Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Tamu
Chloe yang kini sudah keluar dari pagar tinggi mansion keluarga Reinhard, dengan cepat berlari ke arah mobil sport yang terparkir tidak jauh dari depan pagar.
Chloe langsung masuk dan duduk di kursi penumpang. Mobil pun melaju pergi.
"Kakak lama sekali," ucap Elsa.
Chloe menarik napas. "Sorry, El. Tadi ada sedikit drama di ruang makan."
Elsa menoleh. Matanya tajam. "Apa Nyonya Eleanor menyakiti Kakak?"
Chloe menggeleng. "Tidak... Hanya saja aku melihat dia tidak pernah berubah. Dia tetap sama seperti dulu, mengatur hidup putranya."
Elsa mendengus. "Manusia tua itu. Dua tahun lalu dia juga yang memaksa Kakak meninggalkan putranya."
Chloe tersenyum kecut. "Sudahlah, El. Jangan dibahas lagi. Itu sudah jadi masa lalu."
Elsa menghela napasnya kasar.
"Lagipula dia juga tidak mengenalku... karena tubuhku yang berbeda," lanjut Chloe.
"Benar, Kak. Tapi jiwa ini masih jiwa Queen Daisy. Cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya lewat tingkah laku dan karakter Kakak," ucap Elsa.
"Tidak semua orang percaya adanya reinkarnasi, Elsa."
Elsa mengangguk. "Sekarang kita ke mana, Kak?" tanya wanita itu.
"Ke mansion keluarga Weiss. Aku ingin melihat seperti apa kondisi penghuni mansion besar itu saat ini."
"Oke, gas..." ucap Elsa.
"Oh ya, apa kejadian semalam sudah sampai ke telinga Daddy?" tanya Chloe.
Elsa mengangguk. "Sudah, Kak. Dari semalam sampai sekarang, Tetua terus menelepon Anda," ucap Elsa sambil membuka laci mobil dan mengambil ponsel Chloe dari sana.
Ponsel itu langsung bergetar begitu menyala. Tiga puluh empat panggilan tak terjawab. Dan ada lima belas pesan yang masuk.
Chloe menghela napas panjang, lalu segera menjawab panggilan dari Daddy-nya itu.
"Halo..."
"Kau dari mana saja? Kenapa baru sekarang menjawab telepon Daddy? Apa kau tahu apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya, putriku!" Suara Maximilian dari seberang terdengar sangat khawatir.
"Aku tahu apa yang sedang aku lakukan, Daddy... Dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Daddy jangan khawatir. Lagipula pernikahanku dan Erivo itu hanya sementara. Pernikahan ini juga tidak sah sepenuhnya..." jelas Chloe.
"Daddy hanya tidak ingin kehilangan kau untuk kedua kalinya, nak... Walaupun ragamu tidak sama lagi, tapi jiwamu masih tetap sama. Kau adalah Daisy, anak Daddy satu-satunya," ucap Maximilian. Setegas-tegasnya pria itu, tapi jika menyangkut putrinya, ia akan sangat khawatir.
"Aku tahu... Tapi aku kan sudah bilang. Cukup, Daddy. Berikan aku dukungan. Jika aku berhasil, maka Daddy harus bertepuk tangan untukku... Dan satu lagi, Daddy. Jangan katakan kepada siapa pun dulu jika aku, Queen Daisy, kembali hidup di jiwa Chloe Weiss."
"Oke. Jaga dirimu baik-baik. Anggota Black Kobra akan selalu menjagamu dari jauh."
Chloe kembali menghela napas. "Baiklah, Daddy..." Setelahnya Chloe memutuskan panggilan itu.
Elsa melirik ke spion. Dan benar saja, di belakang mereka ada dua SUV hitam.
"Pantas dari tadi aku merasa kita sedang diawasi," ucap Elsa.
"Jarak berapa?" tanya Chloe, tatapannya lurus ke depan.
"Dua ratus meter, Kak. Nggak dekat, nggak jauh. Standar pengawalan," jelas Elsa.
"Biarkan saja," ucap Chloe sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
Lima belas menit kemudian.
Mobil berhenti di depan gerbang tinggi mansion keluarga Weiss.
Ada empat satpam yang berjaga, dan dua ekor anjing Doberman.
Chloe tersenyum tipis, tapi tatapannya terlihat sangat tajam.
"Ayo," ucapnya kepada Elsa, lalu segera melangkah keluar dari mobil.
Elsa mengangguk dan ikut keluar.
Dua orang satpam menghampiri mereka. "Kalian siapa? Ini adalah kediaman keluarga Weiss. Yang tidak membuat janji terlebih dahulu kepada Nyonya Serena dilarang masuk," ucap salah satu satpam.
Chloe melangkah maju. Senyuman tipisnya terukir di sudut bibir. "Apa kau tidak mengenalku?" tanya Chloe.
Kedua satpam itu diam. Mereka menatap wajah Chloe dengan lekat.
"Buka pagarnya. Aku ingin masuk," ucap Chloe lagi.
Satpam itu saling tatap. "Tapi, Nona. Nyonya Serena memerintahkan kepada kami untuk tidak membiarkan tamu masuk tanpa izin darinya."
Chloe mendekat satu langkah. Tatapannya menusuk. "Aku bukan tamu. Tapi akulah pemilik rumah ini."
DUG
Anjing Doberman langsung menggonggong. Dan Elsa langsung maju untuk melindungi nyonyanya.
"Buka, atau aku yang buka," ucap Elsa.
Kedua satpam itu terlihat berkeringat dingin, tapi mereka juga tidak bisa melanggar aturan dari Serena.
"AKU BILANG BUKA PAGARNYA!" teriak Elsa.
Tapi kedua satpam itu hanya diam. Elsa tersenyum miring, sambil merogoh jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah benda hitam yang berkilau di bawah terik sinar matahari.
Wanita itu menatap benda kecil itu dengan senyuman yang sangat menyeramkan. "Buka pagar ini, atau peluru sembilan milimeterku ini bersarang di kepalamu."
DUG
"No... Nona... jangan," kedua satpam itu langsung mengangkat tangannya.
"Buka pagarnya," ucap Chloe.
"Baik, Nona," ucapnya dengan cepat.
Kriiit
Gerbang terbuka pelan. Anjing Doberman langsung diam, ekornya masuk.
"Bagus," Chloe tersenyum tipis. Lalu melangkah masuk tanpa menengok lagi. Elsa berjalan di belakangnya, pistol masih berada di tangan tapi sudah diturunkan.
Sesampainya di depan mansion besar yang berdiri kokoh itu, Chloe berhenti. Ia menatap mansion milik ibunya itu, yang selama lima tahun ini ditempati oleh Alexander, Serena, Levin, dan Vivian.
"Lima tahun," gumam Chloe.
"Kak?"
"Lima tahun, pemilik raga ini disiksa di rumah sakit jiwa. Dipaksa menjadi gila," suara Chloe pelan. Tapi menusuk.
"Sementara mereka hidup enak di sini. Tidur di kamar yang bagus... Tinggal di dalam istana yang mewah. Menikmati semua harta peninggalan Ibu."
"Ayo," Chloe kembali melangkah. Sebagai jiwa Queen Daisy yang berada di tubuh Chloe Weiss, inilah pertama kalinya ia datang ke mansion ini.
Elsa mengangguk dan mengikuti langkah nyonyanya dari belakang.
Pintu mansion itu sedikit terbuka. Chloe mendorongnya pelan.
Kreeet
Di dalam... sunyi.
Dari ruang keluarga, terdengar suara seseorang yang berteriak.
"SIAPA?!"
Langkah kaki cepat.
Serena muncul duluan. Gaun sutra warna krem, rambut disanggul. Tapi wajahnya langsung berubah saat melihat Chloe.
"Kau... berani sekali kau datang ke mari..." Serena melangkah ke arah Chloe dan ingin menyeret wanita itu keluar dari mansion.
Tapi sebelum tangannya menyentuh lengan Chloe, Elsa dengan cepat menepisnya dengan kasar.
"Jangan menyentuhnya," ucap Elsa, tatapannya tajam.
DUG
Serena terhuyung mundur. Wajahnya kaget. "BERANI SEKALI KAU..."
Elsa tersenyum tipis. "Aku hanya melindungi nyonyaku dari manusia biadab seperti kau."
Dari belakang, Alexander keluar. Wajahnya merah padam saat melihat keberadaan Chloe.
"KAU... APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI? DI MANA VIVIAN?" Alexander mendekat, rahangnya mengeras.
Chloe tersenyum tipis. "Vivian? Oh. Adik tiri yang manis itu ya, Pa? Aku... Aku tidak tahu."
"JANGAN BERBOHONG!" Alexander kembali berteriak.
Chloe memasang wajah sedihnya. "Aku nggak pernah berbohong, Pa... Tapi aku hanya lupa... Maklum, aku berada di rumah sakit jiwa selama lima tahun. Otakku dipaksa rusak."
Alexander melangkah maju dan ingin menampar Chloe, tapi Elsa dengan cepat berdiri di hadapan nyonyanya, melindungi Chloe.
"Jangan mendekat," ucap Elsa dingin.
"Kalau tanganmu berani menyentuh dia... Maka akan kubuat tanganmu itu patah."
DUG
Alexander berhenti. Tangannya gemetar di udara.
Chloe melangkah masuk, melewati Serena. Heelsnya berbunyi Tak.... Tak.... di marmer.
"PERGI DARI SINI... KAU TIDAK MEMPUNYAI HAK DI SINI!" teriak Serena.
Chloe menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Serena. Senyuman tipis kembali terukir di bibirnya.
"Hak? Rumah ini atas nama Irina Weiss. Ibu kandungku. Jadi siapa yang tidak punya hak di sini?" Chloe melipat kedua tangannya di depan dada, melangkah mengelilingi tubuh Serena.
DUG
"Kau... Kau pikir dengan datang ke sini kau bisa merebut semuanya?!" ucap Serena.
Chloe berhenti di belakang Serena. Berbisik pelan di telinganya.
"Aku nggak merebut. Tapi aku hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi hakku."
Serena langsung gemetar. Dari tangga, Levin turun sambil mengunyah apel. Tapi pada saat ia melihat Chloe, ia langsung berhenti.
"Kau... dasar wanita gila! Di mana Vivian?"
Chloe menoleh ke Levin. Senyumannya dingin. "Wanita gila? Sepertinya bukan aku yang gila. Tapi Vivian, gadis yang kalian jaga dengan baik..."
"JAGA UCAPANMU!" bentak Alexander.
----
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏😊🥰.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,