Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALUR BELAKANG SANG HACKER DAN STRATEGI PELARIAN
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa ketakutannya terhadap reputasi Kaelen, Rae menarik sebuah laptop tipis tersembunyi yang ia temukan di dalam laci ganda meja rias Lethe. Ini adalah laptop pribadi milik Lethe yang tidak pernah diketahui oleh keluarga Elixir maupun pelayan mansion Kaelen.
Jemari Rae mulai menari di atas papan ketik.
Tap! Tap! Tap!
Aura ketakutannya perlahan memudar, digantikan oleh fokus tingkat tinggi seorang hacker kelas kakap. Baris-baris kode biner mulai bermunculan di layar, merefleksikan cahaya biru di mata cokelat madunya yang indah. Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Rae untuk menjebol sistem enkripsi tingkat tinggi demi menghubungi satu-satunya orang yang bisa dia percayai di dunia ini.
Sebuah panggilan video terenkripsi langsung terhubung. Layar laptop menampilkan wajah seorang wanita muda berambut pendek dengan kacamata berbingkai perak yang tampak terkejut.
"Lethe?! Astaga, akhirnya kamu menghubungiku! Bagaimana keadaanmu di mansion Azrael?" suara di seberang sana terdengar panik namun berbisik. Itu adalah Cyra Vesper, sahabat terbaik sekaligus asisten pribadi yang mengelola perusahaan rahasia milik Lethe.
Melihat Cyra, Rae menarik napas dalam-dalam. Dia harus berperan sebagai Lethe, namun dengan ketegasan jiwa Rae.
"Cyra, dengarkan aku baik-baik," ucap Rae dengan suara rendah dan serius. "Aku tidak punya banyak waktu. Kaelen Azrael bisa pulang kapan saja dalam beberapa hari ini. Aku butuh bantuanmu untuk menyiapkan dokumen penting."
Cyra mengerutkan kening, menangkap perubahan nada bicara sahabatnya yang biasanya terdengar rapuh dan ketakutan. "Dokumen apa, Lethe?"
"Dokumen gugatan cerai," jawab Rae tanpa ragu. "Dan aku butuh kamu menarik sebagian aset cair dari perusahaan rahasia kita ke rekening baru yang tidak bisa dilacak oleh jaringan mafia Azrael maupun keluarga Elixir."
Cyra terbelalak di balik kacamatanya. "Cerai?! Lethe, kamu gila? Kaelen Azrael adalah penguasa dunia! Jika kamu meminta cerai, dia bisa meratakan keluargamu—bahkan melenyapkanmu dalam sekejap!"
"Keluarga Elixir pantas mati, Cyra. Mereka hampir membunuhku tadi malam dengan cambuk mereka," desis Rae sambil meringis saat punggungnya berdenyut. "Dan soal Kaelen... justru karena dia adalah raja iblis yang kejam, aku harus keluar dari tempat ini sebelum dia membunuhku dengan tangannya sendiri. Aku tidak mau menjadi figuran mati di mansion ini!"
Cyra terdiam melihat tatapan mata Lethe yang sekarang begitu tajam, dingin, dan penuh determinasi. Ini bukan Lethe yang penakut. Ini seperti singa betina yang baru bangun dari tidurnya.
"Baiklah... kalau itu keputusanmu. Aku akan menyiapkan semuanya secara rahasia lewat jalur perusahaan kita. Ingat, surat wasiat dari pasangan paruh baya saat kamu usia 12 tahun dulu membuat posisi keuanganmu sangat kuat, Lethe. Kita punya modal untuk melarikan diri," ujar Cyra serius.
"Terima kasih, Cyra. Tetap waspada. Aku akan menghubungimu lagi," Rae memutus sambungan video dan langsung menghapus seluruh jejak digitalnya tanpa sisa.
Rae bersandar di kursi, menatap ke luar jendela besar ke arah langit malam yang pekat. Ketakutannya pada Kaelen masih ada, mengakar di dalam insting bertahannya. Namun, Rae tahu, ketakutan tidak akan menyelamatkannya. Hanya kecerdikan dan keberanian yang bisa membawanya keluar hidup-hidup dari jeratan sang Raja Mafia yang tampan namun mematikan itu.
Meskipun jemarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, detak jantung Rae sebenarnya berdentum gila-gilaan di dalam rongga dadanya. Dinginnya ruangan mewah berarsitektur gotik itu seolah menusuk hingga ke tulang. Rae tidak bodoh. Sebagai wanita yang di kehidupan lampau terbiasa bersinggungan dengan kriminal kelas teri hingga mafia lokal, dia tahu betul perbedaan antara 'orang berbahaya' dan 'monster'.
Kaelen Azrael bukan sekadar pria tampan terkaya yang sering muncul di majalah bisnis Forbes. Di balik setelan jas mahalnya, pria itu adalah hukum itu sendiri. Dia adalah tiran tertinggi yang memegang takhta tertinggi di dunia bawah (underworld). Satu jentikan jarinya bisa menghapus sebuah dinasti bisnis dari muka bumi, dan satu perintahnya bisa membuat kota metropolitan mandidarah dalam semalam.
"Dan bajingan bermata merah itu adalah suamiku," gumam Rae, merinding saat mengingat bagaimana Kaelen digambarkan dalam drama Obsesi Kakak Angkat. Pria itu dingin, kejam, sadis, dan yang paling mengerikan—dia memiliki obsesi gila yang menyimpang terhadap adik angkatnya, Evadne.
Rae menyentuh lehernya sendiri, membayangkan bagaimana dalam plot asli drama, Kaelen akan mencekik Lethe tanpa ragu sampai napas wanita itu habis hanya karena sebuah kesalahpahaman di tangga. "Aku memang bar-bar, aku jago bela diri, tapi aku tidak punya kekuatan sihir untuk menahan peluru atau pasukan bersenjata milik Raja Iblis itu. Berhadapan langsung dengannya sekarang adalah tindakan bunuh diri."
Oleh karena itu, Rae harus bergerak seperti hantu. Memanfaatkan kemampuan peretasan genius dari kehidupan masa lalunya, dia mengisolasi jaringan internet di kamar ini agar tidak bisa diendus oleh tim siber Azrael.
Di layar laptop, wajah Cyra Vesper masih menatapnya dengan raut wajah pucat pasi. "Lethe, kamu benar-benar serius? Menggugat cerai Kaelen Azrael? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani menceraikannya! Biasanya, dialah yang menentukan hidup atau mati seseorang!"
"Aku tahu, Cyra. Aku sangat tahu betapa mengerikannya dia," potong Rae dengan suara rendah namun penuh penekanan. Mata cokelat madunya berkilat tajam di balik kegelapan kamar. "Tapi diam di sini dan menunggu dia membunuhku juga bukan pilihan. Aku sudah merasakan cambukan dari keluarga Elixir tadi malam, dan aku bersumpah, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menyakitiku lagi. Termasuk Kaelen."
Cyra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia tahu Lethe adalah sahabatnya sejak kecil, gadis yang selalu dilindungi namun tiba-tiba berubah menjadi sangat tegas dan berani malam ini.
"Baiklah. Soal perusahaan rahasiamu... surat wasiat yang diberikan oleh pasangan paruh baya misterius saat kamu berusia dua belas tahun itu terbukti sah secara hukum internasional. Perusahaan holding ini bergerak di bidang investasi gelap dan teknologi siber. Nilainya saat ini sudah mencapai miliaran dolar. Aku sudah menyembunyikan sebagian besar aset cairnya ke dalam tiga puluh rekening bank bayangan di Swiss dan Cayman Islands menggunakan enkripsi berlapis. Kaelen atau tim finansialnya tidak akan bisa mendeteksi aliran dana ini dalam waktu singkat," jelas Cyra panjang lebar.
Rae tersenyum miring. Kerja bagus dari sahabat setianya. "Sempurna. Sekarang, buatkan dokumen kesepakatan perceraian. Tulis di sana bahwa aku, Aletheia Elixir, melepaskan seluruh hak atas harta gono-gini dari keluarga Azrael. Aku tidak menginginkan sepeser pun uangnya. Aku hanya ingin kebebasan mutlak. Kirim drafnya ke email rahasiaku dalam satu jam."
"Akan kulakukan. Tapi Lethe... berhati-hatilah. Jika Kaelen pulang, jangan pernah memancing kemarahannya," pesan Cyra dengan raut cemas sebelum Rae memutus sambungan video terenkripsi tersebut.
Setelah layar laptop menggelap, Rae langsung menghapus semua log aktivitasnya. Dia menyandarkan punggungnya yang terluka ke sandaran kursi, meringis pelan saat rasa perih kembali menyengat. Pandangannya beralih ke luar jendela besar, menatap gerbang besi mansion yang menjulang tinggi di kejauhan. Keheningan malam itu terasa mencekam, seolah-olah menjadi tenang sebelum badai besar datang menghantam.