NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku Kas Baru

Cahaya pagi yang tipis menerobos celah gorden beludru yang telah memudar warnanya, menyinari butiran debu yang melayang lambat di udara kamar. Aria Evander duduk tegak di balik meja kerja kayu ek yang permukaannya mulai retak-retak. Di hadapannya terbaring sebuah buku kas usang bersampul kulit domba yang sudut-sudutnya telah mengelupas.

Ia mengusap ujung jempolnya pada pinggiran meja yang kasar, merasakan serat-serat kayu yang menusuk tipis kulitnya. Rasa perih yang nyata itu membantunya tetap memijak bumi. Di dunia ini, ia bukan lagi mahasiswi kedokteran yang terjebak di antara tumpukan jurnal ilmiah, melainkan seorang putri Baron yang hampir kehilangan segalanya.

Secercah cahaya keemasan, seukuran kunang-kunang yang paling redup, mendadak berputar di atas halaman buku kas yang terbuka. Cahaya itu memadat, membentuk sosok mungil bersayap transparan yang menyerupai helaian kertas tipis.

“Kau terlalu berani semalam, Aria,” bisik Lumi, roh pena takdir yang suaranya terdengar seperti gesekan daun kering di musim gugur.

Aria tidak segera menjawab. Ia membalik halaman buku kas dengan hati-hati, memperhatikan baris angka yang kini telah berubah warna menjadi tinta hitam yang pekat dan permanen. Angka-angka yang sebelumnya menunjukkan defisit mengerikan, kini berganti menjadi catatan piutang yang harus segera dibayarkan oleh salah satu pedagang gandum terbesar di ibu kota.

“Skenario asli tidak akan membiarkan perubahan ini tanpa kompensasi,” lanjut Lumi, mendarat di atas jemari Aria yang memegang pena bulu. “Hukum dunia ini seperti jaring laba-laba. Jika kau menarik satu benang, getarannya akan sampai ke ujung yang lain.”

“Biarkan saja bergetar,” sahut Aria dengan nada datar, meski dadanya berdegup sedikit lebih kencang. “Jika aku tidak menarik benang ini, kita semua akan mati kelaparan sebelum musim dingin tiba. Aku tidak berniat menjadi tokoh figuran yang mati beku di jalanan.”

Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari balik pintu kayu jati kamar Aria. Langkah itu sangat ia kenali—langkah seorang mantan jenderal yang kini harus memikul beban kehormatan keluarga yang runtuh.

Aria segera menutup buku kasnya saat pintu diketuk tiga kali.

“Masuk, Ayah,” ujar Aria, berusaha melembutkan suaranya.

Baron Edward Evander melangkah masuk. Bahunya yang biasa tegak kini tampak sedikit turun, diselimuti jubah wol abu-abu yang ujungnya mulai berserat. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda pada raut wajahnya. Kerutan dalam di dahinya tidak sepekat kemarin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kantong kulit yang tampak berat.

“Aria,” suara Edward agak serak, seolah ia baru saja melepaskan dahaga yang teramat sangat. “Ini... sungguh di luar akal sehatku.”

Edward meletakkan kantong kulit itu di atas meja. Bunyi gemerincing logam mulia yang saling berbenturan segera memenuhi kesunyian kamar. Aria membiarkan pandangannya jatuh pada kantong tersebut, berpura-pura terkejut.

“Apa ini, Ayah?” tanya Aria lembut.

“Utusan dari Persekutuan Dagang Werner baru saja pergi,” kata Edward, jemarinya yang dipenuhi kapalan bekas pedang tampak bergetar halus saat membuka ikatan kantong. “Mereka mengirimkan lima ratus koin emas kekaisaran. Mereka mengklaim telah menemukan kembali kontrak lama tentang pasokan gandum yang belum diselesaikan tiga tahun lalu. Ditambah bunga keterlambatan.”

Edward menggelengkan kepala, menatap lurus ke arah jendela luar yang menghadap ke halaman kastil yang gersang. “Tiga tahun, Aria. Aku bahkan sudah menghapus nama mereka dari daftar harapan kita. Mengapa hari ini?”

Aria bangkit dari kursinya, mendekat ke arah sang ayah. Ia meletakkan tangan kecilnya di atas pundak Edward yang kokoh namun lelah. Kehangatan yang menjalar dari tubuh ayahnya membuat Aria bertekad bahwa apa pun risiko dari memanipulasi takdir, ia akan menanggungnya.

“Mungkin dewi keberuntungan akhirnya mengingat jalan menuju kediaman Evander, Ayah,” kata Aria dengan senyum tipis yang menenangkan. “Gunakan uang ini untuk melunasi utang-utang mendesak di kota bawah. Dan... belilah beberapa persediaan makanan yang layak untuk musim gugur.”

Edward menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mengangguk perlahan. Setelah beberapa patah kata penuh kelegaan, pria paruh baya itu pamit untuk segera menemui bendahara keluarga yang hampir gila karena tagihan.

Begitu pintu tertutup, keheningan kembali menguasai ruangan. Lumi terbang mengitari tumpukan koin emas yang mengilap di bawah sinar matahari pagi.

“Ini baru permulaan, Aria. Tetapi kau harus tahu, Evelyn Roselia tidak akan tinggal diam,” suara Lumi terdengar lebih serius dari biasanya. “Perubahan kecil pada keuangan keluargamu telah mengubah alur distribusi barang di ibu kota. Evelyn, yang memiliki pengaruh besar di kalangan pedagang, pasti akan menyadari ada yang tidak beres.”

Aria berjalan kembali ke mejanya, membuka selembar surat kabar sosial yang dikirimkan oleh Mia, pelayan setianya, kemarin malam. Di kolom gosip sudut kanan bawah, tercetak sebuah paragraf kecil yang ditulis dengan tinta merah jambu—gaya khas faksi Evelyn.

*“Sebuah keluarga bangsawan di perbatasan selatan dikabarkan tengah bersiap menjual pedang pusaka leluhur mereka demi sekantung gandum. Sungguh akhir yang menyedihkan bagi sisa-sisa kejayaan masa lalu.”*

Walau nama Evander tidak tertulis secara eksplisit, siapa pun di pergaulan kelas atas tahu siapa yang dimaksud. Ini adalah racun yang disebarkan Evelyn untuk mengisolasi Aria secara sosial sebelum pesta teh kekaisaran bulan depan.

“Dia ingin bermain dengan reputasi,” gumam Aria, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara ritmis. “Sangat klise, namun efektif untuk masyarakat yang hidup dari omong kosong.”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Lumi, hinggap di atas botol tinta hitam milik Aria.

“Jika dia ingin aku menjadi putri miskin yang putus asa, aku akan memainkan peran itu dengan sangat baik,” Aria tersenyum dingin. Matanya berkilat dengan kecerdasan seorang calon dokter yang terbiasa menganalisis anatomi penyakit sebelum melakukan pembedahan. “Tetapi aku akan memastikan, panggung yang dia siapkan justru akan meruntuhkan kakinya sendiri.”

Aria mengambil pena bulunya kembali. Kali ini, ia tidak berniat mengubah angka atau kontrak besar yang bisa menarik perhatian Duke Lucien Veritas yang tajam bagai elang. Ia hanya membutuhkan satu detail kecil yang bergeser.

Ia mencelupkan pena ke dalam tinta hitam yang telah diberkati oleh mana suci milik Lumi. Di selembar kertas kosong, ia mulai menuliskan beberapa baris kalimat dengan tulisan tangan yang anggun namun tegas.

*“Pada hari ketujuh bulan musim gugur\, pedagang barang antik yang disewa oleh perwakilan Roselia akan menemukan bahwa pedang pusaka yang mereka incar sebenarnya adalah replika besi biasa yang sengaja dipasang untuk menjebak para penjarah makam.”*

Saat kalimat terakhir selesai ditulis, tinta di atas kertas itu berpendar keemasan sejenak sebelum meresap ke dalam serat kertas dan menghilang tanpa bekas. Rasa lemas yang akrab menjalar dari ujung jari Aria hingga ke bahunya, pertanda mananya telah terkuras untuk mewujudkan narasi tersebut.

Aria bersandar pada kursi kayu, napasnya sedikit terengah-engah. Namun, matanya menatap tajam ke arah langit-langit kamar yang tinggi.

“Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau akan menjelaskan kepada publik tentang kepemilikan pedang replika itu, Evelyn,” bisik Aria pada kesunyian ruangan.

Di luar jendela, angin musim gugur bertiup lebih kencang, menggugurkan daun-daun kering dari pohon ek tua di halaman kastil. Permainan catur baru saja dimulai, dan Aria baru saja memajukan pion pertamanya.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!