NovelToon NovelToon
Menjadi Penguasa Dengan Sistem Misterius

Menjadi Penguasa Dengan Sistem Misterius

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Tamat
Popularitas:575.7k
Nilai: 4.4
Nama Author: Ikki Kurunia

[Jangan dibaca, novel berisi adegan++. Harap bijak dalam membaca. MC bisa bikin darah tinggi!]

[3-25 : Plot MC hidup sendiri bersama sistem, mungkin agak membosankan dan bertele-tele]

[26 keatas: Plot berubah. MC menjadi konglomerat, banyak pelayan, pengawal setia, banyak musuh, pengkhianatan, penyesalan. serta kemunculan tokoh-tokoh lainnya]

Pemuda yang baik hati, tiba-tiba dituduh lalu di usir dari rumah keluarga angkatnya, sampai berniat bunuh diri.

Ia akhirnya mendapatkan sebuah sistem, setelah menolong nenek-nenek misterius, yang dimana sistem itu akan membantunya menjadi seorang penguasa tertinggi.

Kepribadiannya yang naif dan bertele-tele, perlahan berubah, menjadi kejam tanpa ampun dalam melenyapkan musuhnya. Simak terus kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikki Kurunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Aksi Seruni

Zevan merenungkan nasibnya, seraya terduduk diatas pasir pantai, setelah sebelumnya keluar dari mansion secara mengendap-endap. "Sistem ... dengan segalanya yang telah kumiliki ini, apa yang harus aku lakukan?" tanya Zevan dalam hatinya, selagi menikmati tenangnya alunan ombak.

[Tentu saja menjadi penguasa, Tuan!]

Angin laut seketika berhembus sangat kencang, hingga membuat rambut hitamnya terhempas melambai-lambai. "Penguasa kah?" batin Zevan.

[Benar Tuan, itulah alasan kemunculanku, dalam hidup anda. Aku akan memandu Tuan, untuk menjadi penguasa yang sangat dihormati, dan disegani]

Perkataan itu, semakin menguatkan rasa resah dalam hati Zevan. Ia kemudian hening, dan terus memusatkan pandangannya yang menatap jauh kearah laut.

Dengan memiliki aset kekayaan yang sangat luar biasa, Zevan belum jua membiasakan dirinya menjadi seorang konglomerat dikota itu. Yang ada dalam pikirannya kini, hanyalah ketenangan, dalam menjalani hidupnya dimasa nanti.

[Tuan, jangan cemas. Aku hanya ingin memberitahukan bila, semakin banyak hal yang Tuan pikirkan, makan akan semakin menurun tingkat kesehatan Tuan. Yang perlu Tuan pikirkan saat ini adalah, fokus sekolah dan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi]

"Ya. Aku sudah tau itu. Maka dari itulah yang kuinginkan sekarang, memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Meski harus melakukannya seorang diri, tanpa ada satupun yang benar-benar mengakui keberadaanku, aku akan tetap hidup bagaimanapun caranya," pikir Zevan, seiring dengan air yang menetes dari kelopak matanya.

[Tuan!]

"Sistem. Semenjak adanya dirimu, aku sudah tidak lagi merasakan kesepian. Kemunculanmu yang sangat misterius itu, telah menjadi alasanku untuk terus hidup, walau selalu mendapatkan pertolongan darimu," ungkap Zevan dalam hati. Ia lalu tersenyum, meski tengah mengucurkan air mata.

[Tuan! Aku benar-benar berterima kasih karena Tuan selalu menghargai setiap pertolonganku. Tapi Tu—]

"Sistem." Zevan sontak memotong perkataan sistemnya, lalu berdiri dan menginjakkan kakinya diatas pasir yang halus. "Terima kasih!" ungkapnya dengan sungguh-sungguh, seraya menundukkan wajah.

"Tuaaaann!!" sorak Seruni dari kejauhan, saat berhasil menemukan keberadaan Zevan. Ia pun segera berlari menghampiri Tuanya itu. "Tuan! Aku sedang mencarimu kemana-mana, rupanya Tuan ada disini," ucapnya, dengan nafas yang sedikit menggebu-gebu dalam dadanya.

"Seruni, ada apa?" tanya Zevan, yang tetap memusatkan pandangannya, kearah tenggelamnya matahari.

Seruni sedikit beringsut maju, dan berdiri tepat dibelakang punggung Zevan. "Tuan, sudah mau malam. Mari masuk kedalam, dan segeralah mandi," jawab Seruni.

Zevan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghempaskannya secara perlahan. "Baiklah." Ia kemudian berbalik, dan melangkahkan kakinya menuju mansion. "Apa menu makan malam hari ini?" tanya Zevan pada Seruni, yang turut berjalan dibelakangnya.

"Malam ini, para pelayan termasuk aku, akan menghidangkan makanan mewah dari Italia untuk Tuan," jawab Seruni, sambil terus mengawasi area sekitar. Instingnya tiba-tiba merasakan, bila ada sesuatu yang tengah mengancam keberadaan Zevan.

[Tuan! Ada seseorang yang tengah mengintai anda dari kejauhan!]

"Tuan!" Seruni dengan gesit merangkul punggung Zevan, dan melindunginya dari lesatan peluru, yang mengarah kearah anak tersebut.

(Ncep!)

Namun atas aksinya itu, ia membiarkan bahu kanannya tertancap sebuah peluru, yang ditembakkan oleh seseorang dari jarak jauh.

[Sistem! Menghentikan laju waktu, diaktifkan!]

Waktu pun seketika terhenti, seiring dengan terhentinya arus ombak, daun-daun yang melambai, serta hembusan angin laut yang sangat kencang.

[Sistem! Memindai lokasi target, diaktifkan!]

[Titik koordinat target: -7,4380251, 106,9216825]

[Arah: barat laut]

[Target terkunci: Pria dengan masker Balaclava hitam]

[Sistem! Mendoktrin pikiran target terkunci, diaktifkan!]

[Sistem! Mengendalikan pikiran target terkunci, diaktifkan!]

[Sistem! Melanjutkan laju waktu, diaktifkan!]

Waktu kembali berputar, seiring dengan seluruh aktivitas alam yang berjalan seperti biasanya. Seruni yang tengah merangkul Zevan pun sontak menoleh kesetiap sudut arah, dan mencari keberadaan penembak misterius tersebut.

"Ahhh lembutnyaaa ...." Zevan tak dapat mengelak, saat kepalanya menempel erat pada belahan dada Seruni, yang terasa sangat hangat dan lembut itu, meski dirinya belum menyadari, bila bahu kanan gadis itu tengah mengucurkan banyak darah.

"Tuan! Cepatlah lari secara zig-zag menuju kedalam mansion! Ada bahaya yang sedang mengancam keamanan anda!" perintah Seruni, demi memastikan keamanan Tuannya. "Tuaaaan!" Seruni terkejut saat menatap kearah Zevan, yang tengah terperangkap dalam sebuah lamunan.

Zevan pun sontak tersadar. "B-baik! Lalu bagaimana dengan dirimu?!" tanya Zevan, yang belum jua melangkahkan kakinya menuju mansion. Ia merasa tak patut untuk meninggalkan Seruni seorang diri.

"Tuan! Cepaaaatt!!!" bentak Seruni, karena sudah berada diujung rasa cemasnya terhadap Zevan.

"B-baiiikk!" Zevan akhirnya berlari secara Zig-zag menuju kedalam gerbang belakang mansion, sesuai arahan dari Seruni. "Sistem! Apa yang sedang terjadi sebenarnya?!" tanya Zevan dalam hatinya, selagi kakinya terus melangkah dengan cepat.

[Tuan. Telah terjadi penembakan yang mengarah ke tubuh Tuan. Beruntung Seruni dengan sigap melindungi anda, dari serangan itu]

Zevan lalu mendapati celah pintu gerbang telah berada didepannya, dan segera masuk kedalam gerbang tersebut. "Bagaimana dengan pelakunya?!" tanya kembali Zevan dalam hatinya. Ia kemudian menghentikan langkahnya, dan berlindung dibalik tembok gerbang.

[Pelakunya sudah kuatasi. Biarkan Seruni yang meneruskan sisanya]

"S-Serunii?!" Zevan seketika menoleh dari balik tembok, dan terkejut saat mendapati Seruni menghilang dari pandangannya. "Kemana perginya Seruni?!" tanya Zevan dengan penuh rasa cemas dalam hatinya.

[Tuan. Percayakan semuanya pada Seruni. Gadis itulah yang akan menyeret pelakunya kedalam mansion. Anda tinggal menunggu saja]

Dengan nafas yang terengah-engah, Zevan kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam pintu belakang mansion. "Kalau begitu, aku harus melaporkannya pada Vanze!" ucapnya dalam hati.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Selagi memanfaatkan keheningan yang ditunjukkan oleh pelaku penembakan, Seruni sontak merobek stoking kakinya. Ia lalu berusaha mencongkel sebuah peluru, yang menancap dibahunya.

Seruni tak menunjukkan reaksi apapun, setelah berhasil mencongkel pelurunya secara perlahan. "Peluru ini, adalah peluru yang ditembakkan dari senapan angin tipe semi-otomatis," batinnya, seraya menatap pada peluru tersebut.

Demi menutupi luka dari darah yang terus mengalir, Seruni segera membalut bahunya, dengan kain stoking yang telah ditanggalkannya. "Hanya ada satu kemungkinan. Pelaku merupakan pembunuh bayaran dari orang-orang elit, yang tidak senang dengan Tuan Zevan," duga Seruni, seraya mengikat stoking dibahunya erat-erat.

Perhatiannya seketika tertuju, pada sebuah semak-semak perbukitan, yang tertutupi oleh beberapa pepohonan tinggi. "Berdasarkan arah tembakannya, tidak salah lagi, pelaku bersembunyi disekitar sana." pikirnya, dengan pandangan yang menatap sangat tajam.

Seruni lalu bangkit, dan sontak berlari secara zig-zag, menuju sebuah bebatuan besar yang berada dibawah bukit tersebut. Senjata jenis pistol pun lantas dikeluarkannya, dari sarung pistol yang mengait dipaha kanannya.

"Sejak aku tertembak, dan Tuan Zevan berhasil melarikan diri, pelaku seketika menghentikan serangan selanjutnya. Kemungkinan dia telah melarikan diri. Tapi!" Seruni sontak mengangkat sebelah kakinya, dan menapak secepat mungkin pada setiap batu yang menancap dilereng bukit. "Instingku mengatakan, bila pelakunya masih berada diatas sana!" ucapnya dalam hati, seraya mempercepat pergerakannya, dalam menanjaki lereng bukit.

Seruni akhirnya berhasil menapakkan kakinya, tepat diatas semak-semak bukit, dan bersembunyi dibalik pepohonan besar. Namun, saat mencoba menolehkan sedikit wajahnya, dengan maksud mengintai.

(Ncep!)

Sebuah peluru tiba-tiba melesat kearah dirinya, dan menancap tepat pada batang pohon yang berada dibelakangnya. Beruntung Seruni dengan sigap menghindar dari peluru tersebut, yang benar-benar ditembakkan kearah kepalanya.

"Menggunakan peredam kejut, memang merupakan sebuah taktik jitu bagi seorang penembak jarak jauh. Tapi menurutku sekarang, itu hanyalah sebuah bualan," sindir Seruni dalam hatinya, dan sontak menjulurkan pistol yang berada dalam genggamannya, kearah pepohonan yang berada diseberang.

(Dor!)

"Aaaa!" erang seorang pelaku, yang bersembunyi dibalik pohon tersebut, setelah peluru yang ditembakkan Seruni, berhasil mengenai bahu kirinya.

"Padahal, aku benar-benar tidak fokus saat menembaknya. Kelengahan adalah kelemahan yang sangat menakutkan dimedan perang, bung!" sindir kembali Seruni dalam hatinya, dan mulai melangkahkan kakinya kearah sebuah pohon, yang menjadi tempat persembunyian sang pelaku.

"Jangan bergerak! Atau peluru ini akan menembus otakmu!" gertak Seruni, dengan ujung laras pistol yang telah menempel tepat, pada kepala sang pelaku.

Karena telah berada dalam kontrol sistem, pelaku tersebut sontak menggengam pistol Seruni, dan berusaha merebutnya sebisa mungkin. Namun Seruni dalam hitungan sekejap mengayunkan sebelah kakinya, dan mengapit tangan sang pelaku dengan kedua paha, lalu menarik tangan kanan sang pelaku kearah belakang.

(Prtek!)

"Aaaa!" Pelaku kembali mengerang kesakitan, sesaat setelah tangan kanannya dipatahkan oleh Seruni.

Demi menyingkat waktu yang telah terbuang, Seruni dengan segera mengikat tangan pelaku, lalu menyeretnya turun secara paksa dari bukit, menuju mansion Zevan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Hebat! Aku benar-benar kagum dengan Seruni! Apa pangkat terakhirnya sebelum pensiun?" tanya Zevan dalam hatinya, selagi terduduk disisi ranjang, dan menatap penuh serius kearah layar proyeksi sistem.

[Letnan Kolonel, Tuan. Aku sengaja mendoktrin otak pelaku, agar melakukan perlawanan terhadap Seruni. Dan benar saja, serangan Seruni bahkan diluar dugaanku]

Zevan seketika bangkit dari tempatnya terduduk. "Lalu, untuk apa aku menyuruh Vanze dan beberapa pengawal lainnya menyusul kepergian Seruni?!" ucapnya dalam hati, dan segera melangkahkan kakinya keluar dari pintu kamar, menuju lantai dasar mansion.

Sementara, Vanze mendapati Seruni tengah berjalan dari kejauhan, seraya menyeret seseorang. "Serunii!" soraknya, lalu bergegas menghampiri gadis tersebut.

"Tuan Vanze. Orang ini adalah pelakunya," ujar Seruni, seraya mendorong paksa tubuh pelaku kearah Vanze.

Vanze yang tak dapat menahan rasa kesalnya pun sontak menarik kerah jas sang pelaku, dan memaksanya untuk berdiri. "Kau telah berani mengusik kenyamanan Tuanku. Bagaimanapun caranya, aku akan membuatmu berbicara, dan menyebutkan siapa yang telah membayarmu," gertak Vanze, sambil menatap tajam pada wajah sang pelaku.

Perhatian Vanze seketika tertuju pada bahu kanan Seruni. "Seruni, bahumu!" ucapnya dengan terbelalak cemas.

Seruni pun sontak tersenyum. "Jangan khawatir Tuan Vanze. Ini adalah yang keseribu kalinya aku tertembak, dalam medan perang," kata sang gadis, yang merupakan mantan prajurit militer terbaik dan berprestasi dikota itu.

...****TBC****...

1
oppoA18 Siapat
apa author mau buat adegan lucu?
tapi aku merasa koq nggak lucu sama sekali setiap MC bertengkar dg sistem nya sendiri?
oppoA18 Siapat
MC gegabah dan boros, sebaiknya buat amal saja menyumbang ke panti asuhan misalnya
Tahir Note
MC setan, sd punya sistem masih aja bego.
Tahir Note
host yg tolol bego..
Dewa Koplak
mc nya TOLOL
Xtramz
naif parahhh jinkkk
Xtramz
naif banget sattt
Ali
😄😄😄😄😄
Ali
broo bukan host nya yg diancuk tapi si othor yg bikin alur cerita ini yg gelo
Sang M
Tahi....... cerita sampah
Sang M
Gak suka Host ini. terlalu otak bocil gak dewasa sama sekali payah. fuckkk.
Sang M
Perbaiki karakter Host, Thor. .!!!!!!!!! system nya bagus tapi Host nya tahi sampah. dancokkkkk
Sang M
Host payah dancokkkk lu...
EmDeen
authornya keliatan banget urat miskinnya .
sampe bikin tokoh utama yang ga jelas.

maaf.. saya stop baca. aliran cerita terhambat dan terantuk2 sepanjang jalan karena pemaksaan karakter tsb
Lapega Dari Tbs
mc-nya naif bin goblok....
Pendekar Rajawali
Bingung dgn novel ini jalan ceritanya, seperti nya Novel ga jelas
Hary
CERITA PALING JELEK....!!!
Hary
PENULIS KACANG...BUKU TERJEMAHAN....
NGAKU2 TULISAN SENDIRI
Hary
SULAP... PERBAIKI MANSION DG CARA SULAP...
Hary
SOK PAHLAWAN...
SEHARUSNYA DATANG BERSAMA POLISI,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!