Raja Iblis Vorthar adalah penguasa seluruh wilayah kegelapan yang ditakuti oleh para dewa dan manusia. Setelah perang besar yang memakan korban tak terhitung, ia akhirnya dikalahkan dan dikurung selama ribuan tahun. Namun, kutukan para dewa tak mampu menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Saat terbangun kembali, Vorthar tidak lagi berada di istana kegelapan yang megah. Ia terlahir kembali sebagai seorang anak biasa di dunia manusia yang damai dan penuh dengan para kultivator yang menganggap kekuatan kegelapan sebagai hal terlarang. Dengan ingatan dan kekuatan dasar yang masih tersimpan, ia harus menavigasi dunia yang memandangnya sebagai musuh.
Tanpa teman dan dengan banyak musuh yang mengincar nyawanya, Vorthar mulai menapaki jalan kembali menuju puncak kekuatan. Ia tidak hanya ingin memulihkan kekuatannya sebagai Raja Iblis, tetapi juga mencari tahu rahasia di balik perang kuno yang menghancurkan dunianya. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan sekutu yang tak terduga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
serangan binatang buas
Malam itu, Ryn tidak tidur sama sekali. Ia berkonsultasi dengan Zarathos dan Tuan Bayangan di tempat rahasia mereka.
"Jenderal Lira dan pasukannya tidak akan mundur hanya dengan kata-kata," jelas Zarathos. "Mereka hanya memberi waktu untuk menyiapkan alasan lain untuk menghancurkan desa ini. Kita harus menemukan cara untuk membuat mereka tidak memiliki alasan lagi."
"Bagaimana caranya?" tanya Ryn.
"Ada cara alami yang bisa kita gunakan," jawab Tuan Bayangan. "Di luar desa, di dalam Hutan Terlarang, saat ini musim berkembang biak binatang buas yang sangat ganas. Biasanya mereka tidak mendekati pemukiman karena ada penjaga alam, tapi jika keseimbangan terganggu, mereka bisa menjadi sangat agresif."
Ryn mengerti maksud guru-gurunya. Jika terjadi serangan binatang buas, maka Pengawal Cahaya tidak akan bisa terus menuduh desa ini karena mereka akan sibuk melindungi warga.
"Besok siang, aku akan mengatur agar mereka mendekat," tambah Zarathos. "Tapi kamu harus siap untuk bertindak jika diperlukan."
Hari berikutnya berlalu dengan tegang. Warga desa sibuk menyiapkan barang-barang mereka dengan perasaan cemas. Bapak Goren tampak putus asa, dan Ibu Marta terus berdoa agar masalah ini segera selesai.
Sore harinya, langit tiba-tiba menjadi gelap meskipun matahari belum terbenam. Angin bertiup kencang dan terdengar suara geraman yang berat dari arah hutan.
"Mereka datang!" teriak salah satu anak yang sedang menjaga pagar desa.
Dari dalam kegelapan hutan, ribuan binatang buas mulai muncul. Ada serigala berukuran raksasa, beruang dengan kulit sekeras baja, dan makhluk-makhluk aneh yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di desa. Mereka semua bergerak dengan marah dan langsung menuju arah desa.
Warga desa panik. Mereka tidak memiliki senjata yang cukup kuat untuk melawan makhluk-makhluk sekuat itu. Bapak Goren berteriak memerintahkan mereka untuk bersembunyi, namun serangan datang terlalu cepat.
Di antara kekacauan itu, Jenderal Lira dan pasukannya berdiri di kejauhan, tidak langsung bertindak.
"Mereka bilang tidak ada kejahatan di sini," gumam salah satu anggotanya. "Tapi sekarang ada serangan monster besar-besaran. Apakah ini hanya kebetulan?"
Lira menatap kejadian itu dengan wajah berpikir. Ia tahu bahwa kekuatan alam tidak akan berubah begitu saja tanpa alasan.
Saat salah satu serigala raksasa hampir menerobos pagar desa, Ryn muncul di depan. Ia tidak menggunakan senjata apa pun, hanya menggunakan tangan kosong dan kekuatan yang baru saja ia kuasai.
"Jangan sampai ada yang menyentuh warga desa ini," bisik Ryn.
Ia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap kali binatang buas menyerang, Ryn akan menghentikannya dengan gerakan yang halus namun kuat. Ia menggunakan teknik pertarungan yang diajarkan oleh Zarathos—mengalihkan kekuatan mereka kembali ke arah sendiri, dan menggunakan kelemahan mereka.
Serangan Ryn tidak membunuh, hanya melumpuhkan sementara waktu agar mereka tidak bisa lagi menyerang. Dalam waktu singkat, ia berhasil menghentikan puluhan binatang buas sendirian.
Pandangan Jenderal Lira menjadi terkejut saat melihat anak kecil itu mampu menaklukkan makhluk yang jauh lebih besar dan kuat darinya.
"Itu... itu tidak mungkin," bisik Lira. "Dia hanya anak desa biasa, tapi kekuatannya... itu bukan kekuatan biasa."
Saat semua binatang buas akhirnya dikendalikan dan berhenti menyerang, Ryn berdiri di tengah lapangan desa dengan napas yang sedikit terengah namun wajah tetap tenang. Warga desa menatapnya dengan rasa takjub dan lega.
"Semua aman sekarang," kata Ryn kepada mereka.
Kemudian ia berjalan menuju arah di mana Jenderal Lira berdiri.
"Apa buktinya sekarang?" tanya Ryn dengan tenang. "Binatang-binatang ini datang karena keseimbangan alam terganggu, bukan karena ada kejahatan di desa ini. Warga di sini hanya orang-orang yang mencoba bertahan hidup."
Lira menatap Ryn lama sekali, kemudian menoleh ke arah pasukannya. Beberapa anggotanya mulai berbisik-bisik, sepertinya mereka mulai percaya pada perkataan Ryn.
"Aku akan melaporkan kejadian ini ke markas pusat," kata Lira akhirnya. "Dan aku akan memastikan bahwa desa ini tidak akan diganggu selama setahun ke depan. Tapi ingatlah, anak muda... aku tidak akan berhenti mengawasimu."
Setelah berkata demikian, Lira dan pasukannya akhirnya pergi meninggalkan desa. Warga desa segera berteriak gembira dan berterima kasih kepada Ryn.
Bapak Goren mendekat dan memegang bahu Ryn dengan mata berbinar. "Terima kasih, Ryn. Kamu menyelamatkan desa kita lagi kali ini."
Ibu Marta menangis bahagia dan memeluk Ryn erat-erat. "Kamu adalah anak yang luar biasa, Nak."
Ryn hanya tersenyum tipis. Ia tahu bahwa ini hanyalah awal dari banyak pertempuran yang akan datang. Masih ada banyak musuh yang menunggunya, dan perjalanannya masih sangat panjang.
Malam itu, setelah semua orang tidur, Ryn kembali bertemu dengan Zarathos dan Tuan Bayangan.
"Kamu melakukan hal yang sangat berani," kata Zarathos dengan puas. "Kamu tidak hanya menyelamatkan desa ini, tapi juga membuktikan bahwa kamu sudah siap untuk menghadapi dunia luar."
"Namun mereka belum berhenti mencariku," jawab Ryn.
"Tentu saja tidak," jawab Tuan Bayangan. "Semakin kuat kamu menjadi, semakin besar perhatian yang kamu dapatkan. Tapi itu bukan hal yang buruk. Itu berarti kamu sedang berjalan di jalan yang benar."
Ryn menatap langit malam yang penuh bintang. Ia merasakan kekuatan yang semakin tumbuh di dalam dirinya, dan harapan untuk satu hari nanti membalas semua kejahatan yang telah dilakukan oleh para Dewa menjadi semakin kuat.