***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Bos mu itu benar benar gila, bisa bisanya dia menyalahkanku!" kesal Anna pada Nathan yang menunggu didepan.
"Ya dia memang gila, asal jangan kau gilai dia saja." kekeh Nathan.
"Tidak akan, aku tidak sudi.'' kesal Anna.
"Bagaimana jika denganku? apa kau juga tidak sudi?" tanya Nathan mengoda.
"Ohh ayolah, ini masih siang jangan menggodaku!" kata Anna yang paham dengan maksud Nathan.
"Sepertinya menyenangkan bermain disiang hari." bisik Nathan ditelingga Anna.
"Jangan gila, banyak anak anak disini." kata Anna memukul Nathan kesal.
"Baiklah baiklah sayang, aku cuma bercanda." kata Nathan sambil terkekeh sedangkan Anna hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
...
"Om Raka..." serentak anak anak panti melihat kearah pintu dimana ada Raka yang berdiri disana terkejut, dan Naya pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Raka.
"Eh anak anak." kata Raka sedikit kikkuk.
"Wah, Om Raka dibela belain dari jakarta buat kesini nemuin Bunda yaa." Goda Rio yang terlihat senang dengan kedatangan Raka.
"Eh iya," Raka yang tak mengerti dengan ucapan Rio hanya mengiyakan saja.
"Ya udah yuk adek adek, kita keluar dulu, kan Om Raka mau jengguk Bunda." kata Rio mengajak adik adiknya keluar.
"Ciee Bunda,." Nina mengoda Naya membuat Naya hanya tersenyum malu.
"Udah ayo dek." Rio menarik Nina yang masih ingin mengoda Naya.
"Ciee Om Raka.."
"Ya ampun dek, kamu itu ayoo." Rio gemas dengan Nina yang masih saja mengoda Raka saat melewati Raka.
Raka dan Naya juga terlihat gemas melihat celotehan Nina.
Setelah anak anak keluar, Raka segera menutup pintu tak lupa mengunci pintu sebelum Raka mendekat Ke ranjang Naya, agar tak ada yang memasuki kamar lagi.
"Sayang, kamu sakit apa?" tanya Raka dengan raut wajah khawatir.
"Aku nggak apa apa, cuma meriang aja." kata Naya dengan nada lemah.
"Tapi kamu pucet gini, kita kerumah sakit aja yuk." ajak Raka yang hanya mendapatkan gelengan lemah dari Naya.
"Aku tadi udah minum obat, paling nanti juga sembuh." kata Naya.
"Tapi nanti sore kalau kamu masih belum sembuh kamu harus kedokter, nggak ada alasan lagi." kata Raka.
"Iya siap Bos." kata Naya yang membuat Raka tersenyum senang.
"Ya udah geser kalau gitu." kata Raka ingin berbaring disamping Naya.
"Apa yang kau lakukan? bagaimana kalau anak anak masuk?" tanya Naya.
"Tidak akan, pintunya bahkan sudah ku kunci." kata Raka tersenyum menyerigai sedangkan Naya hanya menggeleng.
Raka memeluk tubuh Naya "Apa yang kau rasakan?" tanya Raka "padahal semalam kau baik baik saja." imbuh Raka.
"Aku juga tak tahu, tadi pagi aku merasa sangat pusing dan tubuhku lemas." keluh Naya.
"Apa kau juga merasa mual sayang?" tanya Raka.
"Tidak hanya pusing dan lemas," balas Naya.
"Sayang sekali." gumam Raka yang masih bisa didengar Naya.
''Sayang sekali kenapa?" tanya Naya.
"Eh tidak apa apa." kata Raka membuat Naya mengeryit binggung.
Raka berharap Naya hamil agar Ia tidak kehilangan Naya lagi, apalagi akhir akhir ini jika mereka melakukan hubungan seks, Raka selalu memasukan kedalam dan Raka melarang Naya minum pil kontrasepsi. Sekarang melihat Naya sakit sedikit membuat Raka berharap Naya bisa hamil anaknya.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Naya melihat Raka hanya melamun.
"Tidak, aku hanya sedih melihatmu sakit." balas Raka membuat Naya tersenyum.
"Kau pasti belum makan siang?" tanya Naya.
"Ya memang belum, aku langsung kesini saat Tika bilang kamu sakit." jawab Raka.
"Ya udah kita pesen makanan aja, buat anak anak juga soalnya Anna juga nggak sempet masak karena ngurusin aku." jelas Naya.
"Biar aku suruh Nathan buat beli makanan, Kamu mau makan apa?" tanya Raka.
"Kamu yakin mau nurutin apa yang pengen aku makan?" tanya Naya.
"Iya sayang, kamu pengen makan apa?" tanya Raka lagi.
"Bakso yang kemaren boleh?" tanya Naya.
"Oke aku pesenin dulu." balas Raka membuat Naya senang karena Raka menuruti keinginannya.
Raka segera bangkit mengambil ponselnya dan mendial nomer Nathan "Kamu ke taman sekarang trus beliin bakso di abang gerobak pinggir jalan depan taman, buat saya sama Naya sekalian anak anak ,kamu sama Anna juga, pokoknya beliin semua ya." perintah Raka lalu Raka menutup teleponnya.
"Dah beres kan." kata Raka kembali memeluk tubuh Naya.
"Kamu kok sekarang beda sih?" tanya Naya.
"Beda gimana sayang?" tanya Raka.
"Ya beda aja, nggak egois, mau dengerin mau nya aku." kata Naya.
"Kamu seneng?" tanya Raka.
"Seneng, semoga kamu kayak gini terus yaa.'' kata Naya yang hanya diangguki oleh Raka.
"Aku bakalan merubah sifat buruk aku buat kamu karena aku nggak mau kamu pergi ninggalin aku lagi." batin Raka mengeratkan pelukan nya pada Naya.
...
"Sebenernya kita mau kemana sih?" tanya Anna yang tiba tiba diajak pergi oleh Nathan.
"Gue nggak tau taman itu dimana makanya ngajak Lo." balas Nathan yang memang belum terlalu paham jalan sekitar jogja, selama ini Ia hanya mengandalkan Google maps untuk penujuk arah jika Raka ingin pergi kesuatu tempat.
"Ngapain ke taman? mau ngajakin gue kencan?" tanya Anna dengan santai.
"Making love disana aja gimana?" goda Nathan membuat Anna mendelik kearahnya.
"Nggak usah macem macem deh!" kesal Anna karena sedari tadi Nathan menggodanya.
"Kenapa? gue serius kalau Lo mau." ajak Naya lagi.
"Nggak! nggak akan!" kesal Anna.
"Haahaahaha." Nathan tertawa keras.
Mobil Nathan pun berhenti diparkiran Taman,
"Disini ada yang jual bakso?" tanya Nathan.
"Oh mau beli bakso? sebelah sana ada bakso langganan mbak Naya enak banget." kata Anna.
"Yang jual pake gerobak?" tanya Nathan sedikit heran tak biasanya Raka menyuruhnya membeli makanan gerobakan seperti ini.
"Iya, kok tau?" tanya Anna heran.
"Iya udah yuk kesana." kata Nathan yang hanya diangguki Anna.
..
Selesai memesan bakso Nathan dan Anna hendak kembali ke mobil, namun langkah Anna tiba tiba berhenti.
Anna merogoh kantong celananya dan mengeluarkan uang 20ribuan disaku celananya.
Anna mendekati wanita paruh baya yang duduk dipinggir jalan, segera Anna memberikan uang itu dan pergi karena wanita itu terlihat tidur.
Nathan dibuat takjub oleh apa yang baru saja Ia lihat tentang Anna.
"Baik banget sih." puji Nathan.
"Gue aja diajarin sama mbak Naya." kekeh Anna.
"Mbak Naya itu orang baik, dia yang ngeluarin gue dari tempat pelacuran, dia juga yang nolongin anak anak dijalanan sampe anak anak bisa sekolah dan hidup layak seperti sekarang, dia yang ngajarin gue buat selalu nyisihin uang buat mereka yang nggak mampu kayak kita, dia yang ngajarin gue jadi orang yang sebaik sekarang meskipun dibelakangnya gue udah ngecewain dia tapi gue sayang banget sama mbak Naya." jelas Anna.
"Makanya gue takut kalau sampai Raka nyakitin mbak Naya lagi." ungkap Anna pada Nathan.
"Gue bisa jamin Raka nggak akan nyakitin Naya lagi." kata Nathan.
"Gue pegang kata kata Lo." kata Anna yang diangguki Nathan.
"Pantes aja si boss nggak bisa move on dari Non Naya, baiknya kebangetan." batin Nathan.