Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Dasar Gerak yang Terlihat
Hartono juga mulai melihatnya.
Kesadaran itu tidak memberi Bunga kesempatan untuk bernapas lega. Justru setelah kata "menarik" keluar dari mulut Hartono, setiap gerakan kecil di tubuhnya terasa seperti sedang dipantau. Cara ia mengambil air. Cara ia menaruh sendok. Cara ia tidak menatap terlalu lama.
"Jangan berubah," kata Rangga.
"Mudah sekali ngomong dari dalam kepala orang."
"Saya juga sedang berada di dalam kepala orang yang duduk satu meja dengan Hartono. Situasi kita sama-sama tidak menyenangkan."
Bunga nyaris tertawa, tetapi menahannya. Di seberang meja, Ratih masih memandang seperti sedang menunggu retak berikutnya.
Makan malam berakhir tidak sekaligus. Keluarga Prawira tidak bubar setelah dessert. Mereka berpindah ke ruang tengah dan teras belakang, sebagian membawa teh, sebagian kopi, sebagian obrolan bisnis yang dibungkus suara keluarga. Lampu taman menyala hangat. Di dekat pintu kaca, anak kecil yang tadi hampir jatuh kembali bermain dengan mobil-mobilan, kali ini bersama dua sepupunya.
Melati berdiri di samping Bunga, terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
"Kamu kuat?" bisiknya.
"Kalau aku bilang tidak, kamu bisa mengusir semua orang?"
"Aku bisa pura-pura sakit perut dan menyeret kamu pulang."
"Jangan. Sayang makanannya."
Melati menatapnya, lalu tertawa kecil. Namun matanya tetap cemas.
Baskara mendekat membawa segelas air putih. Ia menyodorkannya pada Bunga tanpa banyak kata.
"Minum."
Bunga menerima gelas itu. "Terima kasih."
"Kamu pucat sejak tadi."
"Lampunya mahal. Mungkin wajah saya kalah bersaing."
Baskara tidak tersenyum. Ia melirik ke arah Hartono yang sedang berbicara dengan dua pria tua di teras. "Paman saya memang membuat banyak orang tegang."
"Saya tidak bilang saya tegang."
"Saya juga tidak bilang kamu bilang."
Jawaban itu terlalu mirip cara orang kaya menghindar, tetapi nadanya tidak mengejek. Bunga meminum airnya. Dingin menuruni tenggorokan, menahan rasa mual yang belum benar-benar pergi.
Hartono menoleh lagi.
Tidak lama. Cukup untuk membuat punggung Bunga menegang.
"Dia masih memperhatikan," kata Rangga.
"Aku tahu."
"Itu berarti kamu berhasil masuk daftar ingatannya."
"Aku tidak yakin ingin masuk daftar apa pun milik dia."
"Kita perlu dia melihatmu. Tapi tidak terlalu dalam."
Terlalu dalam. Bunga menatap pantulan dirinya di pintu kaca. Gaun pinjaman. Rambut rapi. Senyum setengah sopan. Di bawah semua itu ada kaki yang masih hafal lantai tanah halaman Nenek Ratna, tangan yang hafal menahan pukulan bambu, dan dada yang menyimpan nama orang mati.
Tawa anak-anak pecah di dekat tangga kecil menuju taman.
Mobil-mobilan merah meluncur terlalu jauh, menabrak kaki meja kecil tempat pelayan baru saja meletakkan nampan gelas. Salah satu anak, bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun, mengejarnya tanpa melihat lantai. Sandalnya menginjak genangan tipis dari teh yang tumpah. Tubuh kecil itu tergelincir ke samping, tepat di tepi anak tangga.
Semua terjadi lebih cepat daripada teriakan pengasuh.
Bunga bergerak.
Bukan lari. Bukan melompat dramatis. Tubuhnya turun satu tingkat, kaki kanan menahan berat, tangan kiri menyambar pergelangan bocah itu, tangan kanan menahan punggungnya sebelum kepala kecil itu menghantam sudut meja. Nampan gelas ikut miring. Dengan ujung kaki, Bunga menahan kaki meja agar tidak bergeser.
Gelas berdenting keras.
Teh menetes ke lantai.
Bocah itu membeku di lengan Bunga, matanya membulat, bibirnya siap menangis.
"Hei," kata Bunga pelan, langsung menurunkan suara. "Mobilnya menang, kamu hampir kalah. Mau balapan ulang setelah lantainya kering?"
Bocah itu terisak sekali, lalu melihat mobil merah di lantai.
Pengasuh datang dengan wajah pucat. "Aduh, maaf, maaf, Non, saya lengah."
"Tidak apa-apa." Bunga menyerahkan anak itu pelan. "Pegang bagian belakang bajunya dulu. Lantainya licin."
Baru setelah anak itu aman, Bunga sadar ruangan sangat sunyi.
Ia masih dalam posisi rendah, satu lutut hampir menekuk, telapak kaki terkunci rapi. Posisi dasar yang sudah ditanam Nenek Ratna ribuan kali.
Rangga berkata, sangat datar, "Berdiri pelan."
Bunga berdiri pelan.
Melati memegang lengannya begitu ia tegak. "Kamu tidak apa-apa?"
"Anaknya yang hampir tidak apa-apa."
"Tanganmu kena meja."
Bunga baru merasakan perih di punggung tangannya. Ada goresan tipis, mungkin dari sudut nampan. Darah belum keluar banyak, hanya garis merah yang makin panas.
Baskara menatap tangannya, lalu anak tangga, lalu posisi kaki Bunga. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Kamu belajar bela diri?" tanyanya.
Ratih segera masuk, suaranya manis. "Wah, ternyata bukan cuma keluarga militer. Ada latihan khusus juga?"
Beberapa orang menunggu jawaban. Di ujung teras, Hartono sudah berhenti berbicara.
Bunga merasakan napasnya kembali pendek.
Rangga berkata, "Pilih jawaban yang tidak berbohong penuh."
Bunga menatap bocah yang kini memeluk pengasuhnya. Lalu ia mengangkat tangan yang tergores dan tersenyum seolah ini hanya hal kecil.
"Nenek saya dulu keras soal cara jatuh," katanya. "Katanya, kalau tidak bisa mencegah jatuh sendiri, minimal jangan jatuhkan orang lain."
Melati langsung berkata, "Itu masuk akal. Aku pernah jatuh di mal karena lantai licin dan tidak ada yang segesit Bunga."
"Kamu jatuh karena lihat diskon," gumam Bunga.
Melati mencubit lengannya pelan, tetapi tawa kecil menyebar. Ketegangan turun sedikit.
Tidak pada Hartono.
Ia berjalan mendekat dengan langkah berat yang terukur. Suara kaki prostetiknya nyaris tidak terdengar, tetapi Bunga merasakannya di kulit. Semua orang memberi ruang tanpa diminta.
Hartono berhenti dua langkah di depan Bunga.
"Gerakanmu bersih," katanya.
Bunga menunduk sopan. "Refleks saja, Pak."
"Refleks orang berbeda-beda. Ada yang menjerit. Ada yang mundur. Ada yang menghitung jarak sebelum bergerak."
Punggung Bunga dingin.
Rangga berkata, "Jangan bantah. Jangan jelaskan."
"Mungkin saya takut anak itu terluka," kata Bunga.
Hartono menatapnya, lalu bocah yang sudah aman, lalu kembali ke Bunga. "Takut bisa membuat orang beku. Bisa juga membuat orang berguna."
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi di mulutnya terasa seperti tanda kepemilikan yang baru ditempel di punggung Bunga.
Ratih berdiri di samping, senyumnya menegang.
"Paman sepertinya sangat tertarik dengan Bunga," katanya ringan.
Hartono tidak menoleh pada Ratih. Matanya tetap pada Bunga.
"Gadis ini," katanya, perlahan, "ada sesuatu."
Ruang tengah menjadi terlalu hangat.
Bunga ingin mengatakan bahwa sesuatu itu adalah luka yang ia tinggalkan. Bahwa dasar gerak yang baru saja ia lihat berasal dari perempuan tua yang mati karena orang-orangnya. Bahwa jika bukan karena Rangga menahan dan Melati berdiri di sebelahnya, mungkin ia sudah melempar gelas ke wajahnya.
Namun ia hanya tersenyum.
"Semoga sesuatu yang tidak merepotkan, Pak."
Hartono tertawa rendah. "Kita lihat nanti."
Kata nanti itu mengikuti Bunga sampai akhir malam.
Melati benar-benar memakai alasan sakit kepala untuk mengeluarkannya dari rumah Prawira lebih cepat. Baskara mengantar mereka sampai foyer. Ia sempat berkata, "Terima kasih untuk tadi." Bunga mengangguk. Ratih tidak ikut mengantar, tetapi Bunga melihat bayangannya di lantai dua, berdiri diam di balik pagar tangga.
Di mobil, Melati menggenggam tangan Bunga yang tidak terluka.
"Kamu gemetar," katanya.
"AC mobilmu terlalu dingin."
"Bohong."
"Iya."
Melati tidak memaksa. Ia hanya menaruh tisu di atas luka Bunga dan meminta sopir berhenti di depan gang kos, bukan tepat di depan pagar, seperti biasa agar tidak menarik perhatian tetangga.
Setelah pintu kamar kos tertutup, tubuh Bunga akhirnya menyerah.
Ia duduk di lantai, punggung menempel pada ranjang, clutch jatuh di samping kaki. Wayang kulit miniatur keluar setengah dari kainnya. Tangannya gemetar begitu keras sampai tisu di atas luka bergeser.
Rangga tidak langsung bicara.
Bunga menatap garis merah di tangannya. "Dia berdiri dua langkah dari aku."
"Saya tahu."
"Dia bicara seperti orang baik."
"Saya tahu."
"Dia bilang aku ada sesuatu."
"Kamu memang ada sesuatu."
Bunga memejamkan mata. Napasnya patah sekali, bukan tangis penuh, hanya retakan yang gagal ditahan.
"Kamu melakukannya dengan baik," kata Rangga.
Bunga menekan wayang kecil itu ke telapak tangannya.
"Aku benci dia."
Suara Rangga turun, pelan dan dingin.
"Aku juga."