Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028: Tidak Gemetar Lagi
Dimas menunggu Nadia di depan kontrakan Sari malam itu.
Ia tidak menelepon dulu. Tidak mengirim pesan. Ia berdiri di dekat pagar kecil dengan wajah lelah dan marah yang dicampur menjadi satu. Di tangannya ada helm. Motornya diparkir terlalu dekat dengan pintu, seperti ia sengaja membuat Nadia tidak bisa masuk tanpa melewatinya.
Nadia baru turun dari ojek online ketika melihatnya.
Sopir ojek melirik. "Aman, Mbak?"
Nadia menatap Dimas, lalu menjawab cukup keras, "Aman. Saya rekam kalau tidak aman."
Dimas mendengar. Wajahnya makin gelap.
Ojek pergi setelah Nadia masuk ke halaman. Ia tidak membuka pagar sepenuhnya. Ia berdiri di sisi dalam, Dimas di luar.
"Kamu datang tanpa janji," kata Nadia.
"Aku suamimu."
"Kalau mau bicara, kirim pesan dulu."
"Jadi sekarang aku harus bikin janji untuk ketemu istri sendiri?"
"Istri yang kamu kunci dari rumah."
Dimas menahan rahang. "Aku datang baik-baik."
"Motormu menghalangi pintu."
Ia menoleh, baru sadar posisi motornya. Atau pura-pura baru sadar. Ia menggesernya sedikit, tetapi tidak pergi.
Sari belum pulang dari kios. Ayu masih di kios sebelah, tetapi pintunya sudah setengah tertutup. Nadia melihat bayangan Ayu bergerak di balik kaca. Ia tahu ia tidak benar-benar sendiri.
"Bicaralah," kata Nadia. "Lima menit."
"Di luar begini?"
"Iya."
"Nad, jangan mempermalukan aku terus."
"Kalau kamu tidak suka malu, jangan melakukan hal yang memalukan."
Dimas menarik napas panjang. "Aku tahu kamu lihat aku dengan Livia."
"Bagus. Aku tidak perlu menjelaskan."
"Dia cuma rekan kerja."
"Rekan kerja yang memanggilmu Mas."
"Banyak orang memanggil begitu."
"Banyak orang juga memakai tasku?"
Dimas memejamkan mata. "Aku salah soal tas. Aku sudah kembalikan."
"Tanpa gantungan."
"Ya Allah, Nad, cuma gantungan."
Nadia menatapnya. Dulu ia akan tersakiti karena Dimas meremehkan benda kecil. Sekarang ia justru merasa jelas. Laki-laki itu tidak mengerti bahwa yang hilang bukan logam kecil berbentuk huruf. Yang hilang adalah batas.
"Itu namaku," katanya.
Dimas terdiam.
"Kamu memberi barangku pada perempuan lain, lalu saat aku bertanya, kamu bilang cuma gantungan."
"Aku panik. Livia membantu proyek. Dia ulang tahun. Aku ambil tas itu tanpa pikir panjang."
"Tanpa pikir panjang atau karena kamu yakin aku tidak akan berani bertanya?"
Dimas menatapnya. Kali ini tidak ada jawaban cepat.
Nadia mengaktifkan perekam suara di ponsel dan meletakkannya di atas pagar. Gerakannya jelas.
"Aku rekam."
"Selalu rekam. Selalu bukti. Kamu berubah jadi dingin."
"Aku berubah jadi tidak mudah dibohongi."
Dimas mendekat ke pagar. "Aku masih sayang kamu."
"Jangan pakai kalimat itu sebelum menjawab perhiasanku di mana."
"Masih diurus."
"Tempatnya?"
"Aku belum bisa bilang."
"Karena?"
"Karena bukan cuma aku yang urus."
"Bu Marni?"
Dimas diam.
"Atau Livia?"
"Jangan bawa dia."
Nadia tertawa pelan. "Kamu yang membawanya masuk ke tasku."
Dimas memukul pagar dengan telapak tangan. Tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat suara besi bergetar. Ayu membuka pintu kios sebelah.
"Mbak Nadia?"
Nadia tidak menoleh. "Aku aman, Ayu. Tolong tetap di sana."
Dimas melihat Ayu, lalu menurunkan suara. "Kamu mau semua orang ikut campur?"
"Kamu datang ke kontrakan ibuku tanpa janji. Kamu yang membawa urusan ini ke depan orang."
"Aku cuma mau kamu pulang."
Kalimat itu keluar lebih pelan. Untuk sesaat, wajah Dimas tampak seperti laki-laki yang dulu Nadia cintai. Lelah, bingung, hampir rapuh.
"Pulang ke mana?" tanya Nadia.
"Ke rumah kita."
"Rumah yang kuncinya kamu ganti?"
"Aku ganti karena emosi."
"Kamu memberi tasku karena emosi. Menggadaikan perhiasanku karena kebutuhan. Transfer uang karena keluarga. Dekat dengan Livia karena kerja. Semua ada nama halusnya."
Dimas menatapnya. "Kamu mau apa dariku?"
Nadia menarik napas.
Pertanyaan itu dulu ia tunggu. Ia punya daftar panjang: minta maaf kepada Mama, kembalikan barang, pilih aku di depan ibumu, berhenti menyembunyikan uang, berhenti membuatku merasa gila.
Sekarang daftar itu terasa terlalu lelah.
"Jawab somasi. Kembalikan perhiasan. Hadir di proses hukum. Jangan datang tanpa janji. Jangan hubungi aku kecuali tertulis."
"Itu bukan jawaban istri."
"Itu jawaban orang yang sudah terlalu lama kamu jadikan istri tanpa hak."
Dimas tertawa pahit. "Jadi kamu benar-benar mau cerai."
"Iya."
Kata itu keluar.
Tidak keras. Tidak berteriak. Tapi setelah keluar, udara di antara mereka berubah.
Dimas memegang pagar. "Nad..."
"Aku sudah daftar cerai gugat."
Wajahnya pucat. "Kamu tidak tunggu bicara denganku?"
"Aku sudah bertahun-tahun bicara. Kamu baru mendengar setelah ada pengacara."
Ayu berdiri di pintu kios, ponsel di tangan. Di ujung gang, Bu RT keluar membawa kantong sampah yang jelas hanya alasan untuk melihat.
Dimas mundur satu langkah. Harga dirinya terlalu sadar ada mata orang.
"Kamu akan menyesal."
"Mungkin. Tapi aku lebih menyesal kalau tetap."
Ia mengambil ponsel dari pagar dan menghentikan rekaman.
"Pulang, Dimas."
"Kamu tidak gemetar lagi," katanya.
Nadia menatap tangannya. Benar. Tangannya tidak gemetar.
"Aku juga baru sadar."
Dimas pergi dengan langkah cepat. Motor menyala kasar, lalu hilang di ujung gang.
Baru setelah itu lutut Nadia lemas. Ayu berlari lebih dulu sebelum Sari datang. Ia memegang siku Nadia.
"Mbak, duduk."
Nadia duduk di kursi plastik depan kios. Napasnya pecah, tetapi bukan seperti kemarin. Kali ini ia tidak merasa hancur. Ia merasa baru selesai mengangkat sesuatu yang sangat berat.
Sari datang sepuluh menit kemudian setelah Ayu menelepon. Ia tidak bertanya banyak. Ia hanya duduk di depan Nadia.
"Rekaman?"
Nadia menyerahkan ponsel.
Sari mendengarkan bagian penting dengan wajah tenang. Ketika sampai pada kalimat "Aku sudah daftar cerai gugat", ia menekan jeda.
"Kamu yakin?"
Nadia mengangguk.
"Bukan karena marah malam ini?"
"Bukan. Karena aku akhirnya melihat semuanya."
Sari mengembalikan ponsel. "Kirim ke Pak Surya."
Nadia mengirim rekaman itu bersama catatan waktu dan tempat. Beberapa menit kemudian, Pak Surya membalas:
Saya terima. Ini memperkuat pola intimidasi dan pengakuan soal barang. Jangan bertemu tanpa saksi lagi.
Nadia membaca pesan itu, lalu menyandarkan kepala ke dinding kios.
"Ma."
"Ya?"
"Aku tadi tidak gemetar."
"Ibu lihat."
"Mama kan datang telat."
"Ibu tetap lihat."
Nadia tertawa sambil menutup wajah. Air matanya keluar, tetapi ia tidak malu. Ayu pura-pura merapikan rak, padahal ikut menangis sedikit.
Malam itu Nadia makan tiga suap, lalu lima, lalu setengah piring. Setelah mandi, ia membuka email RS Pejaten lagi. Belum ada hasil akhir. Tapi ia tidak merasa menunggu sebagai perempuan yang ditinggal.
Ia menunggu sebagai dokter yang mungkin akan diterima.
Sari duduk di meja kecil dengan laptop terbuka. "Kita simpan rekaman di tiga tempat."
"Sekarang?"
"Sekarang. Orang sering menyesal karena menunggu besok."
Ayu yang belum pulang ikut membantu mengganti nama file. Bukan dengan judul emosional, tetapi format rapi: tanggal, lokasi, isi. Nadia menulis kronologi pendek. Dimas datang tanpa janji. Menghalangi akses. Mengakui perhiasan masih diurus pihak lain. Menyebut Livia. Mengucapkan ancaman penyesalan.
Saat menulis semua itu, Nadia baru sadar betapa banyak kalimat Dimas yang dulu ia maafkan karena tidak meninggalkan bekas di kulit. Padahal bekasnya ada di cara ia selalu meminta izin untuk merasa sakit.
Pukul sebelas lewat, email baru masuk dari RS Pejaten.
Dokter Nadia Wulandari, berdasarkan hasil interview awal, Ibu diundang mengikuti pemeriksaan berkas akhir dan orientasi unit pada hari Senin. Keputusan masa percobaan akan diberikan setelah verifikasi dokumen.
Nadia membaca email itu tanpa suara.
Sari melihat wajahnya. "Apa?"
Nadia memutar laptop ke arah ibunya.
Ayu langsung menutup mulut. "Mbak..."
Untuk pertama kalinya hari itu, tangis Nadia keluar bukan karena Dimas.
"Ma, mereka panggil aku lagi."
Sari menatap layar, lalu menatap putrinya. "Besok kita beli map baru."
"Kenapa?"
"Map cerai dan map kerja jangan satu warna. Nanti hidupmu bingung."
Nadia tertawa sambil menangis.
Sebelum tidur, ia menulis satu kalimat di catatan ponsel:
Hari ini aku mengatakan iya untuk cerai, dan tidak untuk takut.
Lalu ia mematikan lampu.
Di luar, gang kembali sunyi. Tapi untuk Nadia, sunyi itu tidak lagi terdengar seperti hukuman.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??