NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Suasana di ruang tamu kembali hening. Suami Dewi mengusap wajahnya berkali-kali. Matanya memerah, bukan karena marah, melainkan karena diliputi kebingungan. Ia memandang istrinya dengan sorot mata yang lelah. "Dewi... Aku juga tidak tahu harus bagaimana." Suaranya terdengar lirih. "Aku bukan tidak peduli pada Mida. Aku juga sedih melihat keadaannya. Tapi..." Ia menoleh ke arah kamar tempat Nurul sedang tidur. "Aku takut."

Dewi terdiam.

"Aku takut anak kita yang kena imbas semua ini." Tangannya mengepal pelan. "Kamu tahu sendiri siapa yang sedang mereka hadapi. Haji Kosim." Nama itu membuat suasana semakin sunyi. Suami Dewi melanjutkan, "Kamu tahu sendiri betapa kaya keluarganya. Betapa dihormatinya mereka di kampung ini. Belum lagi anaknya yang seorang pejabat. Aku ini hanya orang biasa. Usaha kita kecil. Kalau benar ada orang yang ingin mempersulit hidup kita...apa yang bisa kita lakukan?" Air matanya mulai menggenang. "Aku bukan takut untuk diriku sendiri. Aku takut untuk kamu. Aku takut untuk Nurul."

Dewi memandang suaminya dengan penuh iba. Kini ia mengerti. Kemarahan suaminya selama ini ternyata lahir dari rasa takut, bukan kebencian kepada Mida. Dewi menggenggam kedua tangan suaminya. "Bang... Aku paham ketakutanmu. Sebagai ayah, wajar kalau kamu memikirkan keselamatan Nurul. Tapi aku juga tidak sanggup meninggalkan Mida. Dia sudah kehilangan segalanya. Kalau kita juga menutup pintu untuknya....dia mau ke mana lagi?"

Suaminya menghela napas panjang. "Aku tahu."

Dewi mengusap air mata yang mulai jatuh. "Kita tidak perlu memilih antara menyelamatkan keluarga kita atau meninggalkan Mida. Kita cari jalan agar keduanya bisa kita perjuangkan. Kalau memang ada ancaman atau tindakan yang tidak sesuai hukum terhadap usaha kita, biarkan Bang Fandi membantu menempuh jalur yang benar."

Suaminya mengangguk pelan. "Aku harap masih ada jalan."

Dewi menggenggam tangannya lebih erat. "Selama kita saling menguatkan, InsyaAllah akan ada jalan."

***

Setelah berpamitan dari rumah Dewi, Mida kembali menempati gubuk kecil yang pernah menjadi tempat tinggalnya bersama Harapan. Rumah itu terasa begitu sunyi. Di setiap sudut, kenangan tentang putranya masih begitu kuat.

Menjelang malam, Mida selesai menunaikan salat Isya. Ia baru saja hendak beristirahat ketika, di tempat lain, ponselnya digunakan tanpa sepengetahuannya oleh seseorang yang telah menggandakan nomor dan identitas komunikasinya.

Sebuah pesan terkirim kepada Fandi. "Bang, saya ketakutan. Tolong datang ke gubuk sekarang. Ada hal penting."

Fandi yang sedang memeriksa berkas perkara langsung berdiri. Ia tidak menaruh curiga. Ia mengira Mida benar-benar sedang dalam bahaya. Tanpa menunggu lama, ia segera menuju gubuk itu. Beberapa menit kemudian... "Assalamu'alaikum."

Mida yang mendengar suara Fandi segera membuka pintu. "Wa'alaikumussalam." Ia tampak heran. "Bang? Kok malam-malam ke sini?"

Fandi mengangkat ponselnya. "Ibu yang mengirim pesan meminta saya datang."

Mida menggeleng. "Saya tidak mengirim pesan apa pun."

Keduanya saling berpandangan. Wajah Fandi berubah serius. "Kalau begitu..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Brak! Puluhan orang datang ke halaman sambil membawa senter. "Ada mereka!"

"Ketahuan!" Suasana mendadak kacau.

Mida dan Fandi sama-sama terkejut. "Apa-apaan ini?" tanya Fandi.

Beberapa orang langsung menunjuk mereka. "Kalian berdua berduaan tengah malam! Memalukan!"

Mida melangkah maju. "Berhenti! Ini semua fitnah! Tadi Bang Fandi datang karena mendapat pesan yang bukan saya kirim."

Namun sebagian orang sudah terlanjur terbawa emosi. Beberapa oknum terus memprovokasi warga.

"Alasan saja!"

"Hukum mereka!"

"Orang kampung tidak boleh berbuat seperti ini!"

Di tengah keramaian itu, beberapa warga justru saling berpandangan. Mereka mengenal Mida. Salah seorang warga tua berbisik, "Aneh... Mida bukan perempuan seperti itu."

Warga lain mengangguk. Namun suara-suara yang meragukan tuduhan itu tenggelam oleh teriakan beberapa provokator.

Mida menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. "Cara kalian benar-benar kotor. Kalian tidak bisa menghentikan perjuanganku lewat hukum, lalu sekarang kalian memilih menghancurkan nama baikku."

Suasana kembali gaduh. Fandi berdiri di depan Mida, berusaha melindunginya dari kerumunan. "Saya datang karena mendapat pesan yang saya yakini berasal dari Bu Mida. Saya tidak tahu pesan itu palsu. Tolong gunakan akal sehat."

"Perempuan mesum!"

"Berani sekali dia membawa laki-laki asing ke kampung ini."

"Perempuan ini, sudah diuji Tuhan dengan kematian anaknya, malah sekarang menggatal membawa pemuda lain ke sini. Kalian pasti mau berbuat tidak senonoh!"

"Iya, tadi saya lihat posisi mereka sudah terlalu dekat!" tiba-tiba salah seorang bersaksi seolah melihat Mida dan Fandi melakukan perbuatan terlarang.

"Tidak benar, aku dan Bang Fandi nggak ngapa-ngapain." Mida mencoba membela diri, namun suaranya kalah.

Tuduhan-tuduhan itu semakin membuat posisi Mida terdesak. Usulan untuk mengusir Mida dari kampung ini semakin kuat hingga ia benar-benar ketakutan. amarah massa semakin sulit dikendalikan. Beberapa tokoh kampung berusaha menenangkan keadaan tapi tidak berhasil.

Muncul desakan agar mereka berdua dinikahkan saja agar Fandi bisa membawa Mida dari kampung ini sebab mereka khawatir akan mendatangkan malapetaka akibat berbuat mesum.

Fandi memejamkan mata beberapa saat. Ia menyadari bahwa apa pun penjelasan yang diberikan malam itu tidak akan mudah diterima oleh orang-orang yang sudah terprovokasi. Ia kemudian berkata dengan suara tegas, "Saya tidak akan membiarkan nama baik Bu Mida terus diinjak."

Semua orang terdiam. Fandi melanjutkan, "Saya siap bertanggung jawab atas kehormatan beliau." Ia menoleh kepada Mida. "Lalu, saya akan melamar beliau secara baik-baik apabila beliau berkenan. Namun keputusan itu harus lahir dari kehendak kami berdua, bukan karena tekanan atau paksaan siapa pun."

Mida menatap Fandi dengan terkejut. Sementara beberapa warga mulai saling berbisik. Malam itu, ketegangan belum benar-benar reda.

Paman kandung Mida yang juga ayahnya Joni, sejak tadi berada di sana memandang keponakannya. "Keputusan ada di tanganmu, Mida." Lelaki tua yang sebenarnya bertanggung jawab atas keponakannya itu tak dapat melakukan apapun selain berharap, jika Fandi benar-benar mau menikahi Mida, maka kebahagiaan bisa didapatkan Mida.

Sebagai paman, ia memang sangat lemah, sekedar melindungi Mida dari keluarganya saja ia tak mampu. Maka harapan terakhirnya hanya pada lelaki asing yang selama beberapa bulan ini mendampingi Muda secara hukum.

Mida memejamkan mata sejenak. Ia teringat semua yang telah dilalui. Fandi yang mempertaruhkan keselamatannya. Fandi yang dipukuli karena membelanya. Fandi yang tetap bertahan mendampinginya saat semua orang menjauh.

Kalau ia menolak pernikahan ini, Mida sangat yakin ia akan semakin dipersekusi, atau malah tak akan pernah bisa bertemu Fandi lagi sebab hukuman untuk pelaku zina di kampung ini kalau tidak ada pernikahan maka harus mau diasingkan di hutan pinggir kampung. Maka dengan segala keterbatasan akhirnya Mida mau menikah dengan Fandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!