Dinikahi secara paksa oleh pria yang tidak dikenal nya. Membuat Valencia membenci pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Sikap baik yang selalu di tunjukan oleh suaminya (Devano). Sama sekali tidak membuat hatinya luluh. Namun, berkat semua nasehat yang di berikan orangtua serta saudara dan juga orang-orang terdekatnya. Membuat ia bisa membuka hati dan menumbuhkan perasaan untuk suaminya itu.
Tapi, bagaimana jadinya?! Jika di saat ia sudah benar-benar membuka hati dan mencintai suaminya, ia malah mendapati dan mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan suami dan juga mertuanya.
Devano, pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ternyata menderita penyakit kanker otak stadium lanjut.
Bersamaan dengan itu, ia juga mendapati bahwa dirinya tengah mengandung benih suaminya. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya! Beberapa bulan kemudian, Devano menghembuskan napas terakhirnya yang membuat perasaan Valencia begitu hancur, dunianya terasa runtuh!
Bagaimana kisahnya? Akankah ia mampu menata hidupnya tanpa sosok Devano yang telah mampu mencuri hatinya dan juga menghancurkan hidupnya dalam waktu sejekap itu?!
“Jodoh PENGGANTI Untuk Nona Muda”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KE RUMAH EYANG
Tepat pada hari minggu, Revano mengajak Valencia dan Devanka pergi mengunjungi Nyonya Liliana, Grandma dari Revano.
"Au ana?" tanya Devanka setelah gadis itu duduk di pangkuan mommy nya di sebelah kursi kemudi.
"Kita ke rumah Eyang," kata Revano.
"Yang?" tanya Devanka.
"Iya, Rumah Eyang Lili," jawab Revano. "Nanti, disana Devanka gak boleh nakal. Harus sayang sama Eyang, ya." Revano mencubit dagu putri sambungnya itu dengan gemas.
"Mansion nya jauh gak sih, mas?" tanya Valencia. Ia begitu penasaran dengan tempat tinggal Nyonya Liliana, nenek dari suaminya itu.
"Enggak, gak sampe satu jam kok dari sini," kata Revano. "Kita berangkat sekarang, ya!" Valencia pun mengangguk.
Maka, Revano pun melajukan mobil nya perlahan meninggalkan lingkungan rumah milik istrinya itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota. Masih kota yang sama dengan kota yang di tinggali Valencia, akan tetapi jarak antara mansion Nyonya Liliana dan kediaman Valencia cukup jauh. Hampir memakan waktu satu jam untuk tiba di sana jika menggunakan mobil kecepatan sedang.
Belum jauh mobil Sedan keluaran terbaru itu melaju, akan tetapi Devanka sudah menujuk dan meminta mobil itu berhenti.
"Dy, Ka au cim!" tunjuk Devanka ke arah kedai ice cream yang berada di pinggiran jalan.
"Nanti flu," ucap Valencia dengan pelan. "Cuacanya dingin." tambah nya lagi.
"Huwaaa... Ka au cim," pinta anak kecil itu. Devanka pun menangis dengan keras di dalam mobil yang lajunya lambat itu.
"Jangan nangis, kita beli ice cream sekarang," kata Revano.
"Mas!" protes Valencia.
"Gak akan banyak, palingan dia ambil dua doang," kata Revano. "Boleh beli ice cream, tapi gak boleh banyak-banyak!" ujar Revano kepada putri sambungnya sembari menghentikan mobil yang ia kendarai di tepian jalan.
"Ya.. gini!" Devanka memajukan tangannya dan memperlihatkan ke lima jarinya.
"No! Tapi segini." Revano menurunkan dan menekuk ketiga jari putrinya itu. Hingga tersisalah dua jari nya saja.
"Ya.." Devanka mengangguk dengan wajah cemberut.
Revano pun menggendong putri sambungnya itu turun dari dalam mobil. "Ayo Mom, gak ikut turun?" ajak Revano pada istrinya.
"Gak ah.. Dingin," kata Valencia. Memang benar, keadaan di hari minggu itu memang sangat dingin karena cuaca hari yang mendung dan sepertinya akan turun hujan lebat.
"Ya udah, Mommy tunggu di sini. Daddy temani Devanka beli ice cream sebentar," kata Revano. Pria itu pun berjalan menuju kedai ice crem dengan Devanka di dalam dekapannya.
"Dy, Ka au tu!" tunjuk Devanka pada susu, biscuit, sosis dan juga coklat yang tersusun di dalam etalase toko.
Revano tersenyum, ia pun meminta pemilik toko itu memberikan semua makanan yang di inginkan Devanka. "Devanka mau apa lagi?" tawar Revano.
"Dah," jawab anak itu.
"Ice cream nya?" Revano menaik turunkan alisnya.
"No! Ka ingin," kata Devanka sembari memasukan tangan kecilnya ke dalam saku jaket yang ia kenakan.
"Hahahaa.. Daddy pikir, setelah merasakan dingin. Devanka tetap mau makan ice cream," kata Revano sembari tertawa rendah.
"Nonono!"
Setelah selesai memilih banyak makanan dan membayarnya, Revano pun segera menggendong Devanka kembali ke dalam mobil.
"Duh.. Udah mulai gerimis, mom," kata Revano kepada Valencia sembari memberikan Devanka kepada istrinya itu.
"Terus gimana?" Valencia menatap wajah tampan suaminya. Wajah yang sama dengan wajah mendiang suami terdahulunya, yang membedakan penampilan keduanya ialah jambang halus di area wajah yang tidak di cukur oleh Revano. Sedangkan mendiang Devano, semasa hidupnya selalu merawat wajahnya dan tidak pernah membiarkan jambang halus menumbuhi wajahnya yang tampan dan putih bersih.
"Kita cari penginapan aja dulu," kata Revano. "Daddy takut berkendara di jalanan licin dan dalam keadaan hujan lebat." terang Revano.
"Ya udah, ayo lanjut jalan. Kita cari tempat singgah dulu," kata Valencia.
Revano pun kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan untuk mencari tempat berteduh lebih dulu. Pria itu begitu takut berkendara di saat hujan, apa lagi di hari itu memang hujan turun semakin lebat saja.
Tak lama kemudian, Revano pun menghentikan mobilnya di sebuah hotel. Ia segera menutup tubuh putrinya dengan jaket yang ia kenakan dan membawa gadis kecil itu berlari memasuki hotel bersama istrinya.
"Na Yang?" tanya Devanka.
"Nanti kita ke rumah Eyang, sekarang kita di sini dulu ya," kata Revano. "Hari nya hujan, Daddy gak berani bawa mobilnya." terang Revano kepada Devanka.
"Yayaya.." Devanka yang kedinginan segera menyembunyikan wajahnya di ketiak Daddy nya itu.
"Buruan mas, kasihan Devanka kedinginan," ucap Valencia yang mengekori suaminya.
"Ya sayang, mas juga kedinginan loh," kata Revano sembari mengedipkan sebelah matanya. "Emang kamu gak kasian juga sama mas?"
"MODUS!" sungut Valencia. Sembari meminta kunci kamar hotel kepada Resepsionis hotel itu. "Makasih.." Valencia tersenyum kepada Resepsionis hotel.
"Udah?" Tanya Revano dan di angguki oleh Valencia.
Mereka pun segera menuju di mana kamar yang mereka pesan berada. Sesampainya di kamar mereka, Revano pun menidurkan Devanka yang kedinginan ke atas ranjang hotel berukuran king size itu.
"Dy, Ka ingin. Bobok eyuk," pinta Devanka kepada Revano. Gadis kecil itu begitu manja dan lengket kepada Daddy sambungnya, bahkan gadis kecil itu menjadi terkesan tidak perduli kepada Mommy nya setelah ada Revano di antara mereka.
"Daddy peluk, tapi bobok beneran ya," kata Revano sembari melirik Valencia yang sedang membuka jaketnya. Hingga terlihat lah tubuh seksi Valencia yang mengenakan celana jeans biru serta tentop sebagai atasannya.
Melihat dua bukit yang menonjol di balik tentop hitam istrinya, sudah dapat membangkitkan gairah kelakian Revano.
atau ternyata beda penulis?
Sukses bwt kk