Menceritakan tentang seorang gadis bernama Rachelia Edward yang harus hidup dengan menyembunyikan identitasnya karena sebuah perselisihan yang dapat mengancam nyawanya.
Ketika ia berusia 19 tahun, terungkap fakta mengejutkan mengenai kematian orang tuanya. Dengan berbekal kemampuan IT yang ia miliki, Michel mulai menjalankan rencana balas dendamnya. Namun, di tengah rencana, Michel justru di pertemukan dengan Calvin Archer, pria yang berhasil mencuri hatinya, namun memiliki rahasia yang berhubungan dengan misi balas dendam Michel.
Lalu manakah yang akan di pilih Michel, cinta atau misi balas dendam?
Yuk baca cerita lengkapnya.
Sebelum baca jangan lupa subscribe/favorite, dan tinggalkan jejak like dan koment yah agar Authornya semangat 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UQies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Rencana Kedua
"Karena aku mencintaimu Michel, kamu wanita pertama dalam hidupku yang berhasil menyentuh hatiku, dan aku tidak ingin kehilanganmu,"
Degh
Jantung Michel kembali berdegup kencang, ada rasa bahagia saat mengetahui perasaan Calvin, jika boleh jujur, ia juga telah jatuh cinta pada Calvin. Namun disaat yang sama, muncul sebuah tembok dihatinya saat menyadari Calvin adalah anak dari Darold.
Dua rasa dalam hati yang kini bergejolak, antara cinta dan benci, keduanya seolah ingin menumpahkan emosinya di saat yang sama. Michel berusaha keras menahan keduanya, hingga air matanya luruh tak tertahankan, rasa sesak kian terasa dalam dadanya.
Michel menunduk hingga air matanya tak terlihat oleh Calvin. Untuk sesaat keduanya diam tak bersuara, larut dalam gejolak hati masing-masing.
Merasa Michel tak merespon kata-katanya, Calvin kembali buka suara.
"Michel?" ucapnya dengan lembut sembari mendekati Michel.
"Jangan mendekat, ku mohon!" suara Michel terdengar bergetar. Hatinya berdesir takkala mendengar suara Calvin menyebut namanya dengan lembut.
"Michel ada apa denganmu?" tanya Calvin kembali yang mulai khawatir dengan Michel.
"Maaf Calvin, lupakan aku, kita tidak bisa bersama," Michel menghapus air matanya lalu mengangkat wajahnya.
"Apa maksudmu kita tidak bisa bersama Michel? apa kamu tidak mencintaiku, hah?"
Michel terdiam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan Calvin.
"Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu. Maaf, aku akan pergi sekarang, selamat tinggal, Calvin," ujar Michel lalu segera pergi meninggalkan Calvin sendiria di Cafe itu.
Kali ini Calvin tak mampu lagi menahan kepergian Michel. Ia menunduk dalam, tangannya mengepal kuat hingga menampakkan urat-uratnya. Berusaha keras ia menahan air matanya, namun 1 tetes lolos ke pipinya.
"Apa maksudmu Michel, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" batin Calvin.
-
"Kau lihat gadis itu, Will? apakah ingatanku sama dengan ingatanmu tentang gadis itu?" tanya Darold yang saat ini berada di dalam mobil sembari menatap Michel yang kini keluar dari Cafe meninggalkan Calvin.
"Benar tuan, dia adalah Michel, pegawai baru di perusahaan kita," jawab William.
"Menurutmu, apa yang mereka bicarakan? kenapa gadis itu nampak sedih, dan Calvin juga nampak sedih?" tanya Darold penasaran.
"Sepertinya putra anda baru saja mengungkapkan perasaannya namun di tolak," jawab William sambil mengingat ekspresi keduanya.
"Apa? padahal sudah ku peringatkan untuk tidak menjalin hubungan dulu sampai Rachelia di temukan. Tapi, kalau di pikir-pikir, apa yang Calvin sukai dari gadis culun seperti dia?" monolog Darold lalu menyuruh William untuk kembali melajukan mobilnya.
Malam hari di Mansion Darold Archer
Darold nampak menunggu kepulangan Calvin. Memang saat ini masih pukul 8 malam, namun ia penasaran dengan apa yang terjadi dengan putranya sore tadi.
Tak lama kemudian, suara deru motor Calvin terdengar dan berhenti.
Ceklek
Calvin memasuki rumah dengan langkah gontai, ia seolah tidak memiliki semangat bahkan hanya untuk berjalan.
"Calvin, Daddy ingin bicara denganmu," seru Darold.
"Ada apa Dad?" Calvin mendekat ke Darold sambil menunduk.
"Ada apa denganmu? apa kamu baru saja patah hati?" tanya Darold seketika membuat Calvin mengangkat wajahnya menatap Darold seolah ia bertanya kenapa Daddy bisa tahu.
"Apa kamu sudah menemukan Rachelia Edward?"
Calvin menggeleng pelan, "belum Dad," jawabnya kemudian. "Tapi kalaupun aku menemukannya, aku tidak akan membawanya pada Daddy, karena aku tahu Daddy pasti akan membunuhnya," batin Calvin.
"Bukankah sudah ku peringatkan padamu, bahwa kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan wanita manapun jika Rachelia belum di temukan?"
"Calvin tahu Dad, tapi Calvin hanya manusia biasa, bukankah jatuh cinta itu manusiawi?"
"Meskipun kamu jatuh cinta, setidaknya tahanlah dulu sampai Rachelia itu ditemukan. Lagipula apa yang kamu sukai dari gadis bernama Michel itu,"
Calvin seketika menatap Darold, "Bagaimana Daddy tahu? apa Daddy memata-matai kami?" selidik Calvin.
"Tidak, Daddy kebetulan tadi sore melihat pertemuan kalian, dan sebelumnya kan kamu pernah mengatakan nama gadis itu pada Daddy, dan Daddy baru mengetahui bahwa gadis itu adalah pegawai baru di perusahaan,"
"Apa? Michel bekerja di perusahaan?"
"Iya, apa dia tidak memberitahumu, dia bahkan berada di divisi IT, sayangnya kinerjanya tidak terlalu menonjol?"
"Maksdu Daddy apa?"
"Kamu tahu, di kantor itu banyak yang kurang respect sama dia, karena dia culun dan lambat dalam bekerja."
Calvin terdiam sejenak, ia seolah tidak tahu harus berkata apa, disatu sisi ia tidak suka Darold membicarakan Michel seperti itu, namun disisi lain, ia seolah merasa bahwa Michel yang ia kenal tidak seperti dengan apa yang Darold katakan, seperti dua orang yang berbeda di tempat yang berbeda pula.
"Dad, kalau gitu aku mau ke kamar dulu," ujar Calvin kemudian lalu mendapat anggukan dari Darold.
Calvin berjalan cepat menuju kamarnya, dan langsung berbaring saat sampai di kamarnya.
"Apa karena alasan ini sampai kamu menolakku Michel?" monolog Calvin lalu menedang-nendang angin diatasnya merasa kesal.
Saat ini Calvin berpikir bahwa mungkin Michel merasa rendah diri menjalin hubungan dengan anak dari CEO diperusahaannya. Michel jelas kini sudah tahu bahwa Calvin adalah anak Darold Archer karena ia sempat terkejut saat Calvin menyebut nama belakangnya, Archer.
--
Disisi lain, seorang gadis tengah melampiaskan perasaannya pada samsak tinju dirumahnya, sudah cukup lama ia seperti itu hingga peluh keringatnya membasahi seluruh wajah hingga tubuhnya.
Bugh
Bugh
Bugh
"Dari sekian banyak pria, kenapa harus Calvin? kenapa harus anak dari pembunuh orang tuaku?" geram Michel lalu kembali memukul samsak tinju itu. Wajah putihnya kini berubah merah karena panas dan lelah.
"Aku harus mulai menjalankan rencana keduaku, lihat saja apa yang akan terjadi besok tuan Darold," Michel menyeringai, kali ini ia ingin menyelesaikan misinya agar ia bisa pergi dari kota ini segera, ia tidak ingin lagi berlama-lama, sebab itu hanya akan menyiksa hatinya.
-Bersambung-
Jarak tempuh indonesia ke washington dc itu setau saya sekitar 23jam. Apa iya, indonesia washington cuma 14jam ? hanya koreksi aja sih ..maaf ya 🙏