Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32 - Laporan Hari Ini
Keiko pulang dari rumah sakit keesokan paginya dengan satu syarat dari dokter: istirahat penuh satu hari lagi.
Syarat itu terdengar sederhana sampai Keiko melihat seragam sekolahnya tergantung rapi di lemari. Kemeja putih, rok abu-abu, dasi, semua benda yang biasanya membuatnya merasa seperti murid biasa. Hari itu, semua benda itu hanya bisa dilihat dari tempat tidur.
Bu Tuti masuk membawa bubur hangat dan air putih. "Jangan lihat seragam terus, Nduk. Nanti seragamnya merasa bersalah."
Keiko menarik selimut sampai dada. "Aku cuma lihat."
"Lihat juga bikin kepingin."
Kak Sari, yang tidur di sofa kamar dengan posisi sangat tidak anggun, membuka satu mata. "Kalau hari ini kamu nekat sekolah, gue lapor ke dokter, Bu Tuti, Pak Arif, dan semua satpam Bina Bangsa."
"Kak Sari sudah di kamar aku sejak jam berapa?"
"Sejak lu pingsan dan bikin gue tua lima tahun."
Keiko menutup mulut dengan selimut. "Maaf."
"Jangan minta maaf. Makan."
Nada Kak Sari kasar, tetapi tangannya yang mengambil mangkuk dari Bu Tuti sangat hati-hati. Keiko makan beberapa suap, pelan-pelan. Setiap suap masih perlu dihitung, tetapi setidaknya tidak langsung keluar lagi.
Ponselnya bergetar.
**Kelvin**: Masuk?
Keiko menatap layar, lalu mengetik.
**Keiko**: Tidak. Masih ada urusan keluarga.
Balasan datang cepat.
**Kelvin**: Keluarga kamu banyak urusan.
Keiko hampir tersedak bubur.
Kak Sari menyipit. "Siapa?"
"Kelvin."
"Jawab yang benar. Jangan bikin orang curiga karena kamu terlalu jago bohong tapi terlalu lemah akting."
Keiko menulis lagi.
**Keiko**: Iya. Keluarga aku memang rumit.
Kelvin membalas setelah beberapa detik.
**Kelvin**: Hari ini aku kirim laporan. Biar kamu nggak ketinggalan.
Laporan pertama datang saat jam istirahat.
Foto papan tulis, miring sedikit, dengan tulisan Pak Arif tentang peluang bersyarat. Di bawahnya ada pesan Kelvin.
**Kelvin**: Bagas sudah menyerah sebelum contoh kedua.
Lima menit kemudian, foto Bagas muncul. Wajahnya ditempeli plester kecil, ekspresinya tersinggung, tangan menunjuk buku seperti sedang menuntut keadilan.
**Kelvin**: Dia bilang luka fisik masih bisa sembuh, tapi peluang tidak manusiawi.
Keiko tertawa pelan sampai Bu Tuti yang sedang melipat baju menoleh.
"Apa, Nduk?"
"Bagas."
"Anak yang ramai itu?"
"Iya."
"Syukurlah masih ramai. Berarti tidak apa-apa."
Keiko menatap foto itu lebih lama. Bagas masih bisa ribut. Dimas masih terlihat di sudut foto, menunduk menulis, mungkin pura-pura tidak kenal. Di belakang mereka, kursi Keiko kosong.
Kelvin mengirim foto berikutnya bukan saat kelas, melainkan sore hari.
Langit Bandung dari pinggir jalan Dago, warna jingga tipis di antara kabel listrik. Di bagian bawah foto, ujung spion motor terlihat. Foto itu buram karena ponsel bekas Kelvin tidak terlalu bagus, tetapi warna langit tetap masuk.
**Kelvin**: Sunset hari ini.
Keiko duduk di tempat tidur, punggung bersandar pada bantal. Di luar jendela kamarnya, langit sudah hampir gelap dan tertutup atap rumah tetangga. Dia tidak bisa melihat matahari terbenam dari sana.
Namun Kelvin mengirimkannya.
Keiko menyimpan foto itu.
**Keiko**: Bagus.
**Kelvin**: Cuma bagus?
Keiko melihat kalimat itu, lalu teringat dirinya setelah menari di panggung, bertanya hal yang sama.
Dia tersenyum.
**Keiko**: Lebih dari bagus.
Kelvin tidak membalas dengan kata-kata. Dia mengirim voice note pendek. Ketika Keiko memutarnya, suara angin lebih dulu terdengar, lalu suara Kelvin yang rendah.
"Nona Guru, besok kalau masuk, aku tunjukin tempatnya."
Keiko memutar voice note itu dua kali.
Malamnya, kelas belajar berubah menjadi layar ponsel.
Kelvin membuka video call tanpa menyalakan lampu terlalu terang. Di belakangnya, kontrakan Dago terlihat sederhana, dinding putih, meja belajar penuh buku, dan Yuan Yuan yang duduk di atas tumpukan kertas seolah dialah pemilik semua catatan.
"Yuan Yuan tambah gendut," kata Keiko.
Kelvin menoleh ke kucing hitam itu. "Dia dengar."
"Bagus. Biar tahu."
Yuan Yuan mengeong, tepat seperti membalas.
Keiko tertawa kecil. Tubuhnya masih lemah, jadi tertawa pun harus pelan. Dia memposisikan ponsel agak tinggi, hanya memperlihatkan wajah dan headboard kamar, bukan infus bekas di punggung tangan yang masih ditutup plester kecil.
"Kamu di kamar?" tanya Kelvin.
"Iya."
"Lampunya redup banget."
"Mata aku agak pusing."
Itu bukan bohong sepenuhnya.
Kelvin memperhatikannya dari layar. Luka di wajahnya mulai memudar, tetapi belum hilang. Keiko ingin bertanya apakah masih sakit. Kelvin mungkin ingin bertanya hal yang sama. Akhirnya mereka sama-sama tidak bertanya.
"Buka buku," kata Kelvin.
Keiko berkedip. "Aku yang biasanya bilang begitu."
"Hari ini aku guru pengganti."
"Galak?"
"Lebih galak."
Namun ketika Keiko salah menyalin angka karena tangannya masih lemas, Kelvin tidak memarahinya. Dia hanya menunggu, lalu berkata, "Pelan-pelan."
Mereka belajar empat puluh menit. Sebenarnya lebih banyak diam daripada belajar. Keiko mengerjakan dua soal, Kelvin memperbaiki satu tanda negatif, Yuan Yuan menjatuhkan penghapus, dan dari jauh terdengar Bagas mengirim voice note ke grup kelas berisi keluhan panjang tentang tugas refleksi Pak Arif.
Sebelum tidur, Kelvin mengirim satu pesan lagi.
**Kelvin**: Mulai sekarang, kalau nggak masuk, aku kirim laporan hari ini.
Keiko menatap kalimat itu. Di luar kamar, Bu Tuti mematikan lampu lorong. Kak Sari berbicara pelan di telepon, mungkin dengan klien, mungkin hanya memastikan tidak ada yang mengganggu Keiko besok.
Keiko mengetik balasan.
**Keiko**: Kalau kamu terluka, kamu juga kirim laporan.
Balasan Kelvin datang setelah jeda kecil.
**Kelvin**: Iya.
Tidak ada janji besar. Tidak ada kalimat manis.
Tapi malam itu, sebelum tidur, Keiko membuka lagi foto sunset dari Kelvin dan menyimpannya ke folder khusus di galeri ponsel.
Nama folder itu sederhana.
**Langit dari Kelvin.**