NovelToon NovelToon
My Husband Is A Ketos

My Husband Is A Ketos

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Ketos
Popularitas:169.2k
Nilai: 4.5
Nama Author: Intan

Seorang gadis nakal atau bisa dibilang bad girl yang selalu membuat masalah di sekolah
dipertemukan dengan ketua osis yang ternyata adalah anak dari sahabat Ayahnya. Hingga kejadian tak terduga menjerumuskan mereka ke dalam sebuah pernikahan. Akankah mereka bisa saling mencintai atau malah saling menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

"Kak Edward," sapa para gadis yang tak berpapasan dengan Edward di koridor kelas IX.

Edward membalasnya dengan senyuman. Berbeda dengan pria di sampingnya yang malah mengerutkan dahi tidak suka.

"Gue gak disapa?" tanya Riski.

"Nggak, Kakak jelek," ucap mereka serempak.

Jleb

Riski melotot ke arah mereka, para gadis itu pun berlari kencang dengan tawa yang menggelegar.

"Sialan, masa gue dibilang jelek,"

"Lah, emang lu jelek," timpal Edward.

Riski reflek langsung menengok ke arah sahabatnya itu, matanya melotot lebar. "Gue timpuk ye mulut lu pake sepatu gue," geram Riski. Ia berancang-ancang melepas sepatunya, tapi sebelum itu Edward sudah lari terbirit-birit.

"Woe, sini lo!" Riski berlari mengejar Edward, si tiang bendera lucknut itu.

Segerombolan gadis duduk melingkar di depan kelas, sepertinya mereka sedang membicarakan berita yang lagi viral hari ini.

"Itu beneran?"

"Iya, beneran, tadi pas gue lewat masih ada banyak polisi, nih, lihat." Gadis itu menunjukkan sebuah vidio dari handphonenya.

"Eh, bukannya itu rumahnya kak Intan, kan?" celetuk gadis berambut sebahu.

"Jangan ngawur lu Re, jangan nyebar hoax,"

"Ih nggk, gue serius, itu kontrakannya kak Intan, gue pernah neduh di sana waktu hujan, terus kak Intannya keluar dan nyuruh gue masuk."

"Hah? Lo serius? Apa jangan-jangan korbannya itu kak Intan?"

"Korban apa?" sahut Edward. Telinganya sangat sensitif saat nama gadisnya itu disebut.

"Eh, kak-kak Ed," kata mereka sedikit gagap.

Tanpa izin dari sang empu, Edward merebut handphone perempuan itu, yang tak lain adalah adik kelasnya.

Edward menekan tombol play dan vidionya pun berputar menampilkan kerisuhan para warga pada saat polisi membawa keluar dengan sebuah kantong yang ntah apa Edward tidak tau namanya, tapi dia tau jelas akan fungsinya, dan matanya pun menyipit meniliti background dari vidio itu, matanya melotot tanpa fikir panjang ia berlari dengan handphone yang masih berada digenggamannya.

Sang empunya handphone pun berteriak memanggil kakak kelasnya itu, merasa sadar akan kesalahannya, Edward berhenti lalu membalikkan badannya dan melemparkan handphone itu begitu saja yang mengundang pekikkan histeris para gadis saat melihat handphone itu melayang di udara.

Kurang dari dua meter handphone itu menyentuh lantai, Riski tiba-tiba berhenti tepat di bawahnya dan handphone itu pun jatuh mengenai kepalanya lalu terpentak dan jatuh tepat dikedua tangannya. Segerombolan gadis itu menghela mafas lega saat melihat handphone itu aman di tangan Riski.

Riski meringis mengelus kepalanya uang terasa nyut-nyutan, ia memandang handphone itu lalu beralih menatap Edward yang sudah berlari menjauh, "Edward! Tungguin gue," teriaknya. Merasa masa bodo dengan milik siapa handphone yang ada di genggamannya itu, ia melemparkan handphone itu ke belakang seakan itu adalah sampah yang ia lempar sembarangan.

Segerombolan gadis itu kembali berteriak histeris melihat handphone berwarna hitam itu melayang di udara, dan didetik selanjutnya handphone itu pun menghantam lantai dengan kerasnya.

"Leni! Len, Len, bangun Len." Leni sang empunya handphone itu jatuh pingsan saat melihat handphonenya sudah tak berbentuk lagi. Masih nyicil kyanya thor:v

***

"Kalian kenapa?" tanya Emely yang sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya.

"E-em, Intan, di-dia dia, hiks ..." tangis Rina pecah, tak sanggup menceritakan apa yang telah ia lihat.

"Intan kenapa? Rin, Fa, kalian kenapa sih?" Emely menghampiri mereka, memegang bahu Rina dan menghapus air matanya. Emely juga melakukan itu pada Ulfa yang kondisinya tak jauh berbeda dengan Rina.

"Kalian tenang dulu oke," ujar Emely mencoba menenang kedua sahabatnya.

Ulfa menggeleng, ia menarik kasar tasnya dan berlari keluar. Emely ingin mengejar tapi ia urungkan saat Rina menyodorkan telepon genggam miliknya. Emely mengernyit bingung menatap layar ponsel itu, tapi tak lama matanya melebar, dengan cepat ia memakai sepatu dan menarik Rina keluar dari rumah.

Emely dan Rina berlari ke arah jalan raya, mereka menyetop taksi. Beberapa menit kemudian mereka tiba ditempat tujuan.

Rumah Intan terlihat sangat berantakan, sepertinya si jago merah sudah melahap habis seisi rumah. Ada beberapa polisi tampak sedang menulusuri rumah itu dengan satu ekor anjing berwarna hitam.

Air mata mereka tidak dapat dibendung lagi, sungai kecil terbentuk di pipi mereka. Emely mendekati garis polisi, ia memanggil salah satu polisi dan menanyakan keberadaan korban.

"Pak--"

"Pak, dimana kehberadaan khorban?" tanya Edward dengan nafas memburu karena berlari.

"Kalau boleh saya tau, Mba sama Mas ini siapanya korban?"

"Sahabat."

"Pacar," jawab mereka bersamaan.

Emely masa bodo dengan jawaban Edward, yang terpenting sekarang adalah keberadaan Intan, sahabatnya.

"Korban berada di Rumah Sakit untuk diotobsi. Kondisi tubuh yang terbakar membuatnya susah dikenali, kami menduga bahwa korban adalah Vistia Vintani yang menempati rumah ini," ujar pak Polisi.

Kakinya seakan berubah menjadi agar, tubuhnya lemas, hampir saja Emely jatuh jika saja Edward tidak menahan tubuhnya, "A-apa Bapak benar-benar yakin bahwa itu Intan sahabat saya?" tanya Emely dengan suara yang bergetar.

"Itu hanyalah dugaan kami, Mba. Untuk kepastiannya akan terjawab setelah korban selesai diotobsi. Dan kami juga menduga bahwa kebakaran ini sudah direncanakan, luka tusuk di dada korban juga menunjukkan adanya perkelahian sebelum kebakaran itu terjadi," ujar pak Polisi, "apa Mba dan Mas tau siapa yang memiliki masalah dengan korban belakangan ini? Atau korban memang memiliki musuh?"

Emely terdiam, pikirannya seakan melayang, telfon, teror, dan kejadian ini, apakah dia orang yang sama?

"Emely!" Nathan berlari dan langsung menarik tubuh Emely ke dalam pelukannya. Emely terisak keras, begitu juga dengan Rina.

"Intan adalah gadis yang baik, saya yakin dia tidak akan membuat masalah dengan orang lain, apalagi sampai mempunyai musuh," ucap Edward dengan mata memerah menahan tangisan.

Polisi itu menggangguk, "Apa kalian mempunyai nomor keluarganya?" tanyanya.

"Bisakah memastikan dulu siapa korbannya, baru Bapak menginformasikan itu pada keluarganya?" Kali ini Rina yang angkat bicara.

"Ini adalah salah satu usaha kami dalam menyelediki kasus ini, jadi kami harus mengabari keluarganya."

"Na-nanti, Ayah saya akan mengabari orang tua Intan, sekaligus membantu untuk menyelidiki kasus ini. Jika ada kabar, mohon segera kabari kami, ya Pak," lirih Emely.

"Baik, kalau begitu saya akan bertugas kembali, terima kasih atas informasinya." Polisi itu pun kembali bergabung dengan polisi lain yang sedang bertugas.

"Em, di-dimana Ulfa?" tanya Rina disela tangisnya.

Emely menghapus air matanya, ia mengedarkan pandangan mencari sosok Ulfa, tapi tidak ada.

"Coba telfon," ucapnya sambil menyenderkan kepalanya yang terasa berat di dada Nathan.

"Kamu pulang aja ya? Biar nanti aku yang ngizinin ke BK," ujar Nathan sambil menghapus jejak-jejak air mata Emely.

"Tap--"

"Kamu pulang, nanti aku nyusul kalau urusan di sekolah udah selesai," ujarnya, "Ris, anterin istri gue pulang."

Riski yang sedari tadi di belakang Edward pun mulai menampakkan dirinya, "Iya, lo tenang aja."

"Ed, lo ikut gue. Kita adain rapat osis untuk acara kamping minggu depan," ucapnya, "dan kamu, kamu gak usah ikut kamping ya, kamu di rumah aja sama Bunda atau sama Mama, nanti kalau boleh aku bakal nemenin kamu di rumah. Sekarang, kamu pulang dulu, jangan nangis lagi, oke. Sayangku," ujar Nathan lalu mengecup kedua mata Emely.

Emely mengangguk, ia pun pergi bersama Riski dan Rina, bukan untuk pulang, melainkan untuk mencari Ulfa yang sedari tadi tidak menjawab telfon dari Rina.

"Lo yakin Em, si Nathan gak akan marah kalo tau lo gak pulang? Ntar gue kena amukannya lagi," ucap Riski melirik Emely dari kaca spion.

"Itu biar jadi urusan nanti, sekarang yang terpenting kita nemuin Ulfa, gue takut dia ngelakuin hal yang aneh-aneh," balas Emely. Riski mengangguk pasrah dengan keras kepalanya Emely, sedangkan Rina masih sibuk menelfon Ulfa.

Sudah lebih dari tiga jam mereka berkeliling mencari keberadaan Ulfa, tapi tak kunjung ditemukan. Rasa lelah kian menggrogoti tenaga Emely, hingga sebuah tempat terkintas dipikirannya, ia pun meminta Riski untuk mencari keberadaan Ulfa di sana dan benar saja, Ulfa berada di sana.

"Dugaan gue gak salah, lo pasti ada di sini untuk nenangin diri," batin Emely.

Riski sudah siap untuk berteriak memanggil Ulfa, tapi mulutnya sudah dibekap lebih dulu oleh Rina, "Diem, jangan berisik. Lo liat deh, itu si Ulfa sama siapa?"

"Cowoknya mungkin," ucap Riski asal.

"Kita pergi dari sini," ketus Emelu tiba-tiba.

"Loh, kenapa? Kita udah berjam-jam nyariin dia tap--"

"Gue mau kita balik, sekarang."

Riski dan Rina pun mengganguk, meski di dalam benak mereka ada pertanyaan yang belum diketahui jawabannya.

Tanpa diketahui Rina dan Riski, Emely kembali meneteskan air mata, "Gue gak nyangka lo ngelakuin ini Fa, gue kecewa," lirih Emely dalam hati.

____________________________________

Semoga itu bukan Intan ya😖

Si Ulfa kenapa? Dia sama siapa? Kenapa Emely gitu?

Pertanyaan itu akan terjawab dieps selanjutnya😊

Aku minta maaf ya, karena udah lama gak update😔

Tapi aku seneng loh, ternyata ada orang yang nungguin cerita aku😅

Aku ucapin terima kasih untuk para readers setia😚

See you next episode😗

Eh, bentar-bentar. Waktu itu aku ngomong mau ngasih tau visual para tokoh, nah untuk episode selanjutnya aku bakal kasih tau visualnya babang Riski.

Fansnya babang Riski angkat tangan dulu dong!😂

1
Tri Utami
ga mudeng terlalu banyak panggilan membanggongkan jadi terkesan sulit di pahmi
ᵉˡ̳༆yuli@_sm 💜💜💜💜
😭😭😭😭😭😭
rahima humaira(bundae rizky)
next thoorrr
Emilia Cha Cha
visual yg lainnya mna kak... penasaran nich
Sita Aryanti
syukuriin
Ulfa Fa
sip
Ulfa Fa
lagi
Ayura
mampir kak
Ulfa Fa
menjengkelkan
Ulfa Fa
kenapa gantung
Ulfa Fa
cepet up
Ulfa Fa
oh jd ini sangat membangongkan
Novasha (HIATUS): uuuhh bingung. Tunggu aja kelanjutannya ya, Neng😇
total 1 replies
Ulfa Fa
eh tan bangsol emng
Novasha (HIATUS): cieee ... nongol. Si Riski pa kabar?
total 1 replies
Intan prameswari nabila
next thor
Novasha (HIATUS): nanti malam aku update ya🥰
total 1 replies
Zahira Nurhidyat
lanjut dong
Zahira Nurhidyat
jodohin ulfa sama si riski pasti gak bakalan selingkuh tu soalnya mereka uda pada kenal dan sahabatan
Miya Kinabe
keren
Miya Kinabe
keren Thor the best lah
Sita Aryanti
Ulfa JHT
Sita Aryanti
sbnere ada pa ta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!