Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Periksa
"Naresta, ayo. Sore ini kamu harus pergi periksa," ucap Bu RT yang datang ke rumah Naresta.
Naresta yang sedang duduk bersama Elvan langsung menoleh dengan wajah bingung.
"Eh, bukannya besok, Bu RT?"
"Katanya sore ini ada."
Naresta mengernyitkan dahinya.
"Kok Ibu tahu?"
"Tadi siang, setelah pulang dari toko kamu, saya langsung ke sana buat tanya."
"Oh..."
"Karena kebetulan sore ini dokter kandungannya ada jadwal praktik, makanya langsung saya daftarkan kamu."
Mata Naresta langsung membulat.
"Ibu langsung daftarkan saya?"
"Iya. Daripada besok belum tentu dapat antrean."
Naresta tersenyum.
"Ya Allah, Bu. Sampai repot-repot begitu."
"Repot apanya? Kamu ini baru pertama kali hamil. Wajar kalau masih bingung."
Bu RT kemudian melirik Elvan.
"Mas Elvan juga harus ikut."
Elvan yang sejak tadi mendengarkan langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"I-ikut."
Naresta terkekeh kecil.
"Kalau Mas nggak disuruh juga pasti ikut, Bu."
Elvan menoleh kepada istrinya.
"A-aku m-mau l-lihat b-bayi."
Bu RT langsung tertawa kecil.
"Nah, itu. Calon ayahnya malah lebih semangat."
Naresta tersenyum sambil menggenggam tangan Elvan.
"Jam berapa jadwalnya, Bu?"
"Jam empat sore. Tapi lebih baik berangkat setengah jam sebelumnya."
Naresta mengangguk.
"Baik, Bu. Nanti kami siap-siap."
"Jangan lupa bawa hasil pemeriksaan dari klinik tadi sama identitas."
"Iya, Bu."
Bu RT kemudian berdiri.
"Ya sudah, saya pulang dulu. Nanti jangan sampai terlambat."
"Terima kasih banyak ya, Bu."
"Sama-sama."
Setelah Bu RT pergi, Naresta menoleh kepada suaminya.
"Mas."
"I-iya?"
"Sore ini kita lihat anak kita."
Seketika senyum lebar muncul di wajah Elvan.
"I-iya... b-bayi k-kita."
**
Saat sore tiba.
Tepat pukul empat, Naresta, Elvan, dan Bu RT yang bernama Bu Ratih sudah berada di klinik kandungan. Mereka duduk di ruang tunggu sambil menunggu nama Naresta dipanggil.
Elvan duduk di samping istrinya. Sejak tadi tangannya tidak pernah melepaskan genggaman tangan Naresta.
Tiba-tiba, terdengar bisikan dari dua wanita yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Bagaimana bisa hamil, ya?"
"Benar. Bukannya suaminya autisme?"
Naresta yang mendengarnya hanya mengembuskan napas pelan. Ia sudah ingin mengabaikan ucapan itu.
Namun, berbeda dengan Bu Ratih.
Bu Ratih langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati meja di lobi tempat kedua wanita itu berada.
"Mbak."
Kedua wanita tersebut langsung menoleh.
"I-iya, Bu?"
"Dia punya suami," ucap Bu Ratih sambil menunjuk pelan ke arah Naresta. "Dan suaminya juga manusia. Pastinya dia juga memiliki perasaan, ketertarikan, dan keinginan seperti orang lain. Kenapa kalian malah heran?"
Kedua wanita itu langsung terdiam.
"Tapi, Bu, kan suaminya—"
"Autisme?" potong Bu Ratih.
Wanita itu mengangguk.
"Memangnya penyandang autisme tidak bisa menikah?"
Keduanya tidak menjawab.
"Tidak bisa mencintai istrinya?"
Tetap tidak ada jawaban.
"Atau tidak bisa punya anak?"
Wajah kedua wanita itu mulai terlihat canggung.
Bu Ratih menggeleng pelan.
"Autisme bukan berarti seseorang kehilangan semua perasaan dan kemampuannya sebagai manusia, Mbak."
Sementara itu, Naresta hanya bisa menatap Bu Ratih dari kejauhan.
"Bu RT..." gumamnya pelan.
Elvan menoleh kepadanya.
"K-kenapa?"
Naresta tersenyum kecil.
"Nggak apa-apa, Mas."
Ia kemudian menggenggam tangan suaminya semakin erat.
"Sepertinya sekarang bukan cuma aku yang suka membela Mas."
Elvan memandang Bu Ratih, lalu tersenyum tipis.
"I-ibu b-baik."
"Iya. Bu Ratih memang baik sama kita."
Tak lama kemudian.
"Ibu Naresta," panggil seorang perawat dari depan ruang pemeriksaan.
Naresta yang sedang duduk langsung mengangkat wajahnya.
"Iya, saya."
"Silakan masuk, Bu. Dokternya sudah menunggu."
Naresta berdiri perlahan.
Elvan yang berada di sampingnya langsung ikut berdiri.
"A-aku i-ikut."
Naresta tersenyum.
"Iya, Mas. Kita masuk sama-sama."
Bu Ratih ikut bangkit dari kursinya.
"Saya tunggu di sini saja, ya. Biar kalian berdua yang masuk."
"Iya, Bu."
Naresta menggandeng tangan Elvan, lalu mengikuti perawat menuju ruang pemeriksaan.
Tok! Tok!
"Silakan masuk."
Naresta membuka pintu dan masuk bersama Elvan.
"Selamat sore, Dok," sapa Naresta.
"Selamat sore. Silakan duduk."
Naresta dan Elvan duduk di kursi yang berada di depan meja dokter.
Dokter melihat data Naresta yang sudah terdaftar.
"Ini kehamilan pertama, Bu?"
"Iya, Dok."
"Sudah pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya?"
"Belum. Tadi pagi saya sempat pingsan dan dibawa ke klinik. Dari sana baru diketahui kalau saya sedang hamil."
Dokter mengangguk pelan.
"Baik. Jadi sebelumnya memang belum mengetahui kehamilannya?"
Naresta tersenyum canggung.
"Belum sama sekali, Dok."
"Kalau begitu nanti kita periksa, ya. Kita lihat kondisi kehamilannya sekaligus memastikan perkiraan usia kandungannya."
Elvan yang sejak tadi diam langsung menoleh kepada dokter.
"B-bisa l-lihat b-bayinya, D-dok?"
Dokter tersenyum ramah.
"Bisa, Pak. Nanti Bapak juga boleh melihatnya."
Seketika wajah Elvan berubah cerah.
Naresta yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kalau begitu, Ibu bisa naik ke atas ranjang itu, ya. Kita mulai dengan USG dulu," ucap dokter sambil menunjuk ranjang pemeriksaan.
"Baik, Dok."
Naresta berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju ranjang pemeriksaan.
Elvan langsung ikut berdiri.
"M-mas di sini saja," ucap Naresta sambil tersenyum.
Elvan menganggukkan kepalanya.
"I-iya."
Naresta berbaring sesuai arahan dokter. Setelah semuanya siap, dokter mulai melakukan pemeriksaan USG.
Elvan yang tadinya berdiri sedikit jauh justru semakin memperhatikan layar monitor dengan penuh rasa penasaran.
Dokter tersenyum melihatnya.
"Bapak boleh mendekat, kok."
Elvan menoleh cepat.
"B-boleh?"
"Tentu. Itu anak Bapak juga."
Elvan segera berjalan mendekat ke sisi ranjang Naresta.
Naresta langsung meraih tangannya.
"Sini, Mas."
Elvan menggenggam tangan istrinya erat sambil menatap layar monitor.
Dokter mulai menggerakkan alat pemeriksaan secara perlahan.
"Nah..."
Naresta langsung menoleh ke arah layar.
"Sudah kelihatan, Dok?"
"Sebentar, Bu."
Beberapa detik kemudian, dokter menunjuk salah satu bagian pada monitor.
"Ini."
Naresta memperhatikan layar dengan saksama.
"Yang itu, Dok?"
"Iya."
Dokter tersenyum.
"Itu calon bayi Ibu dan Bapak."
Mata Elvan langsung membulat.
"I-itu... b-bayi k-kita?"
Naresta menatap layar dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Iya, Mas."
Elvan semakin mendekat, seolah tidak ingin melewatkan sedikit pun gambar yang terlihat di monitor.
"K-kecil..."
Naresta tertawa pelan.
"Iya, masih kecil."
Dokter kembali memperhatikan hasil pemeriksaan.
"Kalau dari ukurannya, perkiraan usia kehamilannya memang sudah sekitar dua belas minggu."
Naresta mengangguk.
"Berarti benar sekitar tiga bulan, ya, Dok?"
"Betul."
Elvan tidak lagi memperhatikan percakapan mereka. Tatapannya tetap terpaku pada monitor.
Untuk pertama kalinya, ia melihat calon anak yang sudah mereka nantikan selama empat tahun.
"Baik, semuanya aman, ya, Bu," ucap dokter setelah memperhatikan hasil USG.
Naresta langsung mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah."
Elvan yang berdiri di samping ranjang langsung menoleh kepada dokter.
"B-bayinya s-sehat, D-dok?"
Dokter tersenyum.
"Untuk pemeriksaan saat ini, semuanya terlihat baik, Pak."
Senyum Elvan langsung mengembang.
"A-alhamdulillah..."
Naresta menatap suaminya sambil tersenyum.
"Mas lega?"
Elvan langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"L-lega."
Dokter kemudian kembali memperhatikan layar monitor.
"Usia kehamilannya juga sesuai dengan perkiraan sebelumnya, sekitar dua belas minggu."
"Baik, Dok."
"Karena ini kehamilan pertama dan Ibu baru mengetahuinya sekarang, mulai hari ini lebih diperhatikan lagi pola makan dan waktu istirahatnya."
Naresta mengangguk.
"Iya, Dok."
"Jangan terlalu memaksakan diri bekerja. Apalagi tadi pagi sampai pingsan."
Naresta tersenyum kecil.
"Saya memang mengelola toko sendiri, Dok. Kadang kalau ramai suka lupa istirahat."
Belum sempat dokter menjawab, Elvan langsung menyela.
"T-tidak b-boleh."
Naresta menoleh.
"Mas?"
Elvan memasang wajah serius.
"S-sayang h-harus i-istirahat."
Dokter terkekeh kecil melihatnya.
"Nah, sudah ada yang mengingatkan."
Naresta ikut tersenyum.
"Iya, Dok. Sepertinya mulai sekarang suami saya bakal lebih cerewet."
Elvan menggeleng cepat.
"B-bukan c-cerewet."
"Lalu?"
Elvan menatap istrinya.
"J-jaga S-sayang s-sama b-bayi."
Senyum Naresta langsung melembut.
"Iya, Mas."
Dokter kemudian menyelesaikan pemeriksaan dan memberikan tisu kepada Naresta.
"Silakan dibersihkan dulu, Bu. Setelah itu kita lanjut bicara mengenai vitamin dan jadwal kontrol berikutnya."
"Baik, Dok."