NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Tes DNA dilakukan dua hari kemudian.

Raka memilih laboratorium independen yang biasa menangani sengketa keluarga besar dan kasus hukum. Pak Surya setuju. Maya juga meminta satu syarat tambahan: sampel diambil di hadapan dua pihak hukum, disegel, dan hasil dikirim langsung ke tiga alamat resmi: dirinya, Pak Surya, dan notaris netral.

"Kamu belajar cepat," kata Raka di mobil.

Maya menatap jalan. "Saya belajar karena orang-orang di sekitar saya terlalu kreatif berbuat buruk."

Bima yang duduk di depan nyaris batuk.

Raka tampak puas. "Kalimat bagus."

"Jangan bangga. Ini menyedihkan."

"Tetap bagus."

Laboratorium itu berada di gedung medis swasta. Pak Surya datang lebih dulu, didampingi pengacara keluarga. Wajahnya terlihat lelah. Sabrina tidak ikut.

Maya tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau justru curiga.

Pak Surya berdiri saat melihatnya.

"Bu Maya."

Maya mengangguk. "Pak."

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap. Jika pria itu benar ayahnya, mereka telah kehilangan lima puluh tahun. Jika bukan, maka rasa tegang ini hanyalah kesalahpahaman yang sangat menyakitkan.

Petugas laboratorium menjelaskan prosedur. Sampel diambil dari bagian dalam pipi. Sederhana, cepat, hampir tidak terasa. Namun bagi Maya, kapas kecil yang menyentuh mulutnya terasa seperti benda yang akan membelah hidupnya menjadi sebelum dan sesudah.

Pak Surya menjalani prosedur yang sama.

Setelah segel dipasang, Raka memeriksa nomor sampel satu per satu. Pengacara Pak Surya juga memeriksa. Tidak ada celah.

Maya duduk di kursi tunggu setelahnya, merasa seluruh tenaganya habis.

Pak Surya mendekat.

"Boleh saya duduk?"

Maya ragu, lalu mengangguk.

Raka berdiri tidak jauh, memberi ruang tapi tetap mengawasi.

Pak Surya duduk di sebelah Maya.

"Alya suka teh melati," katanya tiba-tiba.

Maya menoleh.

"Dia tidak suka kopi. Katanya kopi membuat orang bicara terlalu cepat. Kalau marah, dia diam. Kalau sedih, dia merapikan apa pun di sekitarnya."

Maya terdiam.

Ia juga sering merapikan rumah ketika sedih.

Pak Surya tersenyum getir. "Kamu mirip dia saat menahan diri."

"Bapak masih mencintainya?"

Pertanyaan itu keluar tanpa rencana.

Pak Surya menatap lantai.

"Saya hidup lama setelah kehilangannya. Menikah, membesarkan Sabrina, membangun perusahaan. Tapi ada beberapa penyesalan yang tidak pernah benar-benar pergi."

"Sabrina anak kandung Bapak?"

Pak Surya diam terlalu lama.

Maya langsung memahami jawabannya.

"Dia diangkat?"

"Dia anak dari kerabat jauh istri saya. Kami membesarkannya sejak bayi. Secara hukum dia anak saya."

"Dia tahu?"

"Tahu."

Maya memejamkan mata.

Tidak heran Sabrina takut.

"Kalau saya benar anak Bapak, apa yang akan terjadi padanya?"

Pak Surya menatap Maya dengan sedih.

"Tidak ada yang harus terjadi jika dia tidak memilih merusak semuanya."

Maya tertawa pelan. "Itu jawaban yang juga sering Mas Raka pakai."

Pak Surya melihat ke arah Raka.

"Raka keras, tapi dia tidak pengecut. Itu lebih baik daripada banyak laki-laki di lingkungan kami."

Maya menangkap rasa bersalah dalam kalimat itu.

"Bapak merasa dulu pengecut?"

"Ya."

Jawaban itu tidak membela diri.

Maya tidak tahu harus marah atau menghargai kejujurannya.

Sebelum percakapan berlanjut, pintu ruang tunggu terbuka.

Sabrina masuk.

Raka langsung bergerak mendekat.

Pak Surya berdiri. "Sabrina, aku sudah bilang jangan datang."

Sabrina tersenyum. "Aku anak Papa. Tes sebesar ini menyangkut keluarga kita. Kenapa aku tidak boleh tahu?"

Matanya jatuh pada Maya.

"Bu Maya terlihat pucat. Proses menjadi calon ahli waris melelahkan?"

Raka berkata, "Keluar."

Sabrina menatapnya. "Ini bukan gedungmu, Raka."

"Tapi aku bisa membuatmu dikeluarkan."

Pak Surya menegang. "Sabrina, cukup."

Sabrina tertawa kecil. "Papa sudah membelanya bahkan sebelum hasil keluar."

"Aku membela kesopanan."

"Kesopanan?" Mata Sabrina memerah. "Perempuan ini masuk ke hidup kita membawa surat tua, lalu semua orang langsung percaya. Bagaimana kalau dia penipu?"

Maya berdiri pelan.

Raka langsung memegang lengannya.

Maya menatap Sabrina.

"Saya tidak datang mencari keluargamu. Pak Surya yang mencari saya."

"Tentu. Cerita yang bagus."

"Kalau hasilnya membuktikan saya bukan siapa-siapa bagi Pak Surya, saya akan pergi dari urusan keluargamu."

Sabrina melangkah mendekat.

"Dan kalau hasilnya sebaliknya?"

Maya menahan napas.

Sabrina berbisik tajam, cukup keras untuk didengar semua orang.

"Kamu akan mengambil tempatku?"

Maya melihat ketakutan di balik kebencian itu.

Untuk sesaat, ia hampir kasihan.

"Tempat yang harus dijaga dengan menyakiti orang lain mungkin sejak awal tidak pernah benar-benar aman."

Wajah Sabrina berubah.

Tangannya terangkat.

Raka menangkap pergelangan tangannya sebelum menyentuh Maya.

Gerakannya cepat dan keras.

"Jangan."

Sabrina meringis. "Lepaskan."

Pak Surya tampak terpukul. "Sabrina!"

Raka melepaskan tangan Sabrina dengan dorongan kecil. "Kali berikutnya kamu mengangkat tangan pada istriku, aku tidak peduli siapa ayahmu."

Sabrina menatap Maya dengan air mata marah.

"Kamu benar-benar hebat. Semua laki-laki membelamu."

Maya menjawab pelan, "Mungkin karena kali ini kamu salah."

Sabrina tertawa getir, lalu berbalik pergi.

Pak Surya memanggilnya, tapi ia tidak menoleh.

Setelah Sabrina pergi, ruangan terasa berat. Pak Surya duduk kembali, wajahnya seolah menua beberapa tahun.

"Maaf."

Maya tidak menjawab langsung.

Ia tahu rasa sakit menjadi orang tua dari anak yang melukai orang lain. Dalam hal itu, ia dan Pak Surya mungkin lebih mirip daripada yang ia kira.

"Pak Surya," katanya, "kalau Sabrina melakukan sesuatu setelah ini, Bapak harus memilih berdiri di mana."

Pak Surya menatapnya.

"Saya tahu."

Raka membawa Maya pulang setelah itu.

Di mobil, Maya tampak sangat lelah.

"Kamu menyesal melakukan tes?" tanya Raka.

"Tidak."

"Kamu takut pada hasilnya?"

"Iya."

"Takut menjadi putri Pak Surya?"

Maya menggeleng.

"Takut melihat Sabrina menjadi seperti Dimas."

Raka memahami.

Anak yang takut kehilangan tempat, lalu menyerang ibu atau ayah yang pernah membesarkannya. Luka itu terlalu dekat dengan Maya.

Ia menggenggam tangan Maya.

"Kamu tidak bertanggung jawab atas pilihan Sabrina."

"Saya tahu."

"Tapi?"

"Tapi saya tetap sedih."

Raka menatapnya lama.

"Kamu terlalu mudah sedih untuk orang yang menyakitimu."

"Mas Raka terlalu mudah ingin menghancurkan orang."

"Itu lebih efisien."

Maya menatapnya, lalu tertawa kecil.

Di tempat lain, Sabrina masuk ke mobilnya dan membanting pintu.

Ia menelepon Bu Ratna.

"Kita percepat."

Bu Ratna bertanya dari seberang, "Apa maksudmu?"

"Kalau hasil tes keluar, semuanya terlambat. Maya harus jatuh sebelum itu."

"Bagaimana?"

Sabrina menatap gedung laboratorium dari balik kaca mobil.

"Buat dia percaya Dimas dalam bahaya. Dia akan datang. Ibu seperti dia selalu datang untuk anak durhaka sekalipun."

Bu Ratna diam.

Lalu berkata, "Aku tahu caranya."

Ia meminta sopir memutar arah ke salon langganannya, bukan karena rambutnya perlu ditata. Ia butuh tempat untuk berpikir tanpa telinga keluarga Wijaya.

Di ruang privat, Sabrina membuka berkas lama tentang Dimas. Utang kartu kredit, kegagalan bisnis kecil, rasa malu pada pekerjaan Maya, semua tersusun seperti garis lemah pada kaca.

Lelaki yang malu pada ibunya bisa dibuat merasa bersalah.

Lelaki yang merasa bersalah bisa dibuat panik.

Dan lelaki yang panik mudah diarahkan ke tempat yang salah.

Sabrina menutup map itu.

"Kalau Maya terlalu sulit disentuh lewat Raka," katanya pada pantulan cermin, "maka sentuh dia lewat anak yang masih membuatnya menangis."

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!