NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan
Popularitas:171.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka 9 meridian utama meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah takdirnya.

Bagaimanakah perjalanan Qin Mu? Saksikan kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 12 — Upacara Uji Spiritual bg. 3

Tap Tap

Suasana di area panggung kehormatan yang tadinya sudah memanas semakin membara ketika dua sosok yang paling dihormati di Keluarga Qin melangkah masuk ke dalam arena.

Langkah kaki mereka terdengar tenang, namun setiap debu di lantai seolah bergetar menyambut kehadiran mereka.

Di sebelah kanan, seorang wanita paruh baya berjubah putih bersih dengan pinggiran bordir keemasan melangkah dengan anggun. Rambutnya disanggul tinggi menggunakan jepit kayu sederhana, namun tatapan matanya setajam ujung pedang.

Dia adalah Qin Xuanyu, Tetua Pertama yang juga kultivator wanita tertua dan paling dihormati di seluruh keluarga ini.

Di sebelah kirinya berjalan seorang pria tua berjanggut putih pendek yang masih meninggalkan sedikit noda jelaga di jubahnya, Qin Changin, Tetua Kelima yang juga sahabat setia Patriark Qin Feiyan.

Tanpa memedulikan ketegangan yang masih tersisa dari adu aura antara Patriark dan Tetua Keempat. Qin Xuanyu menghentikan langkahnya tepat di hadapan kedua pria dewasa tersebut. Bibirnya yang tipis terangkat sedikit, membentuk senyuman dingin yang mematikan.

"Apa yang sebenarnya kalian lakukan di hadapan generasi muda, hah?" suara Qin Xuanyu terdengar tenang namun bergema ke setiap sudut lapangan utama, menghentikan bisik-bisik para penonton di tribun.

"Kalian adalah pilar-pilar utama Keluarga Besar Qin di Kota Huzhou. Duduk di kursi kehormatan seharusnya membuat kalian menjadi teladan, bukan bertindak seperti anak kecil yang memperebutkan permen di pasar. Sungguh pemandangan yang memalukan! Jika leluhur melihat perilaku kalian hari ini, mereka pasti akan bangkit dari kuburan untuk memotong kaki kalian."

Qin Feiyan, yang masih diselimuti aura manifestasi berwarna merah api, segera menarik napasnya perlahan.

Aura yang menindas itu perlahan memudar, menyatu kembali ke dalam dantiannya. Ia melirik ke arah lapangan dan tribun. Di bawah sana, puluhan pasang mata dari para praktisi muda dan anggota cabang keluarga menatap ke arah mereka dengan pandangan cemas dan bingung. Sebagai Patriark, ia tahu bahwa tindakannya yang terpancing emosi tadi adalah sebuah celah yang bisa dimanfaatkan.

Namun, reaksi yang sangat berbeda ditunjukkan oleh Tetua Keempat, Qin Chukai.

Alih-alih merasa malu atau menurunkan auranya, dada Qin Chukai justru membusung. Senyum kemenangan dan arogansi yang kental terpampang jelas di wajahnya. Setelah beradu manifestasi energi tingkat Lautan Qi dengan sang Patriark, ia merasa bahwa kekuatan mereka sekarang berada di tingkat yang setara, bahkan mungkin ia memiliki keunggulan jika mereka harus bertarung secara langsung.

"Saudari Xuanyu, kau tidak perlu terlalu keras," ujar Qin Chukai dengan nada meremehkan sambil melipat tangannya di dada.

"Patriark kita memang sedang dalam tekanan. Wajar jika emosinya tidak stabil, apalagi melihat putranya yang tidak berguna masih diberi jatah sumber daya oleh keluarga. Sebagai anggota dewan, saya hanya mengingatkan peraturan keluarga. Jika dalam Upacara Uji Spiritual hari ini putranya gagal meraih tahap kedua Pembentukan Fondasi, maka bukan hanya sumber daya yang harus dipotong, tetapi Patriark sendiri harus mempertanggungjawabkan posisinya."

Di sudut lapangan, Qin Mu menyaksikan seluruh drama tersebut dengan sorot mata yang sedingin es.

Ia tidak terkejut dengan provokasi Tetua Keempat. Ia tahu bahwa konflik ini hanyalah langkah kecil dari faksi tetua keempat yang ingin melengserkan ayahnya dari kursi kepemimpinan utama.

Namun, ia tidak akan membiarkan skema busuk itu berhasil. Tangannya yang tersembunyi di balik jubah mengepal erat, merasakan aliran energi Spiritual Mendalam di dalam Dantiannya.

"Teruskan saja omong kosongmu, Tetua Keempat," batin Qin Mu.

"Sebentar lagi, aku akan merobek topeng kesombonganmu di depan semua orang."

Di atas panggung utama, Tetua Kedua, Qin Chong, berdeham keras untuk mengembalikan fokus jalannya acara. Ia tidak ingin situasi semakin memanas sebelum putranya dipanggil walaupun ia sangat menyukai situasi saat ini.

"Baiklah, mari kita lanjutkan upacara pengujian," seru Qin Chong dengan suara berwibawa yang dibuat-buat.

"Selanjutnya, mari kita panggil nama murid berikutnya yang paling dinantikan!"

Suasana di lapangan seketika menjadi hening. Semua orang tahu siapa nama yang akan dipanggil.

"Qin Lian!"

Mendengar nama itu disebut, para murid muda di lapangan yang berusia 15 hingga 16 tahun mulai berbisik-bisik. Bagi para pemuda tersebut, Qin Lian adalah sosok gadis yang kecantikannya mampu membuat siapa pun tergoda, sementara bagi para murid senior di bangku penonton, ia adalah lambang jenius yang tidak tersentuh.

Bahkan Qin Xuanyu, Tetua Pertama yang terkenal dingin dan jarang memuji siapa pun, menganggukkan kepalanya perlahan. Ia menoleh ke arah Qin Feiyan dan berkata dengan nada yang jauh lebih lembut, "Patriark, bakat seperti ini adalah anugerah yang diberikan langit kepada keluarga kita. Dalam usianya yang baru lima belas tahun, ia telah melampaui pencapaian banyak kultivator dewasa."

"Benar, Saudariku," jawab Qin Feiyan, yang wajahnya kembali tenang.

"Lian’er adalah permata keluarga kita."

Qin Lian melangkah maju dari barisan murid. Ia mengenakan hanfu berwarna biru langit yang melambai ditiup angin pagi, rambutnya diikat rapi menggunakan tusuk konde bulan sabit pemberian Qin Mu.

Saat ia melintas, mata para murid pria tampak terpesona. Namun, kecantikan itu hanyalah pelengkap; yang membuat para petinggi tertegun adalah aura ketenangan yang terpancar dari setiap langkahnya.

Qin Lian berdiri di depan Batu Uji Spiritual. Ia menarik napas panjang, menyingkirkan semua keraguan di kepalanya, dan meletakkan telapak tangannya yang lentik di atas permukaan batu yang dingin.

WUUSH!

Tabrakan energi spiritual murni membuat Batu Uji Spiritual bergetar hebat. Cahaya biru yang terpancar bukan lagi pendar biasa, melainkan pendar yang sangat pekat dan menyilaukan, menyerupai cahaya bulan purnama yang memantul di permukaan danau.

Tingkat cahaya itu semakin lama semakin naik hingga berhenti di puncaknya.

"Ranah Spiritual Mendalam... Tahap Awal!" seru Tetua Kedua, Qin Chong, suaranya terdengar tercekat dan hampir tidak percaya.

Seluruh lapangan utama seketika menjadi sunyi senyap. Tidak ada bisikan maupun tawa. Bahkan para tetua yang biasanya cerewet dan suka memprovokasi terdiam, menatap batu penguji tersebut dengan mulut terbuka.

Sungguh bakat yang sangat mengesankan! Mencapai Ranah Spiritual Mendalam di usia lima belas tahun adalah anugerah dari langit.

Bahkan Tetua Kedua, Qin Chong, harus meneguk ludahnya sendiri dengan kasar.

Pikirannya melayang pada fakta bahwa selama satu bulan terakhir, Qin Lian telah sering memberikan jatah Pil Pengumpul Spiritual pribadinya kepada Qin Mu, si sampah yang dianggap tidak berguna.

Jika seorang jenius yang membagi sumber dayanya saja bisa mencapai pencapaian setinggi ini, betapa mengerikannya potensi yang dimiliki gadis itu?

Qin Lian tersenyum tipis, melepaskan tangannya dari batu, dan matanya langsung tertuju pada Qin Mu yang berdiri di barisan paling belakang lapangan.

1
Ibad Moulay
Pedang Hitam
Ibad Moulay
Permaisuri
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Yeye Te
chao wutian,bukan Xiao wutian
Blue Manusia Biasa: Terimakasih feedbacknya, tapi betul kok.
Xiao artinya kecil: Jadinya si Tetua Agung menganggap si Chao Wutian, Wutian Kecil. Dari situ aja ketahuan seberapa tinggi derajat/struktur organisasi Sekte Dishi
total 1 replies
Yeye Te
nuo adalah pengikut dewa Kematian boqin changing 🤣🤣🤣🤣🤣👻👻👻
Yeye Te
seharusnya kata yg lebih sesuai itu intensif
Yeye Te
masif,,,masif,,,,,masif,,,, letakkan penempatan kata yg memang pada tempat nya thor
Yeye Te
hantaman masif atau konstan thor 👻
Yeye Te
baotian Zhong bukan Wei
Yeye Te
dah ada kata baru lg, internal,masif, konstan yg kata2 nya bisa diletakkan secara acak dan sembarangan 😄
Yeye Te
kali ini sering konstan daripada masif 🤣🤣
qwenqen
thor masa kantong spesial sebanyak itu nggak di masukan jadi satu
bukankah kantong spesial punya ruang yang luas muat untuk menyimpan banyak
apa ternyata di dunia kultifasi orangnya pada bloon bloon yah
Rimueng Buloh
Masif,, terdistorsi,,,,masif,,, terdistorsi,, mungkin satu2 nya kata yg menurut penulis itu bahasa keren dan biar terpelajar,jadi selalu ber ulang ulang
Blue Manusia Biasa: terimakasih kritiknya kak
total 1 replies
Dazhi anak sehat
Cerita yang sangat luar biasa, pemilihan katanya yang pas serta bahasa nya yang mudah dipahami. Alur ceritanya juga seru dan menarik sehingga saya tidak bosan membacanya. Jujur saja, cerita ini juga salah satu cerita yang menginspirasi saya untuk mulai menulis. Kepada author Blu, terima kasih telah membuat masterpiece ini dan tetap semangat up-nya 🔥 🔥 🔥
Blue Manusia Biasa: Terimakasih Dazhi atas feedback-nya, untukmu juga yang seorang penulis. Semangat terus dalam menulis, jangan pantang menyerah. 💪
total 1 replies
Edy Amran. MM
mantap.. lanjutkan..
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
obeng min
top
Ibad Moulay
Rumor 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!