sedikit di rasakan olehnya, karena bagaimana pun, Daniel merupakan satu-satunya teman yang dia miliki untuk pertama kalinya. Dia selalu datang ketika dirinya membutuhkan seseorang, dan dia selalu berhasil untuk mencairkan suasana hatinya saat sedang buruk.
Sudah berada di lobby rumah sakit, tiba-tiba saja seseorang menghampirinya, dan memeluknya. Merasa terkejut juga takut, dengan cepat Eliane mendorong tubuh orang tersebut, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat itu.
“Kak Vero? Ada apa kau datang ke rumah sakit? Apa kau sakit?” Dengan panik Eliane menjijitkan tubuhnya agar tangannya bisa menggapai dahi Vero, namun Vero lekas memegang tangan tersebut.
“Aku baik-baik saja. Aku datang kemari justru karena mengkhawatirkanmu.” Timpalnya. “Kenapa kau datang ke rumah sakit tanpa memberitahuku? Ada apa denganmu? Apa ada yang membuatmu tak nyaman?” Vero menambahkan dengan nada yang tak kalah panik dari Eliane sebelumnya.
“Aku juga tidak apa-apa. Aku hanya sedang menjenguk seseorang, tetapi dari mana kau tahu keberadaanku?”
“Kau tiba-tiba saja mengakhiri panggilanku di saat aku belum selesai bicara, dan aku langsung melacak gps ponselmu. Saat aku tahu kau berada di rumah sakit, aku benar-benar panik, dan dengan cepat aku datang ke sini.”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, kak. Karena aku baik-baik saja, bagaimana jika kita kembali?”
Sesuai dengan perkataan Eliane, keduanya pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk segera pulang. Setibanya di rumah, Eliane langsung berjalan menuju dapur agar bisa menyiapkan makan malam. Mengikuti langkah gadis itu, Vero membuka lemari pendinginnya, dan mengambil beberapa bahan dari dalam sana.
Menyimpan jas yang di kenakannya serta melepaskan dasi yang tersimpul rapih di lehernya, ia segera menggulung lengan kemejanya serta menggunakan apron yang tersedia di dapur. Melihat Eliane tak menggunakan apron, dengan cepat dia mengambilkan satu untuknya.
Vero menarik tubuh Eliane agar bisa menghadap ke arahnya, dan lagi-lagi itu membuatnya terkejut. Tidak mengatakan apapun, pria itu langsung membalutkan apron tersebut di tubuh Eliane. Lalu, dia kembali memutar tubuh Eliane, dan mengikat tali apron itu pada pinggang ramping gadis di hadapannya.
Hanya sebuah perlakuan sederhana, namun berhasil membuat jantung Eliane berdebar semakin cepat. Bukan hanya itu, wajahnya mungkin memerah ketika mendapati perlakuan seperti itu. Meski begitu, dia berusaha untuk menyembunyikannya.
“Apa yang ingin kau makan hari ini, Elia?” Sahut Vero yang sibuk dengan pisaunya.
“Aku akan membuat risotto saffron, bagaimana denganmu, kak?”
“Baiklah, ayo kita makan risotto saffron untuk malam ini.” Tutur Vero seraya tersenyum hangat ke arah Eliane.
“Bagaimana jika serahkan semuanya padaku? Aku akan membuatkannya untukmu, sebaiknya pergilah mandi terlebih dulu.”
“Apa kau yakin?” Vero menatapnya seraya menyimpan pisau yang sebelumnya berada dalam genggaman tangannya, dan Eliane membalasnya dengan sebuah anggukkan. “Baiklah. Aku akan mandi dengan cepat, kemudian aku akan kembali membantumu.”
Dengan mengusap puncak kepala Eliane, Vero lekas melepaskan apronnya, dan segera masuk ke dalam kamarnya. Melihat pria itu sudah menghilang dari hadapannya, Eliane langsung berjongkok saat itu juga, dia juga memegangi dadanya, mencoba merasakan betapa hebatnya debaran yang tengah di rasakannya kali ini.
Kau yang secara tiba-tiba muncul, dan memelukku begitu saja. Kau yang secara tiba-tiba menarikku hanya untuk membantuku menggunakan apron. Hal yang begitu sederhana, dan apa kau tahu jika sikap kecilmu itu benar-benar membuat hatiku semakin ingin memilikimu secara utuh?
Berjalan menuju westafel, Eliane memercikkan air ke wajahnya, berusaha untuk sadar dari dunia khayalannya. Kemudian, dia kembali memasak, dan berharap ketika pria itu turun, makanan telah siap tersaji di meja makan.
Sesuai dengan harapannya, makanan sudah hampir jadi, dan Vero belum menampakkan dirinya untuk. Setelah siap, dengan cepat dia menyajikannya di atas meja, bahkan segelas air pun sudah tersedia di sana, persiapan telah selesai, dan hanya tinggal menyantapnya.
Tidak kunjung kembali, akhirnya Eliane memutuskan untuk mengeceknya agar pria itu bisa segera makan, dengan begitu dia berharap jika Vero bisa lebih cepat untuk beristirahat. Setibanya di depan pintunya, saat hendak mengetuk pintunya, dia mendengar bahwa pria itu tengah berbicara dengan seseorang, pada akhirnya dia menahan tangannya.
“Ha Ha Ha. Kenapa sikap jahilmu itu tidak pernah hilang, hah? Lalu, apa yang terjadi pada mereka?”
“...”
“Kau harus meminta maaf pada mereka. Ah apa kau tahu? Aku benar-benar merindukanmu.”
Tanpa harus bertanya, Eliane sudah sangat tahu siapa yang sedang di hubungi oleh Vero. Siapa lagi jika bukan Aline? Siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia jika bukan Aline? Dalam hatinya hanya ada gadis itu, dan Eliane harus menyiapkan diri jika sewaktu-waktu gadis itu benar-benar kembali.
Tidak ingin mengganggunya, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke ruang makan, dan akan menunggunya disana. Eliane duduk di bangku seraya menatapi makanan yang sudah di buat olehnya, sesekali dia juga menatapi arah kamar Vero, namun pria itu masih belum juga menampakkan dirinya.
Sudah hampir 2 jam Eliane menunggunya, dan Vero benar-benar tidak kunjung tiba. Ingin mengeceknya kembali, dia takut hal tersebut akan mengganggunya, lagi pula dia tidak ingin melakukan hal seperti itu.
Kapan kau keluar dari kamarmu, kak? Makanan akan mulai dingin jika kau tak keluar sekarang.
Dengan menghela napasnya, Eliane melipat kedua tangannya di atas meja, dan meletakkan dagunya di atas lipatan tangannya. Dia juga terus menatapi makanan yang sudah di buat olehnya, dia sudah benar-benar merasa lapar saat ini, namun dia tidak bisa meninggalkan Vero.
Berapa lama lagi kau akan bicara dengannya? Tidak bisakah untuk mengakhirinya sejenak?
Bersambung ...
Sama daniel saja
lebih greget ..
mau vero ataupun daniel
aku terima kok. yg penting elia bahagia😘😘
Vero yg rambut putih😌