Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Untuk mengisi waktu luang di markas yang sepi, Liana melangkah menuju dapur privat yang terletak di area belakang.
Ia mulai menyingsingkan lengan bajunya dan mengeluarkan berbagai bahan makanan dari dalam lemari pendingin.
Senyum tipis terukir di bibirnya; ia berniat memasak makan malam besar untuk menyambut kedatangan sahabatnya, Rista, sekaligus untuk dinikmati bersama anak-anak geng nanti malam.
Liana mulai sibuk memotong sayuran dan menyiapkan bumbu-bumbu dapur.
Suara dentingan pisau dan wajan menjadi satu-satunya pelipur sepi di bangunan luas itu.
Pikirannya melayang membayangkan betapa terkejut dan senangnya anak-anak Black Cobra—terutama Willy dan Mario yang hobi makan—saat pulang nanti dan mendapati meja makan penuh dengan hidangan lezat.
Di sela-sela kegiatannya memotong bawang, Liana sesekali mengelus perutnya yang masih rata.
"Jagoan Papa jangan nakal di dalam ya, Mama mau masak dulu buat bibi Rista dan paman-paman gengmu," gumamnya lembut, merasakan kedamaian tersendiri di tengah keheningan hutan yang mengepung markas tersebut.
Namun, Liana sama sekali tidak menyadari, di luar sana, bahaya besar yang direncanakan oleh Roy dan Kania perlahan mulai bergerak mendekati markas yang sedang tidak berpengawal itu.
Tanpa Liana sadari, situasi di luar markas sudah berubah menjadi neraka yang mengintai.
Kania, yang hatinya telah dipenuhi dendam kesumat dan kegelapan, datang mengendap-endap membelah rimbunnya pepohonan hutan.
Ia tidak sendiri; di belakangnya, beberapa anak buah kepercayaan Roy dari geng Red Skull yang berbadan kekar dan bertato mengikuti dengan langkah tanpa suara.
Kania yang menyamar dengan memakai helm full face hitam melangkah ke undakan pintu depan.
Dengan tenang, ia mengetuk pintu depan markas dengan ketukan santai untuk mengelabui targetnya.
Tok... tok... tok...
Di dalam dapur, Liana mendengar ketukan itu. Mengira itu adalah Bunga, Willy, atau Mario yang baru pulang dari urusan luar, ia meletakkan pisaunya.
Liana langsung berjalan ke arah pintu depan dengan langkah ringan, sama sekali tanpa rasa curiga.
Ceklek.
Liana memutar kunci dan membuka pintu. Namun, belum sempat ia mengucapkan kata salam, kejutan mengerikan langsung menghantamnya.
BRAKK!
Pintu digebrak dengan sangat brutal dari luar hingga Liana terdorong ke belakang.
Anak buah Roy yang berbadan raksasa langsung merangsek masuk bagai serigala lapar.
Sebelum Liana sempat mengeluarkan jeritan atau berteriak meminta pertolongan, sebuah tangan kekar bersarung kulit dengan cepat membekap mulutnya, lalu dengan kejam menempelkan lakban hitam tebal berlapis-lapis di wajahnya.
Dalam hitungan detik, tubuh mungil Liana yang lemas karena syok langsung diangkat dan dimasukkan secara paksa ke dalam sebuah karung goni besar yang kasar.
"MMMMPPHH!! MMMMPPHHH!!" Liana berontak di dalam karung, air matanya meleleh memikirkan keselamatan janin di perutnya.
Mendengar erangan tertahan itu, Kania melangkah maju ke tengah ruangan.
Ia melepas helm full face-nya dengan perlahan, menampilkan wajah yang dipenuhi seringai iblis.
Diliputi rasa iri, cemburu, dan kebencian yang sudah memuncak ke ubun-ubun karena melihat Liana memiliki segalanya, Kania kehilangan akal sehatnya.
Dengan tatapan mata yang beringas, Kania mengayunkan helm tebal berkekuatan tinggi itu dengan kedua tangannya.
BRAK!
DUK!
BRAK!
Kania memukul karung goni yang berisi Liana itu berkali-kali secara sadis.
Hantaman keras demi hantaman mendarat di tubuh Liana hingga bunyi benturan bergema mengerikan di ruang tengah yang sepi.
Kania terus memukul dengan kesetanan sampai helm full face tebal di tangannya itu retak dan remuk menjadi beberapa bagian.
Tidak puas hanya sampai di situ, melihat karung goni itu mulai melemas dan merintih kesakitan,
Kania memberikan kode kepada anak buah Roy. Karung berisi Liana yang malang itu kemudian ditendang ke sana kemari oleh Kania dan para pria kekar itu seperti bola sepak.
Mereka melayangkan tendangan-tendangan sepatu bot berat mereka tanpa belas kasihan, membuat tubuh di dalam karung itu terombang-ambing dan menghantam lantai semen berkali-kali.
"Mmmpphh!! Mmmpphh!!" tiru salah satu anak buah Roy dengan suara sengau yang mengejek, menirukan erangan Liana yang tersiksa di dalam karung.
"Hahahahaha! Lihat jalang kecil ini, pimpinan Black Cobra pasti akan gila melihat mainannya hancur!" seru Kania dengan tawa terbahak-bahak yang menggema puas, dipenuhi rasa kemenangan yang semu di atas penderitaan Liana yang kini mulai kehilangan kesadarannya di dalam kegelapan karung goni.
Kania menatap karung goni yang sudah tidak banyak bergerak itu dengan napas terengah-engah, kepuasan gelap terpancar jelas dari matanya.
Ia kemudian berbalik dan menatap anak buah Roy dengan sorot mata memerintah.
"Bawa jalang ini ke bawah. Sembunyikan karung ini di kolam bawah tanah markas yang gelap dan pengap itu. Biarkan dia membusuk di sana," perintah Kania dengan nada sedingin es.
Dua anak buah Roy yang berbadan kekar segera menyeret karung berisi Liana, membawanya menuruni tangga beton yang lembap menuju sebuah ruang rahasia di bawah tanah markas yang jarang diakses.
Mereka melemparkan karung goni itu begitu saja ke dalam area kolam kosong yang berlumut, gelap gulita, dan berbau pengap, lalu meninggalkannya begitu saja.
Setelah memastikan Liana tersembunyi dengan aman, Kania kembali ke ruang utama markas.
Ia menoleh ke arah sisa anak buah Roy yang berdiri menanti instruksi selanjutnya.
"Sekarang, acak-acak tempat ini. Hancurkan semuanya!" seru Kania beringas.
"Pecahkan kaca-kaca jendela, tumpahkan semua barang-barang, dan buat tempat ini hancur berantakan agar terlihat seperti motif perampokan murni. Jangan tinggalkan jejak apa pun yang mengarah padaku!"
Mendengar perintah itu, anak buah Roy langsung bergerak brutal.
PRANGGG!
BRAKK!
Suara pecahan kaca jendela membubung tinggi di udara.
Mereka menendang meja, menjatuhkan lemari, menghempaskan TV ke lantai, dan merusak seluruh fasilitas markas tanpa sisa.
Barang-barang berserakan di mana-mana, menciptakan ilusi visual yang sempurna seolah-olah markas Black Cobra baru saja disatroni oleh komplotan perampok amatir yang serakah.
Setelah memastikan kekacauan itu sempurna, Kania memakai sisa helmnya yang retak dan pergi meninggalkan area hutan bersama komplotannya, tertawa puas di atas angin.
Sementara itu, di dalam kegelapan kolam bawah tanah yang sunyi dan mencekam.
Udara di sana sangat minim dan terasa menyesakkan dada.
Di dalam karung goni yang kasar dan mulai basah oleh keringat dingin, Liana terbaring lemah dengan sekujur tubuh yang dipenuhi memar kepayahan.
Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di setiap jengkal tubuhnya akibat hantaman helm dan tendangan bot berat tadi.
Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa takut yang menderu di dadanya saat ini.
Dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis, kedua tangan Liana yang bergetar hebat bergerak perlahan ke bawah, mendekap dan memegangi perutnya yang masih rata dengan sangat erat.
Air matanya mengalir deras di balik lakban tebal yang menyumbat mulutnya, merentangkan doa dan harapan agar mukjizat melindungi janin kecil di dalam rahimnya.
Kesadarannya perlahan mulai menipis, pandangannya kian menggelap, dan dadanya terasa kian sesak.
Di ambang batas pertahanannya sebelum pingsan, hanya ada satu bayangan pria yang melintas di pikirannya.
Pria posesif yang berjanji akan selalu melindunginya.
Di dalam kegelapan yang pekat itu, Liana hanya bisa membisikkan satu nama dengan sisa kesadarannya yang terakhir sebelum semuanya menjadi gelap total: "K-kenzo..."
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Langkah kaki Bunga terdengar santai saat ia berjalan melewati rimbunnya pepohonan menuju pintu depan markas.
Namun, begitu kakinya melangkah naik ke undakan, ia seketika membeku di ambang pintu.
Jantungnya mencelos berdegup kencang, dan seluruh kantong belanjaan di tangannya jatuh berserakan begitu saja.
Ia melihat markas kebanggaan mereka sudah porak-poranda seperti baru dihantam badai besar.
Kaca-kaca jendela pecah menjadi serpihan tajam di lantai, sofa digulingkan, dan lemari-lemari besar telah tumbang dengan isi yang berserakan di mana-mana.
Seketika, ingatan Bunga langsung tertuju pada satu nama. Liana. Kenzo menitipkan Liana di sini pagi tadi!
Tanpa memedulikan pecahan kaca yang bisa saja melukai sepatunya, Bunga berlari mengitari markas dengan kepanikan yang memuncak.
Ia memeriksa setiap sudut ruangan sembari berteriak histeris dengan suara yang melengking panik, "Liana! Liana! Kamu di mana?!"
Langkah kaki Bunga membawa dirinya ke area dapur privat di bagian belakang.
Di sana, napas Bunga tercekat. Ia hanya menemukan ceceran bahan makanan yang rusak—sayuran yang setengah terpotong, bumbu yang tumpah, dan wajan yang terguling di lantai.
Jejak perlawanan itu terasa begitu pekat, namun Liana menghilang tanpa jejak.
Ruangan itu kosong melompong, menyisakan keheningan yang mencekam.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit swasta besar di pusat kota.
Ceklek.
Pintu ruang operasi terbuka secara perlahan. Kenzo melangkah keluar dengan tubuh yang terasa lelah.
Peluh membasahi dahinya setelah berjam-jam fokus memimpin operasi besar yang mempertaruhkan nyawa pasien.
Ia melepaskan masker bedah dan sarung tangan karetnya, berniat menuju ruang pribadinya untuk membersihkan diri dan bersiap pulang demi menemui sang istri tercinta.
Namun, baru saja Kenzo melangkah ke koridor, sebuah suara dering yang sangat kencang dan berisik memecah keheningan.
Ponsel di saku celananya bergetar tanpa henti. Kenzo meraba sakunya dan mengernyitkan dahi saat melihat nama Bunga tertera di layar. Perasaan tidak enak mendadak menyengat dadanya.
Kenzo menggeser tombol hijau ke telinganya. "Halo, Bunga. Ada apa?" tanya Kenzo dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas.
Di seberang telepon, tidak ada jawaban tegas yang biasanya diberikan oleh bawahan kepercayaannya.
Yang terdengar hanyalah suara napas yang terengah-engah, diikuti oleh isak tangis yang tertahan hebat.
"B-bos..." Suara Bunga bergetar hebat di sela-sela tangisnya, memberikan laporan singkat yang seketika mematikan seluruh pasokan udara di paru-paru Kenzo.
"Bos... markas rusak parah... dan Liana... Liana menghilang!"
DEG!
Dunia di sekitar Kenzo seolah berhenti berputar dalam sekejap.
Seluruh lelah di tubuhnya menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh sarafnya, sebelum akhirnya berubah menjadi gelombang kemarahan yang luar biasa pekat.
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,
sehat2 selalu kak ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
sumpah kak Lo bikin deg degan