NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awak Dari Sebuah Permainan

Ruangan itu kembali dipenuhi cahaya dari layar utama.

Semua mata tertuju pada satu tulisan.

PROYEK TAKDIR: ORIGIN

Tidak ada yang berani berbicara.

Bahkan Leon yang biasanya terlihat tenang kini hanya berdiri diam.

Niel memperhatikan ekspresinya.

"Kau tahu apa yang ada di dalam file itu."

Bukan pertanyaan.

Sebuah tuduhan.

Leon tidak menyangkal.

"Aku tahu."

Niel langsung mendekat.

"Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakan?"

Leon menatapnya.

"Karena jika kau tahu terlalu cepat..."

"Kau akan mengulang kesalahan yang sama."

Kalimat itu membuat Niel terdiam.

"Kesalahan?"

Leon mengangguk.

"Kesalahan yang dilakukan oleh Niel di masa lalu."

_____________________________

Adrian berjalan menuju layar.

"Origin bukan bagian dari penelitian biasa."

Semua menatapnya.

"Itu adalah proyek pertama."

Darren bertanya,

"Proyek pertama?"

Adrian mengangguk.

"Sebelum ada A-07."

"Sebelum ada Subjek N."

"Ada seseorang yang pertama kali diuji."

Aluna merasakan tubuhnya menegang.

"Siapa?"

Adrian menatap layar.

Lalu menjawab,

"Pembuat permainan."

_______________________________________

File mulai terbuka.

Namun hanya sebagian.

Sebuah data lama muncul.

Tanggalnya lebih dari dua puluh tahun sebelumnya.

Di dalamnya terdapat satu nama.

Niel membaca perlahan.

Lalu wajahnya berubah.

"Tidak mungkin..."

Aluna menatapnya.

"Apa?"

Niel tidak menjawab.

Darren mengambil dokumen itu.

Dan dia juga terdiam.

Karena nama tersebut...

adalah nama ayah Niel.

__________________________________

"Jadi..."

Suara Niel terdengar berat.

"Semua ini dimulai oleh ayahku?"

Leon menjawab,

"Bukan hanya ayahmu."

Niel menatapnya.

"Apa maksudmu?"

Leon melihat ke arah layar.

"Dia adalah orang yang menemukan konsepnya."

"Tapi bukan dia yang menciptakannya."

Ruangan kembali hening.

"Kalau begitu siapa?"

Leon tidak menjawab.

Sebagai gantinya...

layar menampilkan sebuah foto lama.

Sekelompok orang berdiri di depan gedung penelitian.

Di antara mereka...

ada ayah Niel.

Ada Adrian.

Dan ada seseorang yang membuat semua orang terdiam.

Seorang anak kecil.

_______________________________

Aluna mendekati layar.

"Itu..."

Napasnya tertahan.

Anak kecil itu terlihat berusia sekitar tujuh tahun.

Namun wajahnya...

sangat familiar.

Niel menatap foto itu.

Karena anak tersebut memiliki wajah yang sama dengannya.

"Kenapa..."

bisiknya.

Leon berkata pelan,

"Karena Proyek Takdir tidak dimulai saat kau dewasa."

"Tapi sejak kau lahir."

_________________________________________

Niel mundur satu langkah.

Tidak.

Pikiran itu terlalu sulit diterima.

Selama ini ia mengira dirinya hanya masuk ke dalam permainan.

Ternyata...

ia mungkin adalah bagian dari permainan sejak awal.

Aluna melihat wajah Niel yang mulai kehilangan kendali.

Ia langsung menggenggam tangannya.

"Niel."

Pria itu menoleh.

"Kamu masih kamu."

Kalimat sederhana itu membuat Niel diam.

Karena di tengah semua kebohongan...

Aluna adalah satu-satunya hal yang terasa nyata.

__________________________________________

Tiba-tiba layar berubah.

Muncul sebuah pesan baru.

ORIGIN DATA: TERBUKA

SUBJEK PERTAMA: NIEL ARVANDRA

Semua orang membeku.

Darren melihat Niel.

"Tuan..."

Niel hanya menatap layar.

Subjek pertama.

Bukan Subjek N.

Bukan A-07.

Tapi...

Subjek pertama.

Leon berjalan mendekat.

"Sekarang kau mengerti."

"Mengerti apa?"

Leon menatapnya.

"Kenapa mereka selalu mengawasi hidupmu."

"Kenapa Aluna selalu kembali kepadamu."

"Dan kenapa semua jalan selalu membawa kalian ke tempat ini."

Niel mengepalkan tangan.

"Lalu apa jawabannya?"

Leon tersenyum tipis.

"Karena kalian bukan dipilih untuk mengikuti takdir."

"Kalian diciptakan untuk mengubahnya."

___________________________________

Ruangan itu masih dipenuhi cahaya dari layar utama.

Satu kalimat terus terpampang.

SUBJEK PERTAMA: NIEL ARVANDRA

Tidak ada yang berbicara.

Karena tidak ada satu pun yang siap menerima kenyataan itu.

Niel berdiri diam.

Tatapannya kosong.

Selama ini ia mengira dirinya adalah seseorang yang terseret dalam permainan.

Seseorang yang menjadi korban dari rencana orang lain.

Namun ternyata...

Hidupnya sendiri adalah bagian pertama dari permainan itu.

"Aku..."

Suaranya terdengar pelan.

"Aku yang pertama?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Sampai akhirnya ayahnya berjalan mendekat.

"Ya."

Niel menatapnya.

"Sejak kapan?"

Pria itu terdiam.

"Lahir."

Jawaban itu membuat seluruh ruangan membeku.

_________________________________________

Aluna langsung menoleh.

"Lahir?"

Ayah Niel mengangguk.

"Proyek Takdir tidak dimulai dengan eksperimen di laboratorium."

"Proyek itu dimulai dengan satu pertanyaan."

"Apa yang terjadi jika seseorang dibentuk sejak awal?"

Niel mengepalkan tangan.

"Jadi aku..."

"Kau bukan percobaan."

Potong ayahnya.

"Kau adalah awal dari penelitian."

Kalimat itu terdengar lebih buruk.

Karena artinya...

hidup Niel sejak kecil sudah diamati.

Sudah dirancang.

_________________________________

Leon berjalan mendekati layar.

"Awalnya mereka hanya ingin memahami pola manusia."

"Tapi hasilnya tidak sesuai."

Darren menatapnya.

"Karena Niel?"

Leon mengangguk.

"Karena dia."

"Lalu apa yang spesial?"

Leon menatap Niel.

"Dia tidak mengikuti prediksi."

Niel mengerutkan kening.

"Aku tidak mengerti."

"Setiap keputusanmu selalu berbeda dari perhitungan."

"Kemarahanmu."

"Rasa takutmu."

"Pilihanmu untuk melindungi orang lain."

Leon menunjuk ke arah Aluna.

"Terutama dia."

_________________________________________

Aluna terdiam.

"Jadi aku juga bagian dari itu?"

Ayah Niel menatapnya.

"Kau adalah faktor yang tidak pernah bisa dihitung."

"Kenapa?"

"Karena sejak bertemu denganmu..."

Niel mulai berubah.

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Karena semua orang menyadari sesuatu.

Proyek Takdir tidak gagal karena teknologi.

Proyek itu gagal karena manusia.

Karena ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Perasaan.

______________________________________

Tiba-tiba layar berubah.

Sebuah rekaman lama muncul.

Niel kecil terlihat duduk sendirian di ruangan putih.

Seorang peneliti bertanya,

"Apa yang paling kamu inginkan?"

Anak kecil Niel diam.

Lalu menjawab,

"Aku ingin keluar."

Peneliti itu bertanya lagi.

"Untuk apa?"

Niel kecil menatap kamera.

"Aku ingin melihat dunia."

"Dan?"

Anak kecil itu berpikir.

Lalu berkata,

"Aku ingin membawa Aluna bersamaku."

___________________________________

Niel dewasa menunduk.

Ia tidak ingat momen itu.

Namun hatinya terasa sakit.

Karena ternyata...

bahkan ketika kecil...

hal yang paling ia inginkan bukan kebebasan untuk dirinya sendiri.

Tapi kebebasan untuk seseorang lain.

Aluna menatapnya.

"Kamu dari dulu selalu begitu."

Niel tersenyum kecil.

"Sepertinya."

_________________________________________

Rekaman berubah.

Kali ini ayah Niel muncul.

Versi yang lebih muda.

"Kita harus menghentikan proyek."

Seseorang menjawab,

"Tidak bisa."

"Subjek pertama sudah terlalu penting."

Ayah Niel terlihat marah.

"Dia anak saya."

"Dia bukan data."

Lalu rekaman berhenti.

Niel membeku.

Untuk pertama kalinya...

Ia melihat ayahnya bukan sebagai orang yang menghancurkan hidupnya.

Tapi seseorang yang mungkin pernah mencoba menyelamatkannya.

__________________________________________

Namun tiba-tiba...

suara alarm kembali terdengar.

AKSES ORIGIN TERBUKA.

Pintu di belakang ruangan perlahan terbuka.

Dari dalam muncul sebuah ruangan kecil.

Hanya ada satu benda.

Sebuah kursi.

Dan sebuah rekaman terakhir.

Leon menatap ruangan itu.

"Kita akhirnya sampai."

Niel menatapnya.

"Sampai ke mana?"

Leon menjawab pelan.

"Ke tempat di mana semuanya dimulai."

Aluna melihat kursi itu.

Dan tiba-tiba tubuhnya membeku.

Karena di atas kursi tersebut...

ada sebuah gelang kecil.

Gelang yang pernah ia pakai saat kecil.

Dan di sampingnya tertulis:

SUBJEK PERTAMA TIDAK PERNAH SENDIRIAN.

_______________________________________

Ruangan kecil itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Semua mata tertuju pada gelang kecil yang terletak di atas kursi.

Aluna perlahan mendekat.

Tangannya gemetar.

"Aku mengenal ini..."

Bisiknya.

Niel langsung melihat ke arahnya.

"Kamu yakin?"

Aluna mengangguk pelan.

"Aku tidak ingat semuanya."

"Tapi benda ini..."

Ia menyentuh gelang tersebut.

"...selalu ada dalam ingatanku."

Seketika layar kecil di ruangan itu menyala.

Sebuah rekaman muncul.

Bukan rekaman penelitian.

Melainkan rekaman pribadi.

Terlihat dua anak kecil duduk berdampingan.

Niel kecil.

Dan Aluna kecil.

Mereka berada di ruangan yang sama.

Namun kali ini...

mereka tidak terlihat takut.

Mereka terlihat bahagia.

"Aku berjanji."

Suara Niel kecil terdengar.

"Aku akan menemukan cara supaya kita bisa keluar."

Aluna kecil tersenyum.

"Kita pergi bersama?"

Niel mengangguk.

"Iya."

"Selalu bersama."

________________________________________

Rekaman berhenti.

Aluna menutup mulutnya.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

"Jadi..."

"Kita sudah berjanji sejak dulu."

Niel menatapnya.

"Iya."

Untuk pertama kalinya...

mereka tidak merasa seperti dua orang asing yang dipertemukan takdir.

Mereka adalah dua orang yang pernah saling memilih.

Bahkan sebelum mereka memahami arti sebuah pilihan.

__________________________________________

Leon melihat layar terakhir.

"Ini alasan kenapa proyek tidak pernah bisa mengendalikan kalian."

Niel menatapnya.

"Karena hubungan kami?"

Leon mengangguk.

"Bukan."

"Karena kalian selalu punya pilihan sendiri."

Alarm kembali berbunyi.

Namun kali ini...

tidak terdengar seperti ancaman.

Melainkan sebuah tanda.

FASE AKHIR DIMULAI.

Adrian melihat waktu yang tersisa.

"Kita tidak punya banyak waktu."

Niel menatap Aluna.

Lalu melihat pintu menuju ruang terakhir.

"Ayo."

Aluna mengangguk.

Bersama-sama...

mereka berjalan menuju tempat di mana semua jawaban terakhir menunggu.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!