Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Wanita Panggilan
Matahari menembus tirai memancar kan cahaya indah nya.
" Sayang, come on wake up sayang.. " Gumam seorang gadis dengan tantop dan hotpants menghiasi tubuh indahnya.
Huam
Pria itu hanya menguap sembari menariknya kembali dalam pelukan hangat nya.
" Mahen, ayo bangun kamu gak kerja hemz... " Gadis itu sibuk memainkan dada bidang dan sixpack pria itu dengan lembut.
" Kamu membangun ku atau membangunkan yang lain.. " Mahendra membalik tubuh Lilly dengan mudah. Dengan tubuh nya yang belum mengenakan apapun membuat Lilly menjerit melepas kan diri dari Mahendra.
" Aku lelah, lepaskan aku sayang. Tadi malam sudah lebih dari cukup kamu tahu rasa nya seperti terbakar dan sakit... " Lilly mendorong pelan dada Mahendra dengan manja.
" Benarkah seperti itu... " Mahendra terus mengoda gadis itu yang tertawa karena Mahendra juga mengelitik perutnya.
" Sudah hentikan Mahendra.... "
Drdrdrde
Bunyi ponsel Mahendra menghentikan kegiatan mereka.
" Hallo Silla.. "
. ..
" Ok ok aku pulang sekarang. " Mahendra memungut semua pakaian nya dan memakai nya dengan cepat.
" Kenapa?. "
" Aku harus pergi, Silla menunggu ku sayang. Besok aku akan kesini love you.. " Mahendra mencium bibir Lilly singkat dan langsung pergi meninggalkan gadis itu yang diam.
Lilly tahu Silla adalah adik sepupu Mahendra. Dia dan Silla belum pernah bertemu namun Lilly begitu cemburu pada gadis itu, jika dia menghubungi Mahendra makan pria itu akan datang meski dia sedang bersama dengan nya.
Lilly hanya menghela nafas menatap kepergian Mahendra.
Ting
Ponsel gadis itu berbunyi terdapat notifikasi masuk dan langsung membuat gadis itu tersenyum kecut.
" Aku sudah transfer uang untuk kamu shoping, maaf aku akan kembali. " Bunyi pesan Mahendra.
Lilly terkadang berfikir jika dia bukan kekasih Mahendra tapi lebih tetap gadis pemuas nya saja, setiap kali mereka melakukan nya Mahendra akan mengirim nya uang dengan jumlah besar. Meski dia tahu Mahendra tidak bermaksud seperti itu.
" Mau di bawa kembali hubungan ini, 3 tahun bukan lah waktu yang sebenar tapi Mahendra masih menyembunyikan hubungan kita. " Batin Lilly berkecamuk.
***
Rumah Baru Intan
Intan membuat pintu utama dan beberapa jendela agar udara segar masuk kedalam nya. Meletakkan tas tas besar itu kemudian berjalan menyusuri rumah baru nya.
Gadis itu tersenyum saat dia mengingat Mahendra pernah menciumnya di rumah itu, ada debaran aneh tapi dia berusaha segera menepis nya dengan kuat.
" Itu hanya tidak kesengajaan meski pun itu adalah ciuman pertama ku, tapi ya sudah lah semuanya sudah terjadi dan aku sendiri pernah sesaat menikmati nya. " Gumam Intan malu.
Intan segera menyusun kembali baju bajunya kedalam lemari di kamarnya. Sedangkan tas berisi baju ibunya dia tetap menyimpan nya di dalam tas, biarlah itu untuk mengobati rasa rindu nya nanti.
Udara segar di sana membuat pikirannya lebih tenang dan rileks. Sawah sawah nampak menghijau dan beberapa petak pohon teh juga menyegarkan mata, Intan jadi semakin bersemangat memulai hidup barunya di sana.
" Ok, mari kita mulai bersih bersih dulu. " Gadis itu langsung menyapu rumah yang nampak berdebu dan mengganti gorden itu dengan yang baru, Intan menyempatkan membeli beberapa barang sebelum datang ke sana tadi.
Di rumah keluarga Cendana
Silla dan Ratna nampak sedang mengobrol santai tentang acara pernikahan Silla dan beberapa persiapan yang belum dia siapakan.
" Benarkah?. "
" Hemz tentu saja, untung nya aku pinter jadi semua nya aman terkadali tante. Pokoknya tante cuman dateng makan dan menikmati semua nya.. " Gumam Silla dengan bangga nya.
" Baik lah sayang. " Mata mereka tertuju pada kehadiran Mahendra yang tersenyum lebar menatap mereka.
" Wah tamu jauh ada apa ni kok tumben kesini dan kayak kangen banget sama kak Mehan.. " Godanya sembari mencium kening Silla dengan penuh sayang.
" Kak Mahen anisa ngapain sih bau banget, abis tidur sama cewek yah?. " Mahendra hanya tertawa kemudian pergi ke kamar nya untuk membersihkan dirinya.
" Kebiasaan deh abis maen sama siapa coba dia, ih kak Mahen ini.. " Gerutuk Silla kesal.
Ratna hanya tertawa pelan melihat tinggal kedua anak itu.
" Papa kamu pulang kan Silla untuk menikah kan kamu besok, nggak mungkin kan kalau dia gak dateng?. " Silla hanya tersenyum singkat.
" Papa cuman bilang kalau gak ada kerjaan akan di usahakan tante. Tapi Silla juga gak tau lagian papa sibuk banget yaaa setidaknya papa tranfer uang cukup banyak untuk membantu yang kurang katanya. " Silla meneguk teh hangat nya seperti menelan jarum yang tajam.
Ayahnya adalah penguasaan ternama di Singapura tentu saja pekerjaan nya banyak dan harus berpindah tempat, tidak bisa berpergian dengan mudah mengingat jika saingan bisnis nya ada di mana mana.
Terkahir Ayahnya berkata jika dia menemukan seseorang wanita dan hendak menikahi nya segera setelah pernikahan nya dengan calon suami nanti, Silla benar-benar dilema harus bersikap seperti apa saat itu.
" Tante tahu apa yang sedang kamu pikirkan sayang, kamu gak usah khawatir ada tante om sama kak Mahen yang selalu ada untuk kamu. Kalau kamu butuh apapun atau dalam masalah apapun langsung hubungi kami. " Ratna dengan lembut mengenggam tangan Silla membuat gadis itu mengangguk pelan.
" Tante dan om selalu saja menjadi garda terdepan untuk Silla terima kasih banyak tan.. "
" Sama sama sayang. "
Mahendra turun dengan pakaian santai kaos putih pendek di tambah celana hitam yang menambah ke tampan nya itu, Jika saja mereka bukan saudara mungkin Ratna dengan rela menjodohkan mereka berdua.
" Jadi kita mau kemana?. " Gumam Mahendra menatap Silla.
" Ikut aku ke butik, aku mau nyari baju pengantin.. " Senyum Mahendra langsung menghilang dan berganti dengan tatapan tak percaya.
" Buat siapa?. " Pekik nya keras.
" Buat aku lah.. " Mahendra mendekati Silla memegang kedua pipi gadis itu berusaha mencari cela di mata nya.
" Kak, bulan depan aku akan menikah dengan seorang dokter forensik di Singapura. " Silla dengan kasar menyingkirkan tangan Mahendra dari wajahnya nya.
" Kenapa mendadak sekali?. Kakak tidak tahu kamu lamaran, kamu hamil haaaa?. " Seketika mata hitam Silla membulat sempurna.
Gadis itu langsung mencubit dengan keras lengan Mahendra hingga pria itu memekik dengan keras.
" Akh... "
" Enak aja kalau ngomong, mon maaf yaaaa aku ni masih gadis ting ting masih bersegel sembarang aja tu mulut kalau mangap. " Seru Silla dengan kesal sembari memukul dengan keras lengan Mahendra.
" Ampun ampun, kakak kan gak tau dan kakak gak bermaksud seperti itu sayang... Hanya saja sedikit aneh kamu tiba-tiba nikah kalau gak hamil.. "
Silla memekik keras memanggil Ratna yang tertawa melihat tingkah kedua orang di depan nya itu, dari dulu Mahendra tidak pernah berubah dia selalu saja membuat gara gara pada Silla.
" tanteee anakmu ini kutuk sekarang jadi batuuuu.. "
" Sayang sudah lah, kalian ini. Mahendra berhenti mengoda nya dan cepat carikan boutique yang bagus dengan kualitas bagus untuk Silla, buat dia secantik mungkin dengan gaun pengantin besok. "
" Ternyata dia sudah besar ya bun, sudah akan di panggil ibu Silla dan akan menyandang setatus nyonya besar. " Gumam Mahendra tak percaya.
" Udah ah, nanti aku nangis loh. Ayo berangkat udah ya tante Silla pergi dulu, sama anak tante yang gak laku laku ini.. " Silla menarik tangan Mahendra dengan cepat untuk segera pergi dengan wajah kesal Mahendra mengikuti kemauan gadis itu.