"Aku memang sanggup untuk menghapus namanya dan menggantikannya dengan nama suamiku di hatiku, tapi apa aku sanggup terus mempertahankan rumah tanggaku tanpa cinta dari suamiku? Yang selalu enggan untuk menyentuhku untuk lebih intim?" batin Suci
"Sampai kapan kamu tidak mencintaiku? Sampai kapan kamu akan terus belajar mencintaiku? Apa perlakuan manisku tidak bisa menggerakan hatimu walau pun sedikit saja Uci?" batin Arkan
"Bunda mohon nak, jadikan kakamu istri ke dua Arkan." ucap Anisa
Akan'kah rumah tangga Arkan dan Suci tetap utuh di saat Bunda dari Suci meminta Suci untuk menyutujui kakaknya menjadi istri ke dua dari suaminya?
Akan'kah Suci merelakan suaminya untuk kakanya sendiri di saat ia sudah mengandung benih dari suaminya karena menikah dengan dua wanita bersaudara kandung adalah haram? Atau Suci tetap mempertahankan rumah tangganya karena kakanya yang membatalkan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 28 Uci bangga memiliki mas
Setelah istrinya selsai mandi Arkan langsung mulai sholat bersama istrinya, seumur hidup ia, ini baru pertama kalinya ia menjadi imam, ada rasa bahagia di setiap sujud ia, ia merasa sangat beruntung memiliki Suci, karena Suci sudah mau mengembalikannya ke jalan yang benar. Suci yang mendengar suaminya membacakan ayat suci Al-Qura'an, ia merasa bangga memiliki Arkan, walau kepribadian Arkan terlihat biasa, tapi setiap ayat yang di ucapkan suaminya semuanya benar, panjang pendeknya juga suaminya itu tau, itu artinya suaminya tau sedikit demi sedikit tentang agama.
Setelah selsai sholat. Arkan juga membaca do'a, sedangkan Suci hanya mengamininya, mata Suci sudah memerah, ia sudah ingin menangis karena terharu. Setelah selsai, Suci langsung mengambil tangan suaminya untuk ia cium, tidak lupa Arkan juga menempelkan tangan kirinya di ubun-ubun istrinya, lalu tangan kanannya ia tadahkan, ia langsung membacakan do'a, setelah selsai ia meniup ubun-ubun istrinya lalu langsung mencium kening istrinya. Suci yang di perlakukan seperti itu tidak bisa menahan air matanya, ia langsung menangis. Arkan sangat terkejut saat melihat istrinya menangis, ia langsung menangkup ke dua pipi istrinya
" Uci, kamu kenapa? Apa do'a mas ada yang salah?"
Suci menggeleng pelan, ia bukan menangis karena ucapan do'a suaminya salah, tapi ia menangis karena suaminya itu ternyata tau banyak tentang agama, buktinya suaminya tau mendo'akan ia. Arkan mengusap lembut air mata istrinya dengan ibu jarinya.
" Lalu apa yang salah di mas Uci? Kenapa kamu menangis? Ingat kata Bunda, mas tidak boleh membuatmu sedih."
" Uci bukan menangis karena sedih mas, Uci menangis karena terharu, Uci bangga memiliki mas."
Arkan yang mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung memeluk istrinya.
" Aku harap ucapan itu dari hatimu Uci, aku berharap waktu bisa merubah nama yang ada di hatimu." batin Arkan
Arkan memang selama satu minggu ini belajar terus tentang agama, kalau hanya modal kaya dan tampan saja, tentu saja ia tidak percaya diri bisa membuat hati istrinya itu tersentuh, karena mengingat istrinya adalah seorang senior di pesantren Alhusna.
Setelah itu mereka melepaskan pelukannya, Suci langsung membuka mukenahnya, ia juga membantu suaminya untuk duduk di kursi roda, lalu melipat sejadah dan mukenahnya. Setelah itu mendorong suaminya ke arah ranjang, ia membantu suaminya untuk duduk di atas ranjang. Arkan terus saja tersenyum menatap istrinya yang selalu membantunya.
" Terima kasih ya Allah, setelah hamba banyak menerima ujian, sekarang engkau membalasnya dengan kebahagian. Benar apa yang di ucapkan oleh Suci, setiap ujian kalau kita menerimanya dengan lapang dada, akan di balas dengan kebahagian dua kali lipat, ternyata benar adanya, sekarang aku sangat bahagia memiliki Suci." batin Arkan
Suci langsung membuka hijabnya, rambutnya ia biarkan terurai, lalu langsung naik ke atas ranjang dengan wajah yang memerah, sebenarnya ia malu dan canggung pada suaminya, tapi ia mencoba menghilangkan rasa malunya, kalau ia terus saja berdiri, ia takut kalau suaminya mengira ia belum siap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Arkan juga membaringkan tubuhnya saat melihat istrinya membaringkan tubuhnya, lalu ia mengangkat guling yang di tengah untuk menghapus jarak di antara mereka berdua dan mereka berdua hanya saling menatal mata sambil tersenyum. Suci juga bisa melihat senyuman bahagia lagi dari suaminya, setelah tadi sore senyuman itu hilang karena perubahan sikapnya sendiri
" Uci, mas mau kamu manggil diri sendiri di biasain aku kalau di depan mas, mas berasa seperti menikahi anak kecil."
Arkan memang sangat risih saat istrinya memanggil diri sendiri Uci.
" Tapi tidak sopan mas, usia kita jauh berbeda."
" Iya manggilnya cukup di depan mas saja, kamu juga sama sahabat kamu manggil diri sendiri aku."
" Iya mas."
" Uci, wajah kamu merah? Apa kamu memikirkan sesuatu?"
" Tidak mas, aku belum terbiasa tidur berdua sama mas, jadi sedikit canggung."
" Mendekatlah Uci, agar kamu terbiasa."
Suci hanya mengangguk pelan, ia langsung menggeser tubuhnya ke samping suaminya. Arkan langsung memeluk istrinya.
" Terima kasih sudah mau menerima mas Uci, sebanyak apa pun mas mengucapkan terima kasih, tidak akan pernah terbalaskan dengan kebaikanmu yang sudah mau menerima mas apa adanya."
Suci juga langsung membalas pelukan dari suaminya, ia merasakan perasaan yang sangat tenang, ia merasa beban pikirannya yang begitu banyak tadi siang hilang seketika.
" Jangan pernah ucapkan terima kasih mas, karena pernikahan kita itu di ridhoi oleh Allah, dan aku percaya itu. Mas, terima kasih sudah mau menjadi imam di sholatku, dan menjadi penyempuraan agamaku yang belum sempurna, aku bangga memiliki mas, terus bimbing aku ke jalan yang di ridhoi oleh Allah, aku percayakan jiwa dan ragaku bahwa mas mampu membimbingku ke jalan yang di ridhoi oleh Allah."
Arkan mengangguk pelan, lagi-lagi hatinya menghangat setiap kata yang di ucapkan oleh istrinya.
" Aku sangat bangga memilikimu Uci, kamu begitu tau banyak tentang agama, aku tidak pernah menyangka kalau jodohku wanita sholehah, mengingat keperibadianku yang hanya tau bekerja dan mabuk-mabukan, aku juga tidak menyangka bahwa akan ada orang yang mau membimbingku ke jalan yang benar, seharusnya seorang suami yang membimbing istrinya, tapi kini seorang istri yang mampu membimbing suami ke jalan yang benar. Uci, tanpa kamu mungkin aku sudah putus asa lagi dan terpuruk, tapi kamu datang dan memberikan warna dalam hidupku." batin Arkan
Arkan langsung mencium pucuk kepala istrinya berkali-kali sambil tersenyum.
" Mas, kamu sedang apa?"
Suci bertanya sambil mendongkakan kepalanya, karena suaminya itu terus mencium keningnya berkali-kali, hingga tidak sengaja bibir mereka saling menempel. Mata Arkan dan mata Suci membulat, mereka sama-sama terkejut, lalu Suci langsung menegelamkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, ia sangat malu, ia juga tidak bermaksud akan mencium suaminya, bibirnya dan bibir suaminya menempel begitu saja. Arkan yang melihat reaksi istrinya ia merasa bersalah.
" Uci, maaf mas tidak sengaja."
Suci menggeleng pelan, walau pun suaminya meminta haknya sekarang pun akan ia berikan, karena itu adalah kewajiban, tapi ia hanya malu pada suaminya, ia yakin sekarang wajahnya memerah.
" Jadi kamu tidak marah? Lalu kenapa kamu menyembunyikan wajahmu?"
Arkan memang bukan orang yang berpengalaman tentang hal yang intim, bahkan selama pacaran dengan Sulis, ia belum pernah mencium bibir Sulis, hanya sekali-kali ia mencium kening Sulis, itu pun karena Sulis selalu memintanya, bahkan saat Sulis meminta yang lebih intim, ia menolaknya, ia tidak ingin merendahkan wanita, ia juga ingin kalau ciuman pertamanya itu untuk istrinya. Walau pun Arkan terjun bebas ke dunia malam dari usianya 19 tahun, tapi ia selalu menjaga dirinya dari wanita-wanita penggoda.
" Aku bukan marah mas, tapi hanya malu."
Arkan tersenyum saat mendengar jawaban dari istrinya, bahkan senyumannya itu tidak pernah pudar.
" Jangan malu dong Uci, mas ini kekasih halalmu."
" Iya aku tau mas, mas kekasih halalku."
Ada perasaan senang di hati Suci, walau pun ia tidak mencintai suaminya, tapi ia tetap merasakan bahagia.
ceritanya bagus kak,,,,,alurnya menarik gak membosankan,, and maafken kak aku gak komen per bab,, aku lebih suka komen setelah tamat baca ceritanya,,, yok kak lebih semangat lagi yokk😉😉😉
umpama,, bertanya, "tempat pendaftarannya dimana ya ? gitu thorr !!
bukan di mana iya ?..🙏🙏🙏