Pernikahan yang sengaja dia rencanakan untuk membalaskan dendam kematian orang tuanya.
Syakira, wanita yang di pilih Alif untuk memuluskan rencananya, setelah berhasil menikahi, Syakira. Berbagai siksaan fisik mau pun batin yang wanita itu rasakan, Hingga membuat wanita itu trauma dan berubah menjadi wanita dingin yang tidak tersentuh.
Setelah berpisah dengan Alif, Syakira memimpin sebuah perusahaan, hingga dia bertemu dengan seorang lelaki yang tanpa sengaja bertabrakan dengan dirinya. Siapa sangka, pertemuan nya justru semakin memikat dirinya dengan lelaki bernama Arion, hingga dirinya di pinang oleh lelaki itu.
Tapi saat Sya belum memutuskan untuk menerima Arion, Alif yang menyesal karna perbuatan nya dulu pada Sya, datang kembali untuk memperjuangkan kembali cinta nya.
Siapakah yang di pilih oleh Syakira, apakah Alif mampu membuat wanita yang dia cintai kembali padanya, atau Sya memilih jalan nya sendiri? Klik membaca untuk tau kelanjutan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana kabur
Syakira tengah bersabar menunggu Alif berangkat bekerja. Seperti biasa, dia sabar berdiri di sebelah Alif, menunggu lelaki itu selesai menghabiskan sarapan nya.
Syakira bersusah payah menahan mual yang semakin mengocok perut saat mencium bau nasi yang berada di sebelah nya.
Keringat dingin mulai keluar, rasanya Syakira sungguh tidak tahan, akan tetapi dia masih berusaha tegar agar Alif cepat menyelesaikan sarapan nya dan berangkat bekerja.
Untung nya hari ini Alif tampak acuh, dia tidak mempermasalahkan sarapan seperti biasanya, dia hanya menikmati nya secara diam.
Selesai sarapan, Alif langsung berangkat, tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya, dia dan Raka langsung berlalu dan menghilang dari pandangan Syakira.
Setelah kepergian Alif, Syakira yang sedari tadi menahan rasa mualnya langsung ambruk di atas lantai. Bi Rahma memang sudah memantau pergerakan Syakira sedari tadi, diapun langsung memanggil para pelayan untuk membawa Syakira masuk ke dalam kamar.
"Nona ... Kenapa dengan nya, Bi?" tanya Sri tampak khawatir.
"Mungkin dia menahan mual dari tadi karna mencium bau nasi," jawab bi Rahma.
"Kamu pergilah ambil buah untuk nya, biar dia bibi yang jaga!" perintah nya pada Sri. Tanpa bertanya lagi, Sri langsung mengiyakan dan melangkah ke luar kamar.
Bi Rahma berusaha mengembalikan kesadaran Syakira, dia menempelkan minyak kayu putih di hidung Nona mudanya.
Pintu kamar kembali di ketuk, Sri kembali masuk membawakan potongan buah di atas piring.
"Nona belum sadar ya, bi?"
"Belum, kamu boleh keluar, lanjutkan pekerjaan mu!" seru bi Rahma lagi.
Sri mengangguk "Jika anda perlu apa-apa, boleh panggilkan, Sri."
...****************...
Setengah jam bi Rahma masih setia menempelkan minyak angin agar Syakira tersadar, dan usahanya tidak sia-sia, perlahan Sya mengerjapkan matanya.
"Akhirnya ... Kamu sadar juga, Nak!" ujar bi Rahma merasa lega dan bersyukur.
Sya memegang kepalanya "Mau minum, Nak?" tanya bi Rahma sambil menyerahkan gelas berisi air putih pada, Sya, dan langsung di terima oleh wanita itu.
"Katakan, Bi! Apa yang akan kita lakukan?" tanya Sya tentang rencana mereka agar Syakira terlepas dari jeratan pembalasan dendam, Alif.
"Nona, Sya lebih baik makan buah ini dulu agar bertenaga." sergah bi Rahma, dia belum memberitahu nya sebelum Sya mau makan buah yang tadi di bawa oleh Sri.
Karna penasaran dan tidak sabaran, Syakira menghabiskan semua potongan buah hanya dalam beberapa menit saja.
"Sekarang katakan padaku, Bi! Apa yang akan kita lakukan?" tanya Syakira terdengar tidak jelas karna potongan buah masih penuh dalam mulutnya.
Bi Rahma tersenyum getir, mungkin setelah ini dia tidak akan bertemu dengan Syakira lagi.
Perlahan tangan nya di masukkan ke dalam baju, di keluarkan lah handphone dan di berikan pada Syakira.
Tangan anak perempuan Wilmar itu langsung bergetar menerima ponsel tersebut, dia tidak mengira jika bi Rahma akan melakukan hal nekat seperti ini.
"Ke--kenapa Bibi lakukan ini? Darimana Bibi mendapatkan nya?" tanya Sya dengan suara bergetar. Dia tau apa resiko mengkhianati Alif, nyawa lah taruhan nya, tidak mungkin Syakira mengorbankan hidup orang lain demi kehidupan nya sendiri.
"Itu ponsel anak Bibi yang kemaren Bibi minta sebentar, Nona Sya telpon keluarga nya sekarang juga, sebelum Tuan Alif mengetahui nya!" seru bi Rahma, dia memang sangat ikhlas membantu Syakira.
"Tidak, Bi! Aku tidak mau mengorbankan Bibi untuk kepentingan ku sendiri." tolak Sya, dia menyerahkan benda itu lagi pada bi Rahma.
"Jangan pikirkan Bibi, Nona harus segera bebas dari sini." paksa bi Rahma lagi.
"Tidak ... Tidak, Bi! Aku tidak ingin mencelakai Bibi. Kita cari jalan lain saja!" sarkas Sya, dia benar-benar tidak tega harus membawa Bi Rahma ke dalam masalah nya.
"Saya mohon, Nona, tidak ada cara lain, hanya ini cara satu-satunya agar Nona bisa terlepas dari sini."
"Tap--"
"Bibi pasti baik-baik saja, ada Allah yang melindungi bibi!"
Syakira masih tampak ragu, dia memeluk tubuh wanita paruh baya itu lagi, sungguh dia tidak menyangka, bi Rahma sampai mau segitunya berkorban untuk dirinya.
"Terimakasih banyak, Bi. Semoga Allah membalas kebaikan, Bibi!"
"Sama-sama ... Sekarang cepat hubungi keluarga Nona, Sya!"
Dengan linangan air mata, Syakira mengangguk, kemudian dia menekan nomor yang selalu dia hubungi jika dia membutuhkan sesuatu.
Untung saja, Syakira masih bisa menghafal nomor Syakir, yang dulunya setiap waktu dia hubungi.
Gurat kesedihan kembali terpancar saat nomor yang dia hubungi tidak bisa tersambung. Sya kembali mengecek nomor dan kembali menelpon sang Kakak, berharap lelaki itu bisa di hubungi.
Akan tetapi Syakira kembali menelan kepedihan, karna nomor Syakir tidak bisa di hubungi.
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Kan kan kan ... Apa beneran Syakira gak bisa pulang nih?...
...Kalau mau aku up nya rajin, jangan sungkan-sungkan memberikan vote dan hadiah, komen juga di perlukan....