Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Georgina melengkungkan bibirnya melihat ketegangan di wajah Reka. "Tidak perlu sampai setegang itu, Reka! Calon suamiku memang agak galak, tapi percayalah beliau belum pernah makan orang!." Kata Georgina setengah bercanda untuk mengurangi ketegangan Reka yang disangka Georgina diakibatkan oleh sikap tegas Leon.
Reka membalasnya dengan senyuman kecil, senyuman kecil yang nyaris tak terlihat.
Merasa tak memiliki kepentingan lagi diruangan itu, Reka lantas pamit undur diri guna kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Leon.....Aku memang bertemu dengan Reka belum lama ini. Kami bertemu secara kebetulan dan dia telah menolongku. So, jangan menakutinya dengan sikap datarmu itu!." Sepeninggal Reka, Georgina menempati kursi di depan meja kerja Leon. Wanita itu berujar dengan mimik wajah memelas di hadapan calon suaminya itu. Ya, memelas, karena Georgina tahu betul bahwa Leon paling tidak suka ia banyak mengatur dalam urusan pekerjaan.
Leon sama sekali tidak merespon ucapan Georgina tentang Reka, pria itu tetap memfokuskan diri untuk membubuhi tandatangannya pada beberapa berkas yang memerlukan.
"Astaga.... bagaimana aku bisa lupa kalau pagi ini aku ada jadwal kunjungan ke beberapa yayasan untuk melakukan penyuluhan." Georgina sampai menepuk jidat. "Aku pergi dulu." Georgina bangkit dari duduknya. Sebelum berlalu, Georgina kembali mengingatkan Leon. "Jangan lupa pada janji kita malam nanti!."
"Hm."
Masih digedung yang sama namun di ruangan yang berbeda, Reka nampak menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya.
"Ya Tuhan... Mengapa aku harus terjebak di dalam situasi seperti saat ini? Setelah dengan sombongnya meminta cerai darinya, kini aku justru mencari rupiah demi sesuap nasi di perusahaan milik mantan suamiku. Di mata mas Leon, Aku pasti terlihat sangat menyedihkan." Batin Reka. Pertemuannya dengan sang mantan suami berhasil mengembalikan ingatan Reka pada kejadian dua tahun silam.
Malam itu, Reka tengah berkunjung ke rumah orang tuanya, namun kata art kedua orangtuanya sedang menghadiri pesta pernikahan anak dari salah seorang rekan bisnis ayah. Entah apa yang ada di dalam pikiran Reka malam itu, sehingga berani melangkahkan kaki memasuki ruang kerja ayahnya. Ya, selama ini ayah melarang keras Reka untuk memasuki ruang kerjanya, dengan berbagai macam alasan. Siapa sangka, tindakan Reka malam itu justru membawanya pada kenyataan yang begitu mengejutkan. Reka menemukan berkas adopsi dirinya di dalam laci meja kerja ayahnya. Rupanya ia bukanlah anak kandung dari pasangan suami-istri yang selama ini dianggapnya sebagai orang tuanya. Reka hanyalah seorang anak adopsi. Air mata Reka jatuh tanpa permisi setelah mengetahui kenyataan itu. Kini Reka jadi paham mengapa ayah dan ibunya sampai tega menyiksanya selama ini. Rupanya ia bukanlah da-rah daging orang tuanya, ia hanyalah seorang anak panti asuhan yang diadopsi oleh keluarga itu.
Kini Reka pun paham, mengapa sampai ayahnya sengaja pergi entah kemana saat ia hendak melangsungkan pernikahan bersama Leon waktu itu, sehingga perwalian terpaksa diserahkan kepada petugas kantor urusan agama sebagai wali hakim pernikahan.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana?." Bentak ayah yang kini telah berdiri diambang pintu ruang kerjanya. Pria paruh baya tersebut langsung mendekat dan merampas berkas adopsi digenggaman tangan Reka. "Lancang kamu ya....jangan mentang-mentang kamu sudah menikah dengan tuan Leonardo Fernandez, lalu kamu bisa bersikap lancang seperti ini." Saking perih rasa di hati setelah mengetahui kebenaran, bentakan ayahnya kali ini seolah tak lagi berarti apa-apa bagi Reka.
"Jadi ini alasan mengapa papah dan mamah tega memperlakukan aku dengan semena-mena, Karena aku bukan anak kandung kalian." Reka tertawa sumbang, seolah menertawakan kemalangan nasibnya. "Jangan-jangan kalian setuju aku menikah dengan mas Leon hanya karena kalian berniat mengeruk hartanya?." Bukannya asal menuduh, tapi faktanya selama ia resmi menikah dengan seorang Leonardo Fernandez, kedua orang tuanya selalu saja mencari-cari alasan untuk mendapatkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit dari Leon.
"Jangan berlebihan seperti itu! Lagian, apa salahnya sedikit mengambil keuntungan dari anak yang selama ini sudah susah payah dibesarkan." Dengan entengnya ayah berkata demikian, tanpa memikirkan perasaan Reka.
"Kalau begitu, anggap saja uang satu miliar kemarin adalah pemberian terakhir dari mas Leon, karena aku akan segera meminta cerai dari mas Leon." Tidak ada seorangpun istri yang tega melihat suaminya menjadi korban dari keserakahan seseorang, tak terkecuali Reka. Demi melindungi Leon dari keserakahan orang tuanya, Reka bahkan rela berpisah dengan pria yang begitu dicintainya itu.
"Jangan gila kamu, Reka! Sampai kapanpun papah tidak akan setuju kamu berpisah dengan tuan Leonardo Fernandez." Bentak ayah dengan perasaan cemas. Ya, cemas, walaupun Reka bukanlah anak kandungnya namun ialah yang telah merawat dan membesarkannya, sehingga pria itu kenal betul dengan watak dan sifat Reka. Jika sudah berkata seperti itu, Reka pasti akan merealisasikan perkataannya.
"Setuju ataupun tidak, aku akan tetap meminta cerai dari mas Leon." Tegas Reka.
"Jika kamu sampai meminta cerai dari tuan Leonardo Fernandez, maka jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini!." Jika sebelum-sebelumnya Reka akan dibuat ketakutan dengan ancaman ayahnya tapi kini berbeda, Reka tidak takut sama sekali.
"Terima kasih banyak telah memungut aku dari panti asuhan, dan terima kasih juga telah membesarkan aku hingga sebesar ini. Aku janji, tidak akan menginjakan kaki lagi di rumah ini." Setelah mengatakan kalimat tersebut, dengan berurai air mata Reka berlalu begitu saja dari hadapan pria paruh baya yang selama ini dianggapnya sebagai ayah kandungnya hingga rela dan ikhlas diperlakukan semena-mena. Tapi setelah mengetahui semua kebenaran yang ada, Reka memutuskan untuk meninggalkan keluarga itu.
"Are you okay? Apa pimpinan memarahimu?." Suara bariton milik Ibnu sekaligus menyadarkan Reka dari lamunannya.
Sadar tadi Reka sedang melamun, Ibnu lantas mengulang kembali pertanyaannya. "Apa pimpinan memarahimu?."
Reka menggeleng lemah.
"Kalau tidak, lalu mengapa wajahmu kelihatan lesu begitu, hm?." Ibnu menarik salah satu kursi kosong di ruangan tersebut dan memposisikannya tepat dihadapan meja kerja Reka, lalu mendudukinya. Sama seperti Georgina, Ibnu pun tak tahu-menahu tentang hubungan yang pernah terjalin antara Leon dan Reka sebelumnya.
"Bukan apa-apa kok, pak. Mungkin aku hanya sedikit lelah saja."
Ibnu percaya begitu saja sebab semalam Reka lembur hingga pukul sepuluh malam.
"Lain kali, kamu tidak perlu sampai lembur seperti semalam! Jika ada pekerjaan yang deadline, jangan sungkan untuk meminta bantuanku! Aku pasti akan membantumu, Reka." Sejak dulu Ibnu selalu saja peduli pada Reka.
"Sebelumnya, terima kasih banyak atas niat baik, pak Ibnu." Berterima kasih bukan berarti Reka setuju untuk seenaknya saja meminta bantuan pada Ibnu. Reka cukup tahu diri untuk tidak merepotkan orang lain atas kerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Ibnu lebih gila lagi...