NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba Menghindar

Sejak hari pertemuan di aula itu, hidup Davina berubah menjadi medan perang yang sunyi. Rasa syok yang ia rasakan saat melihat Adit di atas panggung belum juga memudar. Setiap kali ia mengingat wajah tampan itu, dadanya sesak, dan napasnya terasa berat.

Bagi Davina, kehadiran Adit di sekolah Zahra bukan sekadar kebetulan. Itu adalah ancaman. Ancaman bagi ketenangan hidupnya yang baru saja ia bangun dengan susah payah. Ia tidak ingin berhubungan dengan Adit.Ia menetap di Kota C untuk menghindar dari Rio mantan suaminya.Namun siapa sangka , Davina bertemu dengan mantan kekasihnya yang dulu.Sehingga Davina merasa di permainkan oleh semesta.

Oleh karena itu, Davina memutuskan untuk menghilang. Bukan secara fisik, karena ia harus tetap mengantar Zahra, tapi secara visual.

Setiap pagi, sebelum melangkah keluar dari mobil atau gerbang rumah, Davina selalu mengenakan masker kain berwarna gelap dan kacamata hitam besar. Rambutnya diikat rapi dan ditutupi topi. Ia berubah menjadi sosok yang nyaris tak dikenali.

"Zahra, pakai masker juga ya, Sayang. Udara lagi banyak debu," ucap Davina setiap pagi, memberikan alasan yang masuk akal pada putrinya.

Zahra, yang polos, hanya mengangguk patuh. "Siap, Mah!"

Davina merasa sedikit bersalah karena berbohong, tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus melindungi dirinya sendiri dari tatapan Adit yang mungkin masih mencarinya.

Di PAUD Al-Ghajali, Pagi Hari

Suasana sekolah tampak berbeda beberapa hari terakhir. Tidak seperti biasanya di mana pemilik yayasan jarang terlihat, kini Adit hadir hampir setiap hari.

Adit berjalan mondar-mandir di lorong-lorong sekolah dengan langkah tegas. Ia tidak lagi mengenakan jas formal yang kaku, melainkan kemeja kasual yang membuatnya terlihat lebih santai namun tetap berwibawa. Di tangannya selalu ada buku catatan dan tablet.

Ia sedang melakukan "audit mendadak", begitu kata kepala sekolah. Namun, semua guru tahu bahwa ini lebih dari sekadar audit. Adit tampak sangat terlibat, bertanya detail tentang kurikulum, fasilitas, hingga kesejahteraan guru.

"Pak Radit, bagaimana dengan perbaikan atap di kelas B? Apakah sudah selesai?" tanya Adit pada kepala sekolah saat mereka berjalan melewati koridor.

"Sudah, Pak Adit. Bocornya sudah ditambal minggu lalu," jawab Pak Radit sambil tersenyum hormat.

"Bagus. Pastikan juga AC di ruang bermain diganti filternya. Anak-anak sensitif terhadap debu," instruksi Adit tajam namun peduli.

"Guru-guru, saya ingin mendengar masukan langsung dari kalian," ucap Adit saat bertemu sekelompok guru di ruang staf. "Apa yang kurang? Apa yang bisa saya bantu agar proses belajar mengajar lebih nyaman?"

Para guru saling pandang, terkesan dengan dedikasi pemilik yayasan mereka. Mereka tidak tahu bahwa di balik perhatian mendadak Adit terhadap detail sekolah, ada satu motivasi tersembunyi: Davina.

Adit tahu Davina pasti datang menjemput atau mengantar Zahra. Dengan seringnya ia berada di sekolah, ia berharap bisa berpapasan dengan wanita itu. Ia ingin melihat wajahnya, meski hanya sekilas. Ia ingin memastikan Davina baik-baik saja.

Namun, usahanya seolah sia-sia.

Setiap kali ia bertanya pada Bu Sari atau guru lain tentang "Ibu Davina, ibunya Zahra", jawabannya selalu sama.

"Ibu Davina? Oh, beliau tadi pagi mengantar Zahra, Pak. Tapi beliau sepertinya sedang sakit flu, jadi memakai masker dan kacamata tebal. Beliau juga terburu-buru pulang setelah menyerahkan Zahra," lapor Bu Sari.

Adit mengerutkan kening. Sakit flu? Setiap hari?

Insting yang tajam mencium ketidakwajaran. Davina dikenal sebagai wanita yang kuat dan sehat. Jarang sekali ia sakit. Ada sesuatu yang disembunyikan.

"Mungkin dia menghindari saya," gumam Adit dalam hati, rasa kesal bercampur sedih mulai muncul.

Gerbang Sekolah, Siang hari

Jam jemputan tiba. Davina sudah berdiri di luar gerbang, menunggu Zahra keluar. Seperti biasa, ia mengenakan masker hitam, kacamata hitam, dan topi. Ia berdiri agak jauh dari kerumunan orang tua lainnya, bersandar di tembok samping, matanya waspada menyapu area sekitar.

Tidak ada Adit, pikir Davina lega. Mungkin hari ini dia tidak datang.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah melaju perlahan memasuki area parkir dekat gerbang. Jendela mobil turun, dan terlihat sosok Adit sedang berbicara dengan sopirnya.

Jantung Davina berhenti berdetak. Ia cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk mengecek ponselnya. Napasnya tertahan.

Jangan lihat aku. Jangan lihat aku kumohon.

Adit keluar dari mobil. Ia berjalan menuju gerbang, matanya menyapu kerumunan orang tua. Tatapannya tajam, mencari-cari sosok familiar.

Davina merasakan tatapan itu. Kulitnya merinding. Ia merasa seperti buruan yang sedang diintai predator. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang.

"Mah! Zahra di sini!" seru Zahra, berlari keluar dari gerbang bersama Kenzo.

Davina segera menghampiri putrinya, sengaja membelakangi arah datangnya Adit. Ia menggenggam tangan Zahra erat.

"Ayo cepat, Sayang. Kita pulang," bisik Davina tergesa-gesa.

"Tunggu dulu, Mah! Kenzo mau bilang sesuatu..." rengek Zahra.

"Nanti saja di mobil!" potong Davina tegas, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya karena panik.

Alya, yang sedang berdiri di dekat sana, memperhatikan tingkah aneh temannya itu. "Dav? Kamu kenapa? Kok buru-buru banget?"

Davina menoleh sekilas pada Alya, matanya terlihat cemas di balik kacamata hitam. "Aku... aku ada urusan mendadak, alya. Maaf ya, kita ngobrol nanti!"

Tanpa menunggu jawaban, Davina menarik Zahra menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan, jauh dari mobil Adit. Ia membuka pintu mobil dengan tangan gemetar, memasukkan Zahra, dan segera menyetir pergi secepat mungkin.

Dari kejauhan, Adit melihat aksi itu. Ia melihat wanita bertopi dan bermasker itu menarik anak kecil dengan tergesa-gesa dan kabur.

Ada sesuatu yang familiar dari cara wanita itu memegang tangan anak kecil itu. Cara berjalan itu. Bahkan warna tas selempang yang dipakai wanita itu—tas yang sama yang pernah dibeli Adit untuk Davina tujuh tahun lalu.

Adit menyipitkan mata. Senyum tipis, namun penuh arti, terbit di bibirnya.

"Davina..." gumamnya. "Kamu pikir kamu bisa bersembunyi di balik masker dan kacamata? Aku akan menemukanmu, Vina. Aku janji."

Di Dalam Mobil Davina

Davina menghela napas panjang begitu mobilnya menjauh dari sekolah. Tangannya masih gemetar memegang setir. Keringat dingin membasahi dahinya di bawah topi.

"Kenapa Mamah tadi marah-marah, Mah?" tanya Zahra dari kursi belakang, wajahnya sedih.

Davina menoleh melalui spion, hatinya hancur melihat ekspresi putrinya. Ia segera melembutkan suaranya.

"Maafkan Mamah, Sayang. Mamah nggak marah. Mamah cuma... lagi buru-buru aja. Mamah sayang banget sama Zahra mana mungkin mamah marah."

Zahra tersenyum tipis. "Iya, Mah. Zahra juga sayang Mamah."

Davina menatap jalan di depannya. Matanya berkaca-kaca. Ia lelah. Lelah harus terus-terusan waspada. Lelah harus bersembunyi di kota sendiri.

"Tuhan, berapa lama lagi aku harus begini?" bisiknya pelan.

Sementara itu, di sekolah, Adit masih berdiri di tempatnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke kepala sekolah.

"Pak Radit, tolong cek daftar nomor telepon orang tua murid bernama Zahra. Saya butuh konfirmasi secepat mungkin.

Itu adalah alasan palsu. Adit tahu itu tidak etis. Tapi demi bertemu Davina, ia rela melanggar batas profesionalitasnya sedikit. Ia harus tahu di mana Davina tinggal. Ia harus menghentikan permainan kucing-kucingan ini.

Perang dingin telah dimulai. Davina berusaha menghindar, sementara Adit semakin agresif dalam pendekatannya.

Dan di tengah-tengahnya, ada Zahra yang polos, tidak tahu bahwa Om Adit yang baik hati itu ada perasaan mendalam terhadap ibunya.Bagi Adit Sedikit mudah untuk mendekati Davina , karena dia sudah dekat dari awal dengan zahra putri Davina.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
ica
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!